Motor sport 150cc -250cc mesin SOHC masih bermanfaat ?

Posted on Updated on

save-the-sohc

(superstreetonline.com)

Tulisan ini sekedar info kecil aja yang muncul ketika lihat kalimat “Save the SOHC” di website superstreetonline.com . Jadi ingat isue yang pernah diperdebatkan, walaupun sekarang udah lewat dan basi. Jagat internet memang lucu karena banyak hal dimana sebenarnya ngak begitu penting tapi dibungkus sedemikian rupa kemudian dilempar ke ring tinju supaya terbakar cepat. Misalnya perseteruan antara fans club DOHC dan SOHC, overbore vs overstroke pernah cukup panas tidak kalah sama debat Pilkada. Kalau boleh saya sebagai orang awam jujur hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan, buang energi. Sebab tujuan utama kita beli motor adalah untuk dibawa di jalan raya, bukan ngebut di sirkuit.
Mungkin disebabkan semangat tunggangannya pakai DOHC atau SOHC ditambah bumbu solidaritas satu klub. Juga niatan supaya warung mie makin laku banyak pengunjung, jadilah debat kusir.
Mesin dengan arsitektur SOHC dan DOHC sudah lama di aplikasikan pada mobil atau motor, bukan hal baru, masing-masing punya pertimbangan efisiensi.
Engine DOHC pertama diciptakan oleh Peugeot pada tahun 1913. Munculnya ide engine DOHC atau Twin-Cam atau juga Quad Cam kalau mesinnya V di dasari oleh pemikiran kalau valve area lebih besar, airflow jadi bertambah cepat dan volume dalam jumlah banyak mampu mengisi silinder pada putaran tinggi dengan hasil akhir yaitu efisiensi pembakaran menciptakan power maksimum. Tujuan tersebut dapat tercapai memakai 4 klep per piston digerakkan oleh 2 camshaft.
Saat itu seorang engine tuner dan beberapa pembalap memberi input kepada Robert Peugeot supaya adopsi konsep tersebut untuk keperluan balap. Hanya power besar diputaran tinggi cocok untuk balapan di sirkuit tapi kurang bagus di jalan raya.
Empat klep in/ex per piston memerlukan dukungan dari komponen seperti inlet/outlet di cylinder head, carburetor venturi (EFI belum eksis) dan exhaust manifold berukuran besar supaya pasokan airflow selalu dapat terpenuhi di putaran tinggi. Sebaliknya memberi pengaruh negatif pada putaran rendah dan tengah dimana kecepatan airflow jadi tidak optimal atau lambat. Torsi putaran bawah dan tengah ikut lemot tidak mampu akselerasi cepat di jalan raya. Akan bertambah parah lagi kendaraan diberi beban muatan atau penumpang saat itu belum hadir teknologi VTECH, VVT, VANOS, VVA dll. Dengan itu pilihan pabrik biasanya ke mesin OHV kemudian SOHC untuk kendaraan yang beroperasi pada rentang rpm tidak terlalu tinggi di jalan raya.
Intinya mesin Jalan raya tidak perlu HP digdaya tercapai pada putaran tinggi melainkan torsi tingkat dewa yang bisa membuat motor loncat cepat dari putaran rendah dan engine SOHC mampu menyediakan secara efisien. Jadi pemahaman salah kalau mesin SOHC dianggap rendah, banyak mobil sedan terbaru dengan SOHC engine seperti Honda Jazz iVTECH tahun 2017. Atau mobil mewah Mercedes-Maybach S600, V12 silinder SOHC 3 klep per piston, Turbocharged power 523hp@5300rpm, torsi 830Nm pada putaran sangat rendah 1900rpm, akselerasi 0-100km/jam dalam waktu 5 detik (caranddriver)

mercedes-benz-s65-v12

Mesin SOHC canggih yang sangat serius Mercedes-Benz M275 AMG V12 silinder twin turbo, menyemburkan 670hp @5400rpm, torsi 1000Nm pada putaran 3500rpm. Mampu mendorong mobil sedan penumpang mewah S65 seberat 2.15 ton dari 0 sampai 100km/jam dalam 4.2 detik.
Pemahaman kurang tepat juga kalau bertambah 2.5-3hp di 11000-13000rpm jambakan motor makin terasa. Karena torsi adalah adalah sebenarnya kita rasakan ketika buka gaz akselerasi bukan besarnya HP di putaran tinggi. Dengan itu akan lebih bermanfaat naik torsi 2.5-3Nm diputaran tengah.
Datangnya teknologi variable valve timing (VVT) atau apapun namanya menyumbang lagi potensi yang bisa di manfaatkan baik untuk engine SOHC dan DOHC. Power delivery lebih linear atau smooth pada tiap rentang rpm mulai dari bawah sampai atas. Power perkasa pada rpm tinggi tanpa mengorbankan dorongan torsi di rpm rendah dan tengah. Potensi engine balap dan engine performa tinggi jalan raya dijadikan satu, ” BEST OF BOTH WORLD “.
Jadi tidak penting mana yang paling top, DOHC atau SOHC, oversquare atau overstroke, lebih penting kebersamaan sesama penggemar motor. Kecuali Bro memang ingin ngebut gaz pol cari topspeed dimana HP pada putaran tinggi memang berperan dan itu hanya aman dilakukan di sirkuit, bukan di jalan raya. Demikian ulasan singkat ini. Wassalam dan salam sejahtera.
World’s first DOHC 4 valve per cylinder race engine : 
http://hotrodenginetech.com/worlds-first-dohc-4-valve-per-cylinder-racing-engine/
Iklan

6 thoughts on “Motor sport 150cc -250cc mesin SOHC masih bermanfaat ?

    tri_aja_gunung_kidul said:
    Januari 24, 2017 pukul 9:08 pm

    Iki sajae lagi rame r15 v3 sohc 4v sing iso tabokin power karo torsi dohc…
    Nak dalam kota sajae torsi sing penting
    nak power koyone pas okeh dalan lurus trus sepi..wkwk

    Suka

    rhenza said:
    Januari 26, 2017 pukul 9:48 pm

    Beneer bro… contoh aja jazz RS (L15a) punya power 120 hp. SOHC i VTEC sedangkan yaris (1nz-fe) power 109 HP. Tapi DOHC VVT-i

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Januari 26, 2017 pukul 10:09 pm

      Kalo bore x stroke, rpm dan komponen nya sama ukuran, mesin DOHC dan SOHC power nya mirip-mirip Bro

      Suka

    Renhan said:
    Januari 28, 2017 pukul 10:37 am

    Artikelnya mantap dan manfaat, smoga jd amal om,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s