Kemenangan monumental Ducati di Redbull Ring motogp 2016

Posted on Updated on

Redbull Ring

Redbull Ring Spielberg Austria motogp 2016

Redbull Ring pada hari Minggu kekuatiran pembalap tidak terjadi. Langit bersikap baik dan race berjalan pada lintasan kering dan panas. Thank God it’s a sunny day, mungkin masing-masing dibenak mereka berkata seperti itu setelah beberapa balapan sebelumnya diguyur hujan. 
Gelar balapan Grand Prix terakhir Redbull Ring tahun 1997 saat itu bernama A1-Ring dan kelas premier masih dikuasai oleh motor-motor GP500 2-tak yang terkenal bengis dan pemarah. Motor yang gak semudah motogp sekarang kalau dibawa melesat cepat terutama pas akselerasi keluar corner. Tanpa elektronik canggih dan power delivery yang brutal alamat kapan saja terjadi highside kalau si rider kurang hati-hati atau terlalu semangat membuka gaz. Dan saat itu jawara nya adalah Mick Doohan yang sukses 5 kali menyabet titel juara musim balap GP500 berturut-turut.
Musim balap 2016 di Redbull Ring ini menjadi spesial untuk Ducati squad dan orang-orang di pabrik Ducati di Borgo Panigale Italia. Iannone dan Dovizioso secara brilliant memenangkan balapan yang telah lama ditunggu sejak terakhir Casey Stoner menjuarai Phillip Island tahun 2010 dengan motor 800 cc. Kemenangan yang tentunya cukup mahal dan sebagai pembuktian motor Ducati bisa kembali kuat dan berada di top level.
Redbull Ring yang memiliki beberapa tikungan high flowing adalah sirkuit tercepat di kalender motogp. Mayoritas level bukaan throttle berada di 50-70% yang berpengaruh terhadap konsumsi bbm. Diperlukan strategi tepat si pembalap kapan merubah fuel mapping supaya dapat menyelesaikan balapan tanpa kehabisan bensin sebelum balapan berakhir. Ducati engine yang paling terkuat di rpm atas pastinya juga paling boros bbm.
Kemenangan Ducati squad bukan karena mengandalkan engine HP terkuat di rpm atas tapi lebih pada strategi. Menyemburkan HP besar artinya membakar bbm lebih banyak bersamaan dengan ban belakang yang banyak spin mengikis grip. Engine motogp yang high revving berubah jadi bengis di putaran 9000 rpm keatas dimana torsi semakin galak mengikis ban belakang. Biasanya saat buka throttle akselerasi keluar dari tikungan medium speed. Ini menjadi perhatian tim Ducati di sirkuit cepat seperti Redbull Ring, “go easy from the start to conserve fuel .
Tidak mudah memang menahan godaan untuk full gaz apalagi dengan engine yang lebih superior di putaran maksimum. Strategi yang dijalankan oleh Iannone menghemat pemakaiaan bbm dan ban di awal-awal race berjalan seperti yang di inginkan. Meskipun ada sedikit spekulasi dengan memakai ban depan soft dan belakang medium disaat terik Matahari dimana yang lainnya dengan medium/hard. Dengan menjaga grip ban depan soft nya supaya awet dan bbm selama setengah balapan berlangsung, Iannone punya kesempatan menekan motor lebih cepat menjelang akhir race.
Dovizioso juga menjalankan strategi dengan baik dengan tidak menekan potensi engine yang dimiliki selama setengah balapan untuk tujuan yang sama, hemat grip ban dan benzine. Baru di 6 lap terakhir mencoba push 100%. Doviziozo adalah tipe yang lebih play safe, hati-hati dibandingkan Iannone. Ban medium compound depan dan hard dibelakang. Pengalamannya di motogp membuatnya lebih banyak pertimbangan dari pada menghadapi resiko yang muncul saat balapan. Tapi akhirnya upayanya membuahkan hasil meskipun ada kekecewaan karena tidak sampai pada posisi kesatu. Diakuinya daya cengkram sisi kanan ban kurang bagus meskipun pengeremannya lebih baik dari motor Iannone. Membuatnya harus berjuang dan tidak bisa berada di posisi yang dekat untuk coba overtake. Kemenangannya adalah yang terbaik setelah di seri-seri sebelumnya mengalami beberapa masalah.
