Vinales melawan Marquez motogp musim balap 2017

Posted on Updated on

vinales-vs-marquez-phillip-island-test-2017

Yamaha M1 lebih stabil di high speed corner dan Vinales cepat menurut Marquez (Motorsport.com)

Peribahasa Guru kencing berdiri murid kencing berlari yaitu murid yang mencontoh perbuatan tidak baik Gurunya atau orang yang lebih senior. Di dunia balap otomotif mungkin berlaku juga hanya perbedaan arti pada perbuatan tidak baik oleh pembalap senior adalah memacu motor atau mobilnya secepat dia mampu di sirkuit. Karena hal itu pembalap junior selalu tertantang dan bersemangat mencoba mengikuti pace pembalap tercepat yang lebih senior dan berupaya lebih cepat lagi untuk mengalahkan.
Meraih ke level tercepat memang ngak semudah balikan telapak tangan perlu skill istimewa hasil proses tempa di berbagai lintasan sirkuit pada tahun-tahun sebelumnya. Tidak disitu aja tapi harus di dukung peranan motor yang balance di segala aspek dan tim profesional supaya pencapaian prestasi dapat lebih singkat. Sebaliknya perlu waktu lebih lama bagi pembalap dengan modal skill bagus apabila race machine yang dia bawa ternyata kurang balance. Akan mustahil bagi Marquez menjadi juara dunia musim 2013 seandainya waktu itu di rekrut oleh tim Ducati dimana motor Desmo kalah kompetitif dengan Honda dan Yamaha.
Setelah dua tes pra musim motogp 2017 di Sepang dan Phillip Island Maverick Vinales sebagai pembalap muda menunjukkan bahwa dia siap menantang sang Guru atau pembalap papan atas lain dimana lebih tua. Marquez sudah tidak junior lagi ada pembalap muda yang bisa jadi pemberontak mengacaukan misi pembalap top level senior.
Pindah ke Yamaha terlihat tepat dari lap time Vinales di kedua sirkuit tersebut menunjukkan hasil yang baik. Rasa percaya diri cukup tinggi mampu melakukan ritme balap minimum error yang membawanya ke peringkat lap tercepat di Phillip Island hampir 0.3 detik di atas Marquez.
Pace cepat Vinales sempat mendorong Marquez untuk masuk lintasan dan coba mengikuti di belakang.
“…Anyway the track is 4 kilometers. Strange that he was there, where I was”, “So I think… It’s nice – this motivation, this fighting. It’s so nice!”,  kata Vinales menunjukkan sikapnya terhadap Marquez yang sempat berada dibelakang ketika melakukan simulasi balap.
Misalkan Marquez adalah sang Guru maka dirinya perlu menganalisa langsung mengapa nilai murid lebih tinggi, fastest lap Vinales lebih bagus. Ngak heran kalau Marquez ingin cari tahu di titik mana saja kekuatan Vinales berada. Sebaliknya dari komentar Vinales menganggap apa yang dilakukan Marquez itu menjadi motivasinya, semangat bertempur di lintasan balap. Vinales juga mengaris bawahi titik pengereman (braking point) Marquez yang menakjubkan dimana pada area ini dia merasa harus tingkatkan.
Vinales dan Rossi menurut Lin Jarvis memiliki kemiripan riding style. Kedua nya menegakkan motor lebih cepat dan langsung buka gaz akselerasi keluar corner. Urutannya brake late lebih dalam memasuki tikungan dengan radius belok yang tajam (square off) kemudian menegakkan motor dan menyerang ke arah apex dengan line lebih lurus.
