Apakah penting motor sport 150cc – 250cc jalan raya tambahan 2-3 hp di rpm tinggi ?

Posted on Updated on

cbr250-2014
Penggemar motor yang punya perhatian terhadap performa biasanya akan ngak terlewat melihat bagian engine, yaitu berapa besar HP sanggup diciptakan. Seperti kalimat di ucapkan Enzo FerrariHorsepower sells cars, torque wins races“, ternyata memang demikian realitanya. Horsepower menebar magnit membuat orang lebih tertarik dari pada mempertimbangkan besar torsi. 
Sikap itu kadang tanpa melihat seperti apa karakter mesin itu nanti di jalan raya, apakah tipe high revving dimana power puncak berada di putaran tinggi misalnya 12000-13000rpm, atau sebaliknya tercapai di putaran lebih rendah 8500-9000rpm. Perbedaan itu memberi hasil terhadap seberapa cepat motor akselerasi mulai dari rpm rendah ke tengah dan atas pada saat berkendara di dalam kota.
Torsi adalah yang sebenarnya kita rasakan ketika buka gaz untuk akselerasi, bukan HP. Istilah jambakan atau tendangan merupakan sensasi yang berhubungan dengan fungsi torsi. Sama juga kata sering disebutkan oleh para ahli mesin motogp dan WSBK, torque sebagai referensi ketika menjelaskan traction control. Grunt kata lain dari torque yang dipakai pembalap kalau menerangkan hal yang bersangkutan dengan akselerasi atau ban spin.
Pada dasarnya engine tidak memproduksi HP, tapi menciptakan torsi dari energi panas hasil pembakaran campuran udara dan BBM. Torsi adalah tenaga putar (twisting force) yang bergerak melingkar dari sumbu (axis) misalnya mengencangkan baut dengan pipa sepanjang 1 feet dengan tenaga sebesar 10 pound, maka 10 lb-ft (13.55 Nm) tenaga putar telah dikeluarkan. Engine mulai meproduksi HP ketika energi panas menekan piston memutar crankshaft dan membuat motor atau mobil bergerak menempuh jarak dalam rentang waktu tertentu. Merujuk ke teori James Watt penemu mesin uap abad 18, satu HP adalah kemampuan berjalan menempuh jarak 181 feet dengan tenaga menarik sebesar 180 pound dalam waktu 1 menit, atau 32,580 lb-ft per menit (hasil perkalian) dibulatkan menjadi 33,000lb-ft.
Berkaitan dengan engine, HP adalah fungsi dari torsi dan rpm dengan hitungan torsi x rpm/5252.
Tanpa ada kenaikan jumlah torsi dan rpm, maka HP tidak akan bertambah.
Torsi memuncak di putaran sedang misalnya 7500-8000rpm, biasanya mulai membangun transient torque pada putaran cukup rendah 2500-3000rpm (tergantung aplikasi). Transient torque adalah potensi mesin membangun torsi secara cepat pada rentang rpm tertentu. Semakin besar transient torque semakin cepat motor melesat.
High rev engine power maksimum tercapai di 12000-13000rpm biasanya di ikuti juga dengan torsi puncak bergeser ke putaran lebih tinggi, 9500-10000rpm. Transient torque mulai galak antara 7000-75000 (tergantung aplikasi), dibawah itu torsi terasa flat kurang menendang.
Pernah mencoba Yamaha R25 dan Honda CBR250R single silinder milik teman, kedua motor masih kondisi standard. Dorongan torsi CBR250R mulai kuat dari rpm rendah sedangkan R25 baru mulai nendang di putaran 7000rpm ke atas. Untuk jalan di dalam kota yang pendek-pendek dan ramai lalu-lintas, CBR250R single akan terasa lebih gesit dibandingkan R25 tanpa harus banyak downshift kalau akan menyusul. Melewati tanjakan terjal di puncak atau Cikidang, torsi kuat CBR250R mulai putaran rendah akan mendorong motor tanpa ragu-ragu. Sebaliknya R25 akan perkasa di jalan yang panjang meraih topspeed lebih tinggi hanya kurang dorongan pada rpm rendah. Dari situ bisa kita lihat perbedaan karakter transient torque dihasilkan kedua motor.
Sering kita dengar wejangan bagaimana cara menaikkan HP, karena ini paling menarik. Tapi kembali pada peranan torsi yang mendorong kendaran, bukan HP, maka lebih bermanfaat menaikkan torsi misalnya sebesar 2.5-3 Nm pada putaran yang sama atau sedikit lebih rendah dari pada naikkan 2-3 HP di putaran maksimum lebih tinggi 7001000rpm dari standard. Bertambahnya jumlah torsi di rpm tengah jambakan akan makin terasa saat motor akselerasi.
Mewujudkan itu seperti biasa sama aja karena menaikan performa engine sejak dulu sampai sekarang ngak banyak berubah, cara paling ringan tanpa buka bagian dalam engine, cylinder head dan throttle body adalah dimulai dengan  :

