Pelajaran cuaca di Assen motogp 2016 yang membuahkan drama

Posted on Updated on

Lorenzo Assen 2016
Nonton balap di sirkuit saat hujan akan berkurang rasa kecewa kalau bersama wanita idaman, tapi mungkin tidak untuk pembalap. Track yang basah membutuhkan ekstra kehati-hatian supaya motor terhindar tumpah ke aspal akibat highside atau lowside. Modulasi pengereman dengan tehnik trail braking benar-benar harus secara halus dan tepat untuk tidak sampai mengunci ban depan saat menikung. Motogp dengan power besar yang paling susah dikendalikan ketika akselerasi exit corner meskipun traction control meng-koreksi apabila ban belakang spin. Ban spin berlebihan dan kemudian highside bisa saja terjadi kapanpun.
Sejak qualifying hari Sabtu cuaca memang sudah tidak bersahabat dengan event motogp Assen 2016 yang pertama kalinya di balapkan pada hari Minggu. Semua mengharapkan dry race tapi itu tidak terjadi, mother nature menentukan sebaliknya untuk balapan motogp.
Dovizioso mencetak pole position dengan gap cukup lebar 0,7 detik terhadap Rossi di grid start kedua. Scott Redding meraih posisi start ketiga dan katanya mungkin bisa berada finish ke lima atau lebih tinggi kalau berani mengambil resiko.
Balapan diputuskan wet race dan dibolehkan ganti motor dengan ban slicks apabila lintasan berangsur kering. Seperti yang disebut di atas bahwa cuaca tidak mau bersahabat bahkan makin deras dan memungkinkan terjadi efek aquaplaning yang tentunya membahayakan. Ban hujan (rain tyres) yang memiliki banyak celah/alur (grooves) tidak akan sanggup membelah air apa bila terlalu tinggi genangan di lintasan. Intensitas air semakin banyak ditambah jarak pandang semakin buruk akhirnya Race Director memberhentikan balapan di lap 15 dengan mengibarkan red flag. Yonni Hernandez yang cukup berani menekan motor memimpin di depan akhirnya terpaksa masuk gravel di lap 11.
Balapan kedua dengan urutan grid start mengikuti posisi pembalap pada lap 15 yaitu terdepan Dovizioso kemudian Petrucci, Rossi, Redding dan Marquez. Genangan air (standing water) yang masih banyak di lintasan tidak dimungkinkan memakai ban intermediate. Pembalap sebagian besar memakai rain tyres dengan soft compound depan dan belakang. Artinya grip lebih lengket tapi dengan daya tahan yang lebih pendek.
Lorenzo terlihat paling merana kondisi nya di race pertama dengan berada pada posisi 19. Tapi setidaknya paling rasional karena tidak memaksakan menekan motor untuk lebih cepat disaat situasi tidak memungkinkan. JL merasa ban depan tidak memiliki grip saat pengereman, JL secara konstan menerima peringatan dari M1 nya bahwa dia berada di ambang mengalami crash. Sudah terpikirkan untuk stop dan memasuki pit, karena tidak ada gunanya meneruskan balapan di posisi 19 yang tidak akan mendapatkan point. Motornya semakin lambat dan merasa tidak aman mengingat jarak pandang yang sangat terbatas. Mencegah crash JL harus melambat terus.
Di race kedua memakai ban belakang soft compound dan sedikit genangan air JL merasa lebih baik tapi tetap paling lambat race pacenya di antara yang lain. “But the only thing I could do was try not to crash and finish the race in tenth place – that’s it”. Lorenzo dengan kehati-hatiannya untuk tidak crash berhasil naik ke posisi 10 dan mendapatkan point. Walaupun perolehan posisi lebih karena beberapa pembalap di depannya yang tumpah ke aspal.
Berbeda dengan JL, sang rain-master kali ini takluk oleh banyaknya riak genangan air di lintasan Assen. Tidak ada penjelasan yang lebih tepat selain Rossi yang justru kurang percaya diri (lack of confidence) kuatir posisinya terancam oleh Dovizioso maupun Marquez yang mencoba menyusulnya di race kedua. Rossi tidak play safe dan lebih memilih ambil resiko untuk defensive mempertahankan posisinya. Diakui nya dengan ban belakang soft compound memungkinkan memacu lebih cepat dari sebelumnya dengan hard compound di race satu. Keluar dari tikungan 9 Rossi dapat membuka gaz lebih awal mengakibatkan motor terlalu cepat sekitar 4-5km/jam memasuki tikungan 10 dan selanjutnya ban depan hilang grip lowside masuk gravel. Mendatangi tikungan dalam kecepatan melebihi ekspektasi yang seharusnya dikompensasi dengan melakukan pengereman lebih awal. Rasa kekuatirannya memberi kerugian kehilangan poin klasemen yang makin tertinggal. Pengalaman balap Grand Prix Rossi yang dikoleksi selama 20 tahun ini tersimpan di dalam memori tidak digunakan secara seksama.
Kegembiraan tentu merasuki Marquez yang berhasil menyelesaikan balapan Assen “crash free”. Kali ini dijalani dengan sikap tenang dan determinasi, tidak terpancing untuk menekan motor lebih cepat yang sangat beresiko. Marquez mengumpulkan point siknifikan pada klasemen kejuaraan dan bila di manage dengan baik maka dimungkinkan memimpin sampai seri terakhir dan meraih titel juara musim 2016.
Ya tentu masih terlalu awal karena masih banyak sisa seri kedepannya. Kesabaran dan perhitungan matang membuahkan hasil positif bahwa seri balapan Grand Prix tidak harus selalu ngotot untuk melewati garis finish paling terdepan.
Sejak balapan seri Catalunya RC213V Marquez telah mengalami perubahan cukup lumayan bagus. Set-up pada bagian elektronik dan exhaust system meningkatkan daya dorong (drive out) motor untuk akselerasi keluar tikungan dari rpm tengah. Marquez tidak terlalu kerepotan lagi seperti seri sebelumnya yang memaksa late braking supaya race pace RC213V tidak tertinggal oleh pembalap didepan. Hanya sisi negatif late braking secara terus menerus, temperatur ban depan makin panas dan cepat terkikis. Sekarang dengan akselerasi yang dapat lebih cepat Marquez tidak perlu kerja keras seperti sebelumnya. Demikian pula chassis 2014 yang memberikan rasa confident dan juga feedback dari frontend motor yang lebih baik dibandingkan chassis baru. Sepertinya set-up ini akan dipertahankan sampai akhir musim balap. 
Balapan Assen tahun 2016 tidak diwarnai pertarungan epic antara Rossi dan Marquez. Kali ini rule of the game nya ialah rider yang paling dingin pikirannya sedingin cuaca Assen diwaktu hujan yang akan menguasai lomba “its a mind game”. Demikian Bro sekalian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