Vinales mengakui kelebihan Yamaha M1 dimana membuatnya kagum adalah kemampuan akselerasi ketika motor ditegakkan di ujung tikungan, Yamaha lebih baik dari Suzuki menurutnya. Pada musim 2016 Vinales mengalami problem ban spin tiap kali buka gaz akselerasi exit corner khususnya cuaca sedang panas.
Big bang engine RC213V yang dibawa Marquez apakah telah mencapai ekspektasi. Meskipun masih ada keluhan-keluhan dilontarkan, seperti situasi sulit memahami antara elektronik dan engine tidak bekerja sama. Seolah-olah merasa elektronik di satu sisi dan engine di sisi lain. Tapi tetap Marquez telah mencetak posisi terbaik dan konsisten. Karena kunci dalam balapan adalah konsistensi untuk selalu cepat tiap lap.
Menurut David Emmet sebelumnya di Sepang, seperti berita yang keluar dari Honda bahwa engine lebih merujuk pada big-bang style, jadi tidak sepenuhnya big-bang dimana ke empat piston di kompres menjadi dua ledakan. Mungkin interval pengapian RC213V sudah diganti lebih dekat antara satu sama lain, tapi kedua pasang piston pada cylinder head yang sama tidak meledak bersamaan. Kedua connecting-rod big ends mungkin di offset, atau sepasang piston meledak bersamaan dan kedua piston lain di set terpisah 360 derajat. Banyak layout crankshaft yang bisa di aplikasikan dalam tujuan menciptakan pola big-bang engine.
Big bang dengan karakteristik power delivery berbeda dengan engine interval pengapian (firing interval) konvensional tidak menuntut Marquez merubah banyak cara ridingnya. Memang benar memakai tipe engine yang sama selama 4 tahun telah terbangun cara riding tertentu, dengan big bang engine ini mengharuskan Marquez merubah sedikit saja. Big bang engine membawa perbedaan pada mid-corner mungkin bisa lebih efektif buka gaz dan juga akselerasi full di akhir tikungan. Penyebaran traksi akan lebih stabil ketika torsi tersalurkan pada saat motor masih miring atau belum sepenuhnya tegak.
Seperti diakui Marquez suara mesin big bang yang tidak teriak sekeras mesin konvensional firing interval juga mempengaruhi seolah-olah motor melesat kurang begitu cepat. Persepsi pendengarannya akan beradaptasi seiring jumlah lap makin banyak dilalui.
Memang masih ada hal belum tepat seperti yang di inginkan tapi sudah terjadi proses cukup besar terhadap motor menurut Marquez. Engine baru perlu pengenalan dengan itu 100 lap dilalui dalam satu hari supaya cepat beradaptasi dan segera melakukan set-up apabila ada bagian dimana terasa kurang. Masih ada kendala pada unified software untuk dapat menyediakan level terbaik supaya perangkat elektronik seperti anti wheelie control, traction control dan lainnya mampu bekerja optimal. Sejauh yang telah dijalankan di Phillip Island menurutnya motor tidak penunjukkan adanya kelemahan yaitu akselerasi dimana pada tahun lalu pun sudah cepat.
Rider harus mampu akselerasi secepat mungkin keluar tikungan adalah menjadi area selalu penting. Tapi bersamaan pula muncul ban belakang spin atau wheelie tiap kali akselerasi full menjadi isue selama ini. Apalagi dengan absennya sayap-sayap ajaib atau winglets di musim 2017 maka kerja sepenuhnya di serahkan pada anti wheelie system. Tapi ada beberapa motor yang sudah kompensasi dengan menciptakan design winglets ter integrasi dengan fairings, seperti di Yamaha M1, Suzuki GSX-RR dan Aprilia RS-GP.
