Ducati L-Twin mesin big bang versi WSBK

Posted on Updated on

 Troy Bayliss the faster ways

Firing interval L-twin engine mirip dengan motogp big bang 4 silinder. Masa istirahat cukup panjang antara dua ledakan piston, throttle dapat lebih banyak dibuka pada saat motor miring (A faster way)

Di ajang balap World Superbike peranan elektronik traction control, anti wheelie, engine brake dan lainya tidak secanggih motogp. Sepertti motogp ban belakang spin kalau pembalap buka gaz akselerasi keluar tikungan sering terjadi. Terutama compound sudah terkikis bersamaan temperatur udara yang panas di sirkuit.
Motogp menyemburkan power puncak 250 HP pada putaran ekstrim 17000 rpm akan melesat lebih cepat di lintasan lurus yang panjang. Kuncinya napas panjang menjadikan motogp unggul di atas motor WSBK dengan power maksimum 220 HP di putaran lebih rendah 14000 rpm.
Tapi di sirkuit terdiri dari banyak tikungan kecepatan rendah (tight radius) dan lintasan lurus tidak begitu panjang, motor WSBK akan mampu menempel sangat ketat dengan motogp factory. Torsi efektif (transient torque) di rpm rendah-tengah akan mendorong motor WSBK lebih cepat akselerasi keluar tikungan gir 1 dan 2.
Grid motogp yang di dominasi mesin big bang sebenarnya juga ada versi big bang di grid WSBK. Di antara mayoritas motor WSBK sebagian besar screamer engine sejati inline 4 silinder 180 flatplane crankshaft seperti Kawasaki ZX-10RR, BMW S1000RR, Honda CBR1000RR dan Suzuki GSX-R1000 kalau tahun depan ikutan. Ada engine yang memiliki karakteristik power delivery mirip dengan big bang motogp, yaitu Ducati L-twin sudut 90 derajat 360 flatplane crankshaft.
Ducati L twin sudut 90 derajat menciptakan tenaga (power pulse) dari kedua piston masing-masing tiap 270 – 720 derajat putaran crankshaft. Mirip dengan cara kerja big bang 4 silinder yaitu sepasang piston meledak secara berdekatan kemudian ada jeda panjang sebelum sepasang lagi meledak dalam satu kali masa kerja engine 4-tak 720 derajat rotasi crankshaft. L-twin engine seolah-olah 4 piston terkompres jadi dua ledakan.
Adanya waktu istirahat selama 270 dan 450 derajat rotasi crankshaft ban belakang tidak menerima tekanan torsi sebelum muncul ledakan lagi, hal itu menyediakan traksi tetap lengket. Mempermudah rider membuka gaz pada saat motor masih miring di mid corner kecepatan sedang dan tinggi. Di tikungan medium dan long sweeper seperti ini Ducati L-twin memiliki sedikit keunggulan untuk lebih banyak buka throttle dibandingkan screamer inline 4 silinder. Menahan buka gaz lebih lama di mid-corner bisa jadi lawan sudah lebih dulu melesat. Ngak perlu banyak-banyak cukup upaya misalkan 1/10 detik lebih cepat tiap tikungan sudah dapat lebih maju di depan lawan.
Pada era motogp 990cc Ducati aplikasikan mesin V4 silinder interval pengapian big bang yang menyerupai karakteristik L-twin engine dengan sebutan twin pulse. Strategi L-twin sudut 90 derajat digabungkan trellis frame yang fleksibel dan mudah di setup menyumbang kesuksesan motor-motor Ducati memboyong titel WSBK sebanyak 14 kali.

Ducati L Twin Firing Interval

Interval pengapian L-twin 0-270-720 rotasi crankshaft menyediakan jeda cukup panjang ban belakang tanpa beban torsi. Traksi ban dengan aspal akan tetap lengket

Keuntungan sudut 90 derajat sudah balance secara natural tidak memerlukan countershaft balancer untuk meredam vibrasi dari primary force dan secondary force. Hadirnya countershaft balancer akan sedikit menguras power.
Yamaha R1 inline 4 silinder crossplane crankshaft pin 90 derajat, juga menyediakan penyaluran torsi sedikit lebih bersahabat dibandingkan screamer. Firing interval 0-270-450-540-720 rotasi carnkshaft. Demikian pula Aprilia RSV4R Factory V4 silinder sudut 65 derajat 180 flatplane crankshaft dengan firing interval 0-180-425-605-720 rotasi crankshaft. Interval pengapian R1 dan RSV4R yang tidak imbang memberi sedikit waktu atau jeda ban belakang untuk tidak dibebankan torsi. Walaupun penyaluran torsi kedua engine tersebut lebih baik dibandingkan screamer inline 4 silinder 180 flatplane crankshaft, tetap ngak panjang seperti yang disediakan L-twin engine.
V4 engine yang dipikul Aprilia RSV4R Factory sebenarnya bukan screamer sejati. Sama seperti V4 konvesional engine 360 derajat flatplane crankshaft Honda RC213V motogp. Interval pengapian kedua engine ini tidak meledak tiap 180 derajat rotasi crankshaft. Suara yang keluar tidak melengking dengan pitch tinggi seperti inline 4 silinder motor supersport 600cc, moto2 atau Ninja ZX-10RR.

firng-interval-90-degree-crossplane-crank

Yamaha R1 inline 4 cylinder crossplane crankshaft bukan big bang. Tiap piston meledak tidak berdekatan, firing interval mirip dengan V4 engine 180 flatplane crankshaft.