Bagaimana dengan Lorenzo dan Rossi yang di awal-awal sanggup memberikan race pace yang cukup mantap. Lorenzo merasa percaya diri dan sanggup menekan kedepan sejak start. Beberapa tikungan fast sweeping sesuai dengan gaya nikungnya yang melebar dari titik belok (turn in point) disisi luar sambil mengatur modulasi trail braking memanfaatkan momentum kecepatan motor masuk lebih dalam sampai ke apex. Kemudian akselerasi lebih awal dan secepat mungkin keluar tikungan. Itu adalah gayanya Lorenzo cepat dan smooth di corner. Diakuinya dia bisa lebih cepat dia awal tapi kemudian Iannone mulai brake late menambah titik pengeremannya (brake marker) lebih dalam. Jorge tidak bisa melewati walaupun cukup dekat jaraknya.
Dengan tetap tenang untuk tidak membuat kesalahan sampai kemudian Dovizioso overtake dan kedua motor Ducati factory mulai menambah race pacenya. Pace Lorenzo tidak bisa sama dengan kedua Ducati terutama saat nikung kekanan dimana sisi bannya sudah mulai rusak. Apa yang dilakukan nya setelah itu adalah konsentrasi dan tetap di 1’25, 1’24.9 (lap time) supaya Rossi tidak mendekat.
Ban slicks Michelin memberi margin yang kecil terhadap performa balap Jorge. Grip ban saat cuaca dingin membuatnya kurang confident. Beda dengan ban Bridgestone waktu dulu yang bisa tetap kompetitif di cuaca lebih dingin atau panas tapi tidak dengan Michelins. Margin yang kecil itu adalah cuaca yang tepat tidak dingin dan tidak terlalu panas dan Lorenzo bisa memacu skill balapnya secara maksimum yaitu melewati tikungan dengan sweeping style yang smooth dan cepat. Berharap pada seri kedepan tetap bisa kompetitif dengan ban Michelins yang sepertinya tidak terlalu bersahabat erat dengan nya.
Rossi yang terlihat kuat di qualifikasi dan juga di awal race ternyata tidak lebih kuat dari Jorge. Mencoba overtake bisa jadi mendapat konsekwensi masuk gravel. Problem yang dihadapi Rossi adalah saat braking dan akselerasi keluar corner. Diakuinya setiap kali mendekati Jorge untuk overtake saat itu juga melakukan kesalahan, terlalu beresiko. “A podium may have been possible, but it would have meant risking too much to obtain it”. Masuk ke posisi 4 adalah pilihan yang tepat dan safe untuk Rossi.
Marquez yang mengalami dislokasi bahu dengan sikap pantang menyerah masuk posisi lima. Suatu upaya yang tidak enteng dengan rasa nyeri yang harus dipikul selama balapan berlangsung. Beberapa kali motornya melebar karena late braking memasuki tikungan. Ban depan mengunci dan hampir crash. Konsekwensi late braking adalah intensitas menekan tuas rem (brake lever) yang lebih kuat. Dibeberapa tikungan kecepatan rendah Marquez terpaksa berjuang dengan brake late untuk kompensasi sedikit lambatnya akselerasi RC213V dari low rpm keluar corner. Di awal balapan motor bisa dipacu cepat untuk berada di depan tapi begitu grip mulai terkikis dan drop terpaksa harus melambatkan race pacenya.
Marquez sekarang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebih agresif pantang dibelakang “do or die”, kamikaze style. Marquez sekarang faham bahwa memenangkan balap bukan dengan cara kenekatan seperti bonek tapi dengan strategi tepat kapan bisa menyerang dan kapan play safe demi untuk mengukuhkan point kemenangan. Tidak bisa memaksa kalau kondisi motor tidak memungkinkan.
Kurangnya grip ban belakang dan akselerasi dari kecepatan rendah menjadi problem Marquez di Redbull Ring demikian pula dengan Maverick Vinales. Grip ban belakang selalu drop ketika temperatur cuaca mulai naik. Problem ini terjadi terus di dry race sebelumnya dan menjadi pekerjaan rumah tim Suzuki untuk cari solusinya. Suzuki GSX1000RR sudah semakin kompetitif yang artinya HP yang dihasilkan engine makin kuat di rpm atas. Diperlukan lagi variable untuk meredam power ketika grip ban mulai menurun.
Ducati squad berhak merayakan victory nya dan akan dilihat apakah akan bisa tetap konsisten di sirkuit selanjutnya nanti. Tapi ada ironisnya dimana Iannone harus pergi dari Ducati musim 2017. Apakah Iannone akan menjadi pahlawan yang terlupakan (forgotten hero) ?
Semua tim mengalami problem ban selama balapan berlangsung tapi Ducati factory lebih sukses me manage nya dengan berada di posisi satu dan dua. Dan Marquez berterimakasih kepada tim merah ini yang telah menahan laju dua Yamaha factory di Redbull Ring. Demikian wassalam dan salam sejahrera.
 
