Peta kekuatan para jockey WSBK musim 2017

Posted on Updated on

honda-cbr1000rr-red-bull-2017

Veteran motogp Nicky hayden & Helmut Bradl membawa new WSBK machine CBR1000RR SP2. Masih tanpa dukungan penuh HRC (motogp.com)

Balap WSBK musim 2017 akan mulai minggu ini di Phillip Island dan menjadi tahun ke tiga puluh sejak pertama kali diselenggarakan tahun 1988. Bisa dibilang segala sesuatu menyangkut ilmu permesinan motogp 4-tak adalah hasil sumbangan dari perjalanan panjang di arena pertempuran WSBK. Bagaimana merancang engine secara tangguh, ringan dan powerful.
Geng ijo Ninja ZX10RR tetap mempunyai peluang besar untuk merebut hatrick dan juga jadi juara constructor. Kehebatan pace Jonathan Rea terlihat cukup konsisten pada musim 2016, artinya akan menjadi “Man to beat” di 2017. Dan dari pihak penantang tidak lain adalah Chaz Daviez pembalap tercepat tim jurig merah Ducati factory, tentunya juga team mate Tom Sykes juara WSBK tahun 2013.
Pada tes pra-musim di Jerez awal Februari 2017 posisi Rea berada paling atas yaitu 1 menit 39,248 detik kemudian Sykes dibawahnya di 1 menit 40,920 detik. Dari hasil tersebut membuktikan daya tempur Jonathan Rea dengan mencetak gap 1,67 detik di depan team mate nya. Terlihat Rea seolah-olah sedang “on steroids” membawa Ninja ZX-10RR. Juga di Jerez tahun 2016 lalu saat tes bersamaan dengan pasukan motogp, Rea meraih lap tercepat seperseribu detik di atas waktu qualifikasi Rossi pada sirkuit dan tahun yang sama.
Tom Sykes sebagai pembalap paling lama membawa Ninja ZX10R punya peluang besar merebut titel juara dunia 2017 nanti. Performa motor mirip memberi kemampuan menekan posisi Jonathan Rea di tiap area lintasan. Riding style Sykes mengambil titik pengereman (brake marker) lebih awal.
Marco Melandri akan menemani Chaz Daviez di tim jurig merah Ducati membawa motor Panigale 1199R. Sama-sama memegang status pembalap veteran motogp sepak terjang Melandri di WSBK memang belum seperti Max Biaggi yang telah sukses mengantongi juara dunia sebanyak dua kali. Selama di WSBK sempat membawa motor terkencang BMW S1000RR dan Aprilia RSV4R Factory tapi keberuntungan belum mendatangi juga.
Jelas objektif diperintahkan tim adalah kedua rider bekerja keras bahu-membahu sebanyak mungkin menghalangi genk ijo Ninja merebut posisi di lini depan.

marco-melandri-ducati-jerez-test-2017

Veteran motogp Marco Melandri tetap semangat mengejar kesuksesan seperti yang telah diraih Max Biaggi di WSBK (mcnews.com.au)

