Teknik mengerem motogp

Posted on Updated on

Ducati Troy Bayliss Faster Way

Hard braking : Menarik tuas rem depan diawali dengan lembut, rider harus menunggu sampai fork terkompress dan berat berpindah ke ban depan untuk menghindar ban mengunci, baru kemudian menarik keras. Penting meringankan beban di pundak dan lengan dengan menahan kaki ke tanki, maka siku dapat relaks sedikit menekuk untuk persiapan memasuki tikungan (The faster way)

Bagi para pembalap profesional mengerem atau braking adalah fase penting. Bukan hanya sekedar memperlambat kecepatan motor memasuki tikungan, lebih dari itu bagaimana kecepatan di mid-corner nantinya dan akselerasi di ujung tikungan. Rangkaian yang saling terikat erat dalam tujuan mengejar lap tercepat.
Mereka punya titik pengereman (braking point) dan titik belok (turn-in point) yang berlainan memasuki tikungan.
Jl dengan M1 mengurangi mayoritas kecepatan masih di lintasan lurus mengambil titik pengereman jauh lebih awal. Setelah motor berada pada kecepatan yang di inginkan, transisi melepas tuas rem dan mulai membuka throttle kemudian berbelok miring roll-on memasuki tikungan medium-fast. Waktu transisi antara lepas tuas rem dan buka throttle sekitar 0,5 detik. JL mengambil radius line yang lebar dengan itu motor lebih lama miring ditikungan bertumpu pada bagian pinggir (edge) ban.
Rossi lebih hard braking dengan titik pengereman lebih dekat ke pintu tikungan kemudian trail braking bersamaan motor miring memasuki tikungan. Intensitas tarikan tuas rem di modulasi dan semakin berkurang mengikuti lean angle semakin bertambah sampai mid-corner. Kemudian transisi secara halus melepas tuas dan mulai buka gaz untuk akselerasi keluar tikungan. Atau mengambil line late apex – squaring off yaitu titik belok yang lebih kedalam lagi. Lean angle tidak terlalu miring, motor segera ditegakkan dan mulai akselerasi sebelum apex. Late apex – squaring off dimana letak titik apex lebih keluar dibandingkan classic racing line. Hanya dengan teknik late apex kecepatan motor lebih lambat di titik belok. Tapi dengan motor segera ditegakkan rider dapat akselerasi cepat melalui bukaan throttle lebih lebar, bersamaan suspensi semakin efektif bekerja.
Marquez adalah sosok rider yang mampu mengolah hard braking begitu efektif sampai ujung batas. Kuatnya intensitas pengereman membuat ban belakang terangkat lama dari aspal. Khususnya menuju tikungan stop n go bentuk V, motor dikondisikan berhenti tepat di apex dari kecepatan tinggi, kemudian berbelok cepat dan segera menegakkan motor untuk akselerasi. Selama proses pengereman berlangsung MM mampu modulasi intensitas tarikan tuas rem supaya ban tidak mengunci.

Marquez Performance bikes

Marquez mampu memodulasi tekanan rem depan supaya ban tidak mengunci meskipun ban belakang terangkat (Performance Bikes Mag)

Rem depan berfungsi paling besar mengurangi speed motor. Rem belakang biasanya untuk menstabilkan atau juga membantu membelokkan supaya sudut line dapat lebih kedalam. Radius belok menjadi lebih sempit memasuki tikungan dengan cara skidding menggeser sedikit bagian buritan ke samping (sideways).  
Ada rider yang hanya memakai rem depan tanpa rem belakang seperti Lorenzo ketika membawa M1. Rossi, Marquez dan Vinales memakai rem belakang. Rasio sekitar 80 persen rem depan, 20 persen belakang seperti dijelaskan Rossi.
Pembalap menarik tuas rem dengan urutan (sequence) intensitas lebut-keras-lembut. Seperti dijelaskan oleh Ibbot di awali tarikan lembut (gentle) yang cukup supaya membuat suspensi tertekan. Setelah suspensi menjadi stabil, tarikan pada tuas dinaikan lebih keras lagi, kemudian pada titik dimana tuas rem direncanakan dilepas, maka melepasnya juga dengan lembut.
Dengan cara itu tidak saja memungkinkan mengerem lebih keras selama masih diperlukan juga mempertajam kecepatan masuk tikungan. Sebaliknya menarik full tuas rem rider akan menerima beban  deselerasi dan mengurangi perkiraan entry speed yang tepat. Ketika fork tertekan, berat motor berpindah ke bagian depan. Melepas tuas secara tiba-tiba juga mempengaruhi tekanan suspensi. Fork yang tertekan akan terlepas berbalik dan menekan shock belakang, kestabilan motor jadi berkurang ketika berbelok memasuki tikungan.
Menurut juara ex pembalap motogp dan juara dunia WSBK tiga kali Troy Bayliss hard braking bukan ke trampilan yang diharapkan dapat dikuasai dalam waktu singkat satu sesi atau satu hari, melainkan harus dilakukaan terus menerus. Hard braking dikerjakan mulai dari tekanan yang kecil kemudian bertahap naik.
Mulai pengereman pada braking point seperti biasanya, bertahap secara progresif naikkan tarikan pada tuas rem. Ketika sampai pada titik dimana maksimum pengereman berada, tambahkan sedikit banyak lagi tarikan di tuas rem. Ketika proses pengereman berlangsung selalu perhatikan feedback dari ban depan dan belakang, lepaskan tuas rem sedikit apabila ada problem.  Kalau ternyata rider sanggup mengerem lebih kuat dan masih tersedia ruang memasuki tikungan. Pada lap berikutnya di tikungan yang sama rider dapat memundurkan letak titik pengereman (braking point) lebih dekat lagi ke pintu tikungan. Mengerem lebih lambat (brake late) supaya memaksa rider mengerem lebih keras lagi memasuki corner. Tapi dihindarkan panic braking yang mana akan membuyarkan konsentrasi

