Lorenzo dan Ducati GP17 tes Sepang 2017

Posted on Updated on

lorenzo-sepang-test-2017

Riding style Jorge Lorenzo membawa Yamaha yang sudah terbangun lama sedang dia ubah menyesuaikan karakter handling Ducati. Brake late dan trail braking sampai dekat apex adalah kunci (motorsport.com)

Skill balap seperti juga keahlian di bidang lain musti dilatih berkesinambungan supaya tetap pada level prima. Pembalap harus sering membawa motor melesat di sirkuit pada pace secepat yang dimungkinkan kemampuan ban, suspensi dan chassis motornya di tikungan. Boleh angkat topi untuk Casey Stoner meskipun bukan lagi pembalap aktif tapi masih sanggup memperlihatkan keahlian balap secara istimewa dengan mencetak fastest lap 1 menit 59.680 pada hari Senin di Sepang. Lebih cepat 0,117 detik dari Andrea Dovizioso berada di posisi kedua. Meskipun memakai ban soft tetap speed dicapai Stoner boleh membuat orang kagum. Disayangkan pensiun dari motogp lebih awal, seandainya ikut bisa jadi Stoner akan merepotkan pembalap-pembalap top level lainnya.
Hilangnya winglets di GP17 memberi banyak perbedaan menurut Stoner. Keuntungan sebelumnya jadi tidak ada lagi, perlu beberapa waktu untuk menemukan keseimbangan motor tanpa sayap. Peranan winglets jelas efektif menambah downforce dan menciptakan karakteristik tertentu di motor, membuat lebih stabil pada area dimana dianggap Stoner motor tidak akan mampu stabil. Ada faktor positif dan negatif yang saling berhubungan, dengan itu perlu sedikit waktu penyesuaian dan data dari motor tanpa memakai winglets.
Absen nya sayap menghadirkan sedikit wheelie saat akselerasi keluar corner akibat kurangnya downforce dan juga sedikit kurang stabil di kecepatan tinggi. Ada perbedaan karakter dalam cara motor berbelok (turn-in) miring di mid-corner menurut Stoner. Downforce penting bukan saja untuk meredam wheelie tapi juga menambah grip ban depan ketika hard braking dari kecepatan tinggi. Wheelie adalah musuh yang harus disingkirkan kalau ingin akselerasi cepat.
Musim 2017 Jorge Lorenzo akan mulai bertempur dibawah naungan perguruan balap Ducati tapi kata sempurna masih belum datang. Seperti dikatakan Casey stoner bahwa JL sudah terlalu lama dengan satu merk (Yamaha), perlu waktu adaptasi karena menurutnya Yamaha dan Ducati berlawanan dalam banyak hal seperti power dan karakter engine.
Posisi JL di peringkat 17 sangat mengecewakan pada sesi hari Senin. Problem dihadapi adalah braking memasuki tikungan, di area ini motor kehilangan banyak waktu. Di mid corner situasi lebih baik menurutnya tidak begitu banyak hilang waktu, kadang saat akselerasi keluar tikungan dapat lebih cepat dari Dovizioso. Dalam hal braking JL perlu beradaptasi lebih dari yang dia perkirakan sebelumnya sejak tes di Valencia.
Setelah kesulitan mencari cornering speed di hari Senin bertahap rasa percaya diri dan adaptasi JL meningkat di hari kedua dan tiga. Seperti dijelaskan oleh David Emmet bahwa JL perlu merubah cara mengerem memasuki tikungan. Dengan Yamaha JL biasa mulai mengerem lebih awal dan segera melepas tuas rem ketika motor berbelok (turn-in) untuk membawa corner speed setinggi mungkin sampai di pertengahan tikungan (mid-corner). Dengan Ducati metode tersebut tidak bekerja, motor tidak mau berbelok seperti Yamaha. Dengan Ducati JL harus menggeser titik pengereman (brake marker) lebih maju mendekati tikungan, trail braking sampai di apex, baru kemudian tuas rem dilepas. Saat itu adalah satu-satunya cara membuat motor berbelok seperti yang di inginkan, sama seperti cara Dovizioso mengerem.
Ducati GP17 yang berlawanan dengan Yamaha M1 dari aspek handling dan karakteristik power delivery mulai menemukan cara paling mujarab. JL mampu mengerem lebih lambat atau lebih dekat ke pintu masuk tikungan untuk kemudian trail braking sampai di mid corner dan diusahakan buka gaz se awal mungkin sebelum apex untuk akselerasi exit corner. Metode braking dimana jelas berlawanan dengan Yamaha.
Tikungan lambat seperti hairpin menurutnya motor dibawa dengan cara sangat berbeda. Tapi di tikungan lebih cepat Ducati tetap masih dapat membawa cornering speed dengan cara hanya sedikit berbeda dari motor Yamaha M1.
Memang belum mampu mencapai batas maksimum tapi setidaknya sejak dari hari pertama sudah banyak progres terhadap speed yang makin meningkat. Grip ban Michelin menurut Lorenzo sudah lebih baik dimana musim 2016 menjadi problem. Tehnik mengerem dengan Yamaha tidak cukup membuat panas ban depan naik, ditambah temperatur cuaca lintasan yang rendah semakin memperburuk performa Lorenzo memasuki tikungan. Cornering speed dimana merupakan senjata pamungkas selama ini tidak bisa ia bangun sampai maksimum. Margin grip ban Michelin sangat sedikit itu mengharuskan Lorenzo bergantung pada temperatur cuaca, semakin naik semakin bagus pula performa. Dengan perbedaan metode brake late di atas Ducati GP17 semoga akan mendorong pace JL. Temperatur kerja ban dapat tercapai apalagi grip ban Michelin semakin baik dari sebelumnya.
Ducati motogp sejak dipimpin Gigi Dall’Igna telah ber evolusi menjadi motor tangguh dan lebih mudah dibawa. Berbeda pada waktu di jaman Rossi dimana handling begitu menyedihkan dan membuat frustrasi. Gigi sebelumnya selain pernah memimpin tim Aprilia GP250 2-tak juga sukses membawa Aprilia RSV4 RF merebut 3 kali juara WSBK. Suatu pencapaian yang cukup luarbiasa.

