Motegi menyegel Marquez jadi juara musim motogp 2016

Posted on Updated on

maruqez-world-champion-2016

2016 World Champion Marg Marquez (motorsport magazine)

Terjadi highside dialami Eugene Laverty, Jorge Lorenzo dan Pedrosa mengingatkan di era motor bengis GP500. Grip ban belakang yang spin secara tiba-tiba menggeser bagian belakang motor ke arah samping (sideway) dan dengan sekejab pula ban belakang mendapat traksi kembali dengan aspal bersamaan menekan per shock belakang. Gabungan dari inertia dan tekanan balik per shock belakang menciptakan energi besar melempar pembalap ke udara. Beruntung Lorenzo hanya mengalami memar di kaki, tapi tidak untuk Pedrosa yang harus operasi di collarbone nya. Pedrosa sering cedera serius selama karir balap motogp nya.
Di Motegi berakhir sudah perburuan juara musim motogp 2016 setelah ban depan Rossi lowside dan masuk gravel. Hitungan mathematik memberi hak kepada Marquez menyegel dan memboyong titel untuk menduduki singgasana motogp ke 3 kalinya sekaligus musim pertama merebut kemenangan podium satu di Motegi.
Upaya keras sejak awal musim yang gak mudah itu berhasil terbayar. Sejak start Marquez mulai menekan maka terlihat pilihannya waktu itu adalah berada di depan dan membuat gap kalau kondisi memungkinkan.  Marquez berhasil menyusul JL dan mencoba terus naikan race pace bersamaan tetap menjaga tidak terlalu overload ketika braking. Perasaan beban nya menjadi kurang ketika melihat tulisan di race pit board Rossi out tidak lama di lap 7.
Lorenzo sebagai pembalap yang sebelumnya selalu kokoh di podium satu Motegi harus menyerah karena edge grip yang gak berpihak kepada nya sejak awal. Ban soft compound menyediakan feel lebih baik dari medium compound tapi tidak dipilihnya karena Matahari akan terik. Ternyata temperatur selama balapan sepertinya tidak cukup membangun panas di ban depan.
Ban depan Michelin selama ini memberi JL problem, performa nya tidak stabil seperti waktu dengan ban Bridgestones. Tehnik balap melahap tikungan perlu ban depan yang memberikan feedback pada level prima dan feeling di edge grip yang nyaman dalam membangun full percaya diri saat motor miring. Temperatur menentukan kemampuan cornering speed nya, temperatur drop maka demikian juga edge grip ban depan Michelin.
Untuk kompensasi menutupi kelemahan tersebut teknisi tim Movistar melakukan setup dimana berat motor sedikit lebih bertumpu ke bagian frontend. Dengan itu tekanan (load) diharapkan mampu membangun panas di ban. Tapi setup itu juga menimbulkan masalah lain yaitu munculnya frekwensi ban belakang spin yang mempengaruhi daya dorong (drive out) ketika motor akselerasi, disebabkan tumpuan di ban belakang yang berkurang. Artinya jalan tengah harus mengambil setup yang terbaik di antara keduanya dan itu tidak cukup mengungkit feel JL membangun cornering speed andalannya. Tidak aja kurangnya feel akibat minimum feed back, frontend motornya juga mengalami vibrasi cukup siknifikan yang jelas makin menghalangi feeling nya itu terutama kalau memakai compound yang lebih keras.
Di kubu Yamaha selama ini Rossi adalah yang paling mampu adaptasi dengan ban Michelin, tehnik balapnya berlainan dengan JL. Motor bertumpu pada bagian sisi ujung (edge) ban lebih sedikit waktunya dibanding JL. Kemampuan balap Rossi dimusim 2016 lebih kuat dari team matenya, menjadikan ia head-to-head dengan Marquez. Tapi tiga kali DNF di sirkuit Austin, Assen, Motegi dan blown M1 engine di Mugello mengharuskan melepas impian menambah koleksi titel juara motogp.
Rossi berhasil pole position meskipun seperti itu dia merasa Marquez dan JL sedikit lebih cepat. Kunci utama tetap berada di lini depan sejak awal balapan, hal tersebut penting menurutnya dan maintain race pace yang cukup panjang menempuh 24 lap ditambah hard braking secara terus-menerus.
Tiga lap setelah start pace nya mampu lebih cepat sedikit dan sempat ter-block oleh JL yang berada diposisi kedua setelah Marquez. Untuk memburu No 93 tidak ada jalan lain dengan overtake teammatenya. Setelah ada kesempatan menyusul, Rossi tidak menunggu lagi dan memacu motornya lebih cepat mengejar Marquez. Rasa percaya diri telah terbangun dan dihinggapi semangat, speed mendatangi tikungan mungkin sedikit lebih cepat dari perkiraan mengakibatkan grip ban depan menyerah kemudian lowside di tikungan 10. Sepandai tupai melompat suatu waktu tumpah juga. 
Ban depan Michelin tidak permisi dahulu memberi isyarat bahwa grip sudah sampai limitnya. Garis batas antara masih tersedia grip dan tidak ada grip sangat tipis sekali. Seperti yang diucapkan Marquez kalau ban depan kehilangan grip selanjutnya motor sudah crash tanpa diberikan kesempatan kepada rider untuk menghindari. Menurut Rossi dia memakai line dan kecepatan yang sama seperti pada lap sebelumnya, “but the front was simply gone”. 
Misalkan Rossi lebih beruntung tidak mengalami begitu banyak DNF, sekarang ini situasi perolehan point klasemen akan jadi ketat dan seru.
Marquez semakin improved dengan ban Michelin meskipun dia sadari RC213V tidak se superior waktu memakai ban Bridgestones dan ECU/sofware pabrikan di musim balap sebelumnya. Motogp yang sama rata sama rasa sekarang ini memberi margin keuntungan sedikit antara satu dengan yang lainnya.
Ada banyak perubahan strategi dijalankan oleh Marquez dimana me manage balapan lebih penting dari pada gaya kamikaze atau do or die yang kemungkinan besar dibayar mahal karena crash. Ban depan Michelin yang gak mudah diprediksi membuatnya harus selalu hati-hati untuk tidak melewati batas dan tidak memaksakan apa bila situasi kurang memungkinkan. Dia faham dan banyak belajar kapan motor bisa di push dan dimana saatnya tidak bisa. Memahami manage ban depan Michelin melalui Rossi :
“After Montmelo, I started to understand a little bit,” he said. “I saw a few things behind Valentino. That was the first race I followed him for many laps, he knows the Michelins very well, and I saw a few things.”
Di musim balap 2017 peluang Marquez tetap kokoh menjadi kandidat juara dunia lagi sepanjang keberuntungan berpihak dan juga konsistensi dari setup motor RC213V. Karena persaingan akan lebih ketat kalau Vinales nanti membawa Yamaha M1 dan “the maniac” Iannone melesat dengan GSX-RR yang juga semakin improved. Hanya nanti apakah Honda jadi merubah platform engien ke big-bang yang tentu akan mengurangi kedigdayaan power output selama ini. Terlihat selama paruh kedua musim yang mungkin telah mengalami perbaikan melalui setting elektronik, daya dorong (drive out) exit corner RC213V sedikit lebih unggul dibandingkan Yamaha M1 big-bang. Big-bang engine memang lebih efektif penyaluran torsinya tapi benefit itu harus di imbangi dengan kehilangan beberapa horsepower. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