17 thoughts on “Pelajaran cuaca di Assen motogp 2016 yang membuahkan drama

    are wege said:
    Juni 28, 2016 pukul 12:03 am

    Gmn pak, menurut anda , rcv 213 sudah ada kemajuan kah? Setahu saya honda ketolong MARQUEZ

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Juni 28, 2016 pukul 3:34 am

      Sepertinya RC213V Marquez ada peningkatan performa sejak di Catalunya. Ada banyak tikungan kecepatan rendah dengan gir 2 dan motor bisa akselerasi exit corner dengan cukup cepat.

      Misalkan belum ada perubahan tentu akan kerepotan akselerasi keluar tikungan dan perlu late braking memanfaatkan momentum memasuki tikungan seperti di Le Mans yg tentunya beresiko.

      Suka

        are wege said:
        Juni 28, 2016 pukul 4:20 pm

        Tapi saya lihat kemaren di assen marc MARQUEZ dgn rcv nya, masih belum bisa melawan m1 Dan desmo, pak..

        Kalo catalunya banyak yg memperkirakan rcv tertolong karena , perubahan lay out SIRKUIT, sejak insiden salom ..

        Suka

        are wege said:
        Juni 28, 2016 pukul 4:39 pm

        Saya tahu dia (Valentino) cepat dalam kondisi tersebut (hujan), tetapi mentalitas menjadi faktor penting pada kondisi seperti itu. Tim mengatakan kepada saya ‘Marc tolong selesaikan lomba!’,” katanya.

        “Saya mencoba mendorong kecepatan (menjadi lebih cepat), Valentino juga demikian. Namun dia (Rossi) mendorongnya terlalu jauh, sehingga akhirnya dia jatuh,”

        Apakah ini bukti marc hanya menjalankan instruksi, saja. Gak seruu YAAA”..

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Juni 28, 2016 pukul 5:33 pm

        Menurut saya dengan perubahan layout baru, tikungan menjadi lebih lambat dan akan merugikan apabila belum ada perubahan pada engine RC213V. Motor akan kesulitan akselerasi exit corner dari rpm bawah -menengah karena kurang daya dorong/torsi.

        Sebelum dirubah, layout tikungan 12 pada level medium speed corner dengan gir transmisi 3. Motor walaupun kurang torsi di rpm tengah tetap bisa melesat cepat dg memanfaatkan momentum akselerasi yg telah dibangun saat keluar dari tikungan 11 sebelumnya yg lebih lambat.

        Terlihat RC213V Mrquez sanggup akselerasi cukup cepat di lay out tikungan 12 yg baru, dg itu bisa di perkirakan motor sdh mengalami peningkatan performa akselerasi dari tikungan kecepatan rendah gir 2.

