Dominasi pembalap Spanyol di motogp beberapa tahun kedepan

Posted on Updated on

alex-crivile-honda

Alex Criville (crash.net)

Pernah suatu masa kelas utama balapan Grand Prix dikuasai oleh pembalap-pembalap berasal dari Amerika selama 16 tahun. Pendekar bernyali tinggi ngebut di atas motor bengis GP500 yang gampang marah itu. Sekali kesalahan memplintir bukaan gaz berakibat cedera ringan atau parah sampai harus absen tiga atau empat seri.
GP500 2-tak tahun 80 an dengan bobot sekitar 115-120 kg mirip motor bebek tapi menyemburkan 160-165 hp di ban belakang. Berat NSR500 Mick Dohan tahun 1994 antara 130 kg dan power output 180hp + at the wheel. Power-to-weight ratio tingkatan istimewa gak mudah menekan motor sampai ujung batas kecuali si rider juga punya skill istimewa Bro.
Waktu itu Amerika menjadi taman bermain nya para rider roda dua penggemar kecepatan. Ditunjang oleh pabrikan Jepang yang ingin membangun brand image dibenua itu. Tampilnya persaingan ketat pada ajang balap seperti kelas superbike yang jauh lebih dulu eksis dari event WSBK di daratan Eropa yang muncul belakangan. Bersamaan dikelas utama Grand Prix 500cc 2-tak makin banyak pembalap asal USA mengisi grid seperti Kenny Roberts yang menjadi juara 3 kali berturut-turut. Randy Mamola, Freddie Spencer dan Eddie Lawson adalah pembalap tangguh yang memiliki latar belakang balapan off-road dirt-track seperti King Kenny Roberts. Disiplin tersebut sangat penting dalam menajamkan skill balapan on road. Bagaimana menjaga ke stabilan ketika menikung cepat dengan cara sliding bersamaan mengkontrol bagian depan (frontend) motor.
Era itu bisa dibilang gak ada pembalap asal Spanyol membawa motor factory GP500, hanya rider asal Inggris, USA, Italia, Jepang, Australia dan negara Eropa lainnya. Baru sekitar tahun 1985 pertama kali pembalap Spanyol Sito Pons membawa motor Suzuki RG500.
Dominasi pembalap-pembalap asal USA di kelas GP500 sejak jaman Kenny Roberts terus berlangsung dalam rentang 16 tahun sampai berakhir tahun 1993 ketika Kevin Schwantz meraih juara musim. Setelah itu prestasi pembalap USA lainnya yaitu John Kocinsky, Dough Chandler terlihat seperti mulai redup di grid. Sebaliknya peranan pembalap Spanyol mulai banyak seperti Alex Criville, Alberto Puig, Carlos Checa.
Pembalap Maestro GP500 Mick Doohan menguasai singgasana selama 5 musim balap secara berturut-turut. Kalau aja sang nasib berbeda cerita, kemungkinan besar meraih juara dunia ke 6 kalinya tanpa terputus. Tapi highside hebat di Jerez merubahnya, Doohan memutuskan untuk gantung helm balap. Cukup pengalami dua crash besar yang menyebabkan cedera parah selama karir balap membawa motor bengis GP500. Doohan masih bisa pensiun lebih baik dari Wayne Rainey yang harus berada di kursi roda.
Mundurnya Doohan di tahun 1999 memberi peluang teammatenya Alex Criville menjadi juara dunia GP500 dan sekaligus pertama kali pembalap asal Spanyol memegang tahta di kelas premier. Hanya selanjutnya prestasi Criville menurun kemudian digantikan oleh Carlos Checa dan Sete Gibernau.
Waktu Rossi masih membawa Honda RC211V V5 engine musim 2003, Sete Gibernau yang juga dengan Honda menjadi pesaing kuat. Walaupun tetap gak bisa berbuat banyak untuk kalahkan Rossi. Gibernau tidak pernah menjadi pembalap Spanyol kedua sebagai juara dunia di kelas premier atau yang pertama di era motogp, tapi konsisten dua musim berturut-turut berada di posisi runner-up.
