Lorenzo sapu bersih di Le Mans motogp 2016

Posted on Updated on

Motogp Le Mans 2016

Menambah sudut kemiringan motor dua derajat sudah cukup membuat Dovizioso lowside, demikian pula ban depan Marquez menyerah karena mencoba brake late lebih dalam lagi saat akan memasuki tikungan.

Setelah problem ban depan di Austin dan berlanjut ban belakang spin berlebihan di Jerez, kembali beberapa rider mendapat hadiah lowside karena grip ban depan hilang secara tiba-tiba tanpa permisi terlebih dulu. Ianonne tumpah di lap 11, Dovizioso dan Marquez di lap ke 16, di lini depan tersisa Lorenzo, Rossi yang terpaut gap cukup lumayan kemudian Maverick Vinales dan Pedrosa.
Terjadi begitu banyak insiden apakah memang masih ada permasalahan tersebut yaitu pada struktur dan compound ban depan yang memberi kontribusi beberapa rider tim factory dan satelit kehilangan grip? Tapi bagaimana dengan Lorenzo yang berhasil selamat sampai finish dan meraih posisi podium satu?. Jawaban yang tentu nya gak mudah kecuali dengan ber spekulasi.
Untuk pendekar motogp sekelas rider tim factory papan atas menjadi targetnya adalah melesat secepat mungkin di lintasan sirkuit, terutama melewati tikungan. Gimana cara mengais sekian milidetik lebih cepat dari rivalnya dengan mem-push motor di tiap tikungan dan itu bukan pekerjaan yang mudah. Mewujudkan nya rider perlu pendukung dan salah satunya adalah feedback atau isyarat dari ban depan sebagai referensi mengukur sudah sampai dimana kira-kira batas nya. Rider akan mengetahui apabila menambah sedikit saja lean angle motor atau juga bukaan throttle yang sedikit lebih banyak di tikungan tersebut dapat memberi konsekwensi buruk yaitu tumpah ke aspal.
Unik nya ban Bridgestone seperti diakui para pembalap dapat memberi sinyal atau isyarat ke rider apa bila kemampuan grip ban depan sudah mencapai limit, tapi tidak dengan Michelin. Ban depan Michelin kurang pada area ini, rider kesulitan merasakan batas maksimum grip. DNA Michelin tetap sama kata Rossi yaitu kurangnya feedback. Insiden tumpah beramai-ramai di Le Mans yang tidak lain rumah nya Michelin mungkin jadi preseden buruk.
Seperti Iannone jelaskan bahwa dia merasa race pace nya mampu kompetitif terhadap Lorenzo. Pada awal lap tiga dan empat motor di push lebih cepat dari saat dia crash dan tidak mengalami apa-apa. Ketika sudah mulai mendekati Lorenzo dia memutuskan tidak perlu menekan motor lebih kuat untuk mendekatkan gap karena saat itu Lorenzo lebih lambat dari nya. Tapi kemudian terjadi insiden dan Iannone merasakan keanehan, tidak bisa menjelaskan penyebabnya apa. Crash terjadi dalam kecepatan yang sebenarnya lebih lambat dari kecepatan di lap-lap sebelumnya.
Berbeda dengan Iannone pembalap utama Repsol merasa problem ini lebih pada upaya nya brake late dan hard braking. Diakui Marquez bahwa RC213V mengalami defisiensi kurangnya daya dorong akselerasi keluar tikungan yang membuatnya kerepotan mengikuti Ducati dan Yamaha. Untuk kompensasi hilangnya waktu saat akselerasi exit corner dengan cara mengambil titik pengereman (brake marker) yang lebih dalam lagi juga titik belok (turn-in point) lebih mendekati pintu corner. Tentunya bukan berarti tidak ada sisi negatif yaitu beban berlebihan diterima ban depan dan akhirnya harus menyerah.
Problem Marquez sebelumnya di musim 2015 engine brake RC213V terlalu agresif dan ban cenderung spin atau motor wheelie ketika akselerasi keluar corner. Karakter tersebut menyumbang beberapa kali crash. Power delivery Engine 2016 ini lebih linear hanya kemudian muncul problem kurangnya akselerasi. Yang menjadi kekuatiran adalah problem tidak bisa diperbaiki karena peraturan yang tidak membolehkan engine di utak-atik lagi selama musim balapan berlangsung (engine frozen). Mungkin bisa menjadi hambatan Marquez terutama di sirkuit yang cukup panjang lintasan lurusnya dan tikungan kecepatan menengah. Sangat frustasi katanya kehilangan waktu ketika akselerasi dan tidak bisa mengikuti motor di depannya di trek lurus.
Objektif Honda adalah power output digdaya diputaran atas tapi kadang memberi karakter power delivery tidak linear, handling motor menjadi kurang stabil saat entry dan exit corner. Engine 2016 menghilangkan karakter agresif tapi kemudian datang dilema dimana akselerasi tidak efektif karena perubahan parameter engine tersebut.
Dovizioso yang bersamaan crash dengan Marquez juga memberi alasan kesalahan terletak pada dirinya. Mendekati tikungan terlalu melebar kemudian melakukan kompensasi dengan menambah sudut kemiringan motor (lean angle) dua derajat dan itu sudah cukup membawa motornya jatuh ke aspal sirkuit. Susah untuk merasakan limitnya dimana, dengan menambah tekanan sedikit lebih banyak pada ban depan dan selanjutnya hilang grip.
Menurut Dovizoso Ducati memiliki keunggulan pada faktor kecepatan dan itu penting di motogp. Tapi masih kurang konsistensi karena terlalu banyak menggunakan energi untuk lebih cepat tapi mengikis banyak ban belakang. Dengan itu harus diadakan perubahan strategi. Topspeed Ducati yang unggul hanya masih kalah sedikit dengan Yamaha di tikungan. Ini yang dimaksud Dovizioso dicarikan strategi supaya performa motor dimungkinkan lebih cepat melewati tikungan.
Beberapa pembalap masih belum sepenuhnya membangun feel untuk mengukur limit ban depan Michelin, masih terbawa oleh feel yang lama. Juga respon elektronik sekarang berbeda di bawah level software dan perangkat elektronik factory yang digunakan pada musim balap sebelumnya ditambah lintasan aspal Le Mans yang bergelombang (bumps) banyak tambalan (patches), memang sudah seharusnya di upgrade. Semua hal detrimental tersebut memberi kontribusi terhadap kejadian-kejadian itu.
Sementara ini kedua rider Movistar Yamaha yang lebih sukses meng-antisipasi permasalahan yang muncul di Le Mans dari pada rider yang lain. Lorenzo menjadi yang tercepat saat qualifikasi memperlihat kesiapannya bertarung dengan strategi keluar dari grup setelah start dimulai dan selanjutnya optimalkan pace menjaga jarak dengan Rossi dibelakangnya sampai akhir balapan. Titik pengereman yang tepat dengan tehnik trail braking dan dengan smooth transisi membuka throttle akselerasi keluar corner sambil tetap konsisten menjaga supaya tidak terlalu memberi beban berlebihan pada ban depan menjadi kