Podium tak ternilai Pedrosa di Misano

Posted on Updated on

Pedrosa test sepang Feb 2016

Seperti di Silverstone yang memberi kejutan dengan hadirnya Vinales pada podium satu kali ini sirkuit Misano mempertunjukkan kepiawaian Pedrosa melesat full gaz yang di akhiri juga dengan podium satu. Pedrosa kalau boleh dengan kata-kata membuat satu-persatu pembalap di depannya jadi pecundang. 
Berlainan dengan cuaca Silverstone yang lebih dingin di Misano panas terik selama balapan berlangsung jadi gak ada ke kuatiran diguyur hujan yang mengharuskan flag to flag race seperti sebelumnya.
Karakter sirkuit Misano di dominasi tikungan kecepatan rendah dengan gir transmisi 1 dan 2 kemudian dua tikungan fast flowing memakai gir 5 yang memungkin motor digeber di atas 250 km/jam. Sama juga seperti di Silverstone dengan tikungan radius sempit dan hairpin memerlukan gir 1 motor akselerasi dari rpm rendah. Untuk motor high power output di putaran atas seperti Ducati mungkin akan sedikit lemot di tikungan ini.
Musim 2015 Marquez keluar sebagai juara di Republik of San Marino Misano ini. Rossi tentunya mengharapkan sekali naik podium satu dimana hometown nya Tavullia hanya berjarak beberapa puluh menit. Apalagi gagal saat di Mugello akibat masalah pada meledaknya engine Yamaha M1, diusahakan ia bayar di Misano.
Tapi seperti biasa Bro bahwa balapan bukan suatu yang bisa dipastikan, akan banyak faktor yang juga jadi penentu. Lorenzo yang tadinya begitu mantap di qualifikasi pada saat balapan tidak bisa merebut posisi terdepan. Demikian juga dengan Marquez dan Vinales yang juga cukup kuat di full qualification terpaksa pada urutan 4 dan 5.
Rossi merasa solid dan percaya diri sejak awal start yang memungkinkannya melakukan overtaking Lorenzo. Selanjutnya mulai buat gap meter demi meter untuk amankan posisi. Khususnya lagi Marquez tidak bisa berbuat banyak untuk ambil posisi Lorenzo di depannya. Dengan race pace seperti itu terlihat ada chance besar Rossi menggapai kemenangan juga bersamaan akan mendapat segenggam point.
Pedrosa yang menempati urutan 8 di qualifikasi ternyata mendapat kekuatan determinasi dan rasa percaya diri. Meskipun tertahan oleh pembalap di depannya di awal balapan kemudian secara bertahap mulai membangun dan maju kedepan. Ketika Marquez di overtake mungkin kubu Rossi merasa berterimakasih karena perolehan point akan lebih banyak lagi. Tapi ternyata kegembiraan itu hanya sejenak aja begitu Pedrosa berhasil overtake JL dan mulai mengejar dan mengancam posisi Rossi.
Pace nya Rossi cukup bagus untuk bertahan tapi tidak bisa lagi lebih jauh membuat gap. Selalu sulit secara fisik kalau berada di depan menurutnya dan pada sisa 7 lap Pedrosa berhasil overtaking. Rossi tidak langsung menyerah dengan mencoba cari celah untuk ambil posisi kembali. Tapi Rossi menyadari pace nya Pedrosa terlalu kuat dan cepat maka bisa jadi akan fatal kalau memaksa terus.
Balapan juga seperti ikut ujian yaitu bagaimana supaya memperoleh nilai yang tinggi melalui kesalahan seminim mungkin. Tiap pembalap terutama yang mengejar point akan berusaha keras menghindari error. Kesalahan pada saat menentukan titik pengereman (brake marker) yang berbeda-beda di tiap tikungan dapat membawa kerugian. Titik pengereman akan mempengaruhi dimana titik belok (turn-in point) bisa dilakukan pada tikungan itu. Terlalu dalam atau telat menekan tuas rem bisa berakibat overshoot melebar ke sisi luar atau ban depan mengunci kemudian lowside. Terlalu awal maka akan memperlambat waktu kehilangan momentum memasuki tikungan dan harus dikompensasi dengan akselerasi keluar secepat mungkin dengan buka gaz lebih awal sebelum apex misalnya. Menjaga pace sebagus dan konsisten mungkin tiap tikungan bukan pekerjaan mudah seperti yang terlihat. Meskipun sepermilidetik konsentrasi tidak boleh teralihkan atau buyar. Pembalap hanya bisa merasa santai sejenak melepas pegal atau linu nya selagi di trek lurus yang panjang. Kemudian menentukan apakah race pace nya bisa dinaikkan lagi atau sudah pada limit kemampuan grip ban maupun motor. Ini yang penting karena dengan memaksakan akan berakibat crash.
Pedrosa tidak memikirkan kemenangan sampai dia sanggup ambil alih posisi Rossi dan menurutnya letak kunci adalah berusaha untuk tidak membuat kesalahan atau terlalu banyak fight. Ban softer compound berbeda dari yang dipakai pembalap lain mampu menyediakan grip ekstra lengket sampai akhir balapan. Diuntungkan oleh badan Pedrosa yang super ringan digabungkan style balap nya yang bukan tipe brake late seperti Rossi atau Marquez, memungkinkan ban dengan soft compound bisa awet. 
Kemenangan menjadi milik Pedrosa di akhir lomba dengan gap 2.8 detik di depan Rossi dan sekaligus sebagai orang ke delapan yang berdiri di podium satu sampai seri ini.
Lorenzo sebagai pemegang fastest lap qualifikasi hanya bisa mengakui para pembalap di depannya yang sanggup melebihi kecepatannya. “I tried all the race to close the gap with Rossi but I couldn’t, so today wasn’t my day, they were faster and you have to accept this”. Demikian juga dengan Marquez yang biasanya berani mengambil resiko menekan motor lebih cepat, sementara ini berada di urutan ke empat.
Di sirkuit Silverstone Vinales keluar sebagai penguasa podium satu hanya kali ini di Misano dengan berat hati harus menunggu lagi kesempatan yang lebih tepat. Vinales kesulitan membuat cornering speed karena kurangnya daya dorong ban belakang terutama pas masih keadaan full tank. Aragon berarti di depan publiknya sendiri apakah Vinales sanggup kembali membawa GSX-RR nya melesat di depan. Khususnya topspeed di back straight sepanjang 1326 meter. Tikungan Aragon sebagian besar kecepatan rendah gir 1 dan 2 dipastikan motor perlu daya dorong yang ampuh.
Pedrosa luar biasa di Misano seperti yang dia katakan tim nya patut mendapat rewards dengan kemenangan sempurna setelah sebelumnya memberikan podium ketiga di sirkuit Catalunya. Hanya apakah Pedrosa akan bisa melakukannya lagi dengan ban soft Michelin ini yang telah menyediakan grip pada tingkatan istimewa. Ban soft yang sepertinya cocok dengan gaya balap nya.
Seri selanjutnya di gelar di Aragon yang justru menjadi kekuatan Pedrosa yang tanpa beban dibandingkan Marquez ataupun Rossi. Dengan perbedaan 43 point terhadap Marquez memang masih berat perjuangan Rossi di sisa balapan ke depannya. Tapi semua dapat saja berubah karena balapan gak bisa ditentukan dengan pasti.
Kemenangan Misano yang diambil Pedrosa dari Rossi di dekat kampung halamannya sangat mahal, mungkin tidak ternilai dalam uang Spanyol real atau uang Italia lira sekalipun. Demikian wassalam dan salam sejahtera

