Teknik menikung Vinales akan lanjut ke COTA

Posted on Updated on

Vinales COTA 2017 motofire

Maverick Vinales (motofire)

Balapan ditentukan oleh seberapa cepat rider mengolah motor masuk dan keluar tikungan dalam satu lap. Rata-rata membuat jarak 0.1 – 0.2 detik tiap tikungan sudah cukup melebarkan posisinya di depan lawan sampai finish pada akhir lomba.
Motor yang punya keunggulan akan membawa pembalap lebih mudah dibandingkan motor dengan performa sedikit dibawah. Rider mau tidak mau harus lebih menekan supaya tidak tertinggal jauh. Mengerem lebih dalam dan secepat mungkin buka gaz di apex dan akselerasi keluar tikungan.
Selalu membawa motor seperti itu akan mendekati batasnya. Melewati berarti mengajak suspensi, chassiss dan grip ban bermain diluar kemampuan dimana motor tumpah ke aspal akan terjadi kapan saja.
Sisi baiknya membawa motor sampai menyentuh garis batas secara bertahap akan mengasah skill balap lebih meningkat lagi. Ketika keberuntungan datang mendapat kesempatan membawa motor yang lebih baik maka keahlian itu dapat langsung di terapkan.
Hal ini dijelaskan oleh pemerhati motogp Mat Oxley bahwa apa yang telah dipelajari Maverik Vinales selama membawa Suzuki GSX-RR dilepasnya ke Yamaha M1. GSX-RR adalah motor yang bersahabat tapi masih sedikit dibawah M1. Untuk  itu selama mengendarai GSX-RR Vinales punya kesempatan berharga merenggangkan lagi kemampuan balapnya sejauh yang ia mampu.
Seperti Honda RC213V, YZR M1 adalah motor juara dengan banyak titel berjajar di Hall of Fame Yamaha. Kabar bagusnya karakteristik handling ngak jauh dengan GSX-RR, memungkinkan Vinales dalam waktu singkat beradaptasi dan belajar untuk memeras segala potensi yang tersedia di motor.
Berlainan situasi yang dihadapi Jorge Lorenzo membawa Ducati GP17. JL tidak dapat mempraktekkan corner speed M1 yang jadi senjata mematikan melibas tikungan kecepatan sedang dan tinggi selama itu. Ducati cenderung understeer tidak nurut mengikuti line di mid-corner apabila membuka gaz untuk membangun corner speed mulai dari awal masuk tikungan.
Dengan Ducati JL harus mengerem lebih dalam kemudian dilanjutkan trail braking bersamaan memasuki tikungan sampai mid-corner. Jelas bukan gaya balapnya membawa M1 dan terpaksa harus ia rubah walaupun bukan perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan. Perlu waktu mengingat kemampuan determinasi, feeling, refleks otot yang sudah menjadi satu sistim terprogram cukup lama.
Bisa jadi JL salah masuk kamar, seharusnya Suzuki GSX-RR jadi pilihannya
Seperti disampaikan Wilco Zeelenberg Kedatangan Vinales membawa tantangan baru bagi tim ahli Yamaha dimana selama sembilan tahun selalu tekun dengan gaya balap JL yang tertentu itu.
Maverick memakai berat badannya lebih banyak kedepan dari yang dilakukan Lorenzo, dimana membantu motor berbelok dan mengerem, juga membangun panas ban depan. Pada musim 2016 sejak memakai Michelin JL sering menghadapi problem grip ban depan karena kurangnya panas. Ban depan Michelin membangun panas tidak sebaik Bridgestone. Artinya Vinales dapat menggunakan ban depan yang lebih normal dari pada ban paling soft yang sering diminta JL. Ini akan sedikit mempermudah karena tim sering kesulitan untuk membuat ban dengan compound lebih keras bekerja semestinya untuk JL.
Vinales lebih agresif mengerem bukan aja ban depan tapi juga ban belakang, membuat bagian buritan motor sedikit bergerak ke arah samping atau sliding (sideways). Dengan itu seting yang diterapkan berbeda, karena harus membantu nya memperoleh keuntungan pada bagian depan.
