Pelajaran cuaca berlanjut di Sachsenring motogp 2016

Posted on Updated on

Sachsenring motogp 2016
Dalam lomba apakah itu balapan mobil atau motor pembalap akan menemui situasi kritis beresiko apabila ingin mendapat posisi yang bagus. Seberapa besar resikonya tergantung dari keadaan yang dihadapi saat itu. Ketika sang lawan memberikan perlawanan ketat maka membuat manuver yang beresiko tinggi harus dilakukan kalau ingin paling dulu mencapai garis finish dan keluar sebagai pemenang. Yang sering terjadi misalkan di lap dan tikungan terakhir menjelang memasuki limtasan lurus menuju garis finish, yaitu dengan late braking beberapa meter lebih jauh dari titik pengereman (brake marker) lawannya yang telah berada sedikit didepan dan mengambil line di sisi dalam atau sisi luar. Resiko motor akan overshoot mengarah ke sisi luar dan masuk ke gravel atau terjadi kontak fisik dengan motor lawan di apex kalau mengambil jalur sisi sebelah dalam tikungan. Bila manuver berjalan dengan mulus dia akan mencapai garis finish paling pertama. Tapi ada juga faktor lain yaitu power output engine di putaran atas. Kalau jarak garis finish cukup jauh dari tikungan akhir seperti di Mugello atau Losail, bisa jadi motor yang memiliki power output paling besar diputaran maksimum akan mencapai lebih dulu.
Situasi lainnya adalah disaat cuaca sedang tidak mau bersahabat alias hujan tapi kemudian setelah berjalan seperempat lomba hujan berhenti dan aspal lintasan berlahan mulai mengering. Sebelum lomba pembalap dan tim sudah putuskan ban apa yang tepat apabila kondisi itu muncul. Apakah memakai ban intermediate atau slicks dan kapan saat yang pas untuk box atau masuk ke pit mengganti motor?
Ban hujan (rain tyres) akan cepat degradasi kalau permukaan mulai kering. Temperatur meningkat panas mempengaruhi soft compound yang lebih soft dari pada soft compound ban slick. Alur kembang (grooves) pada ban hujan cepat terkikis atau terkelupas.
Pilihan pada ban intermediate untuk aspal sirkuit yang masih basah tapi sudah tidak ada genangan air (standing water). Dan pilihan ban slick untuk aspal racing line yang sudah kering tapi sangat beresiko kalau masih ada permukaan yang basah. Semua kembali kepada pilihan pembalapnya setelah di diskusikan dengan team.
Di awali Marquez mengalami kesalahan titik pengereman di tikungan 8 dan harus masuk ke gravel. Beruntungnya motor tidak tumpah dan bisa secepatnya keluar dari gravel trap yang cukup dalam dan kembali ke lintasan. Hal itu menurutnya disebabkan pada saat motor miring terasa ban depan (frontend) akan kehilangan grip dan terpaksa ia harus segera menegakkan posisinya untuk menghindari crash. Marquez memilih ban depan soft compound yang dianggapnya suatu kesalahan, dimana Rossi, Pedrosa, JL memakai extra soft. Ban hujan soft tidak cocok dengan riding style nya dan dia harus kerja keras sampai kesalahan itu terjadi.
Timing untuk box, masuk ke pit jauh lebih awal untuk mengganti motor merupakan penentu dari kesuksesan di race kedua Marquez. Tapi bukan berarti bebas resiko, racing line kering yang sempit dan sebagian besar masih basah menjadi musuh yang setiap saat bisa menjatuhkan motornya. Seperti yang diberitakan bahwa pilihan bukan pada ban intermediate melainkan ban slicks. ““For our team the intermediate doesn’t exist. We go from wet to dry”. Penjelasan Marquez terdengar full percaya diri tapi juga beresiko tinggi. Karena apabila ternyata di Race kedua itu hujan kembali turun maka sudah dipastikan akan menjadi sebuah bencana besar memakai ban slicks di atas genangan air.
Sepertinya mother nature berpihak ke Marquez, racing line cepat mengering yang memberikan grip kokoh ke ban slicks nya. Marquez dimungkinkan membangun speed makin cepat secara bertahap dan sukses mencapai garis finish menjadi juara 7 kali di Sachsenring. Suatu yang tidak mudah diwujudkan pada saat kondisi buruk seperti kemarin apabila tanpa disertai tekad pantang menyerah.
Bagaimana dengan Rossi yang sebenarnya memiliki chance besar masuk podium sekaligus memperpendek point klasemen dengan Marquez?
Di saat start dengan kondisi wet race Rossi terlihat kuat untuk berada di lini depan. Misalkan track tetap basah sampai akhir balapan peluang Rossi berada terus di depan Marquez akan bisa ia dapatkan mengingat Rossi dengan ban hujan lebih merasa nyaman dari Marquez. Hanya cuaca berkata lain lintasan berangsur kering. Kesalahan Rossi adalah terlalu lama masuk pit menganti motor dan memakai ban intermediate yang di akuinya tidak memberikan good feeling. Dengan ban intermediate menjadi lebih lambat 10 detik. Ban tidak memberi nya feedback. 
