KTM mesin konvensional ke big bang, Aprilia perlu torsi di low rpm

Posted on Updated on

Losail 2017 Getty Images

Unified software tidak sanggup meredam power delivery KTM V4 engine konvensional bagaikan “kerbau liar” saat mulai masuk powerband (Getty Images)

Musim balap 2017 partisipasi KTM sudah secara penuh di motogp. Meskipun hasil perolehan masih belum dikatakan memuaskan. Pembalap Pol Espargaro dan Bradley Smith finish pada urutan 17 dan 18.
Muncul keluhan power delivery dari engine V4 konvensional sejak test pra- musim di sirkuit Phillip Island. Dimana seperti dinyatakan oleh Pol Espargaro bahwa power delivery RC16 masih agresif. Kedua rider KTM Pol Espargaro dan Bradley Smith secara konsisten menghadapi isue berkaitan dengan transfer power V4 engine yang digdaya ke aspal sirkuit. Ban belakang spin menggila maka daya dorong (drive-out) memacu motor pun jadi berkurang.
Sebelum berangkat ke Qatar KTM sedang mempersiapkan update engine untuk digunakan disana yang kata Pol Espargaro “a big, big step” untuk menjinakkan power V4 RC16 ini. Sesuatu yang berhubungan dengan management power supaya sedikit lebih tenang, lebih mudah dikendalikan. Tapi ternyata masih belum seperti yang di inginkan, motor di ibaratkan se ekor kerbau liar yang tiap saat bisa mengamuk terutama pada rpm tengah-atas dimana torque & power band berada. Seperti dijelaskan oleh Kurt Trieb engine designer KTM di speedweek.com, kalau grip pada level rendah dan ketika motor akselerasi keluar tikungan disitu lah rider menghadapi masalah.
Menurut Trieb sekarang ini sedang dilakukan eksperimen crankshaft inertia bertujuan mencari power delivery secara tepat. Seperti mencoba variasi berat flywheel yang terhubung dengan crankshaft dimana mempengaruhi inertia dalam menciptakan torsi dan kecepatan engine revving. Lebih ringan maka mengurangi efek gyroskopik dan berat komponen berputar resiprokal. Engine cepat revving tapi juga akan agresif terhadap penyaluran torsi. Beberapa kombinasi berat flywheel di coba oleh tim sampai mendapatkan power delivery yang tidak agresif sesuai dengan setup motor.
Bilamana tidak juga menemukan solusi maka tim mempertimbangkan jalan terakhir memakai uneven firing interval atau big bang. Mengharapkan penyaluran torsi lebih jinak dibandingkan konvensional 360 drajat flatplane crankshaft.
Keunggulan engine konvensional “screamer” adalah pada faktor power, daya tahan dan lebih sederhana dibandingkan motor big bang yang sudah banyak dipakai motor lawan. Daya kuda digdaya memang bagus kalau elektronik mampu mengatur power delivery. Hanya akan jadi persoalan serius memakai unified software seperti sekarang ini yang memiliki keterbatasan performa. Power delivery terlalu agresif keunggulan power akan menjadi ngak berguna.
Sebaliknya mesin big bang menghasilkan vibrasi dan beban lebih besar untuk itu struktur engine internal harus kuat. Crankshaft, connecting-rod, bearing (laher), metal duduk/jalan, lower/upper crankcase harus memiliki kekuatan ekstra. Artinya bobot engine semakin berat bertambah sekitar beberapa kilogram.
Tapi big bang bukan jaminan persoalan akan selesai karena Honda RC213V pada kenyataannya menghadapi problem akslerasi. Ban spin tetap muncul ketika buka gaz keluar tikungan dan kondisi negatif ini juga terjadi pada Suzuki, Yamaha ketika grip menurun. Kekuatan software hanya mampu minimalisir selebihnya diserahkan oleh skill masing-masing rider. Tepat seperti jaman motor pemarah GP500 dua tak, mengatur ban spin dan wheelie melalui rem belakang dan throttle.
Kurang grip di asumsikan sebelumnya oleh tim datang dari chassis, ternyata karakteristik power delivery engine penyebabnya. Misalkan KTM jadi beralih ke big-bang, menurut Kurt Trieb engine akan siap dalam waktu tiga bulan.

yamaha-crossplane-crank-layout

Superbike Yamaha R1 crossplane 90 derajat crankshaft pin bukan big bang. Interval pengapian big bang memerlukan crankshaft, con-rods, piston boss, bearing, metal duduk/jalan juga upper/lower crankcase dengan struktur lebih tangguh menahan vibrasi. Engine makin berat beberapa kilogram.

