Motor Yamaha YZR-M1 dan Lorenzo

Posted on Updated on

lorenzo-2015-motogpcom

Yamaha M1 di rancang mencapai kestabilan maksimum di tikungan kecepatan sedang dan tinggi, cocok dengan teknik Lorenzo (Motogp.com)

Musim balap 2016 akan menjadi tahun terakhir Lorenzo membawa Yamaha M1 Movistar dan kita akan lihat motor Ducati Desmo dengan nomer 99 tahun depan. Setelah sekian lama fight di motogp dengan tim Yamaha Factory JL akan masuk club pembalap Yamaha tersukses kelas premier setelah Rossi, Wayne Rainey dan Eddie Lawson.
Seperti Rossi telah mengantongi titel juara dunia dengan dua merek yaitu Honda dan Yamaha, Eddie Lawson lebih dulu pada era motor GP500 2-tak terkenal bengis dan pemarah itu. Bisa jadi kalau situasi tepat JL menyabet gelar motogp dengan Ducati Desmo. Walaupun akan terasa berat karena masuknya penantang baru yaitu Maverick Vinales ke Movistar dan pembalap the Maniac Iannone membawa Suzuki GSX-RR semakin mantap dan balance.
Talenta balap nya berada pada level istimewa sejak dikelas GP 250cc 2-tak dengan meraih dua titel juara dunia sama seperti Pedrosa, tapi JL lebih dapat ambil keuntungan di kelas premier dibandingkan Pedrosa. Menurut pengamat motogp ukuran badan Pedrosa yang kecil dan ringan kurang cocok membawa motogp memerlukan upaya fisik siknifikan. Terlebih gaya balapnya terlihat begitu smooth seolah-olah melayang itu pada saat kondisi temperatur sirkuit turun akan membuat panas ban depan kurang mencapai seharusnya. Grip ban dengan aspal menjadi kurang lengket. Sudah sering kali Pedrosa mengalami cedera cukup serius dan harus absen beberapa seri.
Di penghujung masa kejayaan Rossi tahun 2009 JL sanggup melawan dengan mencetak beberapa kali podium di atas Rossi. Pada tahun berikutnya sudah dapat mengalahkan the Doctor untuk menjadi juara dunia motogp.
Tahun 2013 Lorenzo mendapat situasi ngak kondusif yaitu cedera parah akibat highside di sirkuit Assen, collarbonenya patah. Cederanya itu perlu beberapa kali operasi pemulihan sampai masuk musim balap 2014.
Marc Marquez menjadi penantang kuat JL di tahun 2013 tapi misalkan tidak mengalami cedera parah di Assen, cerita bisa berbeda sekarang. Kemungkinan besar Marquez tidak akan pernah mendapatkan juara dunia motogp di tahun pertamanya itu. JL sedang dalam proses penyembuhan setelah operasi tetap masih sanggup memberi perlawanan dengan mencetak 5 kemenangan sampai akhir musim. Total kemenangan podium satu JL selama musim balap 2013 sebanyak 8 kali sedangkan Marquez 6. Walhasil Marquez menang sangat tipis dengan perbedaan hanya 4 poin dan pada situasi saat itu menguntungkannya karena JL dalam kondisi masih belum fit.
Setiap pembalap top level pasti memerlukan motor yang balance dengan itu mereka berusaha meraih lap time tercepat secara konsisten. Kunci jadi juara dunia ialah konsisten meraih poin, kunci kemenangan dalam seri balapan adalah seberapa cepat dan efisien pembalap masuk dan keluar tikungan, bukan mencapai topspeed tertinggi di trek lurus. Efisien berarti juga sanggup menempatkan management ban sehemat mungkin supaya tetap tersedia terus sampai balapan berakhir.
Pembalap memeras motornya dalam pencarian itu seperti Marquez dengan RC213V yang balance di tahun 2013-2014, memungkin brake late hard braking dari kecepatan tinggi jauh lebih dalam masuk tikungan kecepatan rendah seperti hairpin dan berbelok tajam tepat di apex kemudian segera menegakkan motor berakselerasi. 
Brake late – hard braking adalah senjata pamungkas Marquez memotong lap time lebih cepat melewati low speed corner. Sering kita lihat dia mengarahkan ban depan untuk berbelok di area titik belok (turn-in point) bersamaan rolling stoppie, ban belakang masih terangkat dari aspal. kalau kata Mat Oxley, “Marquez  is an animal on the brakes”. Gaya hard braking nya itu ngak ada banyak pilihan ban kecuali hard compound dimana tahan lebih lama.
Motor Yamaha M1 juga balance dan cocok dengan gaya balap JL. Corner speed menjadi keunggulannya dan itu bisa tercipta oleh kestabilan M1, gabungan dari chassis geometry, suspensi dan elektronik. Perangkat elektronik mengatur power delivery supaya linear ketika throttle dibuka saat posisi motor masih miring. Meskipun waktu itu katanya elektronik Honda sedikit di atas Yamaha. Yamaha membangun motor M1 di titik beratkan pada faktor stabilitas masuk dan keluar tikungan terutama kecepatan sedang dan tinggi..
Berlawanan dengan gaya ngerem Marquez, titik pengereman (brake marker) JL jauh lebih awal. JL mengurangi mayoritas kecepatan motor di lintasan lurus, kemudian melepas tuas rem transisi buka throttle, roll on memasuki medium-high speed corner. Membangun kecepatan di mid corner dan memanfaatkan speed yang sudah tersedia untuk naikkan lagi kecepatan ketika akselerasi keluar tikungan. Proses braking, masuk dan akselerasi keluar tikungan dijalankan secara lembut (seamless). Teknik cornering seperti ini Lorenzo boleh dibilang Master.
