Rally grup B Toyota Celica Twin Cam Turbo mesin 4T-GTE turbocharged

Posted on Updated on

Toyota Celica Twin Cam Turbo carbuildindex

Jawara Safari Rally Africa & Ivory Coast 1983-1986 Toyota Celica Twin Cam Turbo

Bagi penggemar balap dan Rally tahun 80 an mungkin ingat kejuaraan Rally dunia (WRC) pernah dikuasai oleh mobil-mobil Grup B fenomenal dengan tenaga monster lebih dari 500 HP.  Sistim penggerak 4 roda (4WD) di atas gravel mobil sanggup melesat dari keadaan stop sampai 100 km/jam dibawah 3 detik.
Periode tahun 80 an Audi Quattro A1/A2 sebagai pemegang tahta juara umum kemudian bergantian di ikuti Peugeot 205 Turbo, Lancia Delta Integrale. Power ouput di set spektakuler, Audi Quattro tahun 1986 menembus 590 HP all wheel drive. 
Grup B di dominasi oleh mobil rally buatan Eropa. Tapi ada satu wakil dari Jepang yaitu Toyota Celica Twin Cam Turbo yang masih memakai penggerak 2 roda. Meskipun kalah traksi dibandingkan mobil-mobil 4WD tapi pada seri tertentu seperti Rally Ivory Coast dan Safari Rally mampu keluar jadi juara.
Driver seperti Juha Kankkunen dan Bjorn Waldegard dibawah naungan Toyota Team Europe (TTE) menekan pedal gaz terdalam, menciptakan lap time secepat mungkin pada tiap special stage yang dilalui.
Toyota Celica Twincam Turbo (T64) dibuat 200 unit untuk memenuhi peraturan homologasi. Sumber tenaga adalah engine klasik powerful 4T-GTE inline 4 cylinder 2090cc Twin Cam 16 valves. Sistim induksi bertekanan turbocharger dipilih untuk mengungkit power. Dalam setingan rally menyemburkan lebih dari 326 HP pada putaran 8500 rpm, torsi puncak antara 343 430 Nm di 5500 rpm tergantung besarnya boost.
Versi 4T-GTE adalah engine yang di homologasi berbasis dari 3T-GTE 1770cc turbocharger. Bore 89 mm x stroke 84 mm, oversquare (overbore), sangat senang di ajak revving sampai lebih dari 8500 rpm.

Toyota 4T-GTE carbuilderindex

Toyota 4T-GTE 16 valves 2090CC TWIN CAM turbocharged. Ukuran pipa header begitu masiv menyediakan ruang bagi gas pembakaran keluar dengan cepat.

Sistim turbocharger memakai unit merk KKK buatan German dengan Nippon Denso D-jetronic multi point electronic fuel injection. Pasokan udara dan bbm menjadi presisi dan efisien pada tiap rentang rpm. Jaman itu masih jarang mobil produksi masal dilengkapi electronic fuel injection.
Faktor yang menjadi kelebihan dari engine Toyota lainnya, 3T-GTE dan 4T-GTE aplikasikan delapan busi atau dua busi tiap silinder. Besarnya boost disemburkan turbin memerlukan pengapian sangat kuat supaya kantong-kantong campuran udara/bbm di seluruh bagian permukaan piston dan ruang bakar terbakar semua. Cylinder pressure terbangun secara baik menghasilkan torsi maksimum. Untuk itu double busi menjadi pilihan sebagai sumber pemantik api mencapai pembakaran yang stabil pada rpm tinggi.