Menurut Chaz Davies di GPone.com bahwa tahun 2016 menjadi tempat peluncuran yang sempurna untuk musim 2017. Motor pada level tertinggi, bukan aja performa tapi juga rasa percaya diri nya. Davies dapat menekan kuat motor ketika ia inginkan dan mengetahui tepatnya akan seperti apa, dan itu sangat penting katanya.
Ditanya apa kelemahan Panigale (twin cylinder) melawan motor 4 silinder lawan, Davies menyatakan hal itu lebih bergantung kepada track, semakin banyak flowing atau radius lebar tikungan kecepatan medium dan fast, semakin Ducati mendapat keuntungan.
Upaya Ducati mengejar topspeed dimana sebelumnya ada kelemahan telah membuahkan hasil. Engine twin cylinder dengan ukuran piston XXL dan stroke ultra pendek (bore 112 x stroke 60.8), sangat overbore sanggup menandingi screamer engine inline four cylinder pada rentang rpm atas yaitu antara 12500-12700 rpm. Walaupun tidak akan bisa menandingi engine 4 silinder yang tetap aman dan nyaman revving di atas 18000 rpm.
Motor-motor 4 silinder WSBK menutup klep dengan per, redline dibatasi sampai 14000-14500 rpm (tergantung profil camshaft yang dipakai dan parameter engine). Sedangkan aktuasi klep MotoGP sudah menggunakan pneumatic valve system, klep ditutup menggunakan gas bertekanan tinggi tersimpan di dalam tabung (canister). Dapat revving sampai 20000 rpm! tanpa kuatir terjadi valve floating yaitu situasi piston menabrak klep yang belum sepenuhnya menutup saat TDC. Ducati Desmo dan KTM RC16 katanya revving sampai 18000-19000 rpm.
Jadi ngak heran kalau MotoGP 4 silinder sama-sama 1000cc menyemburkan daya kuda lebih digdaya dari motor WSBK 4 silinder. Tapi di sirkuit yang tidak banyak ada lintasan lurus panjang, WSBK akan mampu bersaing ketat dengan motogp. Letak powerband engine berada pada putaran lebih rendah memberi keuntungan akselerasi lebih cepat melewati tikungan slow dan medium.
kalau kita mau dengar teriakan sebenarnya screamer sejati adalah suara yang keluar dari mesin 1000cc Inline 4 silinder 180 derajat flatplane crankshaft seperti BMW S1000RR, Ninja ZX10RR dan Suzuki GSXR1000, bukan suara mesin V4 Aprilia RSV4R Factory atau motogp Honda RC213V dengan 360 derajat crankshaft sebelum pindah ke big-bang. 
Akan jadi sorotan adalah hadirnya motor baru Honda CBR1000RR SP2 di kendarai oleh Nicky Hayden dan Helmut Bradl. Dibawah naungan sponsor Red Bull dimana sudah terkenal dengan kalimat marketing “it gives you wings” bisa jadi akan menambah daya angkat sayap-sayap Honda.
Munculnya sang Pedang api ter anyar ini diharapkan memiliki tendangan jitu yang mana sangat kurang pada motor lama. Seperti pernah disampaikan Hayden bahwa menjadi problem di CBR1000RR SP versi sebelumnya adalah topspeed. Akselerasi keluar dari tikungan kecepatan medium dan fast kadang kalah cepat dengan Ducati dan motor 4 silinder lainnya. Dari situ menunjukkan engine mengalami defisit HP di putaran tengah dan atas. Obat kuat mujarab tidak lain menyempurnakan lagi pasokan airflow pada rentang rpm itu. Kemudian Honda CBR1000RR SP2 terbaru telah melalui penyempurnaan :
– Design ulang cylinder head inlet/outlet seperti di bagian cross-sectional area, bowl area radius belokan di atas dudukan klep
– Klep intake 1 mm dan exhaust 1.5 mm lebih besar dari versi CBR1000RR SP lama.
– Throttle body dan intake trac. Size throttle body Fireblade terbaru berdiameter 48 mm dari sebelumnya 46 mm.
– Profil camshaft (durasi, valve lift dan overlap) lebih radikal. Lifter yang lebih ringan.
– Size dan panjang velocity stacks, headers, exhaust system dan seterusnya.
– Penyempurnaan lain seperti mengurangi friction loss dan pumping loss.
Setelah tes Jerez pendapat Hayden terhadap new Fireblade bahwa ergonomik keduanya mirip tapi engine terasa lebih powerful terutama pas akselerasi keluar tikungan. Dengan penjelasannya itu modal kekuatan sudah ada ditangan tinggal nanti bagaimana cara membidik supaya tepat sasaran.
Kepindahan Bradl ke WSBK ingin mencari peruntungan lebih baik lagi dengan motor yang juga punya potensi. Meskipun ada masalah dengan pemilihan gir, terfokus pada seputar menghaluskan kerja elektronik untuk maksimalkan potensi CBR1000RR SP2. Menurutnya perbedaan antara motogp dan WSBK tidak begitu banyak. Ban punya peranan sebagian, pergerakan (movement) muncul di motor sedikit lebih banyak tapi ngak seperti yang dia kira. Perbedaan perilaku antara ban slicks Pirelli WSBK dan Michelin motogp menurutnya di lintasan lurus mengerem harus lebih banyak dan ban depan akan jadi terasa lebih soft. Motor dapat di ajak mengerem lebih dalam di corner tapi jangan terlalu kuat. Mengenai ban belakang cukup ada kesamaan, ban lebih banyak bergeser dengan itu harus temukan cara supaya tidak terlalu membuat stress. Menariknya lagi dari pendapat Bradl, elektronik WSBK sangatt mirip dengan ECU seragam motogp.
Dari itu semua masih ada yang kurang pada tim Red Bull Honda ini yaitu support penuh HRC seperti di motogp. Pembalap Honda tahun ini masih belum mendapat perhatian khusus seperti pembalap Kawasaki Racing Team, Ducati Corse dan Yamaha Racing. Walupun begitu bukan berarti teknologi maupun tenaga ahli pada tingkatan KW satu.  Setidaknya akan lebih cemerlang apabila di dukung penuh oleh HRC. Tim Red Bull Honda mendapat support Honda Europe.

