Ada apa dengan Repsol-Honda RC213V 2016?

Posted on Updated on

Marquez test sepang 2016 feb

Tumpahnya Marquez di Le Mans 2016 mengusik penggemar motogp, kira-kira sebesar apa problem yang dihadapinya?
Marc Marquez tidak berlebihan kalau dibilang talenta balapnya istimewa di kelas premier motogp. Tahun pertama sebagai Rookie langsung berhasil meraih juara musim 2013, meskipun terpaut hanya 4 point dengan Jorge Lorenzo yang menempati posisi kedua klasemen. Dan kemenangan borongan di musim 2014 ada yang menilai karena Lorenzo dan Dani Pedrosa sedang dalam kondisi tidak fit setelah mengalami cedera. Dengan itu relatif tidak ada musuh yang kuat menjadi pesaingnya saat itu.
Walau bagaimanapun menyabet titel juara dunia di tahun pertama nya dengan Honda RC213V “the best and the most balanced motogp bike on the grid” adalah suatu prestasi yang luar biasa yang di impikan setiap pembalap-pembalap pemula.
Kemudian di musim balap 2015 muncul suatu yang tidak terduga, motor yang sudah membawa nya sukses juara dunia dua kali berturut-turut menjadi berlawanan dengan insting balapnya. Motor yang tidak lagi menurut, handling nya berubah, susah di stir dan di prediksi. Ketika deselerasi menuju tikungan motor cenderung slide tidak terkontrol karena engine brake yang berlebihan. Kemudian saat mulai buka throttle melewati apex di mid-corner ban belakang cenderung spin atau ban depan wheelie yang tentunya memberi efek negatif terhadap kecepatan akselerasi. Motor RC213V tidak lagi bersahabat dengan Marquez tidak lagi sikron dengan determinasi, feeling maupun rekleks nya. Beberapa kali Marquez crash yang akhirnya mengharuskan mundur dari Grand Prix contender.
Power delivery dan engine brake yang agresif menjadi penyebabnya, dimana elektronik dan sofware pabrikan Honda kurang berhasil menjinakkan. Harapan ada perubahan di musim 2016 engine menjadi normal, motor kembali mudah dikendarai dan cepat seperti di musim balap 2013.
Pembukaan seri awal di Sirkuit Losail Qatar Marquez menempati posisi ketiga setelah Andrea Ianonne crash. Sehabis balapan keluhan yang dilontarkan adalah motor kurang akselerasi atau daya dorong (drive out) yang cepat keluar tikungan. Mengikuti kedua motor Desmosedici apa lagi overtaking memerlukan upaya yang gak mudah. Lorenzo memenangkan race podium satu dan topspeed nya 340,8 km/jam, masih dibawah Marquez yang mencapai 342,7 km/jam. Meskipun top speed Marquez lebih tinggi hanya dirasakan akselerasi motor kurang cepat mencapai topspeed yang membuatnya kerepotan untuk tetap berada di grup.
Kemudian di Le Mans berulang lagi mengalami kurangnya daya dorong yang cepat keluar tikungan mengharuskan Marquez menarik tuas rem (brake lever) di titik pengereman (brake marker) yang tidak biasanya, yaitu pada titik lebih dalam lagi mendekati pintu corner. Marquez benar-benar brake late setiap akan memasuki tikungan. Temperatur ban semakin naik dan menerima konsekwensi lowside, grip ban depan tidak lagi mampu menahan beban. Marquez tentu faham konsekwensi nya tapi saat itu tidak ada jalan lain terpaksa cara tersebut dilakukan meskipun beresiko. Karena tanpa brake late lebih dalam race pace nya akan tertinggal dari Dovizioso dan merosot kebelakang.
Demikian pula diakui Pedrosa posisi finish ke empat lebih pada beberapa pembalap didepannya mengalami crash. Menurut Pedrosa problem mendasar adalah kurangnya akselerasi atau kemampuan meng-aplikasikan power. Engine sebenarnya tidak kekurangan power karena pada gir empat, lima dan enam motor akselerasi dan menambah kecepatan. Asumsinya apakah di grip atau wheelie atau power delivery atau perubahan pada delivery yang menjadi issue penyebab. Sirkuit Le Mans dianggapnya memiliki lebih banyak titik untuk akselerasi dan itu memberi efek negatif.
Pedrosa kesulitan menjaga race pace nya dibelakang tim satelit Yamaha dan Suzuki akibat kurang daya dorong. Mengejarnya tidak lain melalui cara brake late lebih dalam seperti yang dilakukan Marquez hanya kendala pada grip ban depan yang kurang bagus. Sampai kemudian tanki bbm semakin menipis, grip mulai bisa bertambah lagi tapi semua sudah terlambat karena menjelang akhir balapan dan terlalu jauh dengan grup di depan. Pedrosa lebih hati-hati mensikapi situasi dengan tidak menekan lebih dari kemampuan ban.
Dari Pedrosa bisa asumsikan engine RC213V sebenarnya kencang hanya di faktor akselerasi terletak kelemahan. Wheelie yang berlebihan atau perubahan power delivery yang berakibat spin dapat mempengaruhi kecepatan akselerasi, memperlambat lap time. Tertinggal 0,1 detik di tiap tikungan akan menjadi masalah besar selama balapan. Pertimbangannya bisakah elektronik dan unified software menghandle atau mereduksi karakter negatif tersebut?
Belum lagi persoalan pada karakter ban depan Michelin yang masih susah diprediksi. Batasan grip maksimum sudah sampai dimana belum semua pembalap mampu merasakan isyarat karena minimnya feedback.
Honda adalah tim juara dunia seperti juga tim Yamaha sebenarnya sudah faham bagaimana membangun motogp machine yang balance yaitu ketepatan pada chassis dan suspensi, engine yang kuat tangguh tapi dengan karakter power delivery yang tidak agresif. Dulu Mick Doohan dan Jeremy Burges sudah memberi input ke HRC bahwa motor dengan topspeed tinggi hanya digunakan sekali tiap lap yaitu pada lintasan lurus. Yang paling diperlukan adalah motor dengan kemampuan akselerasi cepat setiap keluar tikungan dan itu menentukan kemenangan. NSR500 awalnya adalah motor GP500 yang powerful tapi agresif kemudian di tangan Mick Doohan berubah menjadi motor yang lebih balance mudah untuk dibawa melesat cepat.
Problem engine yang muncul di musim 2015 apakah karena didasari pertimbangan harus membangun power output yang lebih kuat lagi dari sebelumnya?  Mengingat motor Ducati yang sudah semakin powerful dan kencang.
Bila tarik kesimpulan apakah permasalah sekarang yang menerpa karena salah perkiraan para engineer HRC sebelumnya ketika menentukan parameter engine RC213V 2016? Ironis nya kalau boleh dibilang problem seperti di musim 2015 maka ini adalah tahun kedua HRC salah memperkirakan. Problem sebelumnya engine yang agresif tapi powerful sekarang engine yang sedikit lemah saat motor membangun kecepatan atau akselerasi. Sedangkan tidak diperbolehkan lagi diadakan re-tuning engine selama musim balapan.
Mudah-mudahan ada solusi efektif untuk menyelesaikan problem dalam waktu dekat. Demikian Bro sekalian penggemar motogp wassalam dan salam sejahtera.