13 thoughts on “Motegi menyegel Marquez jadi juara musim motogp 2016

    are wege said:
    Oktober 17, 2016 pukul 3:52 pm

    Bakal ngerecokin lagi niih. ,, Wkwkkwkk siap ugal2an. Itu yg lagi ngerebutin pos runner up hati2 nih

    Sekarang saya pikir Marc Marquez yang lama akan kembali,” jawab Marquez saat ditanya mengenai targetnya di tiga balapan tersisa. “Ketika kami memulai musim, kami banyak berjuang. Tahun ini, kami mengubah strategi, saya lebih tenang.”

    Tahun ini kami kembali kuat. Itu setelah saya mencoba memahami mengapa saya kehilangan gelar di musim lalu. Terpenting dalam hidup adalah belajar dan saya menggunakan pengalaman itu sebaik mungkin,”

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Oktober 17, 2016 pukul 5:02 pm

      Yoi, menyerap terus ilmu, dibarengi sikap rendah hati.

      Suka

    nduk said:
    Oktober 17, 2016 pukul 8:46 pm

    Sesuai janji mbah nakamoto waktu launching rcv ,di sentul awal taun lalu , motor marc 2016, lebih “easy” dibandingkan 2015 ,klop dah dg gaya mm yg “dikalemkan” + lawan sering dlosor , triple crown kah ? 🙂 u/ 2017 motor marc easy dah dpt tinggal nambah power kayaknya he he

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Oktober 18, 2016 pukul 10:27 am

      Misalkan RC213V jdi pindah ke platform big-bang engine tahun depan kemungkinan bisa lebih efektif grip ban belakang, Gejala spin bisa berkurang pas akselerasi tapi horsepower yg juga jdi berkurang sedikit di rpm tengah dan atas.