Bangkitnya pembalap-pembalap top level Spanyol setelah Sete Gibernau di mulai dari kelas GP 125-250cc 2-tak. Begitu banyak pembalap Spanyol memenuhi kelas yang menjadi tempat loncatan ke motogp. Dani Pedrosa mengantongi juara dunia 125cc tahun 2003 dan 250cc tahun 2004-2005. Demikian pula Jorge Lorenzo di kelas 250cc sebanyak 2 musim yaitu tahun 2006-2007 dan Marq Marquez sebelum ke motogp menjuarai moto2 musim balap 2012.
Munculnya pembalap muda seperti Marquez dan Maverick Vinales menurut pengamat motogp pembalap Spanyol masih akan mendominasi grid motogp kedepannya. Faktor apa yang menjadi kekuatan itu?
Seperti juga di Indonesia, katanya motor menjadi kendaraan favorit anak umur belasan tahun di Spanyol. Sebelum boleh mengambil SIM mobil yang harus berusia 18 tahun, mereka sudah terkait lebih dulu mengendarai motor di jalan. Ini salah satu pemicu masuk ke dunia balap.
Kejuaraan Nasional Spanyol sudah cukup lama berlangsung sejak tahun 1990 an dan makin berjalan dengan baik didukung oleh pihak sponsor yang punya keinginan untuk memajukan pembalap lokal. Bersamaan itu dibangun beberapa sirkuit baru di dalam negeri menambah semarak rasa ketertarikan anak muda usia 13-14 tahun untuk menjadi pembalap amatir dan juga pembalap muda yang datang dari negara lain.
Kalau dilihat akan tidak banyak negara yang menyediakan suasana balap motor seperti Spanyol. Iklim yang menunjang untuk beraktifitas di sirkuit dikala negara Eropa lain sedang mengalami musim dingin. Inggris memiliki iklim cuaca yang sering kurang bersahabat, yaitu hujan. Kemudian juga pihak sponsor yang punya perhatian penuh terhadap balap motor. Itu semua memberi kemudahan bagi pembalap Spanyol melangkah ke step berikutnya meramaikan balapan Grand Prix moto3, moto2 dan tentunya kelas utama motogp.
Kejurnas Spanyol CEV yang sebelumnya bernama Open Ducados adalah salah satu wadah terbaik di dunia bagi pembalap dalam mengasah disiplin ilmunya dan menjadi kontributor terbesar rider-rider yang mengisi grid kejuaraan Grand Prix. Semua kelas yang dibalapkan pada tingkat dunia tersedia kecuali motogp. Gak heran dengan sendirinya akan muncul pembalap yang siap skill maupun mental untuk ikut kejuaraan Grand Prix yang lebih tinggi levelnya.
Pembalap top level bukan tercipta begitu aja, melainkan dibentuk melalui proses tempa menggunakan talenta yang sudah tertanam dan aktif balap sejak usia sangat dini.Β Casey Stoner berusia 14 tahun bersama orangtuanya terpaksa pindah ke Inggris untuk mengejar kesempatan mendapatkan proses pembentukan skill ke tingkat lebih tinggi. Stoner secara bersamaan ikut kejuaraan di Inggris dan Spanyol. Talenta nya tidak perlu waktu lama membawa ke podium dan menarik sponsor untuk mensupport biaya balap.
Proses yang gak mudah memang, selain menghadapi persaingan super ketat dari pembalap lain, berat di ongkos karena modal sendiri mungkin menjadi hambatan bagi rider yang datang dari benua selain Eropa.
Sudah tepat AHM mengirim Dimas Ekky Pratama di kejuaraan moto2 CEV dan secepatnya pindah berlaga di Grand Prix moto2. Atmosfir balap GP yang lebih ketat dan bergengsi akan semakin menajamkan kemampuan. Didukung oleh motor yang kompetitif dan tim yang bagus, akan mungkin meraih peringkat baik GP moto2.
Mudah-mudahan munyusul juga pembalap Indonesia lainnya berusia antara 13-14 tahun ditempa di kejuaraan CEV. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

11 thoughts on “Dominasi pembalap Spanyol di motogp beberapa tahun kedepan

    nduk said:
    November 28, 2016 pukul 7:42 pm

    Apa pernah kasus sponsor utama “memeksa” harus ada rider asal sponsor ?