Braking graphic

Grafik intensitas pengereman depan & belakang mulai dari braking point, trail braking masuk tikungan dan sampai apex. 

Seperti dijelaskan Bayliss mengerem maksimum bukan bagaimana menarik tuas rem sekuat mungkin. Ada garis batas antara ban depan mengunci atau ban belakang terangkat dari aspal. Ketika ban depan akan mengunci, akan ada suara raungan atau mengeluarkan suara terseret (skidding), kemudian terasa front end mulai bergerak. Jalan bergelombang (bumps) juga mempengaruhi tingkah laku ban depan pada saat braking. Pembalap harus memodulasi tuas rem tiap kali melewati bagian lintasan yang kasar itu.
Faktor penting dalam fase pengereman adalah titik referensi (reference points) yang menjadi titik dimulainya pengereman. Reference point adalah tanda yang tersedia di lintasan, apapun bisa misalnya kerucut di pinggir lintasan atau tanda kecil di aspal. Di sirkuit Daytona USA Troy Bayliss mengambil cat tulisan DAYTONA terpasang di tikungan sebagai titik referensi pengereman. Banyak tanda di sekeliling lintasan yang bisa diambil sebagai titik referensi.
Pembalap harus menentukan reference point sebagai tanda untuk titik belok (turn-in point), apex dan pintu keluar pada tikungan tertentu. Ketika mendekati tikungan, rider menentukan titik belok, bisa itu tanda bekas ban di pinggir lintasan atau tanda cat. Yang perlu diperhatikan sebelum motor mencapai titik belok si rider sudah harus beralih dan fokus menentukan dimana letak apex berada di sisi dalam tikungan. Begitu motor melewati titik belok menuju apex rider sudah harus beralih fokus lagi menentukan titik keluar (exit) tikungan. Proses fokus menentukan antara satu titik ke titik selanjutnya harus cepat tanpa tertunda (seamless). Kemampuan ini harus diasah mempertajam pengelihatan peripheral yaitu melihat beberapa tanda yang menjadi titik referensi sekaligus tanpa pandangan si rider benar-benar tertuju kesitu.
Banyak pembalap memakai tanda yang ada di lintasan sebagai titik referensi untuk melepas perlahan throttle bersamaan menaruh jari-jari di tuas rem tanpa melakukan pengereman dulu. Biasanya sebelum tanda meter berupa angka yang memberitahu jarak ke tikungan di depan. Kemudian begitu motor tepat melewati papan tanda jarak yang ada di sisi lintasan, baru pembalap mulai menarik tuas rem. Cara tersebut memberi perbedaan cukup siknifikan. Atau kiranya menjadikan tanda papan jarak sebagai titik pengereman, beberapa pembalap malahan tetap masih membuka throttle. Ini mempercepat proses transisi dari buka throttle ke pengereman. Situasi itu memacu pembalap menutup gaz dan segera menarik tuas rem. Menurut Bayliss misalkan melalui transisi ini pembalap dapat mengurangi waktu seperempat detik, memungkinkan ia memajukan lagi titik pengereman 15 meter dari sebelumnya memasuki tikungan kecepatan 200 km/jam.
Kalau ingin makin cepat dari sebelumnya rider perlu bereksperimen merubah ke reference point lainnya. Tapi seperti di trek lurus Mugello motogp mencapai speed 350km/jam menurut Bayliss hanya satu titik referensi yang dapat dijadikan tanda. Adanya tanjakan dan sedikit belokan menjelang tikungan satu, dimana hanya terlihat papan tanda jarak 200 meter. Selama full speed di lintasan lurus pembalap hanya melihat ke papan tanda jarak itu untuk menentukan dimulainya fase pengereman.

