Swan Song Jorge Lorenzo di Valencia dan mesin big bang Honda RC213V musim balap 2017

Posted on Updated on

lorenzo-valencia-2016-a

Berbelok miring di mid-corner dan transisi buka throttle untuk mulai akselerasi masih menjadi kelemahan Ducati (crash.net)

Pagelaran balap motogp musim 2016 sudah berakhir tapi suara kegaduhan kru dan mekanik seluruh tim peserta belum hilang senyap setidaknya sampai test pra-musim selesai di Valencia. Lumayan banyak hal atau drama terjadi selama musim berlangsung.
Jorge Lorenzo mempersembahkan kemenangan di Valencia sebagai Swan Song atau penampilan terakhir kalinya membawa Yamaha M1 melesat di depan publik. Seperti yang sudah kita lihat dimana musim 2016 bukanlah tahun menyenangkan untuknya. Dengan ban Michelin JL berjuang keras mencari performa balap maksimum dimana seringkali ngak datang menghampiri. Karena gaya balapnya itu ban Michelin hanya memberi sedikit margin yang bisa diolahnya membangun cornering speed kelas wahid. Pengamat motogp luar sepakat kalau temperatur sirkuit bisa tepat digabung pemilihan ban yang akurat maka tidak akan gampang menyaingi JL ketika melesat melewati tikungan medium dan high speed gir transmisi 3-4.
Test pre-season Valencia ditujukan memberi kesempatan test ride bagi pembalap-pembalap yang naik kelas dari moto2 seperti Johan Zarco, Alex Rins, juga rider motogp yang pindah tim yaitu Lorenzo, Iannone, Vinales dan lainnya. Bagi pembalap tetap tinggal di tim lama akan mendapat gambaran performa motor barunya kira-kira akan seperti apa.
Ducati mempersiapkan GP17 sebagai tunggangan Jorge pada musim balap tahun depan. Terlihat awal cukup baik test hari Selasa dan Rabu meskipun karakter Yamaha M1 dan Ducati GP16 kenyataannya berlainan. Keunggulan Yamaha berbelok miring di mid corner justru jadi letak kelemahan Ducati. Demikian pula titik terburuk pada waktu rider pertama kali buka throttle untuk mulai akselerasi. Sedangkan area tersebut merupakan kekuatan JL paling menonjol yaitu membangun speed secepat mungkin keluar tikungan. Di area ini motor perlu penyempurnaan demi mencapai keselarasan dengan style balap JL. Tapi adaptasi antara hubungan keduanya akan lebih baik menurut Gigi Dall’Igna. JL harus menyesuaikan gaya balapnya terhadap titik terkuat yang di miliki motor, di lain sisi Ducati akan menyediakan motor terbaik yang dimungkinkan.
Seperti pendapat dari pemerhati motogp luar, bahwa L-4 cylinder 1000cc Ducati sanggup revving menyentuh alam stratosfir 18000 rpm!, revving tertinggi di grid motogp sekarang. Horsepower ukuran raksasa di rpm maksimum, ngak heran di trek lurus sanggup pecundangi Honda dan Yamaha. Hanya biasanya dibayar dengan dorongan torsi kurang kuat di rpm rendah-tengah yang sebenarnya diperlukan untuk akselerasi cepat keluar tikungan lambat gir 1. Tapi mungkin akan pas untuk Lorenzo dimana memang superior melibas tikungan medium dan high flowing. Kemudian menurut Dall’Igna kekuatan motor Ducati pada saat wet race bisa di manfaatkan pula oleh JL yang kurang tajam dengan Yamaha di aspal basah.
Ducati Desmo sekarang bukan seperti 4-5 tahun yang lalu dimana handling begitu menyedihkan. Motor tidak mudah ditekuk miring berbelok sesuai keinginan rider. Faktor ini membuat Rossi kehabisan akal mencoba menjinakkan tiap kali memasuki dan keluar tikungan.
Datangnya Gigi Dall’Igna telah menyulap melalui tangan dinginnya, merubah motor Ducati menjadi salah satu motor yang memiliki potensi untuk menjadi juara motogp lagi setelah era Stoner.

marquez-valencia-2016

Big bang engine akselerasi masih kurang cepat (crash.net)