Komentar Marquez Yamaha M1 lebih stabil di tikungan kecepatan tinggi seperti corner satu dan delapan Phillip Island, dimana RC213V lebih nervous, dan Vinales memang cepat diakuinya. Kedua pembalap factory Yamaha akan menjadi penantang kuat selama musim 2017 menurut MM.
Bagaimana dengan Guru yang lebih senior lagi apakah punya problem di Phillip Island. Posisi Rossi merosot urutan ke 11 atau ada gap hampir satu detik (0,921) dengan Maverick Vinales di tes hari ketiga. Rossi punya masalah cukup banyak pada kedua ban, terutama depan yang terasa terlalu soft, tapi itu bukan masalah utamanya. Tahun lalu pada paruh kedua balapan adalah yang menjadi problem. Dengan itu Rossi dan tim mencari solusi supaya tidak terulang lagi nanti melalui banyak setting untuk meningkatkan feeling terhadap motor terutama memakai ban lama. Meskipun sudah melakukaan kerja keras dan memakai banyak data, masalah tersebut belum terselesaikan. Perlu hal lain lagi untuk di Qatar menurutnya. Sejauh ini Rossi merasa senang dengan apa yang diberikan engine baru, juga chassis baru dibawa Yamaha akan menjadi salah satu yang dipakai nanti kedepannya.
Vinales berjaya di Phillip Island tapi tidak untuk Rossi, beda pembalap beda riding style dan set-up, meskipun sama merk. Itu adalah hal lazim di dunia balap, tapi menurut David Emmet dari orang di paddock bahwa Rossi waktu itu tidak dalam perasaan yang bagus selama tes berlangsung. Sebagai pembalap paling senior dan pengalaman biasanya akan ada titik balik ke situasi yang kompetitif lagi khusunya pada saat balapan nanti.
Yang menarik dari Rossi bahwa ” man to beat”, bukannya Vinales melainkan Marquez yang dia anggap konsisten.
Jorge Lorenzo mampu merajut detik sedikit lebih cepat di hari ketiga tapi di akui Ducati GP17 adalah motor secara seutuhnya berbeda. Sementara ini corner speed yang menjadi kelemahan dengan itu perlu banyak waktu pada pengereman dan harus agresif on-off throttle, dimana itu merupakan cara riding sepenuhnya berlainan menurut JL. Untuk mencapai performa maksimum harus melakukan teknik berlawanan dengan riding style membawa Yamaha. Tapi Cara agresif di throttle dan rem juga bertolak-belakang dengan karakter fast flowing tikungan Phillip Island yang cocok melalui teknik yang smooth.
Keganjilan ini juga sama dirasakan oleh Bradley Smith ex pembalap Tech 3 Yamaha pindah ke KTM factory membawa RC16. Menurutnya aneh di sirkuit ini motor respon terhadap gaya balap lebih agresif dari pada smooth.
Dengan Yamaha JL biasa mulai mengurangi kecepatan yaitu mengambil titik pengereman (brake-marker) lebih awal dan segera melepas tuas rem ketika motor berbelok (turn-in) memasuki tikungan kemudian transisi membuka gaz membangun speed melewati mid-corner sampai terus ke ujung tikungan. Memanfaatkan speed yang telah terbangun dari mid-corner itu Lorenzo akselerasi keluar tikungan secepat mungkin. Dengan Ducati metode tersebut tidak bekerja, motor tidak mau berbelok dan membawa corner speed seperti Yamaha.