Dalam urusan akselerasi M1 masih sedikit kalah kenceng dengan RC213V, tapi faktor corner speed JL mampu menutupi kekurangan. Saat itu M1 masih memakai gearbox konvensional belum dengan seamless shift gearbox (SSG) seperti RC213V.
Bagian sisi (edge) ban Bridgestones yang lengket memungkinkan JL melesat cepat di tikungan dengan rasa percaya diri. Dalam posisi miring lebih lama menggunakan edge grip perlu feel untuk membangun rasa percaya diri itu. Feedback dari frontend berperan sangat penting sebagai indikator dimana letak limit ban depan berada.
Musim balap 2015 JL sudah fit penuh, ke unggulan corner speed bisa dia praktekan lagi bersamaan di perkokoh oleh full seamless shift gearbox. Jl mengantongi tujuh kemenangan podium satu, sebaliknya Marquez mengalami problem serius yaitu engine braking yang terlalu agresif. Rossi sejak kembali ke Yamaha juga menemukan performa balapnya lebih fit lagi. Tahun 2015 untuk Lorenzo meskipun Rossi juga kuat di beberapa sirkuit dan ada kesempatan merebut juara. Titel itu memang pantas buat JL hanya Rossi juga pantas mendapatkan fight yang bersih tanpa ditabur bumbu intrik berseteruan dengan Marquez.
Tahun 2016 berlangsung bukan seperti di inginkan, dengan Michelin awalnya dianggap akan menyediakan performa mirip ban Bridgestones ternyata feel berlainan terutama ban depan akibat minim nya feedback. Ditambah lagi grip ban bergantung pada temperatur sirkuit, semakin turun temperatur cuaca semakin performa JL menghadapi masalah. Gaya balap JL yang smooth tidak cukup membangun panas mencapai temperatur kerja ideal ban. Corner speed menjadi senjata pamungkasnya ngak bisa di praktekan pada level maksimum. Situasi makin parah kalau di gelar dalam kondisi cuaca dingin atau wet race, JL tidak dapat berbuat banyak dan merosot kebelakang. Ban Michelin menyediakan margin grip hanya sedikit untuk Lorenzo.
Ban depan slick Bridgestones mantap rasanya, menciptakan efek servo yaitu semakin keras si pembalap mengerem semakin kuat grip disalurkan ke aspal. Tekanan (load) atau beban ekstra yang diterima ban depan membuat area kontak dengan aspal jadi bertambah lebar karena ekspansi. Bertambah lebar area kontak berarti grip juga bertambah kokoh melekat dengan aspal. Meskipun pembalap trail-braking cukup kuat bersamaan sudut motor miring.
Karakter ban depan Michelins lebih kepada ban slicks normal pada umumnya. Kalau ban depan diberikan beban terlalu kuat (overload) ketika masuk tikungan, ban akan menyerah kehilangan daya cengkram dengan aspal dan repotnya tidak memberikan sinyal peringatan yang cukup sebagai feedback.
Mengenai sumber daya motor seperti dikatakan oleh Executive Officer, Engineering Operations Yamaha Masao Furosawa bahwa Yamaha tidak akan kembali lagi ke screamer engine. Pilihan Yamaha menggunakan arsitektur mesin Inline 4 silinder menempatkan big bang firing interval sudah paling ideal, bukan lagi konvensional 180 derajat crankshaft atau dengan sebutan screamer. Big bang akan menyediakan penyebaran traksi jadi lebih efektif pada saat rider buka throttle akselerasi misalnya keluar tikungan.
Inline 4 silinder 1000cc screamer engine akan menjadi monster menakutkan, terutama pada saat buka gaz dan motor masih miring. Torsi besar membuat ban belakang spin kadang rider jadi nervous. Dengan big bang penyaluran torsi besar akan terasa linear atau rata. Pembalap lebih percaya diri dan konsentrasi memacu motor keluar tikungan sekencang mungkin.
Berbeda dengan mesin konvensional Honda RC213V konfigurasi V4 silinder sudut 90 derajat 1000cc, secara natural bukan screamer sejati seperti Inline 4 silinder 180 derajat flatplane crankshaft. Bentuk V layout flatplane crankshaft 360 derajat memiliki ritme pengapian dengan interval 90-270-90-270 derajat putaran crankshaft, bukan tiap 180 derajat putaran crankshaft seperti pada Inline 4 silinder. Ada jeda cukup panjang dari putaran 90 derajat ke 270 derajat sebanyak dua kali dalam 720 putaran crankshaft siklus engine 4-tak. Memberikan waktu kepada ban untuk memulihkan traksi.
Engine V4 RC213V konvensional tidak sebrutal power delivery Inline 4 silinder konvensional 180 flatplane crankshaft. Ditambah kecanggihan elektronik in-house Honda waktu itu Marquez sanggup mengatur torsi supaya sesuai dengan situasi apabila terlalu bersemangat buka gaz. Engine RC213V konvensional bukan screamer sejati.
Rivalitas dalam satu tim memang penuh dinamika karena ada dua kubu mempunyai kekuatan yang hampir mirip. Rasa kejenuhan mungkin mendasari Lorenzo ingin meninggalkan persaingan dalam satu tim yang sudah cukup lama mengganggunya. Karena Yamaha motogp adalah sosok Rossi yang membangun sejak awal dan membawa menjadi juara dunia setelah sekian lama tidak merasakan singgasana. JL ingin keluar dari situ, lepas dari bayangan Rossi meskipun juga harus meninggalkan motor tercinta yang melekat kuat bersinergi dengan insting balapnya dimana sudah terbangun dan diasah tajam selama ini. Rumah dan kendaraan baru berarti ada masa waktu untuk mempelajari dan beradaptasi lagi.

