Pertarungan epic Marquez dan Vinales tidak terjadi di COTA 2017

Posted on Updated on

COTA 2017 Crash.net

COTA (crash.net)

Circuit of The Americas Texas tiap kali menggelar motogp selalu menyediakan happy ending untuk Marc Marquez. Sepertinya sosok pahlawan Captain America merasuki nya dan memberi kekuatan super selama balapan.
Belum ada pembalap Honda yang membawa RC213V setajam Marquez melewati tikungan S 3-4-5 dan beberapa tikungan hairpin kecepatan rendah radius sempit gir satu seperti 1-11-12-20. Puncaknya waktu dulu ketika masih memakai ban Bridgestone dan software in-house HRC.
Intensitas hard braking Marquez boleh dibilang brutal ketika akan memasuki tikungan hairpin berbentuk V tersebut. Khususnya dari back straight yang sangat panjang menuju tikungan 12 dan front straight ke tikungan 1. Grip ban depan Bridgestone yang super lengket memungkinkan Marquez mengerem sampai ujung batas. Ban belakang terangkat ala rolling stoppie sambil terus masuk tikungan lebih dalam. Di titik apex Marquez secepatnya merebahkan motor untuk berbelok tajam dan tanpa tunggu lama segera menegakkan (upright) lagi untuk akselerasi.
Menurut Mat Oxley kalau pembalap lain sudah menyelesaikan fase pengeremannya di lintasan lurus, Marquez masih belum. Ia masih sibuk rolling stoppie sambil bersamaan sedikit memiringkan sudut motor 20 derajat. Pada posisi ini steering head bisa menjadi pivot untuk menggeser bagian buritan motor ke samping (sideways) membantu percepat sudut atau arah belok motor lebih ke dalam di apex. Kalau dari pendapat Scott Redding letak titik apex Marquez lebih keluar lagi.
RC213V di rancang untuk tetap stabil pada saat hard braking dan Marquez sanggup memeras potensi itu sampai batasnya. Demikian juga melewati tikungan S 3-4-5 begitu cepat menggunakan berat badan berpindah kiri-kanan (flip-flop), terlihat mudah merubah sudut kemiringan RC213V. Dengan cara tersebut keunggulan lap time dalam sepemilidetik diraihnya.
Tapi sejak Michelin mengganti Bridgestone dan diberlakukan ECU/software seragam, jurus pamungkas Marquez itu jadi tidak setajam dulu. Dia mengerti apabila terlalu bermain di ujung batas konsekwensinya akan pahit. Ban kehilangan grip dan lowside tumpah ke aspal.
Grip ban depan Bridgestone begitu lengket karena efek servo. Makin besar tekanan diterima ban semakin lebar area kontak antara ban dengan aspal. Tapak ban ekspansi menambah daya cengkram. Faktor ini menjadi jaminan rasa percaya diri ketika hard braking.
Sampai kemudian datang anak baru di motogp grid yaitu Maverick Vinales. Masa magang di perguruan balap Suzuki membuahkan hasil yang berharga. Suzuki GSX-RR adalah motor bertenaga, handling yang baik dan punya potensi juara. Tapi membawa M1 akan lebih mendapat keuntungan lagi dan dia buktikan pada seri perdana Qatar dan seri kedua Argentina.
Marquez tetap sukses mencetak laptime tercepat pada saat qualifikasi tapi upayanya dibayangi sangat dekat oleh Vinales yang terpaut hanya 0.130 detik. Vinales satu-satunya pembalap Yamaha menciptakan gap begitu ketat dengan Marquez. Bisa dibayangkan betapa ia sungguh-sungguh memacu M1 menyentuh limit, dari kecepatan tinggi harus agresif hard braking memasuki tikungan V kecepatan rendah tersebut dan itu bukan letak keunggulan Yamaha M1 sebenarnya. Sayangnya ketika sedang melakukan pace bagus Vinales tertahan oleh Rossi di tikungan dan sempat membuatnya merasa kesal.
