Motor Honda RC213V dan Marc Marquez

Posted on Updated on

marquez-2013-thecheckeredflag-co-uk

Marquez 2013 (thecheckeredflag.co.uk)

Honda dan Yamaha sudah saling bersaing sejak jaman motor bengis GP500 dua tak tahun 1980 an. Keduanya mendominasi tiap sirkuit dan di bawa oleh pembalap-pembalap terbaik dunia. Meskipun Suzuki RGV500 juga ada perannya dengan menjadi beberapa kali runner-up dan juara musim balap tahun 1993 oleh Kevin Schwant dan tahun 2000 oleh Kenny Roberts Jr. 
Tapi sejak juara 3 kali berturut-turut Wayne Rainey mengundurkan diri karena crash berat di Misano tahun 1993 Yamaha mengalami masa kosong cukup lama jadi juara dunia Grand Prix. Wayne Rainey adalah pembalap Yamaha terakhir yang menjadi juara dunia pada era motor GP500. Tahun 2002 terjadi perubahan besar yaitu munculnya motor Grand Prix 990 cc 4 – tak pertama kali.
Selama itu bukan berarti Yamaha mengalami degradasi kualitas performa hanya aja tertahan oleh pembalap brilliant Honda Mick Doohan asal Australia. Mick Doohan tidak disangkal adalah salah satu pembalap tingkatan maestro yang pernah melesat di kelas premier GP500. Lima tahun berturut-turut mendominasi sampai nasib berkata lain. Motor NSR500 V4 silinder mesin big-bang begitu digdaya dibawa melesat tak tertahan.
Kemudian setelah tahun 2000 RGV500 tampil sukses kembali sebagai juara oleh Kenny Roberts Jr, tahun 2001 sepak terjang Max Biaggi membawa Yamaha YZR500 tertahan kembali oleh Rossi dengan Honda NSR500. Pencapaian puncak Rossi merebut titel juara dunia dilanjutkan pada tahun 2002-2003 dengan motor Honda RC211V 5 silinder 4-tak motogp. Jadi untuk fans fanatik Honda, jangan dilupakan kalau Rossi pun telah menyumbang gelar juara dunia di kelas utama 3 kali berturut-turut dengan Honda. Baru pada musim balap motogp 2004 Yamaha bisa lagi memperoleh titel juara dunia yang telah lama tidak dirasakan.
Tahun 2006 sebenarnya bisa dibilang dominasi grid motogp tetap dipegang oleh Rossi dengan perolehan paling banyak podium satu. Tapi karena beberapa kali DNF dan pada balapan seri terakhir Rossi crash dan harus berada dibelakang sampai finish maka Nicky Hayden dengan Honda keluar jadi juara musim dengan angka yang tipis. Perpindahan Rossi ke Yamaha mengharuskan Honda berbagi gelar dimana sebelumnya bisa menetap cukup lama. Setelah Doohan menyumbang gelar dengan 5 kali berturut-turut kemudian dilanjutkan Rossi 3 kali berturut-turut baru giliran Marquez di musim 2013 dan 2014.
Kemunculan Marquez membuat kagum penggemar balapan Grand Prix. Tahun pertama Marquez sebagai Rookie di kelas motogp berhasil membawanya menjadi juara dunia. 
Apakah Marquez memang memiliki potensi luar biasa di atas pembalap-pembalap rival saat itu seperti Lorenzo atau ada faktor lainnya yang juga berperan ?  
Skill balap Marquez ngak diragukan sejak ikut Grand Prix 125cc 2-tak dan menjadi juara musim tahun 2010. Kemudian di lanjutkan juara dunia moto2 tahun 2012 sebelum pindah ke kelas premier. Selain skill mantap juga ditopang oleh keberanian ambil resiko yang memang diperlukan untuk menjadi juara. Tapi itu tidak luput dari peranan motor menjadi penentu setiap kemenangan yaitu Honda RC213V 1000cc.