 

Iklan

17 thoughts on “Ada apa dengan Repsol-Honda RC213V 2016?

    nduk said:
    Mei 13, 2016 pukul 1:38 am

    Mantap om ulasannya , regulasinya mudah berubah pengembangan ya di sunat, pembalap mulai pada dlosor, nah ini mungkin yg dimaksud balapan yg menarik versi dorna hi hi

    Suka

    are wege said:
    Mei 13, 2016 pukul 1:08 pm

    Honda terperangkap aturan ? Engineer honda banyak salah prediksi? Atw Marc MARQUEZ TIDAK bisa MENGEMBANGKAN motor?
    HRC TIM BESAR TERPURUK TERLALU LAMA GAK BAGUS.
    SETELAH SERI MUGELLO TDK ADA PERKEMBANGAN,,, MARC DI PREDIKSI PINDAH TEAM.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 13, 2016 pukul 2:17 pm

      Harusnya tim sebesar Honda yg berpengalaman banyak mengantongi juara dunia sdh ada solusi sebelum musim 2016 start, tdk seperti sekarang ini.

      Suka

    ArenaSepedaMotor responded:
    Mei 13, 2016 pukul 2:01 pm

    Mungkin HRC salah perkiraan di engine 2016 yg ternyata masih memunculkan masalah. Gak tau jga pertimbangannya apa sebelumnya.

    Marquez sepertinya bukan tipe rider yg bisa develop motor seperti Doohan, Rossi dan Stoner. Tapi HRC sdh membuat RC213V th 2013 yang cocok dg Marquez, karakter power delivery yg pas. Hanya belum tentu jga akan cocok dg ECU & unified software 2016 sekarang.

    Kalau pindah menurut sy jngn dulu, nanti kalau Marquez sdh juara 3 x dg Honda baru pindah, seperti Rossi dulu, setelah 3 kali juara baru ke Yamaha…..

    Suka

      are wege said:
      Mei 13, 2016 pukul 2:24 pm

      Kalo track muggello..nampaknya YAMAHA masih berjaya. Dengan lorenzo.. Atw DUCATI yg akan tampil luar biasa.

      Honda masih SULIT di track ini

      Suka

    ArenaSepedaMotor responded:
    Mei 13, 2016 pukul 2:50 pm

    Kalau Mugello banyak tikungan kecepatan sedang dan tinggi, fast flowing tikungan radius lebar jdi gak terlalu banyak akselerasi dari rpm bawah, sedikit lebih cepat dari Losail.

    Menurut Pedrosa RC213V punya power utk mencapai topspeed, hanya akselerasinya kurang galak. Bisa jdi Marquez dan Pedrosa di Mugello strateginya akan menjaga rpm engine tetap tinggi di tikungan supaya bisa membantu akselerasi lebih cepat.