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      November 28, 2016 pukul 8:44 pm

      Pembalap pemula katanya agak repot masuk tim klau gak bawa dana sendiri atau sponsor.

      Suka

    Renhan said:
    November 29, 2016 pukul 2:28 pm

    d spanyol ada repsol, disini ada pertamina kalo pabrikan cuman “nganter” aja kayanya

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      November 29, 2016 pukul 6:40 pm

      Ada sponsor bonafit dan pembalap berbakat usia dini, kemudian ikut kompetisi CEV

      Suka

        Renhan said:
        November 29, 2016 pukul 10:28 pm

        Pembalap usia dini yg berbakat saya rasa banyak kalo mau cari om, masalahnya siapa yg mau cari dan jg mindset orang tua sini akan masa depan anaknya jk kelak jd pembalap akan seperti apa kebanyakan masih belum ngerti, mgkin jg krn blm ada contoh nyata kisah sukses pembalap di indonesia yg berprestasi d tingkat internasional maupun berprestasi scra finansial, kalo soal keselamatan banyak yg g terlalu ambil pusing, tuh d jalan raya banyak yg blm layak bawa motor tp dah boleh bawa motor sama ortunya hehehe

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        November 29, 2016 pukul 11:05 pm

        Iya Pak, memang gak mudah sih realisasikannya. Pihak sponsor yg kuat finasial dan konsisten mencari bakat calon racer di usia sangat muda kemudian dikirim ke Spanyol utk dpt pembinaan secara profesional. Yaitu ikut kompetisi berhadapan dg pembalap2 Eropa yg juga punya talenta.

        Suka

    ira satryana said:
    Desember 1, 2016 pukul 8:19 pm

    Bolh ira +kan sedikit yak mas, khususnya ttg rider2 dr negara spanyol,
    Di spanyol pun py akademi balap, Akademi Red Bull Racing
    ● Akademi balap ini sukses mencetak pembalap-pembalap handal seperti
    Dani Pedrosa dan Marc Marquez. Kelebihan akademi ini adalah jadwal latihan
    balap disesuaikan dengan kalender MotoGP.
    Syarat masuk akademi juga berat seperti usia maksimal 17 tahun,
    tinggi badan maksimal 172 kg dan berat badan maksimal 62 kg.
    Makanya jangan heran kalau pembalap-pembalap Spanyol termasuk kecil,
    seharusnya pembalap Indonesia masuk syarat ini juga kan??
    Selain itu, biaya pendidikan di Red Bull Racing Academy sangat mahal dan
    harus ditanggung sendiri oleh peserta. Namun hasil yang diperoleh sepertinya sebanding dengan biaya yang dikeluarkan .

    ● Kemudian Jumlah Sirkuit yg tersedia di negara spanyol, ini Salah satu syarat mencetak pembalap handal adalah ketersediaan trek lintasan balap atau sirkuit.
    Di Spanyol jumlah sirkuit permanen mencapai 17 sirkuit dengan standar
    internasional plus 3 sirkuit jalan raya serta beberapa sirkuit yang sudah tidak digunakan. klu indonesia ?? 😁

    ● Berikutnya adlh Keberanian dan Pendidikan Pembalap
    Salah satu kelebihan pembalap Spanyol yang mungkin tidak dimiliki semua
    pembalap adalah keberanian untuk jatuh dengan β€œsengaja”.
    Artinya, para spaniard akan terus mempush kemampuan dirinya dan motornya
    hingga batas maksimal, dimana batas itu adalah dalam kondisi jatuh.
    Jadi, dengan mengukur kemampuan diri hingga limit itulah yang membuat nyali pembalap Spanyol di atas rata-rata.
    Tengok saja aksi Lorenzo di 2010 yang harus jatuh bangun hingga menjadi juara
    dunia atau kalau mau lebih sip silahkan ingat lagi aksi-aksi sang juara dunia Marc Marquez di musim 2013 dan 2014 dengan titel juara dunia di tangan.