Casey Stoner sebelumnya dengan Honda RC212V 800cc pada musim balap 2011 menguasai grid motogp dengan banyak kemenangan podium satu. Skill balap Stoner begitu istimewa juga punya kemampuan bagus memberi input mengembangkan motor. Digabungkan antara teknologi canggih elektronik inclinometer (gyroscope, acceleromater) in-house Honda dan masukan dari Stoner maupun para ahli di HRC, menjadikan RC212V motor yang balance. 
RC213V 1000cc dibawa Marquez mewarisi kelebihan tersebut terlebih telah menggunakan seamless shift gearbox. Saat pindah gir upshift memangkas waktu 0,10-0,20 detik per lapnya, ditambah downshift yang juga smooth. Seamless gearbox sangat efisien dari faktor memotong lebih singkat waktu akselerasi, penyaluran power secara optimal dan konsumsi bensin lebih irit. Tidak ada power loss seperti gearbox konvensional pada saat transisi perpindahan gir. Misalkan penggunaan awal gir satu dan akan upshift ke gir dua, gir satu dan dua masing-masing dapat berputar bebas di output shaft. Output shaft terhubung ke sprocket depan untuk memutar sprocket belakang menggunakan rantai. Secara permanen gir menyatu satu dengan lainnya, dimana semua terhubung dengan input shaft.
Gearbox konvensional, dog ring bisa bergerak sliding pada poros output shaft terletak diantara dua gir. Kalau dog ring bergerak ke satu arah maka kumpulan dog gear yang berdekatan akan terkait dengan dog ring. Jadi dog ring mengunci gir yang di inginkan misalkan gir satu dengan output shaft. Gir satu yang terhubung dengan input shaft sekarang tersambung dengan output shaft untuk menyalurkan power ke sprocket depan. Kalau dog ring digerakkan ke arah sebaliknya maka akan terkait dengan dog gear yang lain untuk mengait ke gir dua. Di antaranya ada jarak dimana dog ring tidak terkait dengan gir manapun, alias posisi netral. Melewati posisi netral artinya terjadi transfer power dari engine yang terhenti sejenak sepermilidetik.
Seamless gear buatan Zeroshift seperti dipakai Honda memungkinkan perpindahan gir satu dengan lainnya tanpa harus melalui posisi netral. Contohnya di antara gir satu dan dua ada dua bullet ring dimana masing-masing memiliki tiga bullet (dogs) dibentuk khusus untuk mengait dengan gigi yang ada pada bagian samping kedua gir. Kemudian ada dog-clutch hub terhubung dengan output shaft. Misalkan masuk ke gir satu, salah satu bullet ring bergerak sampai terkait dengan gigi yang ada pada bagian samping gir satu. Kemudian bullet ring kedua juga bergerak ke arah yang sama, ke tiga bullet (dogs) yang ada pada bullet ring mengisi celah di antara gigi yang terdapat di bagian samping gir satu, jadi tidak ada kelonggaran (slack) kalau throttle di tutup. Menjadi kelebihannya ke tiga bullet yang ada di bullet ring kedua tidak dalam posisi terkena beban (load), bullet ring bisa bergerak menuju gir dua.  Karena gir dua akan berputar lebih cepat dari gir satu, maka gigi yang berada di bagian samping gir dua akan mengait ke dogs atau ke tiga bullet dimana terdapat di bullet ring kedua, dengan itu giliran gir dua memutar output shaft. Maka rangkaian bullet (dogs) menerima beban dari gir satu bisa di lepas dan bullet ring satu bisa bergerak sliding berpindah posisi ke gir dua.

