Setelah CBR250RR bagaimana dengan motor 250cc merk lainnya?

Posted on Updated on

Kawasaki Ninja 250 FI A
Tidak diragukan kejelian Honda di kelas sportbike 250cc dengan merilis all-new CBR250RR ini. Motor dengan tampilan body keseluruhan sangat menarik dilengkapi beberapa fitur elektronik modern seperti riding mode atau power mode, throttle body drive-by-wire. Kemudian upside down fork, aluminium swing arm dll. Honda seperti nya ingin membuat gebrakan dalam tujuan menarik minat publik khususnya penggemar motor kelas lightweight sportbike 250cc.
Kemudian bagaimana selanjutnya dengan motor kompetitor 250cc lainnya seperti Yamaha R25, Kawasaki Ninja 250 FI, apakah akan ada versi all-new nya dalam waktu dekat ini?  Bisa jadi atau bisa juga tidak Karena Yamaha R25 masih dibilang belum lama kehadirannya dan mungkin Kawasaki akan menyiapkan pemain baru yaitu Ninja 250cc 4 silinder.
Peralatan elektronik drive-by-wire, power mode, traction control sudah dipasangkan di motor premium dengan engine displacement lebih besar sekitar 4-5 tahun sebelumnya. Sistim injeksi EFI digunakan di production racer Honda yaitu RVF750R RC45 di rilis tahun 1994. Demikian juga upside-down fork sudah eksis sejak tahun 1990 an. Jadi seperti biasa motor-motor sport ber cc kecil dapat jatah paling belakangan. Karena dulu motor 250 cc masih dianggap kurang prestise merepresentasikan keunggulan pabrikan. Sekarang ini dimana ekonomi global sedang resesi dan belum ke arah penyembuhan maka pabrik tidak lagi menomer dua kan sportbike 250-300 cc yang memiliki pangsa pasar terbesar.
Drive-by-wire system ECU mengatur bukaan throttle plate sesuai airflow yang dibutuhkan berdasarkan engine rpm. Performa dapat diwujudkan bersamaan dengan level konsumsi bbm yang lebih irit. Keuntungan lainnya adalah perangkat yang lebih ringan dari pada throttle body yang digerakkan secara mekanik.
Power mode seperti riding mode pada motor besar yaitu memilih engine power sesuai yang di inginkan rider nya. Pas hujan bisa memilih “comfort mode” , power yang dikurangi dengan power delivery yang lebih smooth.
Bagaimana dengan design engine CBR250RR yang menurut bocoran menyemburkan peak power 38 hp pada putaran lebih dari 12000 rpm (at the crankshaft)?. Bisa jadi di 12250-12500 rpm. Yamaha R25 peak power di 12000 rpm, Ninja 250 FI 11000 rpm (sesuai advertisement). Faktor apa yang membuatnya lebih bertenaga sekitar 2 hp dari peak power Yamaha R25?
Perbandingan spek masing-masing engine:
All-new CBR 250RR : Bore 62.0 x stroke 41.4 mm, Valve In 24.5 mm-Ex 21 mm, Throttle Body 32 mm, Compression ratio 11,5:1.
Yamaha R25 : Bore 60,0 x stroke 44,1 mm, valve in 23 mm – ex 19,5 mm, throttle body 32 mm, compression ratio 11,6:1.
Kawasaki Ninja 250 FI : Bore 62.0 x stroke 41.2 mm, valve in 23,5 mm – ex 21 mm, throttle body 28 mm x2, compression ratio 11,3:1.
Valve intake-exhaust dari data spek di atas bisa kita lihat CBR250RR lebih besar 1 mm dari valve intake Ninja 250 FI. 1,5 mm lebih besar dari valve intake dan exhaust Yamaha R25. Hal itu memberikan efek volume airlfow sedikit lebih banyak dan secara cepat masuk ke ruang bakar pada putaran tinggi. Curva peak torque rpm sekitar 10000-10500 rpm dan mulai menurun pada rpm power puncak yang tercapai lebih dari 12000 rpm. Putaran power puncak CBR250RR tercapai sedikit lebih tinggi dari Yamaha R25 yang di 12000 rpm. Mungkin profil durasi dan valve lift camshaft yang beda.
Kemudian apakah itu membuat Yamaha R25 dan Kawasaki Nnja 250 FI menjadi kalah potensi?
Belum tentu mas Bro, karena itu tercapai di putaran maksimum lebih dari 12000 rpm. Sebagian besar motor di bawa di jalan raya dimana range rpm yang sering digunakan antara 2500-8000 rpm. Di ukur dari seberapa cepat kemampuan engine mendorong mulai putaran bawah ke tengah juga saat roll-on misalkan dengan gir transmisi 3 dari kecepatan 40 ke 60 km. Yang paling cepat akselerasi lebih ber potensi daily use di jalan raya.
Seperti yang sering dijelaskan semakin besar angka parameter engine semakin kuat menciptakan power output di putaran tinggi. Tapi segi negatifnya torsi yang jadi kurang galak di putaran bawah ke tengah karena lambatnya airflow yang masuk ke ruang bakar untuk membangun cylinder pressure. Valve intake CBR250RR yang oversize bisa jadi mempengaruhi gerak atau kecepatan airflow saat engine spin di rpm rendah.
Bore x stroke ketiga motor sama-sama oversquare atau short stroke. Engine akan tetap senang spin atau revving naik ke putaran tinggi. Meskipun Yamaha R25 dengan diameter bore yng lebih kecil dan stroke yang sedikit lebih tinggi. Bore dan stroke CBR250RR mirip dengan Ninja 250 FI. Stroke R25 yang lebih tinggi mempunyai mean piston speed sekitar 20,5 meter/detik pada kecepatan 14000 rpm. Sedikit lebih tinggi tapi masih aman.
Throttle body CBR250RR dan R25 sama-sama berdimeter 32 mm. Hanya Ninja 250 FI berukuan kecil 28 mm. Mungkin ini untuk tujuan mengejar tarikan bawah ke tengah yang lebih solid dan smooth dibandingkan dengan memakai throttle body lebih besar. 
Kompresi Statik piston CBR250RR 11,5:1, Yamaha R25 11,6:1 dan Ninja 250 FI 11,3:1. Perbedaan yang tidak begitu siknifikan.