A MUgello turn 1

Pembalap memilih titik referensi di lintasan sebagai tanda menentukan mengerem lebih awal atau lebih lambat. Tergantung seberapa cepat motor saat itu. Titik belok di tikungan satu Mugello ini tanda cat atau ban di aspal bisa dijadikan titik referensi.

Muncul perasaan terpacu menarik tuas rem sekuat mungkin supaya motor segera deselerasi maksimum. Itu bisa bekerja dengan mobil, untuk motor harus dilakukan dalam urutannya seperti telah disebutkan di atas. Dimulai tuas rem depan ditarik dengan lembut, harus diberikan waktu dulu untuk suspensi depan supaya menjadi tertekan (compress) dan berat terdistribusi ke bagian front end, setelah itu baru ditarik lebih keras. Apabila langsung terlalu banyak menarik tuas rem sebelum berat berpindah ke depan, konsekwensinya ban depan langsung mengunci! (lock up), dan situasi tersebut dapat membawa motor lowside tumpah ke aspal.
Pada titik belok yang dipilih, pembalap mulai melepas secara bertahap tekanan pada tuas rem bersamaan motor miring memasuki pintu tikungan. Seberapa brake late dan berapa banyak ditentukan oleh proses pencariannya. Rider dapat mengerem pada posisi motor miring (trail braking) mengambil line melengkung (arc) memasuki tikungan. Ketika memasuki tikungan seperti itu dimana suspensi depan ter-kompres juga terjadi perubahan geometry, akan lebih mudah mengendalikan (steer) motor.
Rem belakang tiap pembalap punya pandangan tersendiri berdasarkan riding style nya. Jorge Lorenzo waktu memakai M1 tidak memakai rem belakang, demikian pula Kevin Schwantz dan John Hopkins. Yang lain seperti Rossi, Marquez, Dovizioso dan Vinales memakainya. JL sejak pindah membawa Ducati pun mulai memakai rem belakang untuk membantu men-steer motor memasuki tikungan.
Nicky Hayden menjelaskan rear brake ia gunakan untuk mengkontrol wheelie dan menjaga ketika merubah arah motor. Chaz Daviez pembalap Ducati WSBK memakai rem belakang untuk membantu motor berbelok memasuki tikungan dan di mid-corner menjaga tetap mengarah ke apex. Troy Bayliss selalu memakai rem belakang tiap kali memasuki tikungan untuk menstabilkan bagian buritan motor.  Memasuki tikungan kiri ia menekan tuas rem belakang sampai apex. Ia hanya melepas rem belakang ketika motor miring ke kanan di mid-corner dimana lean angle membatasi gerakan kakinya.
Di tikungan terakhir yang panjang sirkuit Mugello, Bayliss cukup banyak menekan rem belakang meskipun motor pada posisi miring total. Tikungan gir tiga double-apex dan sedikit menurun (downhill). Ketika tepat pada apex pertama disitu Bayliss melepas tuas rem depan, motor menuju ke tengah dan supaya menjaga tetap berada di line ia memakai rem belakang menuju apex kedua dan akselerasi di ujung tikungan menuju lintasan lurus yang sangat panjang. Memakai rem belakang di tikungan double-apex membantu nya memilih line yang tepat di pertengahan tikungan. Bayliss juga memakai rem belakang untuk meredam wheelie.
Intinya rem belakang mayoritas dipakai bukan untuk memberhentikan motor di lintasan lurus, melainkan untuk menstabilkan bagian buritan, menjaga tetap berada di line di mid-corner atau membantu mengarahkan (stir) motor memasuki tikungan. 

Performance Bikes Mag June 2017

Dalam posisi menukik mayoritas berat sudah berpindah ke bagian depan, sangat kecil sekali peranan grip ban belakang memberhentikan motor di straight line (performance Bikes mag)