zeroshift

Di antara gir satu dan dua terdapat 2 bullet ring dimana masing-masing memiliki 3 bullet atau dogs (warna merah dan biru di ilustrasi) dengan bentuk khusus untuk mengait dengan gigi terletak di bagian samping gir satu dan dua.

Dengan seamless gearbox transfer torsi tidak terhenti pada saat transisi dari gir satu ke gir dua juga ke gir selanjutnya. Keuntungan waktu terpotong lebih cepat dan perpindahan gir begitu halus, bukan aja seamless untuk upshift saat akselerasi tapi juga downshift.
Motor Marquez begitu mantap dan smooth memasuki tikungan seolah-olah seperti skuter matic dengan gearbox CVT menurut pengamat motogp David Emmet. Tidak terdengar suara letupan sisa bensin dari ruang bakar yang kemudian meledak di knalpot. Dikombinasikan dengan torque sensor dan slipper clutch, ban belakang akan tetap kokoh di line tanpa cenderung melompat-lompat akibat rotasi yang tidak sama dengan kecepatan motor saat deselerasi. Torque sensor mengirim data ke ECU untuk menyalurkan bbm lebih sedikit sesuai kebutuhan engine rpm.
Belum lagi perangkat elektronik inclinometer atau inertia platform katanya di adopsi dari ASIMO. Sensor-sensor canggih memantau tingkah-laku motor dalam berbagai kondisi. ECU akan mengatur karakteristik engine sesuai pada situasi itu supaya rider bisa mengkontrol lebih baik. Apakah motor sedang posisi miring sekian derajat berbarengan ban belakang spin maka ouput torsi akan dikoreksi oleh ECU berdasarkan data yang dikirim rangkaiann sensor-sensor tersebut. Yamaha juga punya inertia platform tapi mungkin masih sedikit dibawah Honda waktu itu.
Walhasil RC213V motor begitu balance dan pas dengan gaya balapnya Marquez kemudian membawanya ke singgasana juara musim 2013. Digdaya nya RC213V dengan itu Marquez mampu mendatangi pintu tikungan kecepatan rendah dengan brake late masuk lebih dalam deselerasi secara presisi. Kemudian berbelok tajam di apex dan segera menegakkan motor berakselerasi. 
Tapi ada keraguan dimana performa Lorenzo saat itu dalam keadaan tidak fit akibat cedera cukup berat pada bagian collarbone. Motor M1 nya mengalami highside di sirkuit Assen. Selama musim 2013 Marquez hanya menang tipis 4 point dari Lorenzo yang sedang cedera. Cerita bisa lain apabila JL tidak cedera, kemungkinan Marquez tidak akan menerima titel juara musim di tahun pertamanya itu.
Yamaha M1 kalah power maksimum dengan RC213V tapi Yamaha M1 kuat pada faktor kestabilan masuk dan keluar tikungan kecepatan medium-high terutama di mid-corner dimana menentukan lap time. Gaya Lorenzo mengerem jauh lebih awal supaya masuk ke corner dengan posisi throttle open. Mayoritas kecepatan motor berkurang saat masih di lintasan lurus. Membawa corner speed sebagai momentum untuk akselerasi keluar tikungan secepat mungkin. Gaz makin bertambah begitu melewati apex.
Musim balap 2014 di mulai dengan istimewa oleh Marq Marquez yaitu memborong podium satu tak terputus. Tak terbendung memenangkan tiap seri dengan solid dan mapan di ikuti oleh Rossi posisi kedua. Performa balap Rossi juga mulai naik pada tahun kedua nya kembali lagi ke Yamaha setelah gagal mencoba Ducati Desmo. Konstruksi ban Bridgestone yang baru memenuhi karakter RC213V dan gaya balap Marquez. Lorenzo sebagai rival kuat nya masih belum sehat full setelah mengalami lagi operasi untuk pemulihan cedera. Mungkin sering terlewat oleh penonton tertutup meriahnya suasana balapan bahwa sehebat apapun skill si pembalap akan tidak bisa melawan derita karena mengalami cedera.
Lin Jarvis sendiri mengatakan Marc sensational sejak awal dan motor Honda meng-ungguli Yamaha. Ban Bridgestone dengan compound baru kurang ideal untuk pembalap Movistar Yamaha. Tahun 2014 asli milik Marquez dimana tidak ada rival yang kuat menandingi.
Masuk musim 2015 Marquez yang mampu sensasional di tahun 2014 harus melihat kenyataan bahwa tidak selalu situasi balap berpihak kepadanya. Motor RC213V superior di 2013 dan 2014 ternyata mulai ngadat memberinya masalah. Motor dimana biasanya menurut untuk di arahkan ketika menuju pintu tikungan dari kecepatan tinggi menjadi berubah drastis. Marquez biasa brake late lebih dalam masuk tikungan menghadapi motor yang tidak bisa berbelok, cenderung lari ke sisi luar tikungan. Engine brake menjadi penyebabnya menurut pengamat motogp mungkin karena Repsol Honda ingin menambah power output lebih besar lagi dari sebelumnya. Didasari oleh kekuatiran power output motor kompetitor semakin meningkat. Adanya torductor, seamless shift gearbox dan slipper clutch tidak bisa menolong meredam engine brake liar itu. Baru kemudian dengan memakai chassis 2014 lyang lebih lentur dan tuning pada bagian elektronik dapat menekan walaupun tidak bisa hilang semua.