Iklan

4 thoughts on “Kemenangan monumental Ducati di Redbull Ring motogp 2016

    Renhan said:
    Agustus 18, 2016 pukul 10:21 pm

    Om boleh request artikel tentang segala sesuatu tentang ducati gp4? dari sudut pandang pribadi maupun teknis, terima kasih sebelumnya

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Agustus 19, 2016 pukul 9:50 am

      Boleh Pak, cuma belum ada bahan cukup utk artikel nya. Biasanya sy ambil dari majalah juga di website.

      Ducati GP4 udh aplikasi big-bang engine, sepasang piston meledak berbarengan kemudian diikuti sepasang lagi. 4 piston dijadikan 2 ledakan besar atau twin pulses. Keuntungan sperti yg kita sdh tau yaitu power delivery, penyaluran torsi dari ban ke aspal yang lebih soft pada saat akselerasi kuat. Ban gak gampang spin kehilangan grip. Dan rider bisa lebih banyak merasakan koneksi antara buka gaz dan reaksi penyaluran torsi di ban belakang.

      GP3 dg engine konvensional “screamer” (4 pulses). GP3 engine konvensional secara teknis power di putaran atas nya sedikit lebih besar, top speed di trek lurus sedikit lebih tinggi dari big-bang engine. Walaupun GP4 big bang test di Catalunya Capirossi mencapai 347 km/jam

      GP3 dibawa Loris Capirossi cukup lumayan sering naik podium, walaupun screamer 990 cc lebih gampang spin, slide. Ducati gak ada traction control seperti Honda jdi utk akselerasi cepat keluar tikungan si rider buka gaz musti tepat (precise) dan syncron. Kebanyakan buka ban belakang spin memperlambat akselerasi atau bisa juga highside.

      GP4 kurang sukses mungkin Capirossi baru adaptasi dg big-bang. Katanya kekurangan di in/out di tikungan kecepatan tinggi. Kalau dari tikungan kecepatan rendah stop n go seperti hairpin sdh bagus.

      Ducati bisa dibilang selalu punya potensi kenceng dari pertama ikut motogp engine 4-tak. Bisa jdi karena pengalaman meramu engine di balapan WSBK engine 4-tak.

      Nanti kalau ada materi yang udh detail misalkan test ride results, sy buat artikel.

      Suka

        Renhan said:
        Agustus 19, 2016 pukul 1:25 pm

        Terima kasih banyak pak, berarti mgkin gp4 cocok dg gaya riding nya stoner

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Agustus 19, 2016 pukul 2:15 pm

        Stoner pakai Ducati GP7 800 cc konvensional “screamer” engine. Di trek lurus topspeed paling tinggi.

        Di musim 2008 Stoner juga sering naik podium, tapi Rossi dg M1 800 cc big-bang juga bisa mengimbangi masuk dan akselerasi keluar tikungan

        Geometry chassis, power delivery engine, suspensi pas dengan Stoner sampai kemudian berubah di GP9 dg carbon fiber chassis. Stoner jdi kurang cocok.

        Stoner salah satu rider motogp dg skill top level. Mungkin kalau dulu sama-sama di adu dg Marquez, saya pegang Stoner. Kekurangan Stoner menurut sy di mental nya aja, kalu skill balap gak diragukan. Misalkn dia punya mental kaya Marquez yg nekat kamikaze style, bisa lain ceritanya waktu itu.

        Sperti Rossi, dia jga mampu utk kasih input develop motor. Gak semua pembalap bisa.

        Ok Pak siip sama-sama

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s