Phillip Island 2016 ban depan Michelin tidak bersahabat dengan Marquez

Posted on Updated on

crutchlow-phillip-island-2016
Kondisi cuaca tidak menentu gak mudah diprediksi menjadi tantangan tersendiri di sirkuit yang menjadi favorit para pembalap ini. Angin dan hujan yang datang bertamu mempersulit setup motor saat qualifikasi. Memilih tipe ban apakah pakai wet atau intermediate atau slicks yang harus juga di ikuti setting suspensi, elektronik yang masing-masing punya variable.
Dinginnya temperatur cuaca memperlambat terbangun panas di ban depan Michelin. Tanpa panas yang cukup maka grip ban tidak akan memberikan daya lengket ke aspal pada level maksimum. Pembalap yang sanggup membangun panas di ban depan akan lebih merasa percaya diri menekan motor lebih cepat karena feel yang bagus dan grip ban bekerja semestinya.
Faktor geometry RC213V untuk menciptakan keunggulan handling saat hard braking menurut David Emmet cukup membangun panas di ban depan. Memungkinkan Marquez dan pembalap Honda Cal Crurchlow mencetak lap tercepat ketika suhu udara sedang rendah. Sebaliknya Yamaha khususnya style balap Lorenzo yang bertumpu lebih kuat pada bagian pinggir (edge) ban untuk mencapai maximum corner speed akan jadi problem pada saat udara dingin. Objektifnya bagaimana cara menaruh panas yang cukup khususnya ban depan supaya mampu melesat cepat di tikungan medium-fast flowing gir 2 sampai 4 Phillip Island yang spektakuler itu.
Geometry dan balance Yamaha M1 2016 tidak begitu banyak memberi beban (load) pada bagian depan (frontend) yang berpengaruh pada ban terutama saat temperatur cuaca sedang turun dan munculnya hembusan kuat angin. Berbeda situasi misalkan lintasan sedang di siram sinar Matahari yang cukup terik. Untuk kompensasi menutupi kelemahan tersebut teknisi tim Movistar melakukan setup dimana berat motor JL sedikit lebih bertumpu ke bagian frontend. Dengan itu tekanan (load) diharapkan mampu membangun panas di ban. Tapi setup itu juga menimbulkan masalah lain yaitu munculnya frekwensi ban belakang spin yang mempengaruhi daya dorong (drive out) ketika motor akselerasi, disebabkan tumpuan di ban belakang yang berkurang. Menurut JL kurangnya peranan elektronik juga memberi sumbangan terjadi ban belakang spin berlebihan.
Hitungan tehnis Marquez dan Crutchlow akan berjaya berada di lini depan dari pada pembalap factory Yamaha. Meskipun gaya balap Rossi lebih dominan hard braking di ikuti menggunakan bagian edge ban Michelin yang lebih sedikit waktunya saat motor miring. Situasi Rossi harusnya akan lebih baik dibandingkan style nya JL yang smooth lebih banyak trail-braking, tapi posisi qualifying melempar nya ke urutan grid 15.
Marquez dan Cal Crutchlow memilih ban hard compound depan tidak ada strategi jitu selain harus menekan motor dari awal dengan maksud panas bisa tetap terjaga. Dengan grip hard compound direncanakan awet selama balapan dan tahan terhadap aspal kasar lintasan dibarengi siksaan hard braking Marquez maupun Crutchlow. Tapi dengan cuaca yang sewaktu-waktu bisa drop, sang suhu makin bertambah dingin akan menimbulkan problem.
Data dry setup waktu Rossi test ban Michelin di Phillip Island bulan February sebelumnya menjadi patokan untuk race. Pilihan ban soft compound depan diperkirakan tepat untuk menghadapi cuaca dingin dan membangun panas yang di inginkan.
Kedua pembalap Honda RC213V langsung melesat sejak start di ikuti oleh Pol Espargaro Yamaha Tech3 yang juga meloncat dari grid depan dan memimpin sampai kemudian di overtake Marquez di tikungan kecepatan rendah Honda Hairpin. MM membuat gap tapi tidak bisa menjauh karena Crutchlow sudah berada di posisi kedua lagi pada lap 7. Bersamaan Rossi start di urutan 15 berhasil memperpendek jarak meter demi meter sampai ke posisi 6.
Crutchlow mencetak fastest lap dan terus mendekati MM. Seperti Rossi di Motegi sebelumnya melakukan error brake late, demikian pula Marquez memasuki tikungan kecepatan rendah gir satu Honda Hairpin ban depan kehilangan grip akibat hard braking kemudian motor lowside masuk ke gravel. Sang juara musim 2016 harus menyerah di lap 10 karena salah perhitungan terhadap ban depan Michelin yang telah melewati limit.
Rossi yang sudah berada di posisi 3 terus menekan mencoba mendekati Crutchlow tapi ban soft depan yang sudah terkikis karena harus agresif menyusul satu persatu pembalap dari urutan 15 gak akan bertahan lama kalau ditekan secara terus menerus. Play safe dengan menjaga gap dengan pembalap dibelakang dan menghindari error sampai balapan berakhir menjadi strateginya. Terpaksa melupakan merebut podium satu yang mungkin beresiko mengulang kesalahan yang sama seperti di Motegi.
Kemenangan Crutchlow di Phillip Island membuktikan dirinya bisa berjaya bukan aja di wet tapi juga dry race. Menepis orang yang sebelumnya meragukan kemampuannya 
“Somebody asked me last week what I thought about going to Phillip Island and I said I planned to come and win and I don’t think that they believed me, but I honestly planned to come here and do a good job”
Menjaga pikiran tetap dingin selama lomba berlangsung adalah penting, meskipun pada saat Marquez crash sempat muncul keraguan dan dihantui juga kejadian crash di tikungan Honda pada musim balap tahun 2015. Perhatian ektra setiap kali braking memasuki tikungan tersebut untuk menghindari kesalahan yang sama seperti MM. Crutchlow dan Marquez sama-sama memakai ban hard depan. Supaya panas ban berada selalu pada level maksimum, Crutchlow menekan keras motornya pada saat teduh dan mengurangi bukaan gaz ketika Matahari keluar dari awan. Karena ban depan yang overheat juga membawa bencana yang sama Bro.
Finish di urutan ketiga memperlihatkan konsistensi positif yang dibuat Vinales musim ini. Artinya dimungkinkan Vnales meraih posisi lebih baik pada saat membawa Yamaha M1 tahun depan. Meskipun performa Suzuki GSX-RR bisa dibilang sudah berada pada level yang mantab sanggup bersaing dengan motor factory Yamaha dan Honda. Vinales masih punya kesempatan merebut posisi poin klasemen ketiga dari JL. Itu semua jelas tim Suzuki punya potensi tajam bermain di balapan motogp sejak comeback nya tahun 2015.
Regulasi ECU dan software seragam membawa perubahan besar di pertarungan motogp 2016. Begitu banyak pembalap yang hadir di podium satu, dengan itu menegaskan tidak lagi selalu di dominasi pembalap top level aja. Tiga sampai empat merk motor saling bertukar posisi overtaking menjadikan suasana lebih seru dan dinamis. Demikian wassalam dan salam sejahtera.