lorenzo-sepang-test-2017

Ducati sekarang adalah motor powerful dan handling sudah tidak menyedihkan lagi seperti di jaman Rossi. Tinggal penyempurnaan supaya memenuhi riding style Lorenzo di mid-corner dan exit (motorsport.com)

Ducati adalah motor powerful dan sejak datangnya Gigi Dall’Igna berubah menjadi motogp machine yang lebih mudah dan optimal dibawa terutama melesat di tikungan. Berlainan waktu Rossi disitu, handling di tikungan begitu menyedihkan, membuat frustasi. Hanya jaminan akan membawa Lorenzo merebut titel juara dunia lagi perlu pengujian dan pembuktian. Tapi setidaknya sudah ada motor di atas kertas sanggup. Karakter Ducati menempatkan optimalisasi lebih pada hard braking, karena itu tehnik balap Lorenzo perlu diadakan perubahan setup lagi.
Mungkin pertimbangan JL meskipun meraih titel ke empat kali pasti akan terasa berat tapi setidaknya dia akan terlihat lebih bangga apabila hasil pencapaian dengan Ducati Desmo lebih baik dari Rossi. Corner speed yang diciptakan JL akan selalu dikenang di Hall of Fame Yamaha sepanjang sejarah Grand Prix kelas premier. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

23 thoughts on “Motor Yamaha YZR-M1 dan Lorenzo

    abaydmz said:
    September 29, 2016 pukul 5:46 pm

    Kita lihat om, apakah lorenzo lebih baik pakai ducati dibandingkab rossi dahulu. Kalau memang bisa menaklukan jadi tontonan menarik.

    Suka

    are wege said:
    September 30, 2016 pukul 11:26 am

    Vinales pass banget gantikan lorenzo ,soalnya mirip mereka , tapi Lorenzo di ducati tidak cocok menurut cal crutchlow,,. Kenapa TIDAK marc marquez saja yg ducati ambil, itu pendapatnya crutchlow

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      September 30, 2016 pukul 1:47 pm

      Tehnik ngerem Vinales hard braking seperti Rossi, JL lebih banyak trail-braking. Setup geometry dan suspensi yg berlainan.

