Suzuki membawa Vinales ke podium Silverstone 2016

Posted on Updated on

Vinales Silverstone 2016

Maverick Vinales Suzuki GSX-RR (Motorsport.com)

Di balap motor premier seperti motogp, mencetak sebuah kemenangan bukan perkara yang gampang. Terutama kalau si pembalap memakai motor yang kurang digdaya, motor yang inferior di urusan power dan handling.
Honda dan Yamaha factory bisa dibilang penguasa balapan Grand Prix sejak di era GP500 tahun 1980 an. Walaupun ketika Wayne Rainey juara 3 kali GP500 berturut-turut dengan Yamaha YZR500 crash berat tahun 1992 di sirkuit Misano Italia yang mengharuskannya dudk di kursi roda, Yamaha mengalami absen kemenangan cukup lama. Sampai kemudian Rossi pindah dari Honda ke Yamaha dan membawa kembali menjadi juara musim tahun 2004. Intinya pembalap dengan skill bagus diberikan kesempatan membawa motor Honda atau Yamaha factory akan lebih mudah jalan perjuangannya untuk merebut titel juara dunia. Faktor ini yang membuat Marquez merebut juara motogp di musim balap motogp pertamanya 2013. Meskipun saat itu Lorenzo dan Pedrosa dalam kondisi gak fit akibat cedera. Marquez menang tipis dari Lorenzo.
Suzuki kembali ikut kompetisi motogp tahun 2015 bermodalkan input dari motor sebelumnya GSV4-R. Dengan merekrut Maverick Vinales sepertinya ada kecocokan dengan membuat progres positif di motor. Sedikit demi sedikit terbangun melalui pengulangan karena error dan selanjutnya mencapai peningkatan performa. Kurangnya power output Suzuki GSX-RR di putaran top end menjadi isue sebelumnya. Ingin HP lebih besar berarti harus menambah engine revving semakin tinggi. Tapi juga ada batasan yang pas karena makin terlalu tinggi akan mengorbankan transient torque di rpm tengah yang justru diperlukan untuk akselerasi cepat keluar tikungan. Jadi semuanya harus di kalkulasi secara akurat oleh tehnisi tim sebelum semua engine di segel (sealed) selama musim balap.
Pencapaian tim Suzuki di musim 2016 makin meningkat dimana problem kurangnya power output sudah bisa diperbaiki. Akselerasi cepat keluar dari medium speed corner dan topspeed yang sudah menyamai tim Honda & Yamaha factory. Topspeed Vinales di straightaway sirkuit Mugello 347,7 km/jam, Marquez 346 km/jam dan Ducati corse Iannone 354,9 km/jam. Tapi topspeed tidak menentukan lap tercepat. Fastest lap Ianonne di Mugello di cetak 1 menit 47,687 detik pada kecepatan yang jauh lebih rendah yaitu 344,6 km/jam. Semakin kenceng motor melesat di trek lurus semakin berat dan perlu upaya ekstra deselerasi atau mengurangi speed memasuki tikungan. Harus jauh lebih awal mengambil titik pengereman (brake marker) kalau ingin motor tidak melebar atau overshoot ke sisi luar tikungan. Faktor terlalu cepat di trek lurus justru bisa kontra produktif memperlambat lap time. Menurut pengamat motogp engine revving Ducati Desmosedici adalah yang paling tinggi menyentuh 18000 rpm!. 
kemenangan Vinales di Silverstone tidak dia perkirakan sebelumnya “For sure, it is the best moment and also I didn’t think this year I could do it – I was just thinking on next year to try to do it”. Vinales kepikiran mencoba merebut podium satu dengan membawa Yamaha M1 di musim tahun depan. Ternyata situasi berpihak 100% maka gak perlu ditunggu terlalu lama sampai tahun depan. Performa Suzuki GSX-RR sudah mampu mewujudkan mimpinya itu.
