Jerez 2017 kesedihan Yamaha factory keceriaan JL

Posted on Updated on

Zarco GPone Jerez 2017
Lorenzo ngak dapat menahan kegembiraannya setelah berhasil memboyong piala juara tiga seri ke empat Jerez. Posisi terbaik dari seluruh pasukan Ducati termasuk penghuni lama Andrea Dovizioso. Pencapaiannya ini patut di berikan apresiasi setelah kesusahan yang dihadapi sejak seri pertama di gelar.
Power Ducati ganas di putaran atas tapi akan jadi sedikit lambat akselerasi keluar tikungan kecepatan rendah dari motor lain. Beberapa tikungan Jerez terdapat tight corner yang memperlambat akselerasi Ducati. Dan ada juga tikungan kecepatan sedang atau medium sweeper dimana Yamaha dapat memanfaatkan kestabilan melibas mid corner untuk mendongkrak akselerasi di ujung tikungan.
Sepertinya JL mampu koreksi kekurangan itu dengan menjadi pembalap Ducati tercepat di Jerez kemarin. Ada perubahan besar terhadap teknik balapnya dari Yamaha ke Ducati dan jelas bukan pekerjaan mudah.
JL terkenal dengan cara balap yang smooth memasuki tikungan kecepatan med-fast, membangun corner speed begitu kencang untuk mendorong motor lebih cepat akselerasi keluar tikungan. Membawa Ducati semuanya jadi berbeda, ia harus memakai rem belakang yang tidak pernah disentuh saat dengan M1 dulu. Menekan rem belakang bagian buritan bergeser sedikit sliding untuk membantu memasuki tikungan, line dapat lebih ke dalam. Di mid corner dimana motor cenderung understeer ke arah sisi luar apabila rolling buka throttle, menurut JL kompensasinya justru gaz harus lebih agresif membuat ban spin. Dengan cara seperti itu mencegah understeer dan motor mau berbelok mengikuti line saat keluar tikungan.
JL bukan pula tipe brake late dan hard braking. Titik pengeremannya (braking point) jauh lebih awal dari pembalap lain. Mengurangi mayoritas kecepatan di lintasan lurus dan transisi buka throttle kemudian roll-on memasuki tikungan. Proses pengeremannya yang begitu smooth, motor lurus tanpa ada gerakan sliding kiri-kanan. Sekarang ia masuk ke club pecinta hard braking.
Tapi masih banyak pekerjaan rumah ke depannya karena motor masih jauh dari ke inginan. Seperti disampaikan JL setelah race bahwa motor ada perilaku nervous atau kurang tenang.
Pasukan Honda factory membuat cerita persis seperti yang mereka lakukan saat qualifikasi, Pedrosa dan Marquez menduduki podium satu dan dua. Kedua rider kuat sejak awal balapan dan sepertinya tidak membuat kesalahan sampai melewati garis finish.
Jerez sebenarnya sirkuit dimana Yamaha biasanya selalu mantap. Tapi balapan kali ini terlihat bukan seperti biasanya, kedua rider Movia Star tidak dapat berbuat banyak.
Pedrosa sebenarnya bukan tipe hard braking. Pengeremannya lebih halus kemudian trail braking memasuki tikungan sampai mid-corner. Badannya yang ukuran kelas bulu sebenarnya kurang pas menurut pemerhati motogp luar membawa RC213V yang mana perlu upaya fisik mirip Ducati. Gaya balap nya seperti mengayun lebih mengikuti gerakan motor daripada  menekuk paksa untuk rebah seperti Marquez atau Crutchlow.
Seperti dikatakan Mat Oxley bahwa Pedrosa patut mengantongi juara dunia motogp setidaknya satu kali. Yang jadi problem gaya balapnya itu cenderung membuat panas ban kurang terbangun mencapai temperatur kerja. Pada jaman Pedrosa sedang kuat-kuatnya, justru ia suka tumpah ke aspal dan cedera yang akhirnya menghalangi tambahan point klasemen. Kalau semuanya pas dan berjalan lancar, seperti temperatur di trek, ban dan setup suspensi, Pedrosa sanggup melesat sangat cepat tak terkejar.
Kemenangan Repsol Honda bisa jadi big bang engine RC213V di sikronkan dengan elektronik telah mencapai level yang tepat. Ban belakang spin, ban depan wheelie adalah musuh abadi tiap kali ingin akselerasi cepat, sepertinya tidak begitu jadi masalah di Jerez.