Mengganti exhaust dengan tipe slip-on atau full exhaust. Rancangan free flow tabung knalpot model slip-on mengurangi efek back pressure. Knalpot full system akan lebih baik lagi karena knalpot standard dengan alur sedemikinan rupa dilengkapi catalytic converter ditujukan menekan emisi dan suara kebisingan, tapi mencuri cukup banyak potensi power.

-Karena volume oksigen jadi lebih banyak setelah ganti full system exhaust maka air/fuel ratio (AFR) berubah jadi bertambah kering (lean). Memperbaiki AFR supaya tidak terlalu lean dengan memasang piggyback atau ECU standard yang telah di reflash.

Piggyback untuk penyempurnaan efisiensi pembakaran melalui fine tuning air/fuel ratio pada tiap rentang rpm. Diutamakan pencapaian torsi paling optimal, paling besar.

Pasang air filter yang lebih baik rating flow nya, seperti merk BMC, K&N, Ferox dll, akan sedikit menambah kecepatan aliran udara.

Motor pemakaian jalan raya berbeda dengan untuk balap atau di track. Jalan umum yang ramai tidak memerlukan rentang operasi rpm panjang seperti di sirkuit. Dengan itu peningkatan torsi pada putaran tidak tinggi akan lebih efektif dibandingkan bertambah HP di putaran maksimum misalnya 11000 atau 13000rpm. Lagi pula ngak selalu situasi di jalan umum memungkinkan akselerasi mentok full rpm menyentuh limiter. Keselamatan pengendara lain dan diri sendiri adalah faktor sangat penting, ride safely.
Seperti biasa kembali kepada kebutuhan masing-masing, himbauan saya motor kondisi standard pabrik sudah lebih dari cukup untuk memenuhi hasrat berkendara motor dalam kota atau turing jarak jauh. Tidak perlu keluar dompet banyak ganti sana-sini. Tapi kalau memang Bro ada budget nya silahkan tanya-tanya ke engine tuner berpengalaman di Speed Shop, karena mereka lebih faham mana setup yang tepat atau pas untuk pemakaian jalan raya. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

8 thoughts on “Apakah penting motor sport 150cc – 250cc jalan raya tambahan 2-3 hp di rpm tinggi ?

    motomazine said:
    Januari 23, 2017 pukul 6:43 pm

    Penting om.. Branding image kok..wkwk

    Suka

    Ahmad said:
    Januari 30, 2017 pukul 5:04 pm

    nambah mata gear belakang / menaikkan gear ratio itu apa ada hubungannya dg kenaikan torsi ga pak?

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Januari 30, 2017 pukul 6:14 pm

      Bisa tergantung berapa besar output gear berbanding dg input gear

      Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Januari 30, 2017 pukul 6:20 pm

        Mislnya ganti sproket belakang dua mata, torsi bisa bertambah dan akselerasi sedikit lebih cepat. Tpi topspeed nya jdi turun sedikit pas di rpm maksimum.

        Suka

        Ahmad said:
        Januari 31, 2017 pukul 7:32 am

        Ok pak

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Januari 31, 2017 pukul 9:09 am

        Sip, sama-sama

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s