Seperti Rossi, Crutchlow yang memakai hard ban depan dan medium belakang demikian juga Vinales. Cuaca yang mendung sebenarnya lebih cocok dengan soft compound dengan strategi menekan cepat pada awal start sampai setengah balapan dan kemudian menjaga jarak yang di raih dengan pembalap rival di sisa lap selanjutnya sampai finish. Ini yang mungkin akan diterapkan oleh Marquez memakai soft.
Ternyata Vinales merasa penuh percaya diri dari feedback yang diberikan motor sejak mulai balapan jadi tidak perlu menunggu sampai setengah balapan dulu untuk menekan motor lebih kenceng lagi. Terlihat Vinales melesat di tiap tikungan secara mantap, minus error dan mampu membuat gap dengan pembalap dibelakangnya. Sempat dibelakang Crutchlow dan Rossi pada start kedua tapi kemudian overtake dan menempati posisi terdepan. Ban depan hard compound secara solid menyediakan grip sesuai dengan speed motor masuk dan keluar corner. Sepertinya juga Vinales sukses menjaga grip ban belakangnya dengan mengkontrol secara presisi bukaan throttle ketika akselerasi keluar corner. Dengan itu ketersedian grip ban belakang sebagai sumber daya dorong (drive-out) tetap ada sampai akhir balapan. Terlalu semangat buka throttle dalam posisi miring berakibat ban spin berlebihan. Dalam sepermilidetik traction control segera mereduksi tapi kalau dilakukan terus menerus akan banyak mengikis ban juga. Grip yang sudah terpangkas tidak akan memberi daya dorong secara cepat, malahan frekwensi spin jadi makin sering.
Ianonne sempat membuat kejutan dengan overtaking beberapa pembalap di depannya sampai kemudian berada di belakang Vinales. Ducati Desmo nya menyerang dengan garang tapi harus diakhirinya karena lowside di tikungan akibat ban depan mengunci. Iannone menyalahkan arm-pump yang datang tiba-tiba di saat balapan berlangsung. Balapan tinggal 9 lap rasa nyeri kuat datang makin parah, mengkontrol motor menjadi susah dan titik pengereman Iannone menjadi terlambat. Ban depan mengunci pas menyentuh benjolan (bumps) di lintasan dan motor mengalami lowside di sisa 6 lap terakhir. Kesuksesan Iannone di sirkuit Redbull Ring Austria sementara belum dapat diulang lagi.
Setelah cukup mantap podium satu di Brno Crutchlow mengulang lagi merebut posisi kedua pada balapan dry di kampung halamannya. Tentu sangat bermakna sebagai orang UK yang minim pembalap papan atas di motogp. Berbeda di WSBK yang dipenuhi pembalap top level asal UK seperti Jonathan Rea, Tom Sykes, Chaz Davies. Upaya nya membuahkan hasil dengan memakai ban hard depan dan medium belakang. Memungkinkan Crutchlow menekan motor sampai ujung batas. 
Motogp di Silverstone mempertontonkan atraksi seru 4 merek motor berada di posisi atas. Potensi kekuatan masing-masing dikerahkan sekaligus memperlihatkan equality kesetaraan. Berlainan pada waktu musim sebelumnya dimana teknologi tercanggih hanya dimiliki Honda & Yamaha factory dan mendominasi seluruh balapan. Dengan unified ECU & software juga ban Michelins merombak peta kekuatan dan mudah-mudahan akan tersebar merata terus. Jadi tidak mustahil bagi pembalap ber talenta menjadi juara dunia nanti dengan motor Aprilia atau KTM seperti di balapan WSBK. 
Motor factory Yamaha dan Honda masih menjanjikan aura kemenangan lebih besar maka itu Vinales tetap kokoh tidak merubah keputusannya di musim balap 2017 untuk pindah ke Yamaha Movistar. Tapi kalau aja tetap di Suzuki bisa jadi akan muncul lagi podium-podium Vinales yang akan terpasang di Hall of Fame nya Suzuki. Demikian wassalam dan salam sejahtera.