yamaha-r1-van-de-mark-jerez-2017

Van De Mark mungkin dapat menaikkan peringkat Yamaha R1M musim 2017 (Crash.net)

Partisipasi Yamaha factory juga belum bisa dibanggakan dengan hasil hanya menduduki peringkat 11 dan 12 musim 2016. Performa race pace Silvain Guintoli dan Alex Lowes membawa new Yamaha YZF R1 belum bagus dan konsisten. Ini menjadi PR serius tim di musim 2017 supaya dimungkinkan naik ke peringkat lebih baik.
Tapi dengan masuknya juara supersport 2014 Michael Van Der Mark membawa CBR600RR dapat mengungkit potensi Yamaha R1 ke atas lagi. Dari penjelasan Van De Mark bahwa R1 memiliki frame yang solid, dengan itu harus di telusuri supaya mendapatkan paling terbaik. Yamaha R1 engine berbeda total dengan CBR1000RR SP versi lama yang ia bawa. Membiarkan motor meluncur, secara halus dan linear terutama pada saat buka throttle. Power delivery crossplane engine sangat smooth dan power tersedia pada kecepatan berapapun. Tapi harus hati-hati ketika full buka gaz karena power disalurkan dengan cara yang berbeda seperti biasa Van De Mark lakukan sebelumnya.
“dengan Yamaha sepertinya anda melesat cepat, tapi dalam realitanya lebih cepat lagi” katanya.
Van der Mark melesat di atas CBR1000RR SP selama dua musim balap. Perpindahan nya ke Yamaha R1M perlu riding style yang berlainan, artinya upaya penyesuaian sampai mendapatkan yang terbaik.
WSBK gak lagi ramai seperti di era 90 an atau gemerlap seperti motogp. Pemirsa yang nonton live di TV dan pengunjung yang datang ke sirkuit katanya sudah makin menurun. Tapi balapan tetap balapan, ada pertarungan skill balap tingkat dewa dan teknologi motor dimana selalu menarik untuk dilihat. Seperti dikatakn pembalap motogp yang migrasi ke WSBK bahwa balapan ini gak mudah. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
 
Iklan

12 thoughts on “Peta kekuatan para jockey WSBK musim 2017

    dwipram said:
    Februari 21, 2017 pukul 9:06 am

    Aprilia wsbk knapa mngalami penurunan ya om.. mngingat di bbrapa tahun sblumnya mreka brhasil merebut 3 gelar. Apa karna fokus pabrikan yg terbagi dan lbih konsen k motogp. Atau performa pebalapnya yg menurun?? Saya suka team ini dgn karakter V4 engine karya ing.Lombardi.. jarang-jarang kan pabrikan eropa mnganut konvig V Hhe..

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 21, 2017 pukul 10:08 am

      Itu dia Pak, motor bagus ternyata gak selalu kasih jaminan akan juara terus. BMW S1000RR motor kenceng tpi belum satu pun titel juara dunia masuk kantong sejak ikut WSBK 2010 kalau gak salah.

      Faktor pembalap dan tim penting, gimana mereka bisa sinergi. Tim mampu melakukan set-up sesuai keinginan dan riding style si pembalap dan pembalap jga mampu menggunakan potensi yg ada di motor secara maksimum.

      Bener, Aprilia lebih bnyk fokus ke motogp, sperti jga HRC. Klau Yamaha factory spertinya mulai dukung tim WSBK

      Mesin Aprilia V4 mantap suaranya pas di rpm rendah, mirip suara Honda RC213V konvensional. Yamaha R1 Inline 4 crossplane crankshaft meng-copy karakter V4 engine. Tapi kalau teriak melengking paling dasyat menurut sy suara yg keluar dri screamer sejati mesin Inline 4 dg 180 derajat crankshaft 🙂

      Suka

        dwipram said:
        Februari 21, 2017 pukul 10:49 am

        Iya om.. ni buktinya M van den marc diposisi 4 tes philip island kmaren.. 😀 dan alex lowes di di pos 10. Gk tau klo di tes hari ini.. si pedang api kyaknya msi adaptasi dgn habitat trek wsbk y om.. hayden dan bradl mnempati pos 11 dan 12. Bmw S1000r sbetulnya mnjanjikan ktika dibawa melandri. Syang aj melandri tipikal rider yg suka lompat” pabrikan lain dmi mmenuhi rsa pnasarannya hhehe.. iya om.. idle ny mesin v aprilia merdu bnget klo d rpm rendah.. klo crossplane menderu kalem klo pas digeber. Wah.. kawasaki ZX-RR flat plane crank 180¤ 2008-2009 mmng garang banget output suaranya om.. lengkingannya udah mirip mobil F1 sampe” furusawa rindu kala itu. “I hope kawasaki brings it back, I like listen to it” 😀