Semua telah terjadi atas perhitungan yang tidak tepat dan “The greatest of all time” terpaksa melepaskan chancenya merebut titel juara musim 2016 ini. Tapi seri balapan kedepan masih setengah jalan, dimungkinkan posisi menjadi terbalik walaupun kecil. Kecuali ada hal krusial terjadi kemudian.
Lorenzo memang memiliki problem di lintasan Sachsenring terutama saat basah. Sama seperti di Assen, tidak banyak  yang dia dapat lakukan waktu balapan berlangsung untuk mengambil posisi yang lebih baik. Kurangnya feel di ban depan menjadi hambatan utama. Ban hujan Michelin tidak memberi keuntungan seperti yang dia dapatkan dari rain tyres Bridgestone tahun lalu. Demikian pula ban intermediate bukan pilihan yang tepat menurutnya. Tidak mudah dengan riding stylenya memakai ban rain tyre dan intermediate Michelin.
Meskipun beda angka dengan Marquez menjadi 48 point, peluang JL lebih besar dari Rossi. Cukup satu kali crash yang menyebabkan cedera dapat merubah peta kekuatan secara drastis. Tahun 1992 sang Maestro GP500 2-tak Mick Doohan memimpin klasemen diatas motor legendaris Honda NSR500. Crash di Assen membuatnya cedera berat dibagian kaki dan harus lama menjalani penyembuhan. Chance nya hilang untuk menjadi juara dunia kemudian di ambil oleh pembalap brilliant Yamaha Wayne Rainey.
Tapi spekulasi dengan ban slicks dan kegigihan Marquez patut diberikan jempol di Sachsenring dan memberinya perolehan angka cukup siknifikan. Di atas kertas peluangnya jadi juara musim motogp 2016 cukup besar.
Bagusnya tikungan legendaris 11 “Waterfall” tidak banyak memberikan problem dengan ban Michelin. Tikungan kanan high speed gir 5 yang sangat beresiko crash kalau pembalap tidak extra hati-hati melewatinya. Dulu sebelum dirubah layout seperti sekarang, tikungan 11 bisa mencapai kecepatan lebih dari 240 km/jam yang tentunya cukup mengerikan kalau sampai terjadi crash karena kehilangan grip ban depan. Tikungan kiri 4 sampai 10 sebelumnya yang cukup panjang membuat sisi bagian kanan ban menjadi dingin kembali memasuki tikungan 11. Temperatur ban menurun mengurangi daya cengkram terutama dalam kecepatan tinggi.
Keluar dari topik, apa rasanya memacu motor di lintasan sirkuit yang masih basah? Untuk yang suka trackday seru sekaligus naikan adrenalin. Karena sedikit kesalahan bisa membuat motor dan kita sebagai rider tidur di aspal atau masuk gravel. Ban hujan (rain tyres) sangat jarang dan mahal, hanya tim yang biasanya punya. Rider yang trackday di Sentul biasanya cukup memakai ban road high performance yang mengandung unsur silika di compound nya untuk daya cengkram saat aspal basah. Seperti Bridgestone Battlax S20 Evo, Dunlop Sportmax Qualifier 2 atau Metzeler Sportec M7RR. Ban ini bagus untuk melintas di aspal basah pada kecepatan sedang maupun juga miring di tikungan. Tapi jangan dicoba memacu cepat kalau ada genangan air yang dapat berakibat hydroplaning.
Seberapa cepat? tergantung dari skill masing-masing rider. Yang sudah mahir biasanya akan mampu merasakan limit grip saat miring ditikungan yaitu ban depan terasa bergeser. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

4 thoughts on “Pelajaran cuaca berlanjut di Sachsenring motogp 2016

    are wege said:
    Juli 19, 2016 pukul 7:14 pm

    Di sanchering marc Dan pedrosa , masih pake sasis 2014,. Atw Sudah. Beralih ke sasis baru , ??

    Truss kenapa REPSOL HONDA tidak ikut test di redbul Austria.. sedangkan pabrikan lain ikut

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Juli 19, 2016 pukul 8:35 pm

      Second bike nya Marquez seperti diberitakan udh pakai chassis baru. Private test di Autria belum tau jga alasan kenapa gak partisipasi.

      Suka

        are wege said:
        Juli 19, 2016 pukul 9:42 pm

        Pak bahas tentang peraturan engine freeze pabrikan

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Juli 20, 2016 pukul 9:35 am

        Aturan engine freeze, di segel (sealed) dg kawat baja (wired) oleh Racing Director. Jadi semua engine yg udh di inspeksi dan disegel gak boleh dibuka bagian Head cover, crankcase cover. Tdk ada access utk buka bagian dalam (engine internals).

        Kedua rider tim pabrik masing-masing boleh memakai engine spec yg berbeda tapi gak boleh saling tukar.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s