Motor sport 150cc – 250cc VVT – VTEC – VVA

Posted on Updated on

 yamaha-r15-vva-2017

Yamaha R15 VVA 2017

Sistim variable valve dengan dua macam profil camshaft lobe pada mesin motor sudah cukup lama dipasangkan oleh Honda. Sport-tourer VFR800 V4 silinder adalah motor pertama dengan teknologi VTEC dirilis tahun 2002, dengan tujuan efisiensi pembakaran dan menekan emisi. Karena engine dengan overlap dan valve lift tinggi menyebabkan naiknya emisi (hydrocarbon) kalau beroperasi pada rpm rendah.
Konsep VTEC lebih diutamakan untuk mobil dimana target waktu itu di akhir 1980 an adalah menyediakan engine dengan kapasitas 1600-2000cc tapi sanggup memproduksi power besar pada putaran tinggi untuk mendorong mobil-mobil sport compact Honda, seperti Civic dan Integra. Targetnya 100bhp per liter atau engine 1600cc menyemburkan 160bhp. Pencapaian weight-to-power ratio bagus pada mobil sport compact Honda yang ringan.

Honda VTEC

Honda VTEC SOHC
Honda VTEC memakai solenoid dikontrol oleh ECU, dimana fungsinya sebagai penggerak untuk mendorong pin masuk ke slot yang ada di ketiga camshaft follower. Gambar ilustrasi kedua camshaft follower C terhubung pada camshaft lobe dengan durasi dan valve lift untuk operasi di rpm rendah, sedangkan camshaft follower D terhubung dengan camshaft lobe ber durasi dan valve lift tinggi untuk membangun power output max di rpm atas. Di rpm tinggi pin akan mengunci ketiga cam follower dan hanya cam follower di tengah (D) yang bekerja. Sensor yang ada di crankshaft dan camshaft memberi data ke ECU untuk merubah valve timing apabila di perlukan. Selanjutnya ECU mengirim sinyal ke solenoid dan mendorong pin masuk ke slot.
Honda VFR800 aktuasi dengan 2 klep in/ex pada rpm rendah untuk menciptakan torsi kuat dan 4 klep in/ex di rpm tinggi dimana mengejar HP besar menjadi targetnya. Tapi perkembangan sistim variable valve timing motor selanjutnya tidak begitu ramai sebanyak mobil. Ducati meluncur kan motor Multistrada 1200 dengan desmodromic variable timing (DVT) digerakkan oleh tekanan oli dan di kontrol oleh ECU.
Muncul nya all-new Suzuki GSXR1000 tahun 2017 dengan teknologi VVT mungkin akan membawa dinamika baru dalam arena persaingan supersport 1000cc. Sistim katanya diwariskan dari GSX-RR MOTOGP.  
Berbeda dengan VTEC dimana penggerak nya menggunakan solenoid atau tekanan oli pada Ducati DVT, Suzuki VVT beroperasi memakai gaya sentrifugal. Maka sepenuhnya mekanis tanpa ada campur tangan solenoid atau pompa oli. Nah ini pasti akan menarik kalau di aplikasikan pada motor sport Suzuki GSXR 150-250cc

