Ducati dan pembalap Italia chemistry yang sempurna Mugello 2017

Posted on Updated on

Dovi Mugello 2017
Seri motogp ke enam berlangsung di sirkuit Mugello membawa kegembiraan tersendiri ke publik Italia khususnya yang menonton langsung disana. Menyaksikan Ducati engine begitu buas menyemburkan daya kuda pada putaran tinggi gir 5 dan 6 pecundangi motor-motor lain.
Motor merah putih di kendarai dua pembalap Italia Andrea Dovizioso dan Danilo Petrutci berhasil meraih tempat pertama dan ketiga. Di antara nya ada Maverick Vinales yang juga begitu tajam tanpa kesalahan berada di posisi kedua.
Ducati menang di Italia dibawa oleh pembalap Italia adalah chemistry yang sempurna. Meskipun Dovizioso bukan figur seperti Rossi pemegang titel tujuh kali kelas premier. Tetap aroma kemenangan itu tak terbendung merasuki jiwa para penggemar motogp Italia. Moment ini yang tidak akan pernah diwujudkan oleh Rossi sebelumnya.
Terakhir kemenangan Ducati di Mugello pada musim balap 2009 dibawa oleh Casey Stoner. Tapi Stoner bukan orang Italia. Jelas podium ini punya makna begitu istimewa.
Pada sesi qualifikasi Dovizioso meduduki posisi ketiga dan menyebut hari kemenangan nya adalah hari yang aneh. Itu ia sangkutkan pada kedua peristiwa yang sebelumnya terjadi. Akibat keracunan makanan (food poisoning) Dovizioso sakit sepanjang malam. Membuatnya tidak mengikuti warm-up di pagi hari. Kemudian ketika balapan baru berlangsung motor GP17 mengalami guncangan (wobble) dasyat saat hard braking di lintasan lurus dalam kecepatan sangat tinggi zona 340 – 350 km/jam.
Situasi pada tingkatan kritis seperti di alami Dovizioso akan mudah mengikis nyali saat itu. Kecepatan dimana manusia sama sekali tak berdaya apabila terjadi kesalahan. Kecuali satu ras dengan Clark “Man of steel” Kent berasal dari planet Krypton tahan terhadap cedera dan rasa sakit. Tapi mental dan semangat nya sanggup menguasai rasa takut dan berhasil untuk tetap menjaga race pace supaya tidak merosot kebelakang. Dovizioso terus berada pada posisi kedua dibelakang Vinales.
Diakui sebelum balapan ia tidak punya energi akibat keracunan makanan, karena itu muncul rasa takut staminanya menurun. Tapi realitanya Dovizioso mampu melesat cepat secara smooth dibelakang Vinales dan itu membuat perbedaan besar selama balapan. Artinya ia dapat menghemat energi yang sebenarnya dirasa kurang fit.
Paruh kedua balapan Doviziso memutuskan untuk overtake Vinales, tapi tanpa strategi katanya : “I saw that we are four riders in the group and I think it’s better to be in front. We will see”
“Saya lihat ada empat rider di grup dan saya pikir akan lebih baik berada di depan. Kita akan lihat”
Ada rasa kuatir Dovizioso terhadap Rossi. Menurutnya Rossi dalam banyak waktu selalu punya sesuatu di keluarkan pada akhir balapan. Jurus sim salabim untuk memenangkan pertarungan. Tapi kekuatiran itu tidak terwujud karena Rossi sendiri sudah kehabisan energi.
Di lain pihak Vinales justru pada lap terakhir memberi ancaman dengan semakin dekat 0,8 detik dibelakangnya. Kemudian Dovizioso menyadari di tikungan terakhir double apex bahwa ia dapat memenangkan balap meskipun belum tahu apakah Vinales mampu overtake disitu.
Ducati tidak diragukan bagaikan sebuah power house melepaskan 260 HP ke aspal pada putaran maksimum 17500 -18000 rpm. Tikungan terakhir gir 2 radius sedang cocok untuk membangun speed di gir 5 dan 6 menuju garis finish. Misalkan bersamaan adu drag dari tikungan terakhir tetap akan ngak mudah bagi M1 engine mengalahkan nafas panjang engine GP17 di straight away panjang Mugello.
Saat ini GP17 engine sebagai yang paling digdaya di putaran atas menembus topspeed tertinggi. Hanya tidak semua sirkuit seperti Mugello dan kemenangan bukan ditentukan oleh topspeed tertinggi. Ini bukan karena faktor konfigurasi V4 tapi lebih pada racikan engine parameter tim Ducati ditargetkan memproduksi HP terkuat pada putaran tinggi. Motor Ducati diperkirakan revving paling kencang dari engine lainnya tembus 18000 rpm. Inline 4 juga punya potensi yang sama seperti V4.
Sirkuit Mugello yang banyak medium dan fast flowing corner menguntungkan Ducati. Torsi efektif (transient torque) muncul di rentang putaran kisaran 10000 rpm ke atas mendorong motor akselerasi lebih cepat. Sebaliknya tikungan kecepatan rendah gir 1 dimana putaran turun ke 6000 rpm akan memperlambat akselerasi. Engine V4 sudut 90 derajat big bang perlu waktu sedikit lebih lama membangun torsi efektif sampai tercapai pada putaran dimana airflow bergerak cepat mengisi silinder.
Tapi Ducati masih punya problem yaitu kurang stabil di mid-corner dalam kecepatan tinggi. Cenderung understeer di mid corner pembalap harus berupaya keras menjaga motor supaya tetap berada di line supaya titik keluar (exit point) dapat dituju dengan tepat. Cornering speed Ducati tidak secepat Yamaha dimana stabil di mid-corner.