Tapi L-twin engine 1199cc dengan ukuran piston XXL dan stroke ultra pendek bukan berarti akan nyaman dan ideal tanpa problem. Semakin engine di genjot spin menjulang tinggi semakin muncul masalah. Menurut ahli mesin Ducati ukuran piston yang luas menyulitkan api membakar seluruh campuran udara/bbm pada putaran tinggi. Mengurangi potensi panas (thermal efficiency) dengan itu efisiensi pembakaran tidak dapat tercapai maksimum. Faktor ini jadi pertimbangan Ducati ketika dulu akan ikut partisipasi motogp. Adanya problem di ruang bakar (combustion chamber) L-twin engine di putaran ekstrim, akhirnya memutuskan memilih konfigurasi L-4 cylinder engine menjadi sumber tenaga Ducati motogp.
Keliatannya pencapaian performa engine L-twin 1198cc power 215 HP plus sekarang ini dibilang sudah mencapai batas. Disamping juga peraturan cenderung lebih menguntungkan motor dengan engine 4 silinder. Untuk itu seperti yang telah diberitakan oleh Ducati kemungkinan pada tahun 2019 masa tugas L-twin engine di balapan WSBK akan berakhir. Muncul Ducati superbike bermesin V atau L 4 silinder turunan dari teknologi motogp bertarung di balap WSBK.
Sekarang ini dominasi di lini depan adalah pembalap Jonathan Rea dan Tom Sykes Kawasaki Racing Team dan Chaz Daviez team Aruba Ducati. Perseteruan antara screamer inline 4 dan L-twin engine. Gap yang diciptakan ke tiga pembalap tersebut cukup lebar dengan pembalap-pembalap lain di tiap balapan. Mereka adalah top level pembalap WSBK seperti hal nya Vinales, Marquez dan Rossi di motogp.
Berlainan dengan motogp yang hampir semuanya big bang engine, Kawasaki Ninja ZX10RR screamer engine masih menguasai balapan WSBK dibayang-bayangi Ducati L-twin yang mewakili big bang style firing interval versi WSBK. Keganasan screamer engine sepertinya tidak jadi masalah bagi pembalap WSBK. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

6 thoughts on “Ducati L-Twin mesin big bang versi WSBK

    bdt said:
    Mei 18, 2017 pukul 1:10 pm

    mesinnya pake VVA ngak om?

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 18, 2017 pukul 2:03 pm

      Baru Suzuki GSX-R1000 model 2017 pake VVT.

      Mungkin kedepannya Honda, Kawasaki, Yamaha akan mengikuti jga

      Suka

        bdt said:
        Mei 18, 2017 pukul 2:22 pm

        kenapa baru sekarang yach diterapkan, malah ymh di motor kecil sdh?

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Mei 18, 2017 pukul 2:34 pm

        Kalau Honda tipe sport-tourer VFR800 VTEC udh lama jga sejak tahun 2002. Tpi supersport 1000 baru Suzuki aja.

        Baru skarang di motor 150cc mungkin strategi marketing Pak. Sejauh sistim sebelumnya masih laku, pabrik belum ambil perubahan dulu.

        Suka

    tri_aja_gunung_kidul said:
    Mei 18, 2017 pukul 8:59 pm

    Sebenarnya kawasaki sdng di tunggu 3 pabrijan jepang lainnya tuk bertarung di kancah motogp..
    kalaupun mslh ekonomi dan sdm sy kira kawasaki tdk kah kurang
    Atau mungkin jiwa seorang “samurai” jepang sdh gak ada di hati para petinggi kawasaki..
    pdhl sy yakin bnyk fans kawasaki di penjuru dunia mengharapkan kawasaki terjun ke motogp….melawan trio jepang dan trio eropa

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 19, 2017 pukul 7:58 am

      Sepertinya faktor fulus jdi pertimbangan Kawasaki kalau ikut di dua front. Sekarang tim Ninja lgi hebat-hebatnya di WSBK. Dua pembalap kuat kemungkinan J Rea bisa tiga kali berturut-turut juara dunia kalau tahun ini lancar..

      Cuma Ducati yg jor-joran ikut di dua front motogp dan WSBK. Dan tim PATA Yamaha factory jga kalau ane ngak salah. HRC dan Aprilia bukan tim pabrik.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s