      Bagus juga kalau Marquez ke Ducati, JL ke Honda

      Suka

        are wege said:
        September 30, 2016 pukul 1:52 pm

        Nunggu abis 2018, , kalo emang mau lihat marc marquez pindah PABRIKAN

        Suka

    are wege said:
    September 30, 2016 pukul 11:33 am

    Menurut Crutchlow, Lorenzo saat ini menjalani balapan kurang mulus. Juara dunia MotoGP tiga kali itu sudah retired dua kali dan kesulitan mendapatkan performa terbaik sejak akhir paruh pertama musim MotoGP 2016.

    “Perkiraan saya, bila Ducati mencari pebalap yang memenangkan Kejuaraan Dunia MotoGP, sekira bila dirinya (Lorenzo), bukan. Tapi Marquez,” ujar pebalap berusia 30 tahun.

    Menurut, pebalap berpaspor Inggris tersebut, saat itu Ducati memiliki kesempatan meninang pebalap berjuluk Baby Alien, namun tidak pernah memberikan tawaran.

    “Kemungkinan Marquez tak menampik, mungkin Ducati tidak pernah memberikan penawaran kepada Marquez, atau mungkin memang Marquez tidak ingin pindah,”

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      September 30, 2016 pukul 1:53 pm

      Grip ban Michelin kurang konsisten terutama ban depan. Lorenzo kerepotan kalau temperatur cuaca di lintasan turun. Dia gak bisa manfaatkan edge grip utk bikin cornering speed maks. Feel nya jga gak dapet

      Marquez asset nya Honda jdi akan dipertahankan sekuat mungkin

      Suka

        are wege said:
        September 30, 2016 pukul 2:02 pm

        Tapi saya lihat style mv Dan lorenzo seperti mirip ,Mr. Perfect, .. bukan tipe srantal seruntulan, sikat kanan kiri.. Dan agak egois,sombongnya sm, hahahaha haha,,

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        September 30, 2016 pukul 2:30 pm

        Marquez memang sruntulan, krena tehnik ngerem nya seperti itu supaya kejar in/out corner paling cepat. Brake late-hard braking masuk paling dalem di tikungan.

        Vinales brake late-hard braking jga tpi gak se ganas Marquez, dia lebih seperti Rossi.

        JL dan Pedrosa keduanya mirip, lebih bnyk trail-braking. Transisi sangat smooth

        Suka

        are wege said:
        September 30, 2016 pukul 3:10 pm

        Berarti Marc paling berbeda sendiri ya, ???,
        Menurut bapak, apakah marc berani gambling pindah PABRIKAN

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        September 30, 2016 pukul 4:00 pm

        Marquez ngerem nya lebih intense dri yg lain. Ambil di limit utk kejar wktu tercepat. Kadang ban belakang masih terangkat dri aspal, ban depan pas di titik belok sdh dia arahkan ke apex. Konsekwensinya ban depan nge lock atau terparahnya jdi lowside. Line beloknya membentuk persegi (square off) dan titik apex nya lebih keluar tikungan, bukan di mid-corner lgi. Bisa lebih awal buka gaz sebelum apex akselerasi keluar tikungan. Tehnik ini yg membuat Marquez bisa cepet lap time nya. Cuma perlu motor yg balance dan grip seperti ban Bridgestones.

        Tehniknya Marquez paling stabil waktu dg ban Bridgestones. Ban depan Michelin susah diprediksi karena kurang feedback dan lebih beresiko.

        Hard compound kayaknya paling efektif utk marquez khususnya pas cuaca lgi panas sperti di Aragon. Tapi jga gak boleh terlalu di teken supaya ban depan gak overheat.

        Rossi gak terlalu dapet feel kalau pakai hard, apa lagi JL. Mreka pilih medium yg grip nya bagus diawal sampai setengah jalan aja. Setelah itu gud bye, grip nya menurun.

        Memang gk slalu bisa berjalan lancar. Di Misano yg jga banyak hard braking dan cuaca cukup panas, Marquez gak bisa finish didepan pakai hard compound.

        Kalau Marquez pindah gak tau jga. Sejauh Marquez merasa nyaman dan diuntungkan spertinya dia gak berpikir pindah.

        JL pengen pindah krena dia merasa gak nyaman lgi disitu spertinya.