 

Iklan

12 thoughts on “Suzuki membawa Vinales ke podium Silverstone 2016

    Pengamat said:
    September 5, 2016 pukul 10:35 pm

    Dari sisi mesin
    RCV-213 V4 90°dgn sudut kemiringan 45° crankshaft berbentuk oval, terpusat di satu titik.
    YZR-M1 4inline crankshaft crossplane.
    GSX-RR 4inline, crankshaft konvensional seperti umumnya R4, gerak bandul crankshaft piston 1,4 berbeda 180° dari gerak bandul crankshaf piston 2,3.
    Pertanyaannya:
    1, antara GSX-RR dan YZR-M1 sama² 4inline, jika panjang stroke sama, mana yg potensi nya lbh unggul?
    2, Jika GSX-RR dan YZR-M1 dirubah sudut silindernya menjadi 45°,mana yg potensi nya lbh unggul?

    Suka

    ArenaSepedaMotor responded:
    September 6, 2016 pukul 12:32 am

    Honda RC213V 90 derajat,crankshaft nya mungkin 360 derajat seperti RC30/RC45.

    GSX-RR inline 4 big bang firing order dg crossplane crankshaft.

    Walaupun kedua engine sama2 inline 4, jga sama bore x stroke, bisa beda curva torsi nya. Tergantung dari profil camshaft, volume airbox, velocity stacks, dia TB, dia intake/ex port (cross sectional area, radius belokan diatas valve seat) di cyl head, dia klep intake, dia dan panjsng header dll.

    Stroke gak pengaruh siknifikan di engine balap yg oversquare atau stroke pendek. Daya ungkit (leverage) menguntungkan pada engine yg square atau overstroke. Dan gak bisa high revving.

    Engine GSX-RR & M 1 maksudnya dirubah jdi V4 45 derajat? Seperti HD klau gak salah. Mungkin jdi kurang efisien. Terlalu deket dan lebih timbul vibrasi

    Suka

    ArenaSepedaMotor responded:
    September 6, 2016 pukul 12:47 am

    Suzuki sdh pernah pakai V4 engine di motor GSV-R sebelum GSX-RR. Kalau Yamaha lebih pilih inline 4.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      September 6, 2016 pukul 9:28 am

      Basis dimensi engine BMW S1000RR & BMW S1000R pakai crankcase, cyl block, cyl head yg sama, keduanya pakai bore 80 mm x stroke 49.7 mm. Tapi berlainan di kurva torsi/HP maksimum karena beda profil camshaft dan ukuran komponen engine lainnya.

      BMW S1000RR orientasi balap HP di 13250 rpm, torsi 10250 rpm. Sedangkan engine BMW S1000R naked bike di detuned, HP maks tercapai di putaran lebih rendah yaitu 11000 rpm, demikian jga torsi nya jdi di 9250 rpm.

      Karakter engine seperti rentang kurva torsi, titik torsi maksimum tercapai di rpm tertentu dan powerband dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran komponennya, bukan dari stroke.

      Engine balap yg oversquare lebih cari ke ukuran bore piston, bukan atas pertimbangan stroke nya. Karena torsi dihasilkan oleh combustion torque yaitu cyilinder pressure. Makin besar bore, makin besar klep intake yg bisa di pakai. Airflow bisa lebih cepat mengisi silinder di rpm ekstrim. Posisi klep intake bisa sedikit berjauhan dari dinding ruang bakar (combustion chamber) yg keuntungannya mengurangi turbulensi saat airflow melewati klep intake posisi open. Airflow dapat membentuk kerucut (cone shaped) dg bagus ke dalam silinder saat langkah hisap (intake stroke)

      Hanya makin besar bore makin susah api membakar udara/bbm secara merata yg efeknya mengurangi temperatur untuk naikkan cyl pressure. Juga cenderung lebih gampang terjadi detonasi. Semua itu mengurangi potensi power. Maka perlu kompresi statik tinggi dan peranan bentuk squish di permukaan piston untuk menciptakan turbulensi

      Keuntungan daya ungkit dari stroke panjang untuk engine mobil atau motor jalan raya.Mobil diesel turbocharger biasanya overstroke dg tujuan operasi di low rpm menghasilkan torsi maks.

