Pembalap motogp vs Pendekar GP500

Posted on Updated on

gp500-abc27

Wayne Rainey dibayangi oleh Mick Doohan dan Kevin Schwantz (Cycle World)

Motogp machine sekarang ini ngak diragukan mempertunjukkan kedigdayaan teknologi balapan motor yang pernah disaksikan oleh publik penggemar Grand Prix di seluruh bagian dunia. Topspeed lebih cepat dari kedipan mata melesat masuk ke dalam tikungan seolah-olah rudal Scud yang sedang menusuk ke jantung pertahanan musuh.
Tiap pabrikan khususnya Honda dan Yamaha berupaya memeras ilmu aerodinamika, internal combustion engine, engine management system dan inclinometer maupun suspensi, sebanyak mungkin sampai tetes darah terakhir. Puncaknya ketika electronic aids buatan in-house pabrikan dikombinasikan grip ban Bridgestones yang mantap, memungkinkan Jorge Lorenzo secara smooth membangun cornering speed yang istimewa. Demikian pula tehnik brake late-hard braking Marc Marquez menusuk tajam lebih dalam. Tapi kalau semua itu dianggap telah menggambarkan skill pembalap paling super di dunia mungkin perlu analisa ulang lagi Bro.
Pada era dimana grip ban slicks gak sedahsyat sekarang dan mayoritas skill pembalap lebih berperan dari pada campur tangan electronic aids yaitu wheelie control, traction control dan juga inertial platform seperti gyroscope, accelerometer adalah jejeran nama-nama yang terdengar keren tapi masih belum tersedia.
Masa itu adalah motor bengis GP500 menguasai balapan Grand Prix kelas utama di setiap sirkuit dunia selama 30 tahun. Nama highside termasuk dimenu balapan dan kalau mereka tidak hati-hati buka gaz konsekwensinya cedera ringan atau sampai patah-patah.
Randy Mamola - Honda Motorcycle
Randy Mamola at Donington Park 1984. Karakter engine GP500 2-tak yang tidak linear, torsi muncul bisa secara tiba-tiba kalau buka gaz dari posisi tutup dan akan bikin repot pembalap kalau motor sedang miring (Bob Thomas/Getty Images)
Tiap pembalap rajin diperiksa oleh Dokter yang selalu standby kemanapun balapan digelar. Kalau cedera nya ringan misalkan keretakan (fractured) minor, tidak ada bagian yang patah maka penanganan di Clinica Mobile sudah cukup. Pembalap boleh keluar dengan dibalut pada bagian yang cedera dan sudah bisa turun ke sirkuit lagi. Tapi kalau parah sampai patah-patah terpaksa dibawa ke RS untuk penanganan intensif dan terpaksa tidak bisa ikut beberapa seri balapan kedepan.
Di era GP500 lebih banyak pembalap mengalami cedera ringan sampai parah akibat ganasnya perilaku motor 500cc 2-tak itu. Sebut saja pembalap GP500 seperti Freddie Spencer, Eddie Lawson, Wayne Gardner, Randy Mamola, Kevin Magee, Kevin Schwantz, apakah selama karir balap mereka mulus tanpa mengalami cedera cukup berat? Realitanya mereka sudah langganan mencicipi perihnya broken bones akibat motor GP500 yang sedang marah melempar ke aspal.
Tidak mudah membawa motor GP500 on steroid sekenceng-kencengnya terutama pas akselerasi keluar tikungan kecepatan medium dan fast gir 3-4. Meskipun power ouput jauh dibawah motogp tapi torsi maksimum yang dihasilkan hampir sama seperti torsi maksimum motogp. Torsi puncak GP500 sekitar 100 Nm @12000 rpm dan torsi maksimum motogp 100-110 Nm di putaran lebih tinggi 14000 rpm. Dan perlu di ingat bobot yang lebih enteng sekitar 30 kg dari motogp, menciptakan power-to-weight ratio sangat istimewa.
Dengan bobot 126-130 kg, Gp500 lebih ringan sekitar 36-40 kg dari berat rata-rata sportbike 250cc model sekarang. Power output 160-180 hp at the back wheel pada putaran 9000 rpm torsi menendang kuat sanggup mengakibatkan ban spin secara tiba-tiba. Kalau motogp sekarang ban spin dapat di redam oleh peranan traction control dan ECU. Level kecanggihan perangkat tersebut membedakan respon dan hasilnya, makin canggih makin cepat dan presisi, dengan itu kerja pembalap lebih mudah dan bisa konsentrasi penuh ke hal lainnya seperti akselerasi keluar tikungan sekenceng mungkin tanpa kuatir ban spin berlebihan. 