Di era motor bengis GP500 2-tak kebanyakan pembalap waktu itu memakai rem belakang untuk mengkontrol wheelie atau ban spin ketika akselerasi di ujung tikungan. Peralatan elektronik anti wheelie dan traction control belum secanggih sekarang khususnya buatan in-house pabrik.
Engine braking saat motor deselerasi memberi pengaruh kestabilan motor menuju tikungan apabila ban belakang sampai mengunci. Sejak adanya slipper clutch dan torque ductor maka ban belakang mengunci dapat diredam siknifikan. Walaupun motogp yang canngih kadang masih membawa bencana seperti yang terjadi terhadap Marquez. Musim 2015 engine brake berlebihan membuat Marquez kerepotan mengurangi kecepatan memasuki tikungan.
Sebelum muncul slipper clutch pembalap biasanya throttle blip yaitu menaikan engine rpm atau rev-match disesuaikan dengan kecepatan motor. dengan cara itu meredam ban belakang mengunci terutama pada saat hard braking dari kecepatan tinggi, downshift pindah dari gir 6 langsung meluncur ke gir 2 dan 1.
Pada waktu mengerem beban banyak tertumpu pada lengan dan pundak. Untuk itu pembalap menggunakan kakinya menahan dengan memegang tangki. Dengan maksud sebagian beban dapat disingkirkan dari badan bagian atas, lengan bagian siku dapat relaks sedikit menekuk. Badan juga lenbih ditegakkan supaya angin menerpa yang juga membantu meringankan beban yang cenderung bertumpu ke depan. Sisi lainnya hard braking kadang membuat ban belakang terangkat dari aspal. Maka penting pembalap menegakkan badan dan menekan lebih ke belakang sebanyak mungkin.
Teknik balap adalah sebuah seni yang harus di gali dan dipertajam secara terus-menerus. Hasilnya pembalap akan dibedakan dari yang cepat dengan yang paling cepat walaupun hanya seperseribu detik.
Demikian sedikit ringkasan cara mengerem yang dilakukan pembalap motogp. Bagian teknik trail braking, teknik menikung motogp dan akselerasi bisa dilihat pada artikel masing-masing Wassalam dan salam sejahtera.
Source books : Troy Bayliss a Faster Way, Performance Riding technique Andy Ibbot, Keith Code Twist of the Wrist
Iklan

16 thoughts on “Teknik mengerem motogp

    sucahyoaji said:
    Mei 12, 2017 pukul 2:45 pm
      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 12, 2017 pukul 3:37 pm

      Trimaksih, sama-sama.

      Spertinya di safety riding di ajarin tarikan rem dimulai lembut, meningkat keras dan lembut lgi

      Disukai oleh 1 orang

        sucahyoaji said:
        Mei 12, 2017 pukul 6:49 pm

        sip kalau begitu. Karena banyak yang pakai rem depan dulu tapi nggak pakai trik itu.

        Suka

    Ira satryana said:
    Mei 12, 2017 pukul 3:55 pm

    Siip..
    Seperti yg casey katakan rcv warisanny yg sedikit d modif olh marc soal
    Brake2kan utk mengikuti gaya balap marc ..sepersekian detik sj marc slh
    Perhitungan mk ban dpn bs terkunci..
    Lalu ap yg d katakan casey selanjutny ?
    Saya tdk bs seperti itu ( cara marc )
    Sementara marc pun tdk bs meniru cara casey #brake
    Kata marc ..bs highside..ngeri !!
    Ternyata mrk py gaya msg2 dan tdk bs saling meniru.😁

    Suka

    Marc Alenta said:
    Mei 12, 2017 pukul 7:43 pm

    Nice artikel Pak

    Suka

    macantua.com said:
    Mei 12, 2017 pukul 9:58 pm

    lumayan dapet tambahan ilmu meski belum bisa menggunakannya secara langsung xixixixi

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 12, 2017 pukul 10:32 pm

      Sama Pak, sy jga ngak bisa, cuma nulis aja nih

      Trimakasih atas apresiasinya

      Suka

        macantua.com said:
        Mei 12, 2017 pukul 11:07 pm

        saya malah cuma bisa komen doang pak xixixixi

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Mei 12, 2017 pukul 11:16 pm

        Wah bisa aja nih hehehe siip

        Suka

    abaydmz said:
    Mei 13, 2017 pukul 8:06 pm

    Yg skrg saja masih belajar teknik trail braking om, rem keras sambil diturunkan tekanan rem depan masuk tikungan apex begitu pas puncak apex langsung lepas sambil gaspol om.

    utk rem belakang palingan ketika tikungan u turn muter balik dijalanan hardbraking lepas rem masuk tikungan sambil rem belakang sedikit keluar apex gas poll sambil rem blkg lepas dikit. Bantu bgt di u turn jalanan sempit jakarta 😬

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 13, 2017 pukul 8:56 pm

      Mantap Pak. Makin sering makin jdi biasa nanti, siip.

      Disukai oleh 1 orang

        abaydmz said:
        Mei 13, 2017 pukul 9:08 pm

        Yap belajar brakiny lebih sulit butuh tahunan bagi saya.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s