addtext_com_mdg1mzqzmji2mjg2

Suzuki GSXR1000 VVT aplikasikan finger follower rocker arm untuk mengurangi tekanan ke arah samping (sideways swiping force). Aktuasi klep akan lebih presisi dan ringan akibat berkurangnya bobot dan beban gesekan, juga memudahkan pelumasan pada area tersebut. Bertambah rpm ball bearing bergerak ke arah luar menekan piring bersamaan memutar intake camshaft gear, posisi timing mundur (retard) merubah valve lift dan overlap di putaran tinggi (Roadracingworld)
Suzuki memakai dua piring dan timing gear dimana terdapat beberapa bola besi di antara kedua piring yang dapat bergerak didalam slot. Salah satu dari kedua piring memiliki slot menempel dengan timing gear. Piring memiliki slot dengan sudut miring, piring lainnya dengan slot garis sejajar. Ketika engine berputar cepat bola-bola (pelor) besi terdorong ke arah luar akibat terpengaruh gaya sentrifugal menekan dan memutar posisi timing gear yang terhubung dengan intake camshaft, artinya timing buka dan tutup klep berubah. Intake cam timing menjadi retard (lambat) pada putaran tinggi. Angka overlap bertambah menyediakan waktu proses scavenging menguras sisa gaz hasil pembakaran keluar knalpot bersamaan airlfow dari intake yang masuk ke silinder membantu mendorong keluar lebih cepat. Dalam proses langkah hisap (intake stroke) klep intake membuka lebih lama supaya airflow masuk sebanyak-banyaknya membangun cylinder pressure. Keuntungan yang dicapai tidak lain maximum top end power pada putaran tinggi selayaknya motor balap. 
Ketika putaran engine melambat plat bundar berbentuk diafrahma bekerja seperti per menekan pelor-pelor ke dalam maka timing gear kembali ke posisi semula. Demikian pula di ikuti overlap kembali ke angka lebih kecil untuk maksimalkan torsi di putaran rendah dan tengah. Dua ke pribadian mesin yang berlainan karakter menjadi satu unit powerhouse.
Hadirnya new Yamaha R15 baru ini dengan VVA akan meramaikan kelas motor sport 150cc. Aktuasi klep intake mirip dengan VTEC yaitu digerakkan oleh solenoid dikontrol ECU. Solenoid akan aktifkan rocker arm yang terhubung dengan camshaft lobe (high profile) untuk putaran tinggi, angka durasi, valve lift dan ovelap jadi berubah. Durasi klep intake terbuka lebih lama dan lebih jauh (valve lift), tingkat efisiensi pasokan airflow meningkat untuk mengejar HP pada putaran tinggi. Ketika putaran engine menurun dibawah 6000rpm pin yang didorong oleh solenoid akan berbalik kembali melepas high profile rocker arm, dan rocker arm yang terhubung dengan low profile camshaft lobe kembali bekerja membangun torsi maksimum di putaran rendah sekaligus menekan emisi.
Cara kerja aktuasi klep mirip satu dengan lainnya bisa jadi akan di ikuti juga oleh Honda dengan VTEC dan Suzuki membawa VVT nya pada motor masing-masing. Tinggal nanti analisa manakah paling baik dan efisien, meskipun tujuan semuanya sama.
Sistim VVT sangat bermanfaat untuk motor 150cc mengingat torsi pada putaran rendah yang tidak besar akan jadi meningkat lagi. Camshaft lobe low rpm aktif memungkinkan airflow masuk secara cepat ke dalam silinder membangun tekanan pembakaran (combustion pressure) pada level optimal. Motor akan gesit akselerasi dari rpm rendah, stop n go dan menanjak. Tidak perlu sering pindah gir downshift cukup roll-on kalau ingin menyusul kendaraan di depan karena torsi kuat sudah tersedia.
Variable valve timing jelas menjadikan motor jalan raya lebih ideal. Performa dapat terungkit di rpm atas dan torsi kuat pada putaran bawah. Rentang torque & power band jadi lebih lebar dimana keuntungan ini tidak dapat tercapai kalau dengan engine konvensional. Faktor kadar emisi dan efisiensi bbm juga semakin baik lagi.
Dari pandangan saya HP tertinggi bukan menentukan perkasa atau tidaknya motor. Perbedaan 1.5 sampai 2 hp di putaran atas tidak memberi pengaruh siknifikan karena sebagian besar waktu dan tempat berkendara adalah di jalan raya, bukan sirkuit. Dengan itu torsi dan berat motor adalah faktor yang banyak berperan. Makin besar torsi dan ringan bobot motor makin cepat dan gesit melesat di jalan raya. Jadi kalau ada perbedaan hasil dyno power puncak 1,5 – 2 hp dengan motor lain ngak usah ambil pusing Bro. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

24 thoughts on “Motor sport 150cc – 250cc VVT – VTEC – VVA

    are wege said:
    Januari 26, 2017 pukul 3:50 am

    Nice VVT …

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Januari 26, 2017 pukul 5:14 pm

      Yoi manthep, bisa jdi akan ada Satria dan GSXR 150-250 VVT

      Suka

        are wege said:
        Januari 26, 2017 pukul 9:36 pm

        Progress nya kayanya ke 250cc dl Deh , Tapi kapan??

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Januari 26, 2017 pukul 10:14 pm

        Kalo Yamaha R15 udh pake VVA, harusnya Suzuki jga maen VVT di 150cc

        Suka

    tri_aja_gunung_kidul said:
    Januari 26, 2017 pukul 8:37 pm

    Gambare kui pra r125..

    Suka

    Dohc dagelan said:
    Januari 27, 2017 pukul 1:30 pm

    Yamaha itu suka ber improve…tapi sayang
    Suka di comot dan di bawa lari marathon sama sebelah…

    Suka

    Embit said:
    Januari 28, 2017 pukul 10:24 pm

    Saya bookmark blog ini, suka pada pembahasan mesin tanpa pro ke satu merk. Ilmiah tanpa bawa kata “rasa” mesin ini lebih anu…..disaat blog lain masih ribut sohc dohc secara subyektive.