wayne-gardner

Wayne Gardner salah satu pembalap GP500 dengan nyali tinggi melesat diatas Honda “the beast” NSR500 yang waktu itu memiliki power delivery ganas

Tidak jadi masalah seberapa besar bukaan throttle, begitu traction control sensor mendeteksi terjadi spin, sensor segera mengirim data ke ECU untuk intervensi dalam milidetik dengan cara mengurangi supply bbm atau mematikan satu atau dua pengapian (ignition) atau juga menutup butterfly yang ada di throttle body (tergantung system yang di aplikasi). Hanya di jaman GP500 itu belum ada dan seperti yang dijelaskan Wayne Rainey bahwa brain, tangan kanan di throttle dan kaki kanan di rem belakang berperan sebagai traction control dan wheelie control.
Berusaha masuk dan keluar tikungan secepat mungkin adalah target pembalap GP500, bukan mencetak topspeed tertinggi di trek lurus yang justru kontra-produktif. Bagaimana melepas tuas rem di mid-corner setelah trail-braking kemudian transisi membuka throttle secara tepat, tidak berlebihan mencegah ban belakang spin kehilangan grip. Kalaupun terjadi spin bagaimana antisipasi supaya tetap bisa exit corner dengan smooth tanpa banyak kehilangan waktu.
Randy Mamola asal Amerika termasuk pembalap nekat GP500 dengan skill balap istimewa. Sudah mencicipi melesat cepat hampir semua merk motor GP500 Suzuki, Honda, Yamaha dan Cagiva. Hanya keberuntungan ngak pernah mendarat di kubunya mengantongi titel juara musim GP500. Mamola berada di posisi runner up tahun 1980, 1981, 1984, 1987.
Wayne Gardner asal Australia masuk ke tim Honda tahun 1986 sebagai team mate “fast” Freddie Spencer yang harus absen karena mengalami cedera cukup parah di dapatnya pada musim balap 1985. Gardner membawa NSR500 V4 dan harus berjuang untuk menjadi rider tercepat dengan motor yang sebenarnya terlalu agresif. Handling terasa masih kurang efektif dan untuk men-stir mengarahkan motor keluar tikungan ban belakang harus di spin atau dengan istilah “rear wheel steering”. Dengan motor pada level lebih jinak tahun 1987 meraih titel juara dunia GP500. Gardner salah satu pembalap GP500 dengan nyali tinggi dan mendapat respek dari rekan-rekannya.

freddie-spencer-1986-jarama

Freddie Spencer NSR500 1986. Kalau Marquez juara motogp termuda dengan perangkat elektronik nan canggih dan grip dasyat ban Bridgestones, fast Freddie menjadi juara dunia GP500 termuda dengan elektronik yang primitif dan power delivery agresif.