        Sebenarnya Ducati juga ada kelemahan akselerasi dari rpm bawah-tengah mirip RC213V. Motor dengan top speed paling kenceng pasti punya kekurangan akselerasi dari low-mid rpm. RC213V kalau diliat top speednya lebih tinggi dari M1. Jadi power output RC213V sebenarnya kuat di rpm atas seperti Ducati. Hanya itu tadi, torsi utk mendorong motor akselerasi keluar dari tikungan kecepatan rendah kurang ada tendangan nya.

        Kalau balapan hujan memang beda, tidak perlu power dan torsi Pak. Motor open-class yg mak power nya 10-20 hp lebih rendah dari motor factory dan satelit dimungkinkan jadi juara kalau si pembalapnya bisa presisi membawanya. Marquez menurut sy sdh benar tdk terlalu ngotot menekan, yg penting finish dan dpt point. Sebaliknya Rossi yg jauh lebih bnyk pengalamannya ternyata malah tdk percaya diri kuatir disusul dan akhirnya crash.

        Suka

        are wege said:
        Juni 28, 2016 pukul 11:37 pm

        Tapi kenapa marc marquez mengomentari, bahwa test di montmelo belum ada peningkatan Dan perkembangan.. sedangkan hrc sudh membawa muffler baru, arm baru

        Bagaimana dengan karakter sanchering, bisa kah rcv ,menaklukannya

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Juni 29, 2016 pukul 12:21 am

        Mungkin untuk mencapai optimal belum, tapi sdh ada kenaikan performa akselerasi. Misalkan belum ada perubahan saat di Catalunya pasti Marquez akan kesusahan utk exit corner dg cepat terutama dari tikungan kecepatan rendah dg gir 2.

        Perubahan pada exhaust system bisa sedikit membantu merubah karakter powerband engine. Misalakn pipa header ke pipa kolektor diperpanjang sedikit supaya curva torsi maksimum berubah. Powerband digeser sedikit ke putaran lebih rendah dg itu akselerasi dari low ke mid rpm nya lebih kuat. Hanya tentu ada kompensasi power output di putaran atas akan berkurang.

        Memang seperti itu, harus ada pilihan oleh tim. Kalau ingin power output besar dan top speed maks di putaran atas maka torsi di rpm rendah-tengahnya jdi kurang kuat. Mungkin karakter engine M1 yg paling tepat diantara motor lain. Torsi dari putaran bawah ke tengahnya kuat dan mencapai top speed nya juga efektif walaupun kalah dg Ducati dan Honda. Karena mencetak fastest lap itu bukan paling kenceng top speed di lintasan lurus, tapi gimana motor balance, stabil dan cepat in/out dari tikungan.

        Karakter Sachsenring yang medium dan high speed flowing corner akan lebih memberi keuntungan Marquez. Karena disini tdk bnyk memerlukan akselerasi dari rpm rendah-tengah. Mungkin hanya di tikungan 1 kecepatan rendah dg gir 2. Selebihnya tikungan medium speed dg gir 3-4 dan high speed gir 5 di tikungan legendaris 11 waterfall.

        Suka

    are wege said:
    Juni 29, 2016 pukul 3:29 am

    Prediksi di sanchering gmn pak? Kira2 pedrosa MAMPU berada di barisan depan kah

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Juni 29, 2016 pukul 2:10 pm

      Chance Pedrosa utk juara di Sachsenring tetap ada. Disini pembalap akan test performa ban Michelin, apakah bisa memenuhi riding style masing2.

      Layout sirkuit yg unik dg tikungan ke kiri mulai dari 4 sampai 10 yg panjang gak terputus dan berlanjut tikungan high speed 11 ke kanan. Konsekwensi yg dihadapi setelah tikungan kek kiri yg panjang membuat bagian sisi sebelah kanan ban menjadi dingin kemudian motor melintasi tikungan kanan dg kecepatan tinggi gir transmisi 5 yg tentu beresiko. Disini diperlukan ketepatan dterminasi supaya tdk crash.

      Suka

        are wege said:
        Juni 29, 2016 pukul 10:54 pm

        Bagaimana peluang rc213v dgn Marc marquez??banyak prediksi yg bilang bahwa sanchering cocok UNTUK HONDA..??? Bila dilihat dari permasalahan, rc213v saat ini ,… bisakah menaklukan sanchering???

        Bagaimana peluang m1 sendiri ?? Lebih punya peluang ke Rossi atw lorenzo dgn riding style mereka

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Juni 29, 2016 pukul 11:41 pm

        Udh dijawab di atas Pak. Sachsenring yg di dominasi oleh medium-high speed flowing corner akan sesuai dg powerband RC213V. Peluang Marquez tentu tinggi disitu.