Bagaikan teori big bang kejadian awal alam semesta yang kemudian muncul sistim yang terangkai begitu menakjubkan, big-bang engine juga menyumbang rangkaian interaksi antara power delivery ban ke aspal dan feeling si pembalap di tangan kanan. Big bang menyediakan situasi penyaluran torsi lebih terkontrol pada waktu akselerasi. Walaupun ban spin berlebihan yang tidak terduga tetap muncul, terutama sedang full akselerasi. Software seragam (unified) sekarang tidak pada tingkatan software canggih in-house dulu yang mana sanggup meredam spin atau wheelie tanpa banyak mengikis performa.
Sebaliknya tim Movistar mengalami suasana tidak kondusif sejak qualifikasi. Maverick Vinales ngak mampu berbuat banyak dengan berada pada urutan ke enam. Menurutnya ia tidak mendapat rasa percaya diri dari ban depan pada saat mengerem khususnya tikungan kanan. Sejak lap awal kurangnya feeling terhadap ban depan sudah muncul. Motor hampir crash dua atau tiga kali di tikungan 11 katanya.
Vinale merasa tidak ada yang salah dengan setup motor yaitu menempatkan sedikit berat ke bagian depan. Frontend saat morning warm up bekerja dengan baik menurutnya tapi langsung berubah siknifikan dalam waktu beberapa jam saja. Temperatur lintasan pada waktu balapan memang naik atau lebih panas yang mungkin menghadirkan problem tersebut.
Demikian pula Rossi tidak bebas dari masalah di atas sirkuit yang justru dia sukai. Paling tidak keunggulan poin klasemen dapat dipertahankan. Pada saat balapan frontend mengalami vibrasi yang mengharuskannya mereduksi kecepatan. Kondisi makin tidak bersahabat pada bagian kiri ban enam-tujuh lap menjelang akhir dimana motor terpaksa melambat 3 detik. Bukan saja vibrasi tapi ban spin juga mencederai akselerasi.
Minggu yang kelam menyelimuti tim factory Yamaha setelah Vinales cemerlang di Qatar dan Argentina. Kemudian pindah ke Circuit of the Americas dan tidak disangkal itu masih daerah kekuasaannya MM, tapi Rossi ikut berada di podium dua.
Seperti ditulis David Emmet bahwa ban menjadi sumber tidak konsistensi Yamaha setidaknya ini yang dirasakan Andrea Dovizioso.  Ada perbedaan sangat halus (subtle) ban dari race ke race, karena itu menjadi susah untuk konsisten. Situasi jadi tidak pernah stabil untuk itu diserahkan ke rider yang harus pintar memanage menurut Dovi.
Berlainan dengan ban slicks WSBK, motogp diperlakukan lebih khusus oleh supplier ban. Perbedaan compound membawa karakteristik tersendiri yang mempengaruhi handdling motor dan feeling atau feedback. Medium compound untuk sirkuit Termas de Rio Hondo Argentina dengan aspal abrasif tidak sama dengan medium compound di aspal Jerez yang halus, greasy dan kurang grip.
Hari Senin ini dilakukan test di Jerez, me re-evaluasi kemampuan compound ban yang lebih hard seperti dipakai pada musim 2016 tahun lalu di Valencia. Dijelaskan oleh Piere Tamarasso Manager Michelin di GPone bahwa ban medium compound yang dipakai Zarco bekerja lebih baik dibandingkan hard. Ban depan medium punya daya gigit lebih ke aspal dan memberikan traksi yang lebih baik ketika berbelok miring meskipun kurang mendukung ketika hard braking. 
Zarco begitu luarbiasa bersemangat seolah-olah membawa sekantong booster menambah daya dorong motornya melesat kedepan.  Tim satelit yang overtake kedua rider Yamaha Movistar dan sempat one on one dengan Marquez. Ia mampu menjaga jarak tetap dekat setelah JL overtake tapi pada sisa delapan lap terakhir motornya kerepotan berakselerasi dan harus menerima posisi empat.
Boleh angkat topi atas upaya Zarco itu juara moto2 dua kali berturut-turut. Seperti dikatakan David Emmet bahwa Zarco seolah-olah bukan Rookie, tapi rider motogp yang sudah balapan beberapa musim. Menekan motor menembus ujung batas sampai kemudian dapat surat peringatan satu dari ban depan supaya mengurangi speed atau konsekwensinya motor tumpah ke aspal. Melesat sampai ujung batas memang perlu dengan tujuan mengetahui sampai dimana garis batasnya antara crash dan tidak crash dan itu memberi ilmu balap baru. Demikian wassalam dan salam sejahtera
Iklan

