Cerita big-bang Honda di seri perdana motogp Losail 2017

Posted on Updated on

Zarco-Qatar-Doha-2017 motogp.tech3

Johann Zarco (motogp.tech3)

Mahluk yang namanya grip pasti menjadi teman penting rider disaat balapan berlangsung. Memberi kekuatan ghaib ekstra terrestrial untuk menekan motor melesat sekencang mungkin mencapai ujung batas. Akan jadi tidak berarti potensi power berakselerasi keluar tikungan apabila daya dorong turun drastis. Ban spin kehilangan traksi., lap time semakin menurun atau lambat memberi peluang lawan overtake posisinya yang mungkin dia ambil dengan susah payah sebelumnya.
Tapi kalau separuh lomba sudah terlewati dimana hampir semua motor mengalami grip yang menurun. Disini akan dibedakan rider mana mampu memanfaatkan secara efektif sisa daya cengkram itu juga pilihan jenis compound ban slicks apakah sudah tepat.
Sesi qualifikasi hari Sabtu malam seperti kita lihat tidak dijalankan mengingat harus tunduk oleh cuaca sedang tidak bersahabat. Lucunya sirkuit semegah Losail ternyata memiliki sistim drainase yang kurang efektif. Air menjadi tergenang setelah hujan deras ngak dapat mengalir terbuang cepat, malahan membuat aliran sungai kecil menyebrangi lintasan.
Akhirnya posisi grid ditentukan berdasarkan hasil gabungan dari lap time free practise sebelumnya, Maverick Vinales kesatu, Iannone kedua dan Marquez ketiga. Pada hari balapan Minggu tidak disangka terjadi lagi guyuran kecil sebelum start, membasahi tikungan 14 dimana pada bagian lainnya kering. Maka schedule start terdelay menunggu sampai lintasan aman. Di tikungan itu ban motor harus hindari melintasi garis cat di pinggir lintasan yang licin.
Situasi seperti itu memang serba salah sebagian besar lintasan kering tapi ada area kecil terlihat basah. Ban slicks sensitif terhadap lintasan basah tapi tidak tepat juga memakai ban hujan (rain tyre) yang akan cepat rontok akibat overheat dikebut pada lintasan kering.
Berapa lama delay diambil oleh pihak pemegang otoritas juga akan menentukan kondisi terhadap balapan kedepan. Malam makin larut intensitas embun bertambah dan temperatur udara semakin turun dimana sangat mempengaruhi performa ban slicks. 
Ada problem di RC213V big-bang engine yaitu kurangnya tarikan ketika akselerasi keluar corner. Antisipasi nya Marquez harus hard braking untuk masuk lebih dalam mendekati pintu tikungan. Kemudian buka gaz se awal dan secepat mungkin untuk mengungkit kecepatan exit corner. Tikungan Losail pada kategori medium-high speed memang bukan favorit motor Honda yang mana akan lebih stabil dan solid melewati tikungan stop n go kecepatan rendah.
Ban yang sanggup tahan terhadap siksaan itu juga mencegah overheat adalah hard compound. Tapi advis dari Michelin ternyata berlainan dengan keinginan Marquez dan kawan-kawan, pilihan pada medium compound seperti yang dipakai oleh mayoritas pasukan motogp lainnya. Medium depan-belakang atau dikombinasikan dengan soft belakang seperti yang digunakan Jorge Lorenzo.  Hal tersebut atas pertimbangan temperatur akan semakin drop seiring pekatnya malam. 
Ada keraguan Marquez atas medium slicks seperti di sampaikan setelah race
“The Michelin guy said you are the only one with the hard, be careful, you can crash. And so I said, OK I go to the medium. It was a mistake.”.  
Suatu kesalahan menurutnya memilih medium seperti di sarankan oleh pihak Michelin tapi itu hanya bisa di ketahui setelah balapan. Dengan hard Marquez merasa mampu bertarung untuk kemenangan sampai akhir balapan. Tapi juga mampu tumpah ke aspal karena ketika ban mulai menipis hanya sedikit sinyal peringatan yang dikirim oleh ban depan. Mungkin lebih kompetitif memakai hard compound tapi kemudian crash katanya. Hard slicks depan akan kurang daya cengkram kalau temperatur udara drop.  
Honda migrasi ke mesin big bang ternyata tidak semulus seperti direncanakan. Keluhan kurangnya akselerasi tentu jadi hal serius karena tanpa di imbangi melalui kecepatan masuk tikungan maka akan tertinggal barisan terdepan. Lemotnya akse;erasi apakah karena transient torque engine yang lambat atau lebih kepada ban spin, disebabkan penyaluran torsi terlalu kuat dan kehilangan daya dorong. Seperti di sampaikan sebelumnya di test pra-musim bahwa kemungkinan Honda tidak sepenuhnya aplikasikan big-bang crankshaft pada engine RC213V.
Ban spin berhubungan dengan seting elektronik, sejauh mana sanggup meredamnya kalau muncul. Seperti terjadi tahun 2016 kemarin masih dengan engine konvensional non big bang. Honda yang biasa ingin lain dari yang dipakai sebagian besar tim lawan terpaksa merubah haluan ke big bang firing interval pada balapan 2017. Atas pertimbangan ECU/software seragam hanya punya kemampuan terbatas, tidak dapat secara tepat dan cepat meredam ban spin tiap kali Marquez membuka gaz berakselerasi.