        Problem lemot nya akselerasi RC213V dari rpm rendah-tengah sdh sedikit mengalami perbaikan.

        RC213V power output di putaran atasnya besar mendekati Ducati, maka itu top speed nya di trek lurus lebih tinggi dibanding M1. Problemnya pada torsi dari putaran rendah-tengah yg kurang kuat tarikannya. Motor akan mengalami masalah kalau melewati tikungan yg radiusnya tdk lebar, kecepatan rendah gir 2 atau 1. Kalau melewati tikungan kecepatan sedang-tinggi (med-high speed) gir 3-4 atau 5 tdk ada masalah. Jdi bisa kita lihat layout sirkuitnya apakah memiliki banyak tikungan kecepatan rendah misalnya hairpin,chicane atau radius yg sempit, atau tikungan lebar med-high. kalau Sachsenring lebih di dominasi oleh tikungan medium-high.

        Kalau Lorenzo mungkin kurang begitu berperan di Sahcsenring dibanding Rossi.

        Suka

        are wege said:
        Juni 30, 2016 pukul 12:24 am

        Mksh pak atas ulasannya , menyenangkan kalau membahas motogp

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Juni 30, 2016 pukul 1:50 pm

        Siip sama-sama Pak

        Suka

        are wege said:
        Juni 30, 2016 pukul 5:28 pm

        Direktur Repsol Honda, Livio Suppo mengklarifikasi bahwa tudingan para pembalap mengenai anak emas itu tidaklah benar. Livio Suppo menyampaikan hal itu diwawancara setelah seri Assen selesai.

        Ya, tudingan Pedrosa saat itu adalah Honda lebih mengutamakan Marquez. Setiap ada masukan, pasti Marquez lah yang dianggap benar daripada pembalap lain. Juga, perkembangan dari Motor RC213V adalah mesin yang ditentukan Marquez.

        Namun, hal itu secara mentah-mentah dibantah oleh Livio Suppo. Livio menganggap semua rider di Honda itu sama, tidak ada yang dibeda-bedakan.

        “Tidak ada “anak emas” di Honda. Semua pebalap, termasuk Cal, meminta kami mengurangi power mesin. Honda menciptakan mesin dengan mengikuti masukan yang diberikan seluruh pebalap Honda. Kami melakukan uji coba di Jerez untuk membandingkan mesin.” ucap Suppo

        Hanya saja memang mesin Honda lebih bekerja baik di Marquez, namun tidak ada hal lain dibelakang itu.

        Meskipun begitu, hal seperti ini memang sudah wajar selalu disebut-sebut oleh pembalap. Karena dari sebuah tim, tidak menutup kemungkinan pasti ada rider yang lebih kuat dibandingkan yang lainnya.

        “Namun wajar-wajar saja bila pebalap lain seperti Dani merasa ragu, karena mesin kami ternyata cocok dengan gaya balap Marc. Meski begitu, saya rasa mesin kami bekerja dengan baik untuk semua pebalap. Honda berusaha meningkatkan performa motor untuk semua pebalap, tak hanya Marc,

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Juni 30, 2016 pukul 7:27 pm

        Power output RC213V tahun 2015 dianggap oleh pembalap agresif power delivery dari putaran tengah ke atas. Kemudian tahun ini dirubah yg ternyata kontra produktif jga, yaitu akslerasi exit corner kurang kuat.

        Memang seperti itu kalau karakter engine belum tentu akan cocok utk semua pembalap. Mungkin penyesuaian Marquez persentase nya lebih tinggi dibandingkan Pedrosa. Riding stylenya bisa lebih memanfaatkan yg dikeluarkan engine.

        Suka

    welah dalah said:
    Juni 30, 2016 pukul 6:24 pm

    mau tanya pak, dmna perbedaan sasis rcv 2014,2015,dan 2016? dan mengapa sasis 2014 dianggap marc lebih pas.
    saya cari2 refrensi tp belum ketemu
    mungkin bapak bisa memberi pencerahan.terima kasih

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Juni 30, 2016 pukul 7:08 pm

      Biasanya perbedaan dari faktor geometry dan fleksibilitas Pak. Pengaruhi terhadap handling saat di tikungan dan pas waktu akselerasi keluar tikungan. Juga untuk meredam engine brake yg berlebihan. Hal itu disesuaikan dg besarnya torsi dan power output engine. Banyak variable nya sy gak faham detailnya seperti apa.

      RC213V Marquez tahun 2015 kemarin masalah karena terlalu besar engine brake yg membuat susah dikendaliakn waktu deselerasi menuju tikungan. Kemudian chassis 2014 digunakan yg katanya lebih fleksibel. Engine brake bisa sedikit diredam

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s