Motor dengan fork konvensional culun, upside-down fork (USD) lebih canggih ?

Posted on Updated on

carl-fogarty-rc30-isle-of-man

Carl Fogarty Honda RC30 750cc dengan fork konvensional (Rideonboardnet)

Sering komentar-komentar negatif dan lucu terlontar tiap kali di rilis motor sport terbaru tapi masih memakai fork model konvensional, bukan upside-down (USD). Komentar yang muncul seolah-olah fork konvensional bikin penampilan jadi culun, kuno ketinggalan jaman. Handling motor dianggap ngak ok kalau diajak ngebut dan lain-lain. Apa lagi moge seperti Kawasaki ER6N, Honda CBR500R yang masih memakai fork normal atau konvensional biasanya jadi bahan tertawaan.
Faktor apa yang menjadikan USD fork ini bagaikan primadona di gilai penggemar motorsport khususnya di Indonesia ?
Inverted atau upside-down fork mulai menghiasi sportbike sebenarnya sudah cukup lama sekitar tahun 1991, seperti motor kawasaki Ninja ZX-7, Suzuki GSXR750, Yamaha YZF750R. Jadi terbilang teknologi suspensi lawas tapi tetap efektif sampai sekarang.
Pasti Bro pembaca semua sudah faham cara kerja suspensi motor maka langsung aja ke point nya.
Perbedaan siknifikan antara keduanya adalah pada faktor kekuatan. Ketika rider braking, caliper menjepit rotor mengakibatkan roda mengalami penurunan kecepatan, bersamaan kecepatan motor juga berkurang karena terhubung dengan fork. Momentum dihasilkan oleh masa motor berpindah ke fork dan mendorong roda depan. Dengan itu bagian yang mengalami tekanan terbesar ada dibawah yoke atau triple clamp. Bagian ini menjadi area penting dan menjadi perhatian apakah fork model upside-down atau konvensional supaya tahan terhadap beban (load) selama pemakaian dan tidak mudah stress. 

kayaba-fork-copy

Upside-down fork lebih tangguh karena yoke menjepit bagian terbesar di fork yaitu slider atau tabung (tubes). Sedangkan fork konvensional dipegang pada bagian stanchion dimana memiliki diameter lebih kecil. Selain struktur slider berdiameter besar lebih kuat keuntungan lainnya slider lebih kaku (stiff), maka mampu mengurangi kelenturan artinya memberikan handling dan feedback yang lebih baik. Sedangkan fork konvensional cenderung lentur (fleksibel)
Stanchion terbuat dari baja maka memberi kontribusi bobot terberat dari struktur fork keseluruhan. Upside-down fork memiliki stanchion lebih pendek dan tipis dibandingkan fork konvensional. Dengan itu steering inertia yang muncul lebih sedikit dan feel lebih responsif.
Untuk pembalap suka ngebut di sirkuit akan lebih ideal kalau motor memakai inverted atau USD fork. Tapi bukan berarti kerja fork konvensional tidak bagus atau kurang dipercaya dan tidak cocok untuk balapan. Karena pabrik telah melakukan uji atau test pengereman sedemikian berat dalam berbagai kondisi. Asalkan tidak dibawa nabrak maka kekuatan fork konvensional hebat sekali.
Balapan jalan raya kelas Lightweight Mini twin motor Ninja 650, Suzuki Gladius SV650 tetap memakai fork konvensional. Dimana motor-motor engine 650cc tersebut biasa hard braking dari kecepatan 220 km/jam. Demikian pula kelas baru supersport 300 WSBK yang akan digelar tahun 2017 harus memakai fork bawaan standard nya dimana sebagian besar masih tipe konvensional.
Dulu motor-motor balap super kenceng GP500 dan Superbike biasa mengerem dari kecepatan tinggi 290-300 km/jam memakai fork konvensional. Fork bekerja begitu istimewa dan tidak ada problem selama pemakaian. Jarang terjadi kegagalan akibat faktor metal fatique.
Kemudian mengapa motor-motor sekarang masih tetap pakai fork konvensional ?
Biaya menjadi alasan pabrik untuk tetap memakai fork konvensional, seperti terlihat di motor anyar Honda CBR650F, Kawasaki Ninja 650, Yamaha MT-07, juga motor-motor sport 150-300cc. Dengan fork konvensional harga jual dapat ditekan lebih rendah tentunya akan kompetitif untuk menarik lebih banyak calon pembeli. Disamping itu fork konvensional memiliki ketangguhan jauh melewati batas kemampuan ridernya. Dengan itu pabrik tetap mempercayakan fork normal digunakan pada motor terbaru.
Apakah perlu meng-upgrade fork motor standard dengan upside-down fork?
Kalau dianggap untuk merubah penampilan itu sah aja. Menurut penulis tetap memakai fork normal juga ngak kalah keren. Tapi kalau alasannya karena fork konvensional dianggap riskan atau tidak bisa dipercaya itu jadi tidak tepat dan salah penilaian. Seperti telah dijelaskan di atas perlu upaya luar biasa untuk mengalahkan daya tahan fork konvensional walaupun hard-braking dari kecepatan di atas 250 km/jam. Kembali ke si rider apakah skill berkendaranya memang sudah seperti pembalap-pembalap Pro yang perlu upside-down fork untuk mengejar performa ke level atas lagi? 
Jangan lupa qualitas pun berperan memberikan perbedaan meskipun sama-sama tipe USD fork. Belum tentu qualitas upside-down fork aftermarket di toko variasi dimana kelihatan keren itu akan lebih mantap daya tahannya dari fork konvensional standard pabrik. Kecuali USD fork copotan motor dari pabrik sudah menjadi perlengkapan standard misalnya USD eks moge merk Kayaba, Showa, Marzocchi. Demikian bahasan singkat ini wassalam dan salam sejahtera.
 
Iklan

6 thoughts on “Motor dengan fork konvensional culun, upside-down fork (USD) lebih canggih ?

    are wege said:
    November 30, 2016 pukul 3:33 pm

    Nice pak, mantap ulasannya.. hehe

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      November 30, 2016 pukul 3:55 pm

      Terimakasih Pak… sip

      Suka

        are wege said:
        November 30, 2016 pukul 8:20 pm

        Pak bahas kebangkitan suzuki.. Dan history nya Suzuki

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Desember 1, 2016 pukul 8:17 am

        Boleh jga….musti baca dulu

        Suka

        are wege said:
        Desember 1, 2016 pukul 8:28 am

        Mantabs di tunggu ulasan nya

        Suka

    Cara Agar Android Tidak Lemot said:
    Desember 2, 2016 pukul 7:19 am

    Mantep nih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s