Melesat di lintasan lurus Losail Honda sedikit kurang tenaga pada putaran maksimum, menunjukkan adanya perubahan performa sejak memakai big bang khususnya topspeed. Mesin memakai interval pengapian big bang memang sedikit menguras power dibandingkan crankshaft flatplane konvensional. Daya kuda maksimum sedikit berkurang pada putaran tinggi tapi penyaluran traksi lebih efektif menggigit saat akselerasi exit corner. Setelah engine di segel (sealed) maka tidak diperbolehkan seting bagian dalam kecuali elektronik. Mudah-mudahan para ahli HRC membereskan anomali tersebut.
Pembalap Rookie juara Moto2 Johan Zarco luarbiasa pada awal start dengan memimpin sekitar 5 laps. Dari posisi grid empat langsung gaz pol melesat ambil sisi kanan menuju tikungan satu. Overtake Marquez pada tikungan dua dan berada tepat dibelakang Iannone. Ngak terlalu lama sekitar tikungan tujuh Zarco ambil alih posisi Suzuki Iannone yang sedang memimpin. Pace nya membawa M1 begitu cepat dan rasa percaya diri tinggi membuat gap siknifikan dengan pembalap dibelakangnya. Tapi kesalahan muncul pada tikunan dua, line yang diambil terlalu lebar untuk berbelok miring, ban depan kehilangan grip dan lowside.
“I’m happy that I could overtake the riders and then take the lead and try to go away. The feeling was good. I didn’t want to push more but it means that I was close to the limit and just a little bit wide in corner two. I crashed. It’s a shame for sure.”
Zarco merasa senang mampu overtake para pembalap dan memimpin didepan dan mencoba untuk menjauh membuat gap. Ia tidak mau menekan lebih lagi tapi pace tersebut telah menempatkannya pada situasi mendekati ujung batas dimana tumpah ke aspal dapat tak terhindarkan. Tapi dari situ Zarco membangun percaya diri dimana sangat penting sebagai modal awal berhadapan dengan rider-rider top level motogp pada seri kedepan. Demikian juga pelajaran dengan melihat bagaimana cara riding para pembalap disaat balapan, melakukan braking, akselerasi, racing line dan menghemat grip ban. Tentu berlainan karakter motogp Yamaha M1 maksimum power 250 HP dengan moto2 antara 130-140 HP.  Kapan dan berapa banyak buka gaz menyalurkan power pada saat motor masih miring dan titik pengereman (brake marker) yang diambil harus jauh lebih awal. Moto2 yang lebih lambat dan ringan mampu mengambil brake marker lebih dalam mendekati pintu tikungan dan segera buka gaz akslerasi di mid-corner dekat apex dimana sudut kemiringan motor begitu rebah tanpa rasa kuatir ban spin. Johann Zarco adalah tipe rider yang cepat belajar, menajamkan feeling, memperluas determinasinya manfaatkan setiap potensi yang tersedia di motor M1 nya.
Iannone “The Maniac” dengan GSX-RR selalu berada di lini depan sejak start sampai harus nyerosot di aspal akibat menyentuh ban belakang Marquez. Salah perhitungan terhadap motor Marquez di tikungan digabungkan posisinya yang juga terlalu dekat.  
Kalau aja tidak crash bisa jadi naik podium seperti dinyatakan Iannone bahwa posisi ketiga adalah mungkin.  Menurutnya corner speed yang menjadi kekuatan motor dapat ditingkatkan. Ketika posisi miring performa motor luarbiasa. Sangat cepat berbelok dan sangat cepat dalam kecepatan tinggi jelasnya. Hanya masih ada kekurangan pada corner entry yaitu ada rasa kurang nyaman dan akselerasi keluar tikungan yang kurang cepat.
GSX-RR tidak kekurangan power pada rpm atas yaitu mencapai topspeed seperti Yamaha M1 di trek lurus panjang Losail. Perkembangan motor semakin meningkat tinggal di sempurnakan pada area yang disebutkan Iannone itu.
Patut mendapat apresiasi adalah Alex Espargaro membawa Aprilia RS-GP. Pada seri perdana ini berhasil meraih posisi ke enam dan itu adalah hasil terbaik Aprilia selama ikut balap motogp. Espargaro pindah dari Suzuki Ecstar langsung melekat dengan motor barunya. Berarti ngak begitu menemui kesulitan terhadap karakter handling RS-GP yang mungkin mirip dengan GSX-RR yang juga netral seperti M1. Walaupun ada perbedaan performa pada waktu practise dan balap sungguhan. Menurutnya RS-GP adalah “Sunday bike” yaitu motor berubah menjadi fantastik katanya ketika traksi ban mulai drop yang biasa terjadi pada beberapa lap akhir lomba. Ini suatu yang bagus apabila temperatur udara menjadi panas dan semua rider memilih hard compound, Espargaro dapat memakai ban lebih soft. Artinya grip akan lebih lengket sejauh di manage secara benar.
Partisipasi Aprilia boleh dibilang spektakuler memenangkan tiga titel juara dunia WSBK dalam waktu enam tahun. Modal pengetahuan tersebut seperti engine, chassis geometry, suspension dan elektronik dibawa ke arena motogp. Itu dimudahkan lagi dengan berlakunya unified ECU/software seperti di WSBK.  