Cedera collarbone Lorenzo semakin pulih dan problem dihadapi Yamaha sebelumnya di 2014 seperti isue ban baru Bridgestone yang kurang cocok dengan seting Yamaha M1, juga defisiensi power output akibat peraturan pengurangan kapasitas tanki bbm jadi lebih sedikit sudah bisa diatasi. Ditambah dengan seamless shift gearbox menguatkan performa Yamaha. Rossi pun setelah 2 tahun comeback ke Yamaha Movistar mulai mendapat lagi form balapnya. Semua itu memberi perlawanan terhadap Marquez selama musim 2015.
Kemudian bagaimana dengan tahun 2016 ini, apakah Marquez kembali seperti 2013 dan 2014?
Masuknya Michelin menggantikan Bridgestone bersamaan perubahan peraturan ECU & software yang seragam merombak peta kekuatan pembalap motogp. Motor berubah karakter mengharuskan pembalap merubah style balap yang sudah terbangun di asah selama ini dengan motor lamanya, termasuk juga Marquez.
Kelebihan ban depan Bridgestone mampu memberikan feedback dimana sangat penting bagi pembalap sebagai indikator sampai dimana limitnya. Grip ban makin lama makin menipis saat balapan berlangsung. Ban belakang ditandai dengan frekwensi spin semakin tinggi dan ban depan pada bagian pinggir (edge) sedikit demi sedikit mulai bergeser disaat motor miring melewati tikungan atau sedang trail braking. Itu adalah feedback penting dan tanpa faktor tersebut pembalap akan tidak mengetahui limitnya untuk menghindari terjadi lowside. Ban depan bisa langsung menyerah hilang grip tanpa pemberitahuan atau peringatan terlebih dulu. Faktor ini dianggap kurang ada pada ban Michelin. Dengan Bridgestones ketika ban depan akan kehilangan grip, pembalap masih punya kesempatan untuk menyelamatkan motor dari lowside. Sebaliknya dengan Michelin ketika ban akan kehilangan grip, momen selanjutnya yang terjadi motor sudah crash tanpa memberi kesempatan ke pembalap untuk menghindar.
Terjadinya perubahan cukup fundamental itu terlihat performa Marquez tidak seistimewa seperti tahun 2013-2014. Selain performa ban Michelin yang berbeda karakter juga agak lambatnya akselerasi RC213V keluar tikungan menjadi isue. Kurangnya daya dorong (drive out) lebih kepada traksi ban belakang akibat spin berlebihan. Elektronik lebih kuno menyebabkan ECU tidak cepat bereaksi secara presisi meredam spin.
Problem tidak hanya menghampiri Marquez aja tapi juga ke pembalap lain. Margin grip yang disediakan Michelin hanya sedikit untuk style balap Lorenzo. Temperatur lebih dingin di lintasan sirkuit akan menyulitkan JL melepas semua performa nya terutama melesat di mid-corner tikungan medium-high. Seperti pembalap-pembalap lainnya, JL juga mengalami problem dengan Michelin.
Disamping itu setelah semua berjalan lebih dari setengah musim, akhirnya terbuka cukup lebar untuk Marquez memboyong titel juara musim balap motogp ke tiganya tahun 2016 ini dan akan sukses pada musim balap selanjutnya. Tapi dengan komponen elektronik RC213V yang lebih kuno dan dengan perbedaan karakter ban Michelin, Marquez sekarang bukan seperti Marquez di 2013-2014. Marquez sekarang adalah yang bisa dikalahkan oleh pembalap lain. Tidak aja oleh pembalap senior seperti Rossi dan Cal Crutchlow tapi juga Iannone dan Vinales. Karena performa motor-motor pada grid motogp musim ini sepertinya menganut azaz kesetaraan. Ducati Desmo dan Suzuki GSX-RR yang semakin naik kualitasnya menjadi motor potensial seperti RC213V dan M1. Mudah-mudahan akan terus seperti ini dan bisa di ikuti juga oleh KTM maupun Aprilia.
Marquez akan menjadi salah satu pembalap motogp terbaik bertalenta istimewa yang pernah dilihat oleh penonton Grand Prix di seluruh dunia. Demikian wassalam dan salam sejahtera.

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “Motor Honda RC213V dan Marc Marquez

    Renhan said:
    September 12, 2016 pukul 7:23 pm

    Topp serasa kuliah (lagi) om hehehe…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s