Persaingan satu tim dan efek domino Lorenzo di motogp 2017

Posted on Updated on

Motogp Qatar FP 2016

2015 Maverick Vinales Suzuki GSX-RR

Dalam dunia balap target utama adalah meraih kemenangan dengan cara mengalahkan pembalap yang menjadi rivalnya. Kadang rivalnya itu adalah teammate yang kebetulan memiliki skill bagus dan akan menjadi lawan kuat di lintasan sirkuit. Musim balap GP500 1996 Mick Doohan memiliki teammate yang beberapa kali menjadi pesaingnya yaitu Alex Criville yang sama-sama membawa Honda NSR500.
Juga di balap Formula satu tahun 1988-1989 antara Alain Prost dan alm Aryton Senna dengan mobil Mclaren Honda.  Dan musim balap F1 2014-215 antara Nico Rosberg dan Lewis Hamilton sama-sama di tim Petronas AMG Mercedes. Sekedar selingan sebenarnya dari tahun 1970 an ukuran skala perusahaan Pertamina lebih besar dari Petronas Malaysia. Kalau saja dikelola secara baik dan profesional dimungkinkan sekarang ini sudah seperti Petronas atau malahan melewati.
Karena membawa motor atau mobil yang secara tehnis hampir sama, dengan itu performa yang dikeluarkan kedua motor atau mobil itu akan mirip.
Migrasi nya Lorenzo ke Ducati cukup mengejutkan bagi penggemar motogp karena bisa jadi tidak diperkirakan sebelumnya atas pertimbangan prestasi Lorenzo masih di level prima dengan Yamaha M1. Di nilai sebagai “the best motogp bike 2015”.
Rivalitas dalam satu tim memang penuh dinamika karena ada dua kubu yang mempunyai kekuatan yang hampir mirip. Kedua pembalap memiliki strategi yang berbeda supaya bisa mengalahkan dan menjadi lebih unggul yang tentunya di dukung oleh segenap crew. Data setup motor yang memberi keuntungan pada satu pembalap mungkin saja di copy oleh teammatenya untuk di bandingkan dengan setup motornya. Sampai cara bagaimana teammatenya memilih titik pengereman (brake marker), titik belok (turn-in point), transisi dari pengereman trail braking ke titik mulai buka gaz di apex untuk akselerasi keluar tikungan, pakai gir transmisi berapa di chicane, semua itu diperhatikan sebagai bahan referensi untuk mengalahkannya.
Lorenzo mungkin ingin meninggalkan persaingan dalam satu tim itu yang sudah cukup lama mengganggunya. Meskipun juga harus meninggalkan motor yang sudah melekat kuat bersinergi dengan insting balapnya selama ini. Rumah dan kendaraan baru berarti ada masa waktu untuk mempelajari dan beradaptasi. Ducati adalah motor yang powerful dan sejak datangnya Gigi Dall’Igna berubah menjadi motogp machine yang lebih mudah dan optimal dibawa terutama melesat di tikungan. Hanya jaminan akan membawa Lorenzo merebut titel juara dunia lagi perlu pengujian dan pembuktian. Tapi setidaknya sudah ada motor yang di atas kertas sanggup.
Perpindahannya juga mempengaruhi peta pembalap di grid motogp karena ada efek domino dari situ. Ducati harus memilih siapakah dari kedua pembalapnya yang pantas menemani Lorenzo nanti dan pilihan jatuh pada Andrea Dovizioso. Tapi kenapa Dovizoso bukannya Andrea Iannone? Bukannkah Iannone “the Maniac” memiliki semangat yang kuat, agresif dan determinasi yang efektif dengan itu sanggup naik podium dan menekan pembalap tim factory lainnya?
Alasannya bisa jadi kalau Iannone yang jadi pilihan sebagai teammate Lorenzo akan membawa rivalitas lagi yang tentunya Lorenzo hindari situasi itu. Dovizioso yang juga memiliki determinasi tinggi, konsisten dan tenang akan lebih cocok untuk menjadi teammate JL dan pertimbangan pada kejeliannya membantu pengembangan motor Desmosedici.
Dengan berhembusnya berita kedatangan Lorenzo ke Ducati, intensitas rivalitas antara Iannone dan Dovizioso tidak seperti sebelumnya lagi, makin memanas. Masing-masing ingin memperlihatkan yang terbaik dan supaya tetap bisa berada di perguruan balap Ducati Corse. Tapi beberapa kali Iannone membuat kecerobohan yang merugikan tim Ducati. 
Maverick Vinales memutuskan pilihannya untuk tetap di Suzuki atau pindah dan akhirnya Yamaha M1 ditunjuk sebagai motornya di musim 2017. Disayangkan oleh Suzuki dimana Vinales bisa jadi ada peluang maju berkembang membuat sejarah bersama-sama di grid motogp. Partisipasi Suzuki pertama kali full season tahun 2015 yang lalu bisa dibilang cukup bagus, kedua pembalap konsisten sering masuk 10 besar. Musim 2016 ini lebih baik lagi dengan masuk di posisi lima dan enam. Tapi Vinales melihat peluang lebih besar menunggu di tim juara dunia Yamaha factory. Berharap akan mendatangkan keadaan yang semakin baik lagi menjadi pembalap top level motogp.
Tim Yamaha ada Rossi dan akan menjadi Kapten untuk dua tahun kedepan. Tapi bisa jadi keadaan sebaliknya misalkan Vinales makin cemerlang membawa M1 dan performa Rossi justru menurun karena usia. Kembali lagi keputusan final memang di pembalap yang bersangkutan tim mana yang sekiranya paling cocok.
Suzuki mungkin akan memilih Iannone menggantikan Vinales seperti yang disarankan oleh juara GP500 1993 Kevin Schwantz dengan Suzuki RGV500 2-tak. Iannone masih memiliki tahun-tahun terbaik kedepan dan membawa motor dengan sikap dan kesungguhan menurutnya. Demikian Bro sekalian kira-kira efek domino Lorenzo di musim motogp 2017 wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

