Pedrosa akan mengulang kemenangan di Aragon?

Posted on Updated on

pedrosa-aragon-2015-ultimate-motorcycling

Dani Pedrosa Aragon 2015 (ultimatemotorcycling)

Misano adalah kemenangan pertama Pedrosa mencapai podium satu di era ban Michelin. Ada keistimewaannya karena membuat 5 pembalap didepan yang di susul satu persatu terlihat jadi lambat. Start di grid ke enam kemudian pada setengah balapan mulai menaikkan pace untuk overtake Marquez, Lorenzo dan Rossi.
Style balapnya yang seperti mengalir (flowing) saat motornya masuk dan keluar tikungan, kemudian mengarahkan dan mengikuti gerak motor memasuki tikungan selanjutnya. Jarang badannya bergerak cepat berpindah posisi seperti Marquez sedang hard braking. Pedrosa seolah-olah menyatu dengan RC213V nya.
Untuk ukuran pembalap motogp Pedrosa bisa dibilang kurang ideal, terlalu pendek dan ringan, mungkin lebih pas sebagai jockey balap kuda. Dengan gaya balapnya itu digabungkan berat badan yang masuk kategori kelas bulu tidak efektif naikkan temperatur ban slick depan supaya bekerja optimal. Kecuali cuaca cukup panas mendukungnya ketika lomba berlangsung.
Riding style Pedrosa mirip dengan Lorenzo, memanfaatkan ketajaman tehnik trail-braking. Tidak ada kamus brake late-hard braking, titik pengeremannya (brake marker) lebih awal dibandingkan Rossi atau Marquez. Walaupun titik belok (turn-in point) bisa ambil lebih dalam dengan transisi yang halus (seamless).
Berlainan dengan Rossi yang banyak memakai berat badan melewati corner, Pedrosa lebih pada mengikuti gerak motor sambil mengarahkan dengan smooth supaya tetap di line yang di inginkan. Tidak dengan cara memakai tangan dan kaki nya sebagai tuas untuk menekuk motor miring seperti kebanyakan dilakukan oleh pembalap lain. Itu cara nya membawa RC213V yang telah dibangun sejak awal masuk motogp. Hanya sisi negatif gaya balapnya yang seolah olah melayang itu, ban depan tidak cukup mencapai panas untuk menciptakan grip maksimum.
Menurut pengamat motogp berat badan dan gaya balap Pedrosa menjadi halangan sejak peraturan berubah ke single tyre supplier. Ban slicks yang di pakai untuk semua pembalap tanpa kecuali adanya perbedaan tinggi dan berat badan. Titel juara dunia motogp bisa aja sudah dikantongi beberapa tahun yang lalu kalau ada ban yang spesial di ciptakan untuk riding stylenya, sekaligus membuatnya terhindar dari banyak cedera. Kesempatan Pedrosa merebut singgasana motogp selalu gagal terhalang cedera.
Datangnya Michelin diharapkan oleh Pedrosa membawa karakter yang lebih baik dari Bridgestones. Asumsi casing/side wall ban Michelin yang lebih tipis dan flexible akan membangun panas lebih cepat. Tapi ternyata malah lebih buruk dari sebelumnya. Performa nya jadi menurun kalau temperatur cuaca juga turun di sirkuit.
Di Misano Michelin membawa ban depan soft dan medium compound baru dengan casing lebih kaku dan lapisan slick yang lebih tipis untuk mempermudah panas berlebihan tersalurkan keluar akibat hard braking. Sebagian besar pembalap memilih medium compound, Pedrosa mengambil soft compound.
Keputusan memakai ban soft pas dengan riding style Pedrosa di Misano yang saat itu pun di cerahkan oleh panas Matahari. Grip yang ekstra lengket membawa race pace nya lebih kenceng dari pembalap lain dengan ban depan medium. Gap nya waktu melewati garis finish dengan Rossi memakai medium compound lumayan jauh yaitu 2,8 detik.
Yak itu di Misano, bagaimana nanti di Aragon di depan publiknya, apakah bisa terulang lagi dengan ban soft?
Tahun 2015 Pedrosa masuk di podium dua setelah fight seru dengan Rossi yang terpaksa berada di podium tiga. Menahan potensi perolehan angka klasemen Rossi sebesar 5 point dari Lorenzo.
Ban soft compound di Misano di design khusus untuk di sirkuit itu, mungkin Michelin gak membawa ban soft yang sama untuk balapan di Aragon yang biasanya berlangsung dibawah langit yang cerah. Atau bisa jadi juga ban soft dengan design yang mirip karena karakter Aragon yang juga banyak hard braking. Kemudian apakah soft compound itu akan menyediakan karakter seperti yang di inginkan nya supaya mampu tampil full potensi lagi?
Dalam sisa lima seri di musim balap 2016 pastinya Pedrosa ingin menyelesaikan dengan pencapaian yang memuaskan yaitu lebih banyak lagi podium. Pedrosa mungkin tidak akan pernah menjadi juara dunia motogp, tapi di balik badannya yang kecil itu tersimpan pengetahuan balap yang luas. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s