carnews-beforward-jp

Yang terpenting BBM tetap memakai oktan tinggi demi kelangsungan hidup engine yang lebih lama dan sehat. Baiknya hindari pemahaman kalau kompresi statik nya tinggi maka kompresi dinamis jadi rendah dengan itu boleh meminum bbm ber oktan rendah. Benar kompresi dinamik jadi rendah tergantung dari profil camshaft, semakin besar durasi semakin rendah kompresi dinamisnya. Tapi jangan lupa bahwa cylinder pressure yang dibangun tetap mempengaruhi combustion pressure yang dihasilkan. Tekanan pembakaran (combustion pressure) 1000-1200 psi sangat besar, engine akan mudah detonasi atau ngelitik kalau diberi minum BBM ber oktan rendah, terutama pas udara sedang panas terik. Kompresi statik tinggi boleh memakai BBM ber-oktan rendah jelas pemahaman yang ngak tepat.
Downdraft inlet CBR250RR yang lebih vertikal dari motor lainnya memberi keuntungan lebih, hal itu saya belum tahu pasti. Karena engine dengan design downdraft carburetor sudah cukup lama eksis. Tahun 1985 Yamaha FZ750 Genesis engine sudah memakai design downdraft carburetor dan intake port. Dengan itu tiap pabrikan mempunyai alasan teknis sendiri berkenaan seberapa tegak sudut downdraft inlet yang di aplikasikan. Airflow yang masuk ke ruang bakar tidak hanya ditentukan seberapa tegak inlet port di cylinder head tapi juga bentuk dan volume airbox, panjang velocity stack, jarak air intake duct ke klep intake, diameter dan panjang inlet port dll.
Dengan bahasan diatas memberikan kesimpulan saya yang awam kalau engine Yamaha R25 dan Kawasaki 250 FI tetap memiliki potensi. Basis masing-masing engine dimungkinkan kalau ingin bertambah torsi dan power output di putaran tengah-atas. Ninja 250 FI dengan bore x stroke dan klep exhaust yang sama ukuran dengan CBR250RR dapat menambah performa dengan cara memperbesar atau mengganti throttle body misalkan dengan TB Ninja 300 size venturi 32 mm. Sama dengan ukuran TB CBR250RR dan Yamaha R25 yang juga 32 mm. Mengganti knalpot full system tipe free flow straight through. Pasang pyggyback yang ada di pasaran, tujuan fine tuning air/fuel ratio untuk menambah supply karena perubahan diameter TB dan full system exhaust yang cenderung akan lebih lean (kering). Itu sudah mendongkrak torsi & hp tanpa merubah banyak posisi powerband. Demikian pula Yamaha R25 yang berbeda tipis peak power dengan CBR250RR.
Kalau powernya naik sekitar berapa bagusnya konsultasi dengan pro engine tuner seperti rumah tuning Ultraspeed dan Sportisi yang biasa tuning motor-motor 250cc dan motor besar. Hasil modifikasi engine di test on dynamometer untuk lihat berapa pencapaian torsi/hp at the wheel. Kalau blogger seperti saya hanya mengira atau paling menghitung di atas kertas yang tidak tepat dengan kondisi real nya.
Rumus pamungkas mencari performa di putaran maksimum tidak lain gimana membuat airflow masuk sebanyak mungkin ke dalam ruang bakar (combustion chamber) dalam waktu sesingkat mungkin. Pada putaran 12000 rpm atau lebih semua proses kerja engine harus dilakukan secara ultra cepat. Dengan itu terbangun cylinder pressure yang menciptakan torsi besar.
Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