ducati-saladbox-motorsport-magazine

Saladbox (Motorsport Magazine)

Ada lagi yang diperbincangkan yaitu Lunchbox atau Saladbox di buntut Ducati GP17. Kira-kira mahluk apa yang bersemayam di dalamnya. Spekulasi berkeliaran seperti di sebutkan Mat Oxley, apakah itu peredam chatter biasa terjadi di motor balap akibat resonansi dari ban dan chassis kemudian menimbulkan vibrasi tinggi atau chatter. Atau mungkin alat berupa gyroscope mengganti peranan winglets dengan tujuan sebagai peredam wheelie ketika motor akselerasi kuat. 
Jorge Lorenzo yakin Ducati GP17 akan membawa kemenangan podium di musim 2017, semoga. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

5 thoughts on “Lorenzo dan Ducati GP17 tes Sepang 2017

    ira satryana said:
    Februari 3, 2017 pukul 9:58 pm

    Mungkin utk thn ini JL akn beradaptasi dlu, minml bs msk 5 besar dah cukup baik,
    Thn 2018 ira yakin JL bs jurdun..marc marquez?? Ngalah dlu deh..😁😁

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 4, 2017 pukul 6:05 am

      Siyap, jngn lupa ada Vinales & The Maniac naik Gixer yg jga bakalan lawan tangguh

      Suka

        ira satryana said:
        Februari 10, 2017 pukul 6:46 pm

        Siap mbah, mf br bls,
        Lanjutkan artikelnya mbah..2 jempol utk arena balap motor
        Tx

        Suka

    TYPE R said:
    Februari 12, 2017 pukul 3:28 pm

    Artikelnya joss bgd penulisannya berkualitas

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s