Freddie Spencer menjadi hero nya Honda sejak kembali lagi ikut balapan Grand Prix 1979. Membawa motor NS500 V3 cylinder yang kalah powerful dari motor Yamaha YZR OW70 V4 cylinder “King” Kenny Roberts, Fast Freddie sanggup melawan dan sukses meraih juara musim GP500 tahun 1983. NS500 nya kalah cepat akselerasi keluar tikungan, untuk kompensasi kekurangan itu Freddie terpaksa harus masuk tikungan lebih cepat dengan brake late. Kemudian di mid-corner berupaya membuka gaz lebih awal memanfaatkan momentum, dengan itu motor exit corner akan lebih kenceng beberapa km/jam dan juga mendorong topspeed lebih tinggi di titik pengereman (brake marker) menjelang memasuki tikungan berikutnya. Menurut Freddie motor akan lebih cepat meskipun kalah power dari motor rival. Skill nya di asah sejak balap dirt-track amatir yang dijalankan 3 kali seminggu.
Freddie Spencer adalah pembalap termuda menjuarai Grand Prix di kelas premier dengan karakter power delivery brutal dan teknologi masih primitif untuk ukuran sekarang. Menjuarai GP500 pertama kali tahun 1983 dan di tahun 1985 secara bersamaan menyabet dua titel juara dunia GP250 dan GP500.

eddie-lawson-gp500-copy

No.1 Eddie Lawson akselerasi dan wheelie (cycle World)

Eddie Lawson pembalap asal USA sukses juara dunia GP500 4 kali dengan Yamaha dan Honda. Skill balap istimewa memacu secepat mungkin motor dengan sifat agresif dan gampang marah. Menyabet titel GP500 pertama kali tahun 1984 dengan mengalahkan Randy Mamola. Karir balapnya berlanjut sampai berakhir tahun 1992 dengan mengendarai motor Cagiva C593.
Juara dunia tahun 1989 dengan Honda NSR500 adalah pembuktian bahwa skill balapnya sanggup mengendalikan karakter motor yang berbeda dari motor Yamaha YZR500.
Pertama kali pindah ke Honda Lawson menyadari handling NSR500 tidak bersahabat di gabungkan dengan power engine begitu besar sekitar 170 hp (at the wheel), motor bagaikan sosok kuda liar yang tidak mau dikendalikan. Kemudian atas kerjasama dengan tuner handal Erv Kanemoto yang sudah malang-melintang di dunia balap sejak tahun 70 an, kuda liar NSR500 berangsur menjadi jinak walaupun belum total. Screamer engine firing interval tiap 90 derajat dirubah menjadi 180 derajat seperti yang dipakai oleh Yamaha. Power delivery lebih bisa diatur dibandingkan screamer walaupun tetap masih ada sifat brutalnya.

kevin-schwantz-copy

Kevin Schwantz Suzuki RGV500 (Cycle World)

Kevin Schwantz adalah pembalap terbaik Suzuki dengan prestasi puncak juara GP500 tahun 1993 membawa RGV500. Runner-up di musim balap 1990 dengan talenta nya selalu menjadi lawan tangguh Wayne Rainey dan Mick Doohan. Schwantz memiliki skill balap dan semangat tempur yang selalu berusaha menang meskipun motor RGV500 nya masih kurang kompetitif dibandingkan Honda dan Yamaha. Schwantz sering mengalami crash demi mengejar lap tercepat.
Awalnya sebagai pembalap national motorcross kemudian pindah ke roadrace setelah mengalami crash serius di kejuaraan motorcross. Muncul di beberapa seri GP500 sebagai pembalap wildcard tahun 1986 dan 1987. Mulai terima full kontrak dari Suzuki sejak 1988 dan terus naik performa balapnya menjadi rival Eddie Lawson, Wayne Rainey dan melalui perjuangan keras berhasil memperoleh titel GP500 yang di impikan setiap pembalap.
Musim balap 1994 tidak bisa dijalaninya dengan normal karena cedera patah tulang serius tapi masih bisa mengambil dua podium satu. Kemudian memutuskan berhenti dari dunia balap GP500 selamanya. Nomer keramat 34 tidak boleh seorang pembalap kelas premier memakai sebagai bentuk penghormatan kepada Schwantz.

yamah-yzr500-1991-rainey

Wayne Rainey Yamaha “Wild cat” YZR500 1991 non big-bang engine (Yamaha Global)

Wayney Rainey salah satu pembalap hebat Yamaha mengikuti jejak Kenny Roberts dan Eddie Lawson yang masing-masing mengantongi 3 titel juara dunia GP500. Kecuali Lawson meraih lebih banyak satu titel dengan Honda NSR500. Bersaing terus dengan Eddie Lawson dan Schwantz sama-sama pembalap dari Amerika, skill Rainey tidak diragukan berada di top level sampai kemudian harus menyerah menghadapi keputusan nasib tahun 1993. Rainey mengalami highside hebat di sirkuit Misano dan cedera fatal mengharuskan duduk di kursi roda selamanya. Rainey menjadi pembalap terakhir menjuarai GP500 tiga kali berturut-turut dengan motor Yamaha.