Aleix Espargaro membawa Aprilia berhasil tembus urutan 6 menunjukkan apabila seting yang tepat motor sanggup kencang seperti motor lain. Gap nya sekitar 7 detik dengan pembalap terdepan Maverik Vinales. Layout sirkuit Losail tidak ada tikungan gir 1 seperti chicane, hairpin dan L radius sempit, semuanya tikungan kecepatan medium-high. Dapat di simpulkan motor sudah punya potensi melibas tikungan-tikungan tersebut. Sisi keuntungannya menurut Aleix adalah handling motor berubah jadi fantastik ketika grip ban drop yang biasa terjadi beberapa lap menjelang akhir balapan. Setup yang tepat pada chassis, suspensi, elektronik dan power delivery tidak membuat motor kehilangan daya dorong akibat ban belakang spin.
Dari penjelasan Romano Albesiano Engineer Aprilia Racing motor tidak mengalami banyak perubahan. Power, torsi dan rpm sedikit bertambah dan titik tengah frame di set ulang untuk meningkatkan kemampuan motor berbelok, efeknya motor tetap mampu mengikuti di line yang tepat ketika rider melepas tuas rem. Motor tetap stabil tidak cenderung understeer seperti problem Ducati di mid-corner.
Tadinya Aleix mengeluh merasa tidak membuat perbedaan besar dengan ban soft, kenyataannya di Losail ia ngak mendapat masalah dengan pace nya. Diungkap oleh Albesiano bahwa setelah test pertama Aleix tidak meminta power lebih kuat pada putaran atas melainkan lebih banyak torsi pada rpm rendah. Jadi dalam balapan bukan selalu bicara HP perkasa di putaran maksimum, karena kehebatan itu tidak bermanfaat kalau torsi lemot melewati slow corner.
Engine tidak bisa melayani kebutuhan semua lini, harus ada pilihan mana lebih di utamakan. HP superior terkuat di 16500-17500 rpm tapi lemot pada putaran bawah dimana diperlukan untuk mendorong keluar dari tikungan kecepatan rendah-tengah gir 1-2 pada rentang 5000-6000 rpm. Sirkuit Jerez tikungan kecepatan rendah putaran engine turun sampai 5000 rpmAkan jadi kerugian kalau transient torque baru mulai efektif galak mendorong pada putaran 8000 rpm. Motor akan ketinggalan lawan apabila lebih banyak slow corner. Karena HP terkuat hanya bermanfaat di lintasan lurus yang panjang dan tiap sirkuit memiliki satu atau dua straightaway.
Para ahli akan mencari kombinasi dari beberapa komponen mesin, mana yang terbaik di antara banyak pilihan engine karakteristik. Yang mana harus mampu memproduksi torque & power band paling lebar mulai dari putaran bawah dan atas. Dengan itu engine dapat memenuhi seluruh bentuk layout sirkuit dalam kalender motogp. Meskipun tidak akan selalu dapat cocok memenuhi semua. Topspeed Ducati luarbiasa, power digdaya pada putaran maksimum tapi akan kurang cepat melewati slow corner seperti chicane dan hairpin menggunakan rpm rendah. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

6 thoughts on “KTM mesin konvensional ke big bang, Aprilia perlu torsi di low rpm

    abaydmz said:
    April 2, 2017 pukul 1:02 pm

    Problem bigbang sama screamer sama sama rumit

    Suka

    tri_aja_gunung_kidul said:
    April 4, 2017 pukul 9:47 am

    Tp lengkingan suara jauh lebih merdu screamer…sampai trasa ngilu dengernya…
    kmrn di qatar rcv suarany udah mirip M1..
    Wah ga jd mesin yg berbeda dong nih KTM nyerah jg dgn screamer kl benar ke big bang..
    segala cara dilakukan KTM buat ngalahin Honda pokokny..hehehe

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      April 4, 2017 pukul 11:00 am

      Kayaknya rame-rame beralih ke mesin beng-beng Pak

      Suka

        tri_aja_gunung_kidul said:
        April 4, 2017 pukul 11:41 am

        Dulu pas bos furusawa pertama buat bigbang ke M1…yg lain tertawa dan memandang remeh M1 bigbang yg punya power terkecil …nah sekarang gantian bos furusaha tertawa bangga liat perkembangan mesin yg rame2 beralih ke bigbang…ngoahahaha
        kata mbah rossi “motor terasa pelan tp laptime kok lbh cepat” sambil geleng2

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        April 4, 2017 pukul 1:44 pm

        Sip, mesin beng-beng rasanya mantap ini

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s