    ● Yang terakhir Perusahaan Pendukung, seperti yg sdh mas utarakan di ats.
    Pembalap dengan skill hebat akan lambat berkembang jika tidak didukung
    finansial yang mapan. Dan, pembalap Spanyol punya modal ini pada beberapa perusahaan yang sangat royal mendanai aksi balap mereka.
    Sebut saja Repsol, Mappfree atau Telefonica. Siapa yang tidak kenal 3 nama perusahaan itu, apalagi Repsol yang sudah belasan tahun mendanai tim
    Honda Racing Corporation (HRC) bahkan dalam kondisi sedang bagus atau
    terpuruk.
    Bgmn indonesia dgn Pertamina? PLN? Garuda? Indofood?

    ● Yang paling terakhir ( sumpah mas ini yg terakhir ira ketik 😁)
    Penghargaan Pemerintah Spanyol Warga Spanyol tidak takut untuk terjun
    ke dunia olah raga sebab masa depan mereka pasti terjamin dengan syarat
    prestasi yang ciamik. Jadi, para atlet termasuk pembalap MotoGP tidak perlu
    lagi memikirkan kesejahteraan di masa depan, pemerintah Spanyol
    menjaminnya, mereka bisa fokus dengan prestasinya mengharumkan nama
    negara di kancah Internasional.
    Tahun 2010 bisa dijadikan contoh dominasi Spanyol di bidang olahraga,
    Rafael Nadal world #1 tenis dunia,
    Fernando Alonso runner up Formula One,
    Jorge Lorenzo MotoGP world champions serta
    timnas sepakbola yang merajai dunia di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

    Dan, semua prestasi tersebut membuat sang atlet dipanggil menghadap raja
    dengan segudang penghargaan. Skali lg, gmn dgn Indonesia??
    Itu tadi 5 faktor yang bikin pembalap-pembalap Spanyol mendominasi
    MotoGP. Sebenarnya kelima faktor itu bisa ditiru oleh negara manapun
    termasuk Indonesia. Tinggal bagaimana kemauan pemerintah dalam
    mendukung dan mensupport baik moral maupun finansial untuk terciptanya
    pembalap-pembalap handal.
    Dan satu hal yang penting, sejak kecil calon-calon pembalap masa depan
    Spayol tersebut sudah dibiasakan berlatih dengan motor-motor sport yang
    dimensi motornya disesuaikan dengan ukuran tubuh mereka.
    Jadi, bukan dengan motor bebek lalu naik ke sport dan berharap turun mukjizat
    akan langsung moncer.

    Mf +han sedikitnya kepanjangan..😁
    Jgn panggil pak yak, panggil teh ira gitu..ok?
    Met malm 😚

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Desember 1, 2016 pukul 9:40 pm

      Muchas Gracias, teh Ira lady motogp udh kasih komen.yg komprehensif sekali.

      Bener stuju sekali, peranan sponsor kuat finasial dan punya perhatian penuh terhadap calon pembalap-pembalap mulai usia sangat dini. Mudah-mudahan aja bisa terwujud kedepan di Indonesia ini yg begitu bertaburan fans motogp. Pembalap-pembalap abg Indonesia umur 13-14 tahun dikirim ke Spanyol utk diolah bentuk mental, phisik dan skill secara profesional.

      Suka

    ira satryana said:
    Desember 2, 2016 pukul 9:17 am

    Yup setuju banget, semua artikel yg ade d blog ini ira lahap habis d baca semua,
    Blog paling favorit teh ira dlm menambah sgala wa2san dan ilmu..
    Lanjutkan mas, mf klu ira bawel 😁

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Desember 2, 2016 pukul 2:16 pm

      Sebenernya sy jga masih taraf belajar aja. Meskipun usia masih abg, aka angkatan bakal gochap, dikit lgi …hehehe.

      Terimakasih apresiasinya…sip

      Suka

        ira satryana said:
        Desember 3, 2016 pukul 8:54 am

        πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s