Kemenangan Doviszioso seperti disebutkan sebelumnya merupakan chemistry yang sempurna. Membawa motor buatan Italia dan dalam balapan kering (dry race) yang juga sempurna. Boleh dibilang waktu itu Dovizioso lebih kuat dari rider yang lain. Walaupun mendapat ancaman crash dalam kecepatan tinggi dan kondisi stamina yang kurang fit.
Jorge Lorenzo sempat mencuri perhatian sebanyak tiga lap saling tukar posisi terdepan dengan Rossi. Tapi keberanian itu diakui tidak cukup membuat ia jadi cepat. Keunggulan topspeed di lintasan lurus sempat diperlihatkan, tapi line yang di ambil terlalu melebar di mid-corner membuat nya mudah di serang lawan. Hal tersebut tidak lain karena kekurangan Ducati di ajak berbelok.
“I’ve been overtaken in the middle of the corners five or six times, which is unusual for me. Also in practice Zarco overtook me there. So it’s clear my weak point now is this, I’m too slow [and], too open and they have much [more] corner speed.
Dari penjelasan JL di atas bahwa ia di overtake di mid-corner lima atau enam kali, dimana itu bukan hal yang biasanya. Juga pada saat latihan Zarco menyusulnya di mid-corner. Jelas kecepatan di mid-corner adalah kelemahannya sekarang. Di akui ia terlalu pelan disitu dan posisi yang juga terlalu terbuka jadi mudah di serang. Corner speed lawan lebih cepat dari JL.
Dulu dengan M1 dan ban slicks Bridgestone corner speed JL begitu luar biasa tak terkalahkan. Bisa dibilang disitulah letak kekuatan tempurnya. Membawa Yamaha JL memasuki tikungan dengan posisi gas terbuka membangun kecepatan di mid-corner. Fase pengereman sudah ia selesaikan di straight line. Titik pengeremannya (braking point) jauh lebih awal, JL tidak hard braking menuju pintu tikungan. Sebaliknya GP17 tidak cocok dengan teknik JL seperti membawa M1. “
“I still don’t take profit from the strong points of the bike, which is the entry of the corners” 
“I still prefer too much the exit, but this doesn’t compensate for what I lose entering the corners. Riders like Dovi or Petrucci who are hard brakers, at this moment the bike works better for them.”
JL masih belum mengambil keuntungan dari titik terkuat yang dimiliki motor yaitu masuk tikungan. Upayanya dan perhatiannya masih lebih banyak untuk keluar tikungan dimana hal itu tidak memberi kompensasi terhadap apa yang ia kurang ketika memasuki tikungan. Menurutnya rider seperti Dovi dan Petrucci adalah hard braker, pada saat ini motor bekerja lebih baik untuk mereka. 
“The Yamaha bike worked, especially here… probably was more natural for my riding. With the Yamaha I was fast from the first three races in 2008. Here I finished on the podium for eight years”
Keunggulan M1 adalah membangun kecepatan di mid-corner, lebih cocok dan natural untuk riding style JL yang mana selama delapan tahun balapan di Mugello berhasil naik podium. Untuk saat ini diakui Ducati tidak natural untuk gaya riding nya. 
Memang tidak mudah merubah riding style yang telah terbangun dan diasah selama 20 tahun.  Anda tidak dapat belajar bahasa asing baru dalam dua hari katanya. Karakteristik handling Ducati sangat kontras dengan Yamaha M1 ini yang menjadi letak kesulitan JL. Dan paling menarik di ucapkan JL bahwa motor yang ia bawa sekarang sedikit tidak logik untuk menjadi kompetitif.
Sementara ini Lorenzo akan tetap mencari titik ternyaman GP17 sejauh yang ia anggup. Realitanya ia tidak akan selalu bisa mencapai hasil terbaik. Masih banyak pekerjaan rumah tim Ducati supaya benar-benar kompetitif mencapai tingkatan mampu merebut titel juara musim motogp kedepannya. Dan chassis adalah area dimana menurut JL yang harus disempurnakan.
Sirkuit Mugello Doviszioso sanggup memeras segala potensi yang ada di GP17, tapi bagaimana nanti di sirkuit lainnya?
Setidaknya para rider dan tim Ducati berpesta sejenak menikmati kemenangan besar ini. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

3 thoughts on “Ducati dan pembalap Italia chemistry yang sempurna Mugello 2017

    Ira satryana said:
    Juni 6, 2017 pukul 7:41 am

    Satu lg jatah ducati mbah, sirkuit redbull ring autria,stop n go,
    Cocok utk motor power besar, thn lalu handling ducati
    cukup bagus kata dovi, dan terbukti ian bs podium,
    Berharap 04,99 dan 19 bs naek podium d sana 😁
    dan semoga tdk salah pilih ban.
    Kykny KTM dan Aprillia bakal pingsan lg 😊
    Utk RCV 93..?? Hhmmm apa yak ? Ach no comment 😊
    HRC lg tersesat !
    Met pg mbah

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Juni 6, 2017 pukul 11:55 am

      Iya bener Red Bull Ring.

      Kalau MM katanya muncul problem ban depan

      Suka

        Irasatryana said:
        Juni 19, 2017 pukul 12:36 am

        Tx mbah balasanny 😊

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s