      Suka

    are wege said:
    September 8, 2016 pukul 6:26 am

    Apa kelemahan HONDA di misano nanti ?
    Kemenaangan suzuki di Silverstone luput dari duel marc vs Rossi vs crutchlow,

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      September 8, 2016 pukul 9:25 am

      Kalau kelemahan Honda sepertinya udh gak siknifikan lgi, dibuktikan sama Crutchlow di Silverstone. Walaupun isue akselerasi kurang cepet keluar tikungan yg di bilang Marquez.

      Sirkuit Misano banyak tikungan kecepatan rendah gir satu dan dua. Tikungan high speed flowing gir 5 hanya dua. Jadi potensi torsi motor harus kuat mulai di rpm rendah supaya bisa cepet bikin gap.

      Ducati yg high power di rpm atas mungkin akan kurang cepet kalau bnyk bermain di rpm rendah seperti di Misano.

      Di Silverstone Vinales pakai ban depan hard yg sebenarnya kurang daya cengkram dibanding medium atau soft kalau udara lebih dingin. Tapi mungkin karena seting motor yg pas dan rasa percaya diri tinggi membuat Vinales bisa ngacir di depan sejak awal balapan. Dan pastinya gak membuat kesalahan manuver. Titik pengereman (brake marker), titik belok (turn-in point) dan titik mulai buka gaz akselerasi exit corner dg tepat.

      Suzuki kayaknya udh makin mantap dari performa handling dan power. Bisa jdi di Misano Vinales mampu masuk peringkat dua-tiga atau podium satu lgi.

      Dengan regulasi ECU & sofware yg seragam jga karakter ban Michelin membuat persaingan jdi makin deket. Motogp udh mirip seperti motor-motor WSBK hanya bedanya engine revving lebih tinggi, HP lebih besar. Ban Michelin karakternya gak sama dg Bridgestone, jdi pembalap harus merubah style balapnya. Ban depan Michelin kurang feedback.

      Bagusnya seperti ini jdi performa motor satu dg lainnya gak jomplang karena kecanggihan elektronik

      Kalau Marquez dg point sekarang udh besar Pak kemungkinan jdi juara musim 2016.

      Suka

        are wege said:
        September 8, 2016 pukul 10:18 am

        Ane liat kemaren Marc memaksakan , terlihat beberapa Kali motor godek , mengerikan.. tapi tmpknya top speed masih kurang rc213v

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        September 8, 2016 pukul 5:26 pm

        Marquez sperti biasa suka push to the limit…tpi gak begitu keliatan kalau Honda kurang akselerasi di Silverstone. Crutchlow & Marquez sanggup saling tekan untuk posisi dua.

        Suka

    Renhan said:
    September 8, 2016 pukul 3:54 pm

    Andaikan ianone g jatuh, wah bisa duel tuh lawan gsx rr

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      September 8, 2016 pukul 5:30 pm

      Bisa jdi dan makinn tinggi reputasinya Vinales klau menang duel dg Iannone

      Suka

        are wege said:
        September 8, 2016 pukul 5:58 pm

        Yg JUARA suzuki Dan vinales , yg jadi perbincangan marc yg kembali agresif, Dan duel dgn Rossi vs crutchlow..

        Banyak komentar yg bilang race yg menarik Dan seru

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        September 8, 2016 pukul 6:06 pm

        Iya bener..

        Paling gak skrng ada jdi 4 pabrikan yg kuat performanya

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s