Keberuntungan sedang menjauh, lap kedua Vinales mengalami lowside pada tikungan 18 kecepatan sedang long sweeper. Belum diketahui penyebabnya dan menurut penjelasannya motor tidak sedang ditekan, relatif kecepatan dibawah morning-warm up.  
Menurutnya grip ban belakang dirasakan sangat baik, hanya sedikit aneh pada ban depan. Vinales sempat mendapat beberapa peringatan (warning) dari feedback yang dikirim ban depan sisi kiri pada awal lap kedua. Kenyataannya ban depan hilang grip justru saat melewati tikungan medium speed ke kanan. Padahal Vinales merasa kuat dan percaya diri memakai medium compound depan/belakang seperti di morning-warm up sebelumnya. Untuk itu ia bertekad fight sampai akhir lomba.
Marquez dan beberapa pembalap lainnya sempat mengalami crashed saat latihan bebas hari Sabtu. Lintasan bergelombang (bumps) dan temperatur dingin disoroti menjadi penyebab. Bisa jadi yang dialami Vinales pun sama dalam fraksi sangat kecil sekedipan mata, seperti ban depan yang masih belum mencapai temperatur kerja pada lap-lap awal, bersamaan melewati bagian bergelombang di lintasan maka terjadilah bencana yang sempurna.
Pembalap top level dimana selalu memacu motor mendekati batas sangat perlu sekali feedback. Komunikasi dua arah itu bermanfaat sebagai cara mengetahui sampai dimana batasnya khususnya ban depan. Tapi sebelum crash terjadi sepertinya tidak banyak peringatan dilemparkaan ban depan ke Vinales. selanjutnya motor sudah nyerosot masuk gravel tanpa dapat berbuat apa-apa untuk mencegah.
Pedrosa adalah pembalap Honda yang juga kuat di COTA. Memanfaatkan hard braking memasuki tikungan V membuat ban depan mencapai temperatur kerja. Dimana pada sirkuit dengan banyak tikungan kecepatan sedang-tinggi long sweeper gir transmisi tiga dan empat seringkali kesulitan menekan akibat kurangnya panas ban depan. Dari kondisi tersebut motornya sering crash dan ia sendiri cedera.
Menurut pengamat motogp teknik balap Pedrosa yang smooth membuat kondisi seperti itu ditambah badannya masuk kategori kelas bulu. RC213V mungkin kurang pas untuknya, M1 atau GSX-RR akan lebih cocok.
Strategi Rossi menyusup menunggu peluang kemudian melakukan attack. Gap nya pada posisi dua dengan Marquez cukup dekat sekitar 3 detik dan itu merupakan hasil terbaik selama di COTA. Dari situ menunjukkan bahwa Rossi masih punya kekuatan untuk berada di depan.
Kembali ke RC213V dimana sebelumnya ada problem akselerasi akibat terlalu banyak ban spin menyumbang hilang traksi sepertinya sudah beres. Diperlihatkan oleh Marquez yang mampu melesat cepat keluar dari tikungan stop n go itu, berarti V4 engine dengan crankpin big bang sudah bekerja seperti yang di inginkan.
Pertarungan sengit antara Vinales dan Marquez masih harus ditunda dulu mengingat seri balapan kedepan masih panjang. Point yang dapat dipetik bahwa daya tempur Vinales membawa M1 saat qualifikasi tidak diragukan akan membuat repot pembalap top level. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

3 thoughts on “Pertarungan epic Marquez dan Vinales tidak terjadi di COTA 2017

    Marc Alenta said:
    April 24, 2017 pukul 10:15 pm

    Jerez bakal terjadi duel zarco vs Rossi , vinales vs marquez

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      April 25, 2017 pukul 8:05 am

      Skill balap dan nyali Zarco mantap sebagai Rookie.

      Suka

        Marc Alenta said:
        April 25, 2017 pukul 5:57 pm

        Memang lebih beringas zarco di banding vinales …Hehehe…..Vinales Lorenzo bangett

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s