        Suka

        are wege said:
        September 30, 2016 pukul 4:16 pm

        Nampaknya emang riding style marc lebih cocok dgn ban hard. Jarang skali marc pakai ban soft compound ,mungkin bisa gambling, dengan ban itu,. Dengan gaya sradak sruduk nye MARQUEZ , ban yg tahan lama Dan keras yg cocok UNTUK nya dia juga pernah bilang, kalo dia lebih suka dengan ban hard. …

        Klo Marc gak berani pindah Dan mencoba tantangan baru SANGAT di sayangkan Marc ikutin jejak DOOHAN , yg gak pernah pindah dengan Merk lain

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        September 30, 2016 pukul 5:05 pm

        Tergantung jga misalkan cuaca agak dingin gak efektif pakai hard. Tapi belum tentu jga dpt feel yg pas dan enak kalau pakai medium compound.

        Yg paling ditakutin pembalap itu cedera parah. Doohan ambil keputusan berhenti karena crash berat utk yg kedua kalinya di Jerez, yg pertama di Assen. Mungkin itu yg terbaik menurut kata hatinya, padahal performa dia sedang di atas. Bisa jdi menambah koleksi titel GP500 ke 6 kali secara berturut-turut atau pindah ke Yamaha utk cari tantangan baru seperti Rossi di 2004 pindah merk. Tapi dia lebih pilih pensiun dlm keadaan aman dan sehat sentosa. Mungkin pertimbangannya kalau terjadi crash lgi yg ketiga kali belum tentu seberuntung sebelumnya.

        Utk jdi yg tercepat itu harus push to the limit, hanya gak ada yg menjamin akan selalu aman dari cedera, apa lagi sampai parah.

        Suka

        are wege said:
        September 30, 2016 pukul 5:38 pm

        Marc MARQUEZ sering banget push of limit tapi dia sering BERUNTUNG bila crash , sering crash ,tapi dia bisa me manage dengan baik.

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        September 30, 2016 pukul 6:44 pm

        Bener sering beruntung Marquez. Tapi dg Michelin lebih susah prediksi sampai dimana limit grip nya. Manage nya gak lgi semudah Bridgestones

        Suka

        are wege said:
        September 30, 2016 pukul 8:39 pm

        Marc Marquez dan Dani Pedrosa telah menyelesaikan test privat di Aragon pasca race di tempat yang sama . Secara umum Motor yang ditest ada dua yakni Motor yang akan dipakai di sisa 4 Race terakhir Musim MotoGP 2016 dan Motor yang dipakai di Musim 2017 nanti . .. nahhh ada satu Informasi yang menarik sempat di sampaikan Oleh Jurnalis MCN bahwa ada rumor yang mengatakan bahwa ada sinyalemen bahwa saat di aragon HRC mengetest/ sedang bereksperimen dengan Honda RC213V yang secara signifikan berubah dari awalnya memiliki firing interval Screamer menjadi Firing Interval Big bang . . wow

        Firing/ pengapian big bang sendiri boleh jadi merupakan mayoritas jenis firing order yang dipakai oleh Motor motor yang aktif di MotoGp 2016 . Dan firing order dimana dua silinder meledak di waktu bersamaan ( Big Bag ) dibanding firing order dimana 4 silinder masing masing meledak berbeda beda ( SCreamer ) di sinyalir merupakan upaya kedua dari HRC untuk menjinakkan sifat awal dari Honda RC213V yang liar di tahun 2017 nanti selain perubahan forward Rotating Chrankshaft menjadi backward Rotating Crankshaft . ..

        Untuk sementara penjelasan dari HRC adalah seperti yang dikatakan kepad MCN dimana Repsol Honda technical director Shinichi Kokubu mengatakan bahwa saat ini masih terlalu dini untuk mengatakan mesin mana yang akan dipakai oleh HRC untuk Marc dan Dani di tahun 2017 nanti. Honda saat ini masih mengetest beberapa jenis mesin berbeda yang di kembangkan dijepang dan belum sampai kepada kesimpulan Mesin mana yang akan dipakai untuk 2017 nanti . . . bisa diartikan bahwa memang ada upaya pentesan RC213V dengan firing Order Big Bang, namun belum fix mesin itu yang akan dipakai HRC di Musim 2017 nanti

        Suka

    ArenaSepedaMotor responded:
    Oktober 1, 2016 pukul 9:42 am

    RC213V pakai konvensional firing order krena sedikit lebih powerful dri big bang.. Vibrasi engine yg rendah krena lebih balance. Gak perlu pakai countershaft balamcer utk meredam primary atau secondary force yg muncul dri rotasi crankshaft, con-rod jga piston.