Teknik Vinales berlainan dengan para rider Yamaha. JL mengurangi mayoritas kecepatan hampir seluruhnya di lintasan lurus menjelang tikungan. Bagian buritan motor tetap lurus tanpa adanya gerakan ke samping seperti Vinales. Setelah speed berkurang tuas rem (brake lever) mulai dilepas Kemudian transisi buka throttle dan membiarkan motor roll-on masuk tikungan. Mengambil line yang lebar membangun corner speed dan segera menambah gaz sebelum apex untuk exit corner. Dengan teknik ini motor JL lebih lama pada posisi miring menggunakan bagian ban paling pinggir (edge) dibandingkan Rossi. Dengan itu JL perlu grip yang mantap dan itu tercapai apabila panas sudah cukup terbangun.
Rossi lebih ke cara konvensional menurut Zeelenberg, mengerem lebih agresif dari JL dan trail braking memasuki tikungan.  Tekanan pada tuas rem bertahap semakin berkurang di mid-corner kemudian melepasnya untuk transisi buka throttle di apex.
Vinales juga mengurangi sebagian besar kecepatan motor di lintasan lurus, kemudian miring menyapu kedalam tikungan. Mirip dengan JL hanya lebih banyak beban (load) pada ban depan. Ketika di lintasan lurus ia memakai rem belakang melebihi Rossi dan JL yang membuat bagian belakang motor bergerak menyamping. Teknik rem belakang lebih mirip dengan Marquez menurutnya.
Rossi dan Vinales tidak berlama-lama dalam posisi miring, secepatnya menegakkan motor lebih awal untuk akselerasi. Dimana JL tetap miring membangun corner speed kemudian memanfaatkan kecepatan di mid-corner untuk akselerasi di ujung tikungan.
RC213V memang di rancang oleh ahli di HRC untuk hard braking lebih brutal. Masuk lebih dalam tikungan radius sempit kecepatan rendah seperti chicane, hairpin atau L kemudian berbelok tajam merebahkan motor di apex dan segera menegakkan kembali untuk berakselerasi. Dengan itu RC213V perlu traksi antara ban belakang dengan aspal yang makyuss supaya bisa cepat. Ban belakang terlalu banyak spin akan mencederai akselerasi. Di tikungan stop n go radius sempit tersebut motor Marquez hanya sebentar berada pada posisi miring.
Untuk itu karakteristik handling RC213V sangat pas dibawa oleh Marquez. Potensi motor ia peras sampai ujung batas menaklukan tikungaan radius sempit stop n go.
M1 dirancang spesial membawa corner speed melesat di tikungan sedang dan tinggi. Di mid corner motor tetap stabil dan nurut untuk tetap berada di line dan akselerasi di ujung tikungan.
Circuit Of The America setidaknya memiliki lima tikungan stop n go yang menjadi keuntungan Marquez.
Kita tunggu apakah sang Maverick mampu menaklukkan COTA, menggeser ke digdayaan Marquez disana selama ini. Demikian wassalam dan salam sejahtera.

 

 

 

Iklan

4 thoughts on “Teknik menikung Vinales akan lanjut ke COTA

    Marc Alenta said:
    April 23, 2017 pukul 11:10 pm

    Menanti duel 93 vs 25

    Suka

    Ira satryana said:
    April 25, 2017 pukul 6:37 pm

    Jk jorge ingin mencoba kluar dr gaya balap motor inline
    Baikny Jorge msk dlu k aprillia belajar dlu bgmn bw V4 dah paham br k Ducati
    klu die kgk mo byk robah gaya balap..yak agk tepat msk k suzuki.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      April 26, 2017 pukul 9:11 am

      Sebenernya letak perbedaan motor di chassis geometry.

      Kalau engine keduanya udh sama-sama big-bang, jdi ngak begitu berbeda karakter meskipun yang satu V4 dan satunya inline 4.

      Kalau sama-sama masih konvensional / non bigbang, power delivery V4 lebih bersahabat dibandingkan screamer inline 4 yang justru agresif.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s