lorenzo-cycle-world-phillip-island-2017

Sanggupkah Lorenzo membuka kotak Pandora Ducati ? (Cycle world)

Ini memang bukan perkara mudah tapi setidaknya sudah pada arah yang benar, tinggal seberapa jauh membuka kotak pandora Ducati, selanjutnya peluang mencetak podium musim 2017 jadi terang benderang. Secara bertahap JL mulai lebih baik memahami motor dimana mempengaruhi performa membawa corner speed maksimum.
Andrea Dovizioso juga prihatin terhadap motornya tidak mau berbelok seperti yang di inginkan melewati tikungan panjang Phillip Island. Perbedaan antara sirkuit Valencia dan Sepang hanya sedikit tapi jadi siknifikan di sirkuit ini. Rasa kekuatiran pada saat memasuki tikungan (corner entry) diharapkan dapat diperbaiki melalui fairing baru Ducati rencananya akan dipasangkan di Qatar.  Demikian wassalam dan salam sejahtera.

 

Iklan

21 thoughts on “Vinales melawan Marquez motogp musim balap 2017

    are wege said:
    Februari 18, 2017 pukul 11:43 pm

    Wkwkwkwkw vinales tidak senang di Amati Marc di lintasan , padahal tahun Lalu vina pernah ngintilin racing line Marc ,,

    Fix vina mirip Lorenzo. Tipikal banyak omong nih bocah

    Suka

      dwipram said:
      Februari 19, 2017 pukul 6:44 am

      Saya rasa vinales hanya merasa aneh.. dengan apa yg marc lakukan. Bukan berarti ga terima sih.. hhe.. buktinya dia malah termotivasi tuk melakukan battle dgn marc

      Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 19, 2017 pukul 8:17 am

      Yoi, sebenernya Vinales dapat mengukur kekuatan tempurnya di situ nanti.

      Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 19, 2017 pukul 8:32 am

      Mungkin sementara ini sesama pembalap Spanyol dilarang saling intip mengintip dulu 😀

      Suka

    dwipram said:
    Februari 19, 2017 pukul 7:09 am

    Vale nampaknya lbih tertarik mencetak best laptime dgn mnggunakan ban bekas( mngingat konsistennya marc berlari di kisaran 1.29 dgn ban yg sudah aus) sayangnya rossi dan new M1 blum mnemukan variasi set up untuk kondisi trsebut ya om..

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 19, 2017 pukul 8:08 am

      Bener Pak, Rossi mencoba dg ban lama utk antisipasi problem yg muncul di paruh kedua balapan tahun lalu di sirkuit Phillip Island.

      Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 19, 2017 pukul 8:20 am

      Hanya faktor temperatur cuaca pas race nanti bln October bisa jadi turun lebih dingin lgi. Set-up akan berbeda dg wktu tes

      Suka

    abaydmz said:
    Februari 19, 2017 pukul 8:34 am

    Curi ilmu si markes om, tp keunikan markes mengkompensasi kelemahan motor bing bang sangat unik sekaligus melihat sisi kekuatan vinales sekaligus menemukan kelemahannya.
    btw tinggal JL gmn nih di ducati dan KTM FACTORY mau lihat kemampuan sasis tralisnya mumpuni ga ? atau kecewa seperti dulu ducati pakai teralis akhirnya nyeraj jg pakai teralis.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 19, 2017 pukul 9:14 am

      Kalau Ducati skrng aluminium beam twin spar, sebelumnya pake carbon fiber tapi terlalu kaku.

      Trellis sendiri katanya ada keuntungan lebih flexibel Pak, lebih stabil pas motor miring di mid corner meredam goncangan, tapi jdi terlalu lentur pas akselerasi menerima penyaluran torsi besar, power jadi ada yg terbuang.

      Frame aluminium beam lebih kaku, pas miring di mid corner kurang flexibel meredam goncangan, tapi kuat menahan torsi pas motor tegak dan akselerasi, transfer power efektif lebih banyak ke aspal

      Suka

        dwipram said:
        Februari 19, 2017 pukul 4:12 pm

        dlu pernah dsinggung tntang mau tidaknya yamaha mnggunakan sasis carbon monocoque ala ducati di thun 09′ . furusawa san pun lngsung mmberi prnyataan.akan ttap mmpertahankab alumunium delta box sbagai sasis M1. Kalo teori nya dia(masao furusawa) dikala motor cornering dan rebah maksimal fungsi sasis lah yg brperan mnjadi suspensi.dan u/ kasus ini dbutuhkan klenturan yg ddapat dri almunium. yg tdk bsa ddapatkan dari serat karbon. Karna sasis karbon mmng stiffnessnya cocok kalau ditaruh di mobil F1. nampaknya furusawa pnya teori khusus dlam mmbangun M1 yg lincah dtikungan.. secara dia jg ahli noise and vibration analysis hhe..