    Wktu masih pakai perangkat elektronik in- house HRC yg canggih, power delivery bisa dikontrol secara mantap, presisi. Tpi dg ECU & software seragam ber jamaah yg kurang canggih ini, power delivery RC213V jdi kurang optimal. Frekwensi ban belakang spin lebih sering.pd wktu akselerasi exit corner.

    Mungkin itu pertimbangan Honda utk kembali ke big- bang lgi

    Suka

      are wege said:
      Oktober 1, 2016 pukul 9:50 am

      Otomatis lemot kah, menurun top speed , dengan mesin big bang

      Suka

    ArenaSepedaMotor responded:
    Oktober 1, 2016 pukul 10:11 am

    Power output seperti motor lain yg pakai big bang selama ini.

    topspeed gak menjamin cetak fastest lap. Fastest lap dicapai justru dg topspeed yg dibawah. Mungkin kita kadang salah persepsi bahwa topspeed itu paling penting

    Topspeed Ducati memang dasyat di trek lurus, tpi JL bisa cetak fastest lap dg topspeed yg jauh dibawah Ducati. Cornering speed menentukan fastest lap.

    Artinya motor yg balance, stabil masuk & keluar tikungan dg cepat. Power delivery yg linear menyalurkan traksi ke aspal sebanyak mungkin. terlalu bnyk spin, jdi kurang daya dorong (drive out).

    Tpi Yamaha, Ducati, Suzuki dg big bang engine tetap masih problem ban spin

    Suka

    are wege said:
    Oktober 1, 2016 pukul 11:03 am

    Mesin big bang

    Pada balap MotoGP, para insinyur mesin mengembangkan jantung mekanis yang awet, kencang dan berteknologi tinggi. Termasuk penentuan konfigurasi pengapian mesin apakah screamer ataukah big bang, yang juga akan berpengaruh terhadap pengendalian tunggangan.

    Pada dasarnya, perbedaan keduanya terletak pada jeda waktu pengapian antar silinder. Setiap konfigurasi tadi punya karakter berbeda, dan berpengaruh terhadap karakter pembalapnya, contohnya Casey Stoner yang juara dunia MotoGP dengan mesin screamer, tapi Valentino Rossi melempem di atas mesin ini.

    Mesin screamer memiliki jeda waktu pengapian yang sama antar silinder, jadi jika ada 4 silinder, maka dibutuhkan 720 derajat perputaran crankshaft, karena proses pengapian setiap silinder dilakukan setiap crankshaft berputar 180 derajat.

    Maka lain lagi dengan big bang, jeda pengapian tiap silindernya lebih singkat. Sehingga piston memiliki waktu istirahat sebelum pengapian berikutnya. Di MotoGP, diprediksi hanya butuh 90 derajat perputaran crankshaft untuk pengapian di 4 silinder.

    Mesin big bang seakan-akan memberikan ban belakang waktu untuk mengcengkram trek kembali karena transfer tenaga ada sedikit jeda. Karakternya lebih halus, tak meledak-ledak dan mudah dikontrol saat keluar tikungan.

    Berbeda dengan screamer yang transfer tenaga menuju roda sangat konstan dan membuat ban belakang sliding. Ban belakang harus bekerja ekstra keras dan pastinya akan cepat habis. Keunggulan mesin ini adalah sangat cepat di trek lurus.

    Kedua karakter ini sebenarnya lebih terlihat pada zamannya GP500 bermesin 2-tak 500 cc, atau awal-awal mesin 4-tak digunakan. Karena saat ini gejala dan plus-minus setiap karakter tadi sudah banyak ‘diakali’ dengan beragam piranti elektronik.

    Itulah kenapa banyak yang sering mengatakan, kalau nonton balap GP500 lebih menarik. Ya karena masih minim piranti elektronik, yang membuat karakter motor dan skill pemabalap lebih terlihat.

    Suka

    ArenaSepedaMotor responded:
    Oktober 1, 2016 pukul 11:15 am
      are wege said:
      Oktober 1, 2016 pukul 11:21 am

      Mksh pak, HONDA kalo memakai engine big bang, bukankah menghilangkan curious khas Rcv

      Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Oktober 1, 2016 pukul 12:05 pm

        Gak jga yg penting motor bisa lebih efektif lgi

        Sip sama2 Pak

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s