4 thoughts on “Persaingan satu tim dan efek domino Lorenzo di motogp 2017

    are wege said:
    Mei 17, 2016 pukul 12:15 pm

    Karakter vinales mirip lorenzo.POTENSI konflik lagi sm Rossi

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 17, 2016 pukul 12:28 pm

      Bisa iya bisa juga tidak. Kalau Vinales makin kuat dg M1 dan Rossi menurun race pacenya, maka konflik bisa terhindar. Konflik terjadi klau kedua rider sama-sama kuat.

      Suka

    nduk said:
    Mei 18, 2016 pukul 1:42 am

    maaf sy curiga taktik vr saat sudah tua ,u/ mengurangi resiko jatuh dan cedera dia “lepas” sesi fp walo pernah star 1 , liat pas sesi FP ogah2an tapi saat race semangat ,saat akan race atap warm up pagi ,” tiba2″ dpt settingan , jng2 lirik sttingan JL,nah ini mungkin salah satu yg tidak disuka jl walo sah krn 1 tim, asik ni 2017 sebrp bisa vr tanpa jl, sdgkan jl tanpa beban anak baru sesekali juara seri mayan ,blunderkah Ymh racing ,demi promosi,hilangkan prestasi , perjudian mv…

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 18, 2016 pukul 9:09 am

      Sekarang JL dan Rossi udh share data motor, tdk seperti waktu 2010 dulu. Kalau pindahnya Lorenzo mungkin karena persaingan satu tim kemudian merasa kurang di apresiasi titel juara dunia musim 2015 oleh Yamaha dan coba tantangan baru dg merk motor lain.

      Rossi dan JL beda riding style, jadi seting suspensi dan elektroniknya juga gak sama. Jl yang lebih awal titik ngerem nya dan gak begitu hard braking untuk masuk corner. suspensi tdk begitu tertekan kuat saat ngerem dan masuk tikungan.

      Rossi lebih brake late dan hard braking, suspensi lebih tertekan maka seting compression dan rebound di fork dan rear shock lebih keras supaya tetap ada travelnya untuk meredam guncangan saat masuk tikungan. mungkin ukuran per nya juga beda.

      Mereka masing2 punya ahli dari Ohlins yang menangani suspensi motor.

      Mungkin Yamaha tetap ingin Lorenzo gak pindah, tapi keputusan kembali ke yg bersangkutan

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s