      Suka

        are wege said:
        Oktober 18, 2016 pukul 4:40 pm

        di adjust pake Traction Control

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Oktober 18, 2016 pukul 5:20 pm

        Big-bang engine lebih nurut power deliverynya dibanding yg konvensional 180 atau 360 derajat flatplane crankshaft atau dg sebutan screamer, walupun gak murni. Negatifnya dg big-bang power output jdi sedikit berkurang. Tapi lebih gampang mengatur via elektronik.

        Suka

    ira satryana said:
    Desember 3, 2016 pukul 9:07 am

    Once again, i like this blog..
    Di tunggu postnya ttg hsl test pra musim sepang 2017 januari nanti..
    Okay ? 😍😚

    Suka

    ira satryana said:
    Desember 3, 2016 pukul 7:07 pm

    Oiya mas, test valencia kemaren d sinyalir marc sdh nyoba pk big bang, tp msh ada
    Keluhan akselerasi msh krg nendang, ujung2nya pasti k torsi kan yak?
    Sementara itu ecu mag mar unifield yg d reduksi adlh torsi,
    Yg jd pertanyaan ira pk screamer dan big bang tetep aje akselerasi jd kluhan marc.
    Jd asumsi mas, baiknya hrs gmn ??
    ( mohon koreksinya, maklum ira awam, hy sekedar mencoba brani berkomentar )
    😂😁😂

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Desember 3, 2016 pukul 9:50 pm

      Mnurut di brita grip ban belakang motor mesin big bang Marquez udh bagus, lebih mudah buka gaz nya. Hanya masih muncul wheelie pas waktu akselerasi full. Perangkat elektronik sperti wheelie control dan ECU masih kurang cepet bereaksi dan kurang presisi meredam wheelie. Itu berpengaruh memperlambat akselerasi keluar tikungannya.

      Waktu masih engine konvensional, ban belakang sering spin pas akselerasi. Traction control dan ECU gak mampu secara cepat dan tepat mereduksi terjadi nya ban spin. Daya dorong jdi kurang efektif karena kurang grip

      Klau torsi tergantung penempatannya, di rentang rpm berapa mulai nendang. Makin besar power puncak di putaran atas, makin tinggi jga rpm dimana torsi efektif mendorong kuat. Misalnya mulai di 9500-10000 rpm. Ada jga yg mulai galak di putaran lebih rendah sekitar 8000 rpm.

      Suka

    ira satryana said:
    Desember 3, 2016 pukul 10:22 pm

    Ok mas..test valencia marc marquez mencoba 3 type RCV
    1. RCV213 2016
    2. SASIS 2016 MESIN 2017
    3.PROTIPE 2017
    marc pun mengatakan dia mencoba big bang dgn mapping screamer
    Tdk ada kejelasan dr 3 yg coba itu mn yg pake bigbang mapping screamer
    Mungkin yg no 2 ato 3 ??
    Klau torsi tergantung penempatannya, apkh sdh tepat dgn pake big bang dgn
    mapping screamer??
    Mf ira byk nanya, gpp yak? 😁
    Met malm 😊

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Desember 4, 2016 pukul 10:17 am

      Mapping berhubungan dg air/fuel ratio (AFR, waktu pengapian (ignition timing) dan jga lainnya. Sy gak tau tepatnya sperti apa firing interval RC213V konvensional atau non big-bang. Mesin V4 itu biasanya gak murni screamer sperti mesin inline 4. Misalnya engine BMW S1000RR, Kawasaki ZX-10RR, firing interval equal setiap 180 derajat putaran crankshaft. Mungkin firing interval RC213V konvensional mirip dg motor Honda RC45. Suaranya menderum kalau di rpm rendah seperti suara V-twin engine. Suara screamer murni inline 4 engine itu balance di rpm rendah, melengking dg pitch tinggi di rpm atas.

      Pasti engine tuner di tim nya Marquez akan cari yg paling presisi, yaitu powerband efektif utk semua karakter sirkuit. Kalau powerbandnya cukup lebar akan menguntungkan. Motor mampu lebih cepet akselerasi dari tikungan kecepatan rendah-sedang gir 1 dan 2. Kemudian efektif meredam kecenderungan wheelie saat buka gaz akselerasi.exit corner.

      Masih bnyk waktu kedepannya sebelum dimulai musim balap 2017.

      Suka

    ira satryana said:
    Desember 5, 2016 pukul 8:11 am

    Ok..cakep banget balasan komentnya
    Mksh ats diskusinya, met pagi 😍😚😁

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s