Titel motogp 2016 Marquez makin jelas di horizon

Posted on Updated on

marquez-aragon-2016-crash-net

Marc Marquez Aragon 2016 (crash.net)

Menjadi momen paling berarti dan memuaskan kalau motor yang dibangun dari bawah sampai kemudian dalam proses nya memerlukan waktu gak terlalu lama berhasil mencapai tingkatan performa di level atas. Seperti tim pabrikan Suzuki ditahun keduanya setelah comeback ke motogp, melalui Vinales mengantongi podium 1 dan 3.
Meskipun di Aragon hanya  menduduki posisi ke empat, tapi race pace Vinales sempat memimpin sejak awal balapan sampai kemudian Rossi overtake di lap 9. Di lap pertama Vinales cukup agresif merebut posisi terdepan memimpin rombongan motogp. Berangsur menurun terutama saat grip ban belakang mulai spin akselerasi keluar corner. Ketika grip masih bagus, pace nya cepat dan kokoh di line, tanpa melakukan kesalahan manuver membuatnya memimpin cukup lama.
Melesat di back straight sepanjang 968 meter Suzuki GSX-RR mampu flat-out dengan topspeed mencapai 336,2 km/jam, berbeda 1.3 km/jam dari Marquez di 337.5 km/jam. Tentu akan jauh kalau dibandingkan dengan engine terkuat di grid motogp saat ini yaitu Ducati Desmosedici yang mencapai 343.6 km/jam. Tapi topspeed bukan segalanya karena tidak menentukan lap tercepat. Fastest lap justru dicetak dengan topspeed yang jauh lebih lambat. Intinya performa engine Suzuki sudah setara dengan RC213V dan M1.
Ketika grip ban belakang mulai terkikis kemudian menurun secara bertahap, traksi untuk daya dorong (drive out) keluar tikungan menjadi berkurang akibat frekwensi ban spin mulai tinggi. Meredamnya melalui intervensi sensor traction control ke ECU. Problem ini juga muncul di Honda dan Yamaha, mengingat elektronik sekarang gak secanggih racikan in-house tim pabrikan seperti tahun sebelumnya. Seberapa cepat dan presisi ECU mampu antisipasi kondisi kontra produktif itu supaya lebih banyak menciptakan traksi ke aspal.
Dari pencapaiaan di beberapa balapan sejauh ini membuktikan Vinales punya skill yang tajam untuk menjadi penantang (GP contender) para pembalap-pembalap top level motogp di musim balap tahun depan.
Misalkan RC213V atau M1 menjadi motor tunggangan Vinales sejak awal musim balapan 2016, bisa jadi saat ini ceritanya lain. Posisinya lebih baik lagi atau mungkin merepotkan Marquez sebagai pimpinan klasemen. Suzuki GSX-RR sekarang masih punya sedikit kekurangan yang harus ditingkatkan terus oleh tim, secara sudah pada arah pengembangan yang tepat.
Perolehan gap Marquez sudah semakin lebar lagi maka hari-hari nya jadi lebih tenang, titel juara musim motogp 2016 sudah makin jelas terlihat. 52 point di depan Rossi menjadi garansi menduduki singgasana motogp ke tiga kalinya.
Jelas musim balap 2016 ini bukan musim yang mudah untuk Marquez. RC213V nya tidak pada tingkatan balance seperti di tahun 2013 dan 2014. Dimana elektronik canggih Honda dan ban Bridgestones sanggup menyediakan motor yang tajam dan gesit. Memungkinkan nya meluncur cepat seperti roket balistik antar benua kemudian brake late-hard braking lebih dalam masuk tikungan, disambung berbelok memiringkan motor kadang ban belakang slide untuk mengarahkan lebih tepat ke apex kemudian akselerasi exit corner tanpa kehilangan traksi akibat ban spin berlebihan dan tetap solid di line. Letak apex yang dipilih Marquez lebih dekat keluar tikungan, karena titik belok nya yang membentuk line persegi (square off the corner). Marquez bisa buka gaz lebih awal sebelum titik apex. Waktu itu RC213V memungkinkannya stop n go secara efisien di tikungan radius sempit.
Seperti juga menerpa pembalap lainnya, musim ini dengan ECU dan software seragam bersamaan masuknya ban Michelin membuat perubahan cukup siknifikan terhadap performa Marquez. Gak seperti Bridgestones, ban depan Michelin yang kurang feedback perlu ekstra perhatian kalau ingin terhindar dari hilang grip secara tiba-tiba memasuki tikungan, juga lebih sering terjadi ban belakang spin. Grip ban belakang Michelin dianggap lengket oleh pembalap, hanya performa elektronik yang belum sanggup mereduksi gejala spin.