9 thoughts on “Setelah CBR250RR bagaimana dengan motor 250cc merk lainnya?

    Renhan said:
    Juli 29, 2016 pukul 6:51 pm

    Wah…saya yg asli awam jleb banget dg kalimat “Dengan bahasan diatas memberikan kesimpulan saya yang awam..” nice artikel om..😊😊

    Suka

    are wege said:
    Juli 29, 2016 pukul 8:48 pm

    Mantabs pak ulasannya

    Suka

    ArenaSepedaMotor responded:
    Juli 29, 2016 pukul 11:42 pm

    Sebenarnya sy hanya hobby aja, bukan pelaku ahli seperti engine tuner profesional. Paling cuma mengira atau coba-coba hitung di kertas yg pastinya gak tepat dg kondisi real fisik. Engine tuning itu harus dipraktekin dan banyak variable nya dari pada sekedar hitungan di atas kertas burem Pak 😀

    Banyak jam terbang melalui trial n error.

    Suka

    mandra said:
    Agustus 2, 2016 pukul 4:00 am

    artikel yang mantap dgn data teknis yg bikin mabok. hahahhaa
    awalnya agak kecele dgn judul artikelnya. saya kira akan membahas dampak market dari motor sport 250 cc. termasuk dampak penjualan, strategi dari rival dan perubahan standar untuk kelas 250 cc. ternyata pembahasan lebih ke detail keunggulan si new cbr dari rival.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Agustus 2, 2016 pukul 9:10 pm

      CBR250RR unggul aplikasi di fitur elektronik. Klau engine hampir gak beda banyak. Jdi rivalnya pun punya potensi kalau mau dinaikan HP nya.

      Suka

    hendrayong82gmailcom said:
    November 13, 2016 pukul 10:42 pm

    ada bbrapa kalimat diatas menyebutkan “Sebagian besar motor di bawa di jalan raya dimana range rpm yang sering digunakan antara 2500-8000 rpm”

    ini dia alasan 1-1nya saya lbh memilih motor 250cc ketimbang 600cc, kita hidup di negara yg selalu traffic, jadi baiknya beli motor yg cukup eksis, bertenaga dan tidak terlalu ngempesin kantong.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      November 14, 2016 pukul 9:23 am

      Bagusnya di rentang rpm segitu Pak. Kalau peak power misalnya tercapai di 12000-12500 rpm seperti R25 dan new CBR250R udh kurang ideal utk jalan di dalem kota yg penuh traffic. Karena daya dorong (transient torque) di rpm bawah ke tengah gak efektif mampu cepet akselerasi.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s