Rumor mengalir Honda RC213V untuk musim 2017 memakai kembali mesin big bang yang telah ditinggalkan sangat lama. David Emmet mengatakan ada perbedaan suara antara motor baru Marquez saat pre-season test Valencia dengan yang dipakai sebelumnya. 
Kiranya alasan mendasar apa sampai merubah haluan meninggalkan platform konvensional V4 engine?
Ketidak puasan Marquez terhadap RC213V musim 2016 terletak pada kurangnya daya dorong (drive out) keluar tikungan. Bukan karena lemahnya transient torque yang dilepaskan engine, melainkan munculnya ban spin secara berlebihan atau cenderung wheelie. Kedua kondisi itu merugikan karena memperlambat akselerasi motor bersamaan mengurangi lap time.
karakteristik V4 engine konvensional secara natural lebih ramah bersahabat dibandingkan inline 4 engine 180 derajat flatplane crankshaft, firing interval piston meledak di tiap 180 derajat rotasi crankshaft. Meskipun horsepower besar tapi power delivery V4 lebih smooth, mungkin mirip dengan V4 750cc Honda RC45 (production racer) dengan 360 degree flatplane crank. Suara cenderung menderum, bukan teriak melengking pitch tinggi keluar dari sebenar-benarnya screamer engine inline 4 cyl BMW S1000RR WSBK.
Mengatur power delivery melalui kecanggihan elektronik in-house Honda. Di tahun pertama musim balap 2013 kemudian berlanjut 2014 Marquez ngak mengalami problem siknifikan untuk menerapkan riding style brake late-hard braking, yaitu memasuki lebih dalam tikungan hairpin atau chicane gir 1. RC213V nya sangat efisien melakukan stop n go tanpa banyak terjadi ban belakang spin atau wheelie ketika mulai buka gaz akselerasi exit corner. Juga engine brake ketika deselerasi memasuki corner dari kecepatan tinggi. ECU dan torque sensor mampu menempatkan engine rpm selaras dengan kecepatan motor, ban belakang tidak melompat-lompat atau slide. Motor nya lebih mudah dan cepat diarahkan ke apex.
Musim 2015 Marquez mendapat masalah pada engine brake. Hal itu lebih disebabkan oleh keinginan HRC menaikkan power output lagi. Menurut pemerhati motogp karena rasa kekuatiran dari motor para rival yang makin bertambah digdaya. Engine brake menjadi agresif motor susah dikontrol tiap kali Marquez mendekati tikungan. Kemudian berangsur dapat diredam melalui chassis 2014 dan seting elektronik in-house. Seperti hal nya JL yang perlu performa edge grip maksimum dalam membangun cornering speed, untuk mempraktekan brake late-hard braking Marquez perlu engine brake yang mudah dikontrol dibarengi kestabilan motor dan akselerasi cepat keluar tikungan tanpa banyak spin atau wheelie.
Sejak perubahan aturan ECU/software tidak lagi in-house, keajaiban elektronik mengendalikan motor menjadi hilang atau berkurang drastis. Muncul problem ban spin berlebihan atau wheelie tiap kali buka throttle karena reaksi elektronik untuk antisipasi nya kurang cepat dan tepat.
Kondisi ban spin ini muncul juga di Yamaha dan Suzuki tapi lebih parah dampaknya di RC213V konvensional engine. Gixxer RR tunggangan Vinales yang juga cenderung spin ketika temperatur udara di sirkuit mulai panas. Mungkin ini alasannya seperti yang diperkirakan oleh pengamat motogp luar mengapa Honda ingin mencoba lagi big bang engine. Mengejar grip ban belakang lebih efektif untuk akselerasi cepat mengingat performa motor Ducati dan Suzuki yang terlihat semakin mantap. Tentu Honda tidak mengangap remeh begitu aja. Tekanan dari race pace Iannone dan Vinales lumayan mengancam tajam selama musim balap 2016.
Beralih ke big bang bukan berarti langsung tanpa masalah mengingat sudah lama Honda tidak memakai untuk balap. Meskipun power delivery lebih soft, menyediakan daya cengkram ban (grip) yang lebih banyak, mudah dikontrol ketika gaz dibuka, menurut Marquez masih ada kecenderungan motor wheelie keluar tikungan dan akselerasi yang kurang cepat.
Big bang engine menciptakan tingkat vibrasi lebih besar di atas mesin konvensional. Meredamnya dengan balancer shaft dan bandul crankshaft. Gir, crankshaft, bearing harus lebih kuat strukturnya. Arti nya bobot mesin akan sedikit lebih berat dan power output yang juga tercuri. Kompensasinya mungkin dengan cara naikkan lagi revving lebih tinggi. 
Misalkan Honda beralih ke big bang, V4 engine KTM RC16 akan jadi satu-satunya di grid motogp yang tetap dengan mesin konvensional. Menurut Max Oxley, KTM tidak ada masalah menjinakkan power melalui elektronik software. Sangat senang dengan power delivery yang dilepaskan, tapi akan beralih ke big bang kalau memang jelas itu jalan yang lebih baik.
Yang menarik dari KTM adalah sebagai satu-satunya pabrikan ikut di motogp yang sekarang ini tidak mengeluarkan supersport 1000cc ke atas setelah RC8 V-twin engine di discontinued. Hanya tersedia naked sportbike dengan torsi monster yaitu KTM SuperDuke 1290R. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
 
Iklan

4 thoughts on “Swan Song Jorge Lorenzo di Valencia dan mesin big bang Honda RC213V musim balap 2017

    Dani's said:
    November 18, 2016 pukul 8:32 pm

    ya ktm superduke 1290R si V-Twin eksotis yang seperti Z1000 nya benua biru

    Suka

    are wege said:
    November 18, 2016 pukul 9:34 pm

    Tapi potential tidak RC 213v beralih ke big bang ?? Masih nampaknya keteteran dalam menciptkan lap TERCEPAT

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      November 19, 2016 pukul 8:28 am

      Mungkin tergantung hasil beberapa test kedepan lgi. Karena gak boleh ada kesalahan menentukan engine setup seperti kejadian musim balap 2015, muncul masalah di engine brake.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s