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Februari 19, 2017 pukul 4:39 pm

        Tepat sekali Pak, pada saat motor miring (lean) kemampuan kelenturan lateral frame bertindak sebagai suspensi meredam goncangan di lintasan. Trellis frame dri baja punya daya redam yg lebih bagus dibandingkan aluminium beam. Kalau masih muncul sisa getaran (chatter) yg belum sepenuhnya hilang atau diredam oleh suspensi, dapat diredam oleh trellis frame. Hanya kekurangannya pada kekakuan torsional (torsional rigidity) ketika motor posisi tegak, power output terbuang lumayan pas rider akselerasi full akibat terlalu lentur/flex.

        Ducati cukup sukses 14 kali juara WSBK memakai trellis frame. KTM sementara pilih trellis dg alasan pengalaman selama ini.

        Suka

    tri_aja_gunung_kidul said:
    Februari 19, 2017 pukul 1:04 pm

    Sepertinya typikal vinales jg petarung kl liat dia msh di moto2 mirip style rins..smg aja jd hiburan baru anak muda spanyol MM vs MV atau suatu saat di tambah Rins..jos kykny tuh ketiganya..

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 19, 2017 pukul 2:00 pm

      Akan seru sepertinya nanti, ada pembalap kuat Spanyol menantang Spanyol. kayaknya Alex Rins udh keliatan cepet adaptasi bawa motogp. Jngn lupa jga the maniac Iannone bisa jdi akan bikin rusuh di lini depan.

      Suka

    tri_aja_gunung_kidul said:
    Februari 19, 2017 pukul 1:09 pm

    Kl sy sih uda ngefans si MV dr jaman moto3..saat ngambek ga mau balapan 3race trakhir gara2 teamnu ga mau ngasih mesin KTM..dan stlh di beri mesin KTM si MV buktian dgn juara dunia moto3.

    Suka

    Nur said:
    Februari 19, 2017 pukul 4:10 pm

    Perlu pembuktian di race masalah mental
    Mm 93 bermental baja ,banyak pengalaman
    Mv 25 mga z ga sperti lorenzbencong

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 19, 2017 pukul 5:02 pm

      Sip, mental baja penting, Marquez udh teruji, Tinggal kita liat gimana Vinales nanti mengolahnya, apakah dia sanggup menangkis gempuran kalau berada di depan atau menerobos kedepan kalau posisi sedang di belakang.

      Kalau Lorenzo sy jamin gak sperti yg dituduhkan Pak hehehe. Karena pembalap top level bernyali tinggi semua. Gaz pol trek lurus 350 km/jam, nikung miring 240 km/jam perlu nyali yg pol jga.

      Suka

    Nur said:
    Februari 19, 2017 pukul 5:02 pm

    Prediksi ni pembalap berjiwa touring sejati mirip stoner n lorenzo
    Stoner ngamuk ke barbera gara2 mngamati riding style nya
    Lorenzo ngamukke rossi gara2 mencuri pole nya
    Ni yg trbaru vinales ngamuk ke markower gra2 mengikuti diblkg
    Yang jdi guru sejati ya cma rossi g pernah protes klo ada yg mengamti dri blkg

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 19, 2017 pukul 5:14 pm

      Turing memang kurang asik diliat sih ya, tpi menguntungkan si pembalap terdepan gimana cara supaya selalu jaga jarak dg lawan dibelakang sampai finish. Itu menjdi bagian dri strategi kalau si pembalap merasa unggul di sirkuit itu.

      Suka

    ira satryana said:
    Maret 1, 2017 pukul 8:23 am

    Knp mesti marah d amati gaya balapnya?? Vinales sendiri dpt ap dr yg bs d tiru dr marc marquez, ??? Toh nanti semuakan d tentukan dr pemilihan ban msg2 saat race yg sebnrnya, dmn race feeling yg sgt kuat terhdp perubahan cuaca dan suhu trek akn ambil peran penting utk performa motor..gitukah mbah?? 😁
    Izin kopas yak utk jd bhn diskusi dgn temen2 ira yg laen..plz..😊
    Tq met pagi

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Maret 1, 2017 pukul 9:02 am

      Siyap, boleh silahkan

      Suka

        ira satryana said:
        Maret 2, 2017 pukul 4:33 pm

        Maksh mbah 😊

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s