    Suka

    skywest said:
    Januari 29, 2017 pukul 11:14 am

    beda cara kerja sih untuk vvt dan vtec/vva
    vtec/vva lebih kearah lebar bukaan klep yg pengaruh juga ke lamanya bukaan klep dan bisa diaplikasi di sohc maupun dohc, kalo vvt lebih kearah pergeseran waktu bukaan klep in/ex dan hanya bisa dipake di mesin dohc

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Januari 29, 2017 pukul 11:29 am

      Iya Pak, prinsip kerja dan target nya mirip aja yaitu menyediakan dua profil camshaft, Satu utk low-med rpm dimana durasi, bukaan klep (valve lift) dan overlap nya kecil. Airflow akan cepat masuk silinder membangun cylinder pressure.menciptakan torsi maksimum. Satu lgi profil camshaft utk med-high rpm dg durasi, valve lift dan overlap lebih besar. Torsi puncak bergeser ke rentang rpm yg lebih tinggi utk menciptakan HP maksimum.

      Suzuki VVT kalu di liat dri konstruksinya bisa jga utk SOHC, karena sistim terintegrasi dg Camshaft sproket atau timing gear. Tergantung dari rancangan dudukan camshaft di cylinder head

      Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Januari 29, 2017 pukul 11:44 am

        Klep yg memikiki fungsi variable timing hanya di bagian intake aja.

        Suka

    Ahmad said:
    Januari 30, 2017 pukul 4:51 pm

    Apa ada yg namanya Torque To Weight ya pak, selain PWR?

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Januari 30, 2017 pukul 6:03 pm

      Ada Pak, torque to weight ratio biasanya buat hitungan mesin yg di khususkan memproduksi torsi di putaran rendah.. Misalnya Mitsubishi Pajero Turbo diesel. Torsinya lebih besar dri HP.

      Intinya engine memproduksi torsi (tenaga putar), bukan HP. Kemudian di konversi menjadi angka HP

      Suka

      Ahmad said:
      Januari 31, 2017 pukul 7:36 am

      Sip pak, trims. Senang baca blog nya

      Suka

    Haiqal said:
    Januari 30, 2017 pukul 7:54 pm

    Pak mau tanya pak, kalau mau naikin torsi vixion 1pa standar sekitar 12-13 nm @ 6500 wheel kalau mau naikin sampai 15-16 nm @6500 gmn ya ?

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Januari 30, 2017 pukul 8:39 pm

      Naikin torsi berarti harus menambah pasokan airflow (aliran udara) ke dalam silinder. Bisa mulai dg tuning tanpa buka cylinder head & mesin yaitu ganti knalpot dg design yg lebih freeflow, pasang piggyback utk tuning AFR. Boleh jga tambah ganti filter yg lebih bagus flow nya. Busi Iridium jg boleh tpi menurut sy ngak terlalu penting.

      Mungkin torsi puncak ngak terlalu banyk nambahnya, tpi torsi di putaran bawah bisa lumayan naik. Hanya ngak bisa ditentukan kira2 akan naik berapar. Tepatnya berapa setelah melalui test di atas mesin dyno.

      Baiknya konsultasi ke ahli tuning mesin aja Pak. Kalau di Jkarta ada bnyk tempat.

      Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Januari 30, 2017 pukul 8:55 pm

        Tahap kedua lebih radikal dg buka cylinder head yaitu sedkit porting di bagian lekukan (bowl area) intake/exhaust yg masih kasar supaya airllow lebih cepat lgi. Naikkan kompresi statik piston misalnya satu point, supaya efisiensi pembakaran meningkat lgi. Konsekwensinya mesin harus minum oktan yg lebih tinggi misalnya RON 92 utk meredam detonasi atau dg istilah ngelitik.

        Suka

        Haiqal said:
        Januari 31, 2017 pukul 6:39 pm

        Kalau tanpa merubah knalpot. Alias tetap standar bisa gak pak ? Soalnya di daerah saya banyak razia knalpot euy

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Januari 31, 2017 pukul 8:14 pm

        Spertinya ngak bisa Pak. Karena rancangan knalpot yg lebih loss atau freeflow akan membuat aliran udara lebih cepet masuk ke dalam silinder. Dg itu menambah tekanan pembakaran yg berubah menjadi torsi. Tapi diperhatikan ukuran knalpot ngak boleh terlalu besar yg justru jdi terlalu loss atau kempos istilahnya.

        Air filter jga bisa bantu naikkan airflow tpi pengaruhnya sangat kecil

        Suka

    bimalio said:
    Januari 31, 2017 pukul 12:02 pm

    blog ilmiah, ijin bookmark om, saya suka artikel2 anda, menambah wawasan ttg dunia per-mesin-an

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s