Toyota 3T-GTE

Toyota 3T-GTE 1770CCC turbocharged

Cylinder head ringan terbuat dari aluminium ditempatkan 4 klep per silinder dengan size intake 46.5 mm, exhaust 40.5 mm. Meskipun cylinder block masih berbahan besi tapi menyediakan kekuatan dan ketahanan tinggi. Main bearing atau metal duduk berjumlah lima titik.
Untuk menghindari terjadi detonasi yang sangat merusak akibat semburan boost turbin K27 sebesar 0.75 -090 bar maka rasio kompresi statik (CR) piston di set 7.1 : 1. Biasanya CR engine turbocharger pada kisaran 8.5 : 1. Mengingat boost dan rpm akan selalu tinggi dipacu ketika rally berlangsung dengan itu CR lebih rendah lebih aman.
Engine memakai turbocharger tidak perlu banyak overlap karena kuatnya semburan ke dalam silinder akan menguras sisa gas pembakaran keluar. Juga mencegah terjadinya back pressure yang merugikan akibat gas pembakaran tertahan diantara turbin dan exhaust port dapat masuk kembali ke silinder apabila klep exhaust terlalu lama open. Dengan itu klep exhaust menutup lebih cepat.
Tapi sistim turbocharger sekarang sudah lebih efisien mengurangi back pressure. Keuntungan fase overlap yaitu LSA sempit dapat dipakai seperti umumnya engine performa tinggi normally aspirated.  
Panjang connecting rod end-to-end 123 mm, rasio con rod berbanding dengan stroke adalah 1.464. Terlihat kurang begitu ideal untuk high revving engine. Menurut ahli permesinan connecting rod lebih panjang misalnya rasio 1.7 pada stroke yang sama akan sedikit menyediakan keuntungan dari rasio yang lebih rendah, seperti :
* Piston akan lebih lama berhenti pada posisi top dead center, mengunci sejenak secara mekanis mengembangkan cylinder pressure. Tekanan pembakaran (combustion pressure) akan makin besar.
* Ketika crankshaft melewati TDC, piston yang mengunci sejenak itu akan terlontar ke bawah seperti katepel. Dibarengi cylinder pressure memuncak menciptakan tenaga putar atau torsi.
* Con rod panjang memberikan sedikit keuntungan daya ungkit mekanik memutar crankshaft.
* Beban friksi tekanan ke samping (side load) ring piston dengan dinding silinder juga antara rod bearing atau metal jalan dengan wristpin piston jadi lebih kecil dan seterusnya.
Tapi tentu engineer Toyota yang canggih waktu itu sudah memperhitungkan semuanya. Engine mampu menciptakan torsi dasyat mulai rpm rendah dimana selalu menjadi keunggulan sistim turbocharger dan HP digdaya pada putaran tinggi.
Dulu tahun 80 an di Jakarta para speed freaks pemilik mobil Toyota Corolla yang sekedar jadi weekend warrior atau ikut balap dan Rally pasti tidak asing dengan engine Toyota 2T-GE yang satu family dengan 3T-GTE dan 4T-GTE.
Toyota Corolla keluaran tahun 79 atau versi DX tahun 1980-1983 engine standard 3k  4k inline 1290cc OHV yaitu letak camshaft masih di dalam cylinder block, kemudian diganti atau “engine swap” dengan 2T-GE 1600cc yang sudah DOHC meskipun masih 2 klep per silinder.
Engine 2T-GE power 115 HP standard dilengkapi electronic fuel injection. Cylinder head aluminium dan ruang bakar (combustion chamber) berbentuk hemisphere di fabrikasi oleh Yamaha.
Engine akan mudah di tuning menaikkan performa lagi dengan mengganti komponen atau parts aftermarket seperti merk TRD atau TOM’S.  Memakai crankshaft engine 3T-GE dan piston diameter 89 mm mendongkrak jadi 2000cc. Camshaft intake 304, exhaust 288 dan karburator Weber 4 barrel venturi 40 mm, power menyentuh lebih dari 185 HP pada putaran 7500 rpm.

1970_2T-G

Toyota 2T-GE DOHC 8 valves terkenal di Jakarta tahun 80 an (Yamaha. motor-global.com)

Toyota adalah manufaktur mobil menyediakan engine dengan konfigurasi penggerak klep (valvetrain) TWIN CAM atau DOHC terbanyak. Dimulai pada akhir tahun 60 an sampai sekarang. Jadi TWIN CAM/DOHC bukan suatu teknologi baru yang katanya sudah jauh di rancang sejak tahun 1913.  
Efisiensi volumetrik engine 4T-GTE turbocharged ini secara teori pada titik power puncak 326 HP di putaran 8500 rpm adalah 127.3%. VE di crankshaft akan lebih besar lagi.
Mean efektif pressure (MEP) atau tekanan rata-rata yang diterima piston pada kurva torsi puncak 343 Nm putaran 5500 rpm 299 PSI.
Berat kendaraan 1100 kg, weight-to-power ratio 3.37 kg/HP.
Toyota Celica Twin Cam Turbo bermesin 4T-GTE adalah masterpiece supercar Toyota di medan WRC berpenggerak 2 roda yang waktu itu sanggup mendekati performa mobil-mobil 4WD. Demikian wassalam dn salam sejahtera.
Toyota Celica Twin Cam Turbo 1983-1986
Group : B Homologation. Type : two doors. Chassis steel monocoque TA64 chassis with roll cage and front steel subframe. Transmission : 5 speed rear wheel drive. Clutch : dry twin disc. Weight : 1100 kg. Cooling system : Water cooled. Lubrication system : Dry sump.  Rear axle : Limited slip differential.
Pictures : www.carbuildindex.com
Iklan

2 thoughts on “Rally grup B Toyota Celica Twin Cam Turbo mesin 4T-GTE turbocharged

    muhe said:
    April 26, 2017 pukul 11:53 pm

    Wah asik ni. Bahas nya ga cuma roda 2 tapi ada roda 4 juga.. hehe. Sering sering bos. Update yang begini…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s