MotoGP-2017-Qatar-Test-Aleix-Espargaro

Alex Espargaro Aprilia RS-GP menjadi fantastis kalau grip ban belakang mulai drop

Corner speed Jorge Lorenzo membawa Yamaha M1 yang sensasional masih belum bisa di praktekkan pada balap seri pembukaan Losail. JL hanya sanggup finish urutan kesebelas, gap 20 detik dibelakang pembalap terdepan. Kekecewaan tentu dirasakan dimana sebaliknya Dovizioso mampu berada pada posisi kedua dengan gap 4/10 detik dibelakang Vinales. Penyebabnya pada tikungan empat motor terlalu cepat membuatnya terpaksa melebar (overshoot) keluar lintasan. JL masuk rombongan kembali pada posisi enam belas dan berupaya mengejar. Sempat beberapa lap motor dipacu kencang sampai grip mulai drop terkikis kemudian merepotkannya untuk tetap mempertahankan pace. JL mengakui bahwa Dovizioso yang sama-sama membawa Ducati lebih trampil mengatur ban pada saat grip sudah habis.
Dikantong Dovizioso punya jam terbang jauh lebih lama mengendarai Ducati. Faham dan bersatu terhadap karakter handling motor dalam berbagai situasi tikungan khususnya saat grip ban mulai menipis. Horsepower Ducati yang menggila pada rpm tinggi menjadi keunggulan di sirkuit Losail yang mana banyak tikungan kecepatan medium-high juga trek lurus yang sangat panjang. Ducati memang tidak se superior M1 melewati tikungan medium-high speed dimana pada area itu justru menjadi kekuatan JL seharusnya.
Seperti dia katakan sebelumnya Ducati adalah motor yang berlainan karakter dengan M1 dimana sudah melekat erat terpatri selama bertahun-tahun.  Ducati tidak bisa dibawa seperti cara M1 melibas tikungan medium dan high speed. Dengan M1 JL biasa masuk ke medium-high speed corner dalam keadaan throttle sudah dibuka untuk membangun kecepatan di mid-corner, kemudian se awal mungkin berakselerasi sebelum apex dan dilanjutkan exit corner. Ducati ngak bisa dibawa seperti itu, cenderung understeer di mid-corner. JL harus brake late lebih dekat ke pintu tikungan kemudian berbelok sambil  trail braking di mid-corner, dekat apex baru kemudian transisi lepas tuas rem dan akselerasi. Teknik pengereman kedua motor secara kontras tidak sama. Tapi JL adalah pembalap top level dimana akan ada jalan keluar menuju peringkat yang lebih baik karena musim balap baru saja dimulai.
Kalau Vinales cukup dikatakan dasyat, sebagai pembuktian pada seri pertamanya membawa Yamaha. Ia tidak melakukan kesalahan selama balapan berlangsung sampai selesai. Braking memasuki tikungan, kecepatan di mid corner maupun akselerasi keluar begitu solid. Waktu grip ban sudah terkikis menjelang balapan berakhir tetap sanggup ia manage walaupun terlihat ban spin menggeser bagian buritan motor saat akselerasi keluar tikungan. Kemenangan podium ini akan menjadi kekuatan memantapkan rasa percaya diri pada balapan selanjutnya.
Pembalap senior Valentino Rossi tetap punya daya gempur, menyusup di antara rider untuk memanfaatkan situasi. Meskipun berat dengan hadirnya kekuatan baru seperti teamatenya sendiri dan Johan Zarco. Tapi bukan hal yang tidak mungkin bagi juara 7 kali GP500, MotoGP. Dalam balapan berlaku ketidak pastian diluar prediksi. Kita lihat ada peristiwa atau drama apa yang akan terjadi berikutnya. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