Tapi gaya hard braking nya justru menguntungkan karena ban depan Michelin perlu mencapai panas pada level seharusnya supaya bekerja maksimum, bersamaan tidak boleh juga terlalu di overload.
Berlainan dengan Lorenzo yang smooth dan lebih banyak trail-braking, temperatur ban kadang kurang mencapai panas yang ideal, apalagi dibarengi cuaca di sirkuit jadi turun lebih dingin. JL perlu dukungan cuaca panas yang pas untuk mendorong performanya di Aragon dan pilihan pada ban depan medium. Ban depan hard gak memberi keuntungan karena kurangnya feel maupun grip pada bagian sisi (edge) ban.
Senjata pamungkas Lorenzo adalah cornering speed dan itu hanya bisa di praktekan apabila edge grip ban depan pada level prima. Menurut David Emmet tanpa edge grip JL tidak bisa berbelok cepat membangun kecepatan yang menjadi keuntungannya. Ketika ban belakang slide, motornya akan melebar menekan ban depan ke sisi luar tikungan. Sebaliknya Honda bisa berbelok dibantu ban belakang slide. Ketika ban slicks pas dengan kondisi cuaca dan menyediakan edge grip yang mantap, JL akan gak mudah dikalahkan meskipun oleh Marquez dan Rossi. Tapi kondisi seperti itu tidak sering terjadi di musim balap ini. Ban Michelin kurang memberi keuntungan dan kenyamanan yang lebih untuk nya.
Hard braking mengharuskan Marquez sering memakai ban depan tipe hard compound khususnya pada waktu temperatur di sirkuit tinggi. Ban depan medium apa lagi soft akan dengan cepat rontok sebelum balapan berakhir. Compound ban dan cuaca banyak berperan di musim ini, seperti yang dia katakan :
“Maybe today I was the fastest one and tomorrow with lower temperature I will struggle with the tires. “
Ban sepenuhnya pilihan masing-masing pembalap, tipe compound apa yang tepat dan memberikan feel paling pas berdasarkan situasi dan cuaca di sirkuit itu. Michelin membawa compound yang berbeda racikan sesuai karakter sirkuit. Ban soft yang dipakai Pedrosa ketika pecundangi Rossi, JL dan Marquez di Misano tidak sama strukturnya dengan yang dibawa untuk di Aragon. Pedrosa kerepotan dengan grip ban depan dan belakang selama balapan. Grip ban depan yang terkikis parah menimbulkan vibrasi pada bagian sisi nya saat miring, juga grip ban belakang yang kurang potensi menurutnya. Walaupun dalam keadaan seperti itu Pedrosa masih bisa menjaga pace nya finish di urutan ke enam.
Di awal balapan Marquez sempat memimpin kedepan tapi dalam milidetik hampir lowside akibat ban depan hard yang belum mencapai temperatur yang seharusnya. Posisinya merosot ke lima kemudian secara bertahap diambil kembali. Dengan ban hard compound dibawah terpaan cuaca cukup panas memungkinkan nya memiliki persedian grip yang efektif sampai akhir lomba dibandingkan JL dan Rossi memakai ban depan medium.
Marquez sekarang bukan yang dulu tipe pembalap kamikaze, do or die, lebih kepada perhitungan matang tapi juga gak sungkan ambil resiko kalau situasi mengharuskan. Crash dan cedera harus dia hindarkan memasuki ujung musim balap ini. Karena jelas akan meruntuhkan perolehan klasemen kalau sampai absen beberapa seri balapan seperti cedera yang di alami Iannone.
Memang peta kekuatan pembalap top level motogp musim ini lebih ditentukan oleh cuaca dan ban Bro. Bagaimana si pembalap mampu me manage resiko secara efisien ketika ban dan cuaca tidak berpihak dengannya. Demikian wassalam dan salam sejahtera.

 

Iklan

2 thoughts on “Titel motogp 2016 Marquez makin jelas di horizon

    are wege said:
    September 26, 2016 pukul 10:54 pm

    Bila marc JUARA di seri motegi , cukupkah mengunci gelar MOTOGP, 2016

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      September 27, 2016 pukul 8:53 am

      Di Motegi belum bisa kunci point klasemen. Di Phillip Island baru bisa

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s