Honda NSR500 1991

Honda NSR500 “the beast” Mick Doohan tahun 1991 yang masih brutal belum memakai big-bang engine.

Mick Doohan adalah pembalap Maestro era GP500 tersukses dengan mengantongi 5 kali juara dunia tanpa terputus sampai kemudian pensiun tahun 1999 setelah mengalami kecelakaan hebat di sirkuit Jerez. Karir Doohan luar biasa karena sebelum menjadi juara dunia GP500 harus mengalami cedera berat tahun 1992 di Assen. kaki kanannya yang terjepit sprocket belakang hampir di amputasi, tapi berkat ke ahlian Dr. Costa Kaki Doohan bisa diselamatkan.
Musim balap 1994 menjadi awal kesuksesan karir nya selama di kelas premier dan berlangsung terus tak terputus sampai di 1998. Prestasi yang boleh dibilang spektakuler, meskipun saat itu Wayne Rainey dan Schwantz yang sebelumnya menjadi rival beratnya telah berhenti.
Memulai musim balap tahun 1999 Doohan start sedikit lambat, seri satu di Malaysia finish pada posisi 4 dan seri dua GP Jepang meraih podium 2. Ketika sesi practise seri tiga sirkuit Jerez Spanyol, Doohan mengalami crash besar mengakibatkan cedera berat, banyak bagian di badannya yang patah. Kemudian mungkin dengan rasa berat memutuskan mengakhiri karir balap untuk selamanya. Saat itu performa balapnya masih sangat prima, bisa aja Doohan mengantongi titel juara dunia ke enam kalinya secara berturut-turut dengan NSR500, hanya nasib harus berbicara lain.
Kira-kira seperti itu sepak terjang dan perjuangan pendekar-pendekar GP500 dan masih banyak lagi seperti the legend King Kenny Roberts. Mereka telah merasakan pahitnya kebrutalan engine GP500 yang kadang ngak mau diajak kompromi. Dimana cara menjinakkannya tidak ada cara lain kecuali dengan keahlian balap mereka, bukan dengan bantuan perangkat elektronik canggih bin ajaib seperti di motogp sekarang. Mengejar prestige singgasana Grand Prix 500 dengan ketajaman skill, nyali tinggi dan beberapa kali broken bones atau juga cacat seumur hidup.
Jadi jangan merasa bangga dulu dengan kehebatan pembalap favorit motogp sekarang Bro, karena belum tentu cara mengasah untuk menajamkan skill balap sekeras pendekar-pendekar GP500 tempoe doeloe.
Motor GP500 kalau kata Kevin Schwantz  : ” The power would kick you in the ass and you would be flying through the air”.
Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

3 thoughts on “Pembalap motogp vs Pendekar GP500

    are wege said:
    Oktober 14, 2016 pukul 1:29 pm

    History motogp

    Suka

    syahron said:
    Oktober 14, 2016 pukul 2:23 pm

    Mungkin hanya Valentino pembalap tersisa di moto gp yg pernah merasakan ganasnya power gp500 hehe

    Suka

    ArenaSepedaMotor responded:
    Oktober 14, 2016 pukul 4:16 pm

    GP500 di jaman Rossi udh ada traction control dan anti wheelie walaupun masih sederhana.

    Sbenernya pas th 1997 NSR500 Mick Doohan balik ke screamer engine jga udh ada traction control. Maka itu dia berani pake screamer yg lebih agresif power deliverynya. Tapi ya begitu Doohan akhirnya dapet highside jga dlm kecepatan tinggi di Jerez.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s