 

Iklan

4 thoughts on “Phillip Island 2016 ban depan Michelin tidak bersahabat dengan Marquez

    are wege said:
    Oktober 24, 2016 pukul 4:56 pm

    Salah MARQUEZ juga pak. Terlalu ngepush abis. Smpai batas limite. Harusnya dia main santai sudah juara dunia, harusnya bermain menghibur malah ngaciirrr gak karuan.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Oktober 24, 2016 pukul 7:18 pm

      Crutchlow bikin fastest lap, lebih kenceng dri Marquez. Mungkin krena rasa kuatir dideketin trus akhirny jdi bikin kesalahan terlambat brake masuk tikungan.

      Mantap lah Pak krena sekarang justru pembalap non top level sperti Crutchlow bisa podium satu lgi.

      Suka

    welah dalah said:
    Oktober 26, 2016 pukul 1:30 pm

    Betul pak
    Menurut saya, kita bisa melihat pertarungan podium bukan lagi milik repsol dan movistar. Juga ajang pembuktian pembalap2 lain.
    Sebelum musim 2016, mereka susah podium bukan karena mereka kalah skill, namun mesin tim pabrikan memang unggul dari pada privateer.
    Setelah seragam ECU, mereka membuktikan, dengan motor yang hampir sama kompetitifnya, mereka dapat ikut memperebutkan podium, bahkan podium 1
    Jadi lebih seru nonton nya pak

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Oktober 26, 2016 pukul 2:22 pm

      Sependapat Pak, motogp 2016 udh lebih mendekati seperti motor WSBK. perangkat harus di homologasi, walaupun gak smua. Spek jdi sama atau mirip satu dg yg lain.

      Pembalap – pembalap dengan skill di atas rata-rata tetap akan sering keluar jdi juara. Tapi setidaknya gap bisa saling berdekatan, banyak overtaking.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s