        Suka

    dwipram said:
    Februari 21, 2017 pukul 11:12 am

    Ralat om.. melandri out gra” tim bmw bubar.. sial terus melandri kmaren jg out karna yamaha bubar dri wsbk😅

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 21, 2017 pukul 11:23 am

      Semua punya peluang kayaknya nih, ngelawan genk ijo Ninja. Khususnya Davies, VD Mark dan Hayden.

      Melandri menurut sy masih kurang nendang Pak 😀

      Kalau nanti supersport 600cc jga ikutan lenyap sperti rencana moto2 tahun 2019 akan pakai Inline 3 silinder, walhasil tinggal di WSBK kelas 1000cc aja yg screamer sejati Inline 4 cyl 180 crank.

      Suka

        dwipram said:
        Februari 21, 2017 pukul 11:52 am

        Bener om.. mm33 mmng gk bisa konsisten perform nya.. cnderung angin”an klo race. Triumph apakah bnar” fix akan mmasok mesin 3 cyl 750cc di moto2 nanti om?? Mv agusta ikutan gk ya.. untuk 3cyl engine tertinggi di klasnya loh pdahal.☺ apa karna krisis finansial yg masih melanda pabrikannya tuh om??

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Februari 21, 2017 pukul 12:09 pm

        Spertinya begitu Pak, Triumph lebih stabil situasi keuangannya.

        Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 21, 2017 pukul 11:37 am

      Sayangnya mesin mobil F1 V6 turbo yg skrng ngak menjerit revving sampe 19000rpm seperti di era V8 2400cc atau V10 3000cc.

      Wktu itu kawasaki ZX-RR 800cc adalah screamer sejati.yg terakhir di motogp. Yg lainnya big-bang atau V4 konvensional yg sbenernya bukan pure screamer.

      Suka

        dwipram said:
        Februari 21, 2017 pukul 11:58 am

        Yup.. bner om.. skarang cuma V6 yg suara turbonya aktif terus😁 beda kyak jaman dulu yg V10-12 yg meraung kencang.. jadi kangen kawasaki balik ke GP pake mesin i4 flat plane 180 tapi yg joki usahakan stoner.. biar mantap hhehe😁

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Februari 21, 2017 pukul 12:24 pm

        Inline 4 cyl 1000cc 180 crankshaft, power delivery nya bakalan brutal. Apalagi software skrng gak secanggih in-house pabrik. Mreka menghindari itu.

        Beda dg karakteristik engine V4 Honda RC213V dg 360 derajat flatplane crank yg secara natural lebih smooth penyaluran powernya. Digabungkan dg software canggih buatan HRC, power delivery dapat di atur sesuai ke inginan. Hanya sejak beralih ke software seragam dri Dorna musim 2016, spertinya gak efektif lgi. Muncul problem ban spin dan wheelie yg bikin akselerasi jdi lambat, karena elektronik gak bisa bereaksi secara tepat dan cepat. Kemudian Honda putuskan pake pola big bang lgi.

        Tinggal KTM RC16 yg masih pake V4 konvensional katanya

        Suka

    dwipram said:
    Februari 21, 2017 pukul 1:01 pm

    Oh gt ya om.. iya sih smnjak inhouse ECU dilarang dan unified ECU dorna. HRC sperti khilangab taji. Kalo dilihat musim 2014 honda berjaya banget dgn rentetan kmenangannya.. marc marquez yg sring gk rapi mlibas racing line. Motornya bagaikan hidup. Karna ECU canggih pabrikan mengoreksi dgn cepat ksalahan yg dibuat ridernya.. dan dgn mudah mnembus barisan depan. brbeda dgn skarang yg nampaknya dia hrus hati” dan gk boleh smbarangan mmbetot gas rc213v 😅 tapi nampaknya HRC gk khawatir.. karna ad tetsuhiro kuwata yg gantikan nakamoto dan dia dlunya comotan nakamoto dri honda F1 yg gulung tikar. Untuk mmbenahi logaritma elektronik ditubuh Rc213v Om..

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 21, 2017 pukul 1:40 pm

      Tinggal seberapa canggih si programer mengolah software, memeras ke titik maksimum

      Skrng skill rider akan berperan lgi, balapan akan lebih dinamis

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s