 

 

Iklan

2 thoughts on “Podium tak ternilai Pedrosa di Misano

    are wege said:
    September 14, 2016 pukul 12:34 am

    Ada apa dengan marc marquez, ??? Salah pemilih an ban kah?? Salah strategy kah, sudah 3 race marc gagal podium, peluang semakin ketat..
    Mungkin kah rc213v marc bermasalah, liat top speed tampaknya kurang,, baik

    Out of the topik, cocok kah bahan bakar oktan 95 ( PERTAMAX plus ), v power( shell)
    Oktan 98(PERTAMAX turbo) di pakai di motor matic entry level , bebek , ? ?? Apa pengaruhnya? Atw tidak ada sm sekali hanya sia2?

    Mksh

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      September 14, 2016 pukul 9:36 am

      Kemungkinan compound ban Michelin memberikan perbedaan feedback terhadap masing2 pembalap. Dg grip sedikit lebih lengket dri ban soft, Pedrosa bisa cepat dri yg lain dan grip dapat dibuatnya awet sampai akhir balapan. Padahal cuaca yg panas terik akan mengikis ban soft compound lebih cepat. Pedrosa bisa me manage ban karena style balapnya yg gak brake late hard braking. Juga ukuran berat badan yg ringan.

      JL yg jga smooth trail-braking diakuinya lebih percaya diri kalau cuaca tidak dingin. Temperatur lintasan di Misano lebih cocok dri pada waktu di Silverstone yg lebih dingin. JL memakai medium klau gak salah seperti Rossi.

      Marquez pakai hard mungkin dg pertimbangan cuaca panas yg cepat mengikis grip ban ditambah hard braking yg mempercepat ban tipis.

      Melihat Pedrosa yg begitu kenceng di Misano sepertinya RC213V gak kekurangan daya dorong akselerasi cepat keluar tikungan speed rendah gir 1 dan 2. Misano trek lurusnya lebih pendek dri Silverstone dan Honda disana bisa neken kedepan, Crutchlow juara dua. Jdi isue kurangnya akselerasi sepertinya udh gak lgi.

      Di trek yg banyak tikungan kecepatan rendah dan sedang topspeed gak begitu penting. Topspeed lebih berperan di sirkuit yg trek lurus nya panjang seperti di Mugello dan Losail. Dimana jarak dari tikungan terakhir menuju garis finish cukup panjang.

      Kalau David Emmet bilang di 2013-2014 RC213V motor yg balance dri faktor elektronik, seamless gearbox dan ban bridgestone yg lngsung cocok dg Marquez. Marquez bisa maksimum masuk dan keluar tikungan. Tapi kemudian bertahap M1 menjadi improved jga dg pakai seamless gearbox dan peningkatan akselerasi lebih kenceng dri sebelumnya.

      Dg datangnya Michelin dan elektronik yg lebih kuno semua motor tanpa kecuali berubah karakter dan performa. Ini yg harus di respon oleh pembalap supaya mendapat feel yg maksimum. Ban hard, medium dan soft memberikan feel yg beda dan belum tentu cocok dg masing-masing pembalap. Misalkan Pedrosa bisa full performance dg soft compound tapi belum tentu kalau dia pakai hard misalnya.

      Kalau oktan tergantung dri kompresi statik engine Pak. Karena oktan tinggi bukan berarti akan lebih bagus performanya kalau kompresi statik engine nya rendah. Kompresi statik 9.5:1 idealnya 90 pertalite tapi masih bisa dg premium asalkan gak dipakai kerja berat dan cuaca sedang panas. Gak perlu dikasih oktan 92 atau di atasnya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s