8 thoughts on “Jerez 2017 kesedihan Yamaha factory keceriaan JL

    OTODROID said:
    Mei 8, 2017 pukul 9:21 pm

    hahahaaah

    Suka

    tri_aja_gunung_kidul said:
    Mei 9, 2017 pukul 9:00 am

    Bukti m1 2016 lbh bagus dr m1 2017 saat race kmrn…sprt yg di infoin rossi saat qtt bahwa lbh enjoy bawa m1 2016 tuk gp jeres ..bs di liat dr hasil zarzo yg finish 4th ..msh bs sempet pepet mm93 awal race..walau akhirny hrs drop di akhir race..
    mungkin ada info tambahan mengenai test senin kmrn di jeres?
    Perihal Rossi focus test sasis baru m1 2017?

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 9, 2017 pukul 10:39 am

      Mnurut orang Michelin medium compound yg dipilih Zarco terbukti lebih menggigit dri pada hard yg di pake Rossi.

      Chassis baru ampuh buat Vinales tpi tdk utk Rossi. Test Jerez hari Senin Vinales jdi yg tercepat.

      Test lebih ke re-evaluasi antara compound yg sekarang atau compound lebih keras seperti tahun lalu di Valencia. Nanti pembalap akan voting yg mana berdasarkan mayoritas suara. Kalau pilih yg lebih keras, ban akan tersedia mulai di Mugello.

      Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Mei 9, 2017 pukul 10:44 am

        WSBK ban sama semua utk tiap sirkuit. Pilihan compound cuma tiga SC1 (soft), SC2 (medium), SC3 (hard) dan super soft hanya utk qualifikasi.

        Kalau motogp dibuat seperti peraturan ban WSBK seru jga kali ya

        Suka

    nduk said:
    Mei 10, 2017 pukul 6:09 am

    Secara mentor 1. Sete gibernau 2.”rossi” 3.stoner he he

    Suka

    Ira satryana said:
    Mei 11, 2017 pukul 6:30 pm

    Justru menurut nakamoto, rider dgn postur kecil adlh yg aseek d lihat
    Membw RCV..Tanpa di sadari..percaya gk percaya ..postur tubuh dani
    Cocok utk setingan masspro org2 asia. Mungkin ini slh satu sebab dani
    Msh d pertahankan olh honda..yg menarik utk jorge, seperi yg doi katakan
    Sendiri pd motorsport ..m1 memang di ciptakan Sesuai gaya balapny
    Mk itu slama bertahun2 sy lihat doi jarang turun kaki saat msk corner
    Tp utk jerez..doi melakukanny ..ini slh cara bg sy pribadi..jorge sdh
    Sedikit paham membw ducati..semoga sukses utk jorge..
    Met malm mbaaahh 😁

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 12, 2017 pukul 8:12 am

      hehe, Pedrosa sendiri mengakui dirinya super enteng utk bawa motogp. Yg jdi masalah pas temperatur cuaca turun, gaya balapnya jdi kurang efektif membangun panas ban depan.

      Kalau gaya kaki turun (leg dangle) pas braking itu lebih ke kebiasaan aja. Ngak ada pengaruh dg handling motor, misalnya jdi lebih stabil.

      Suka

        Ira satryana said:
        Mei 12, 2017 pukul 3:43 pm

        Okay tx 😊

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s