    Kemungkinan permasalahan akselerasi yaitu tendangan torsi dari putaran bawah ke tengahnya yg agak lemot, tpi begitu masuk ke rpm tinggi bisa cepat.

    Semoga aja di Mugello engineer HRC udh bisa perbaiki kekurangan nya

    Suka

      are wege said:
      Mei 13, 2016 pukul 6:13 pm

      Seri mugello ini MENJADI PENENTUAN bagi Marc Dan pedrosa..

      Yg gw denger2 isunya..salah satu dari mereka akan keluar..itu kalo HONDA gak ada perkembangan…

      KALO SALAH COBA DI KLARIFIKASI..
      KECUALI TAkeo berani jamin Dan rayu mereka..mungkin nih ya..HONDA lebih suka kehilangan pedrosa.. tapi gak ada yg tau perkembangan nantinya.. Miller ,Alex rins, Rabat, quatrararo…itu dipersiapkan jauh2 hari utk gantikan Marc… Bila dia pindah dari REPSOL..

      Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Mei 13, 2016 pukul 7:10 pm

        Secara masa bakti kerja Pedrosa yg sdh cukup lama di Honda, dimungkinkan pindah tim. Kalau Marquez belum dan Honda pasti akan pertahankan, jga tdk ada factory tim yg tersedia yg pas utk dia kecuali Suzuki.

        Suka

    Anak Rant0 said:
    Mei 13, 2016 pukul 5:41 pm

    @min, katanya mesin RCV 2016 d bangun dg backward rotating crankshaft, yaitu perputaran crankshaft yg berlawanan dg arah putaran roda, kalo emg benar apa ada hubungannya dg performa RCV sekarang.

    Suka

    Anak Rant0 said:
    Mei 13, 2016 pukul 6:43 pm

    @min, katanya RCV 2016 dikembangkan dg sistem backward rotating crankshaft, yaitu perputaran crankshaft yg berlawanan arah dg putaran roda. Kalo benar sprt itu apa ada pengaruhnya thd performa RCV sekarang.

    Suka

    Anak Rant0 said:
    Mei 13, 2016 pukul 6:45 pm

    @min, katanya RCV 2016 dikembangkan dg sistem backward rotating crankshaft, yaitu perputaran crankshaft yg berlawanan arah dg putaran roda. Kalo benar sprt itu apa ada hubungannya dg performa RCV sekarang.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 13, 2016 pukul 7:36 pm

      Backward rotating crankshaft sama seperti Yamaha M1 dan sdh di aplikasi dari dulu Pak. Keuntungannya mengurangi gyroscopik efek, motor lebih gesit dan mudah bermanuver ditikungan dan di chicane. Jadi harusnya lebih mudah lgi dari sebelumnya. Juga mengurangi atau meredam motor wheelie katanya. Hanya dalam aplikasinya perlu extra countershaft di engine. Engine jdi sedikit lebih berat dan juga mengambil power output utk menggerakknya.

      Sepertinya masalah RC213V 2016 pada keputusan HRC mengurangi sedikit power output engine. Melihat engine 2015 sebelumnya yg agresif di area engine brake. Tapi ternyata gak tepa terlalu siknifikan berkurangnya membuat akselerasi jdi lebih lambat saat keluar tikungan.

      Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 13, 2016 pukul 7:52 pm

      Factory tim yg udh pakai backward atau reverse rotating crankshaft : Suzuki, Ducati dan Aprilia kemudian Honda.

      Suka

    welah dalah said:
    Mei 14, 2016 pukul 8:49 pm

    ada pendapat yang menyatakan yamaha lebih dulu mengenal magneti mareli ketimbang honda, kalo iya seberapa besar pengaruhnya pak?

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 14, 2016 pukul 9:48 pm

      M1 pakai Magneti Marelli ECU tapi software nya dari in house Yamaha. Sekarang ECU dan software nya seragam dari Magneti Marelli.

      Problem engine RC213V kan muncul di musim 2015 dan itu masih pakai software in-house HRC. Jdi mungkin dg aplikasi spec ECU dan software 2016, bukan penyebab kurang cepat akselerasi. Penyebabnya bisa jdi karena perubahan parameter internal engine 2016 yg ternyata tdk sesuai dg rencana atau ekspektasi.

      Walupun jga dg design backward rotating crankshaft bisa memberi sedikit kontribusi berkurangnya power output engine. Tapi tentu engineer HRC sdh faham sekali dan meng-antisipasi efek negatif itu.

      Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 14, 2016 pukul 10:02 pm

      Waktu dg ban Bridgestone Marquez bisa brake late dan ngerem pol sampai masuk tikungan secara tepat dan gas keluar tikungan dg cepat seperti style nya stop n go di tikungan kecepatan rendah. Kemudian di musim 2015 gak bisa di praktekan karena problem engine brake yg agresif. Tahun ini repot lgi karena engine sedikit lambat akselerasi keluar tikungannya di tambah karakter ban depan Michelin yg gak bisa dibawa seperti ban Bridgestone sebelumnya yaitu brake late dan hard braking untuk menciptakan fast lap time.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s