6 thoughts on “Cerita big-bang Honda di seri perdana motogp Losail 2017

    dwipram said:
    Maret 31, 2017 pukul 4:20 pm

    Mungkin mksudnya Aleix espargaro di suzuki ya om. sblum k aprilia. Hhe.. Klopun pernah di yamaha ya di tim satelite di NGM Forward M1

    Suka

    ArenaSepedaMotor responded:
    Maret 31, 2017 pukul 6:09 pm

    Iya keliru sy nih hehe. Suka tertuker duo Espargaro brsaudara. Grazie banyak atas koreksinya Pak

    Suka

    tri_aja_gunung_kidul said:
    Maret 31, 2017 pukul 8:38 pm

    Kl ngomongin alex esp..
    Dia sbnrnt pembalap bagus..baik saat naik yhm forward kemudian ke suzuki disini terlihat suzuki bnyk belajar dr alex yg setidakny sdh paham karakter yamaha inline sebagai acuan pengembangan walau pasti dgn ttp beri teste mesin szk sendiri..jd tuk 2 tahun sdh bs bermain di papan tengah dan atas ..
    Nah stlh alex ke aprillia yg mana mesin V pastinya teste mya beda dgn inline disinilah terlihat kemampuan si alex ini yg pantas di anggap pembalap top..mungkin kl alex di beri motor juara tdk mustahil bs masuk ke jajaran pembalap yg jd penantang n pesain pembalap juara..

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Maret 31, 2017 pukul 9:21 pm

      Mantap, spertinya karakter handling RS-GP mirip dg GSX-RR jga M1. Alex Espargaro langsung nge pas di motor

      Suka

    Ira satryana said:
    April 2, 2017 pukul 6:18 pm

    Suzuki sblomny pun pernah d pegang Alvaro bautista, Vinales msk suzuki
    Alvaro k Aprillia..musim lalu bs tembus d 10 besar..skrg d pegang alex
    Bs unjuk gigi d qatar..tinggal nerusin develop. Sukses utk Alvaro bautista 😊
    Utk suzuki dgn inline sepertiny hrs d paksa bw kasar sedikit mk hslny
    Bs kompetitif seperti ian kemaren. Tinggal k ian ny sj utk tdk terburu2 .
    Mslhny kata org bijak :
    Hy org yg bodoh jatuh 2x d tempt yg sm #ducati2016
    mohon koreksi ny mbah…jk ad yg salah.tx

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      April 2, 2017 pukul 8:00 pm

      Iya Mba, the Maniac kayaknya seneng nyundul bag belakang hehehe. Salah perhitungan terlalu deket secara bersamaan jga motor Marquez sedikit melambat.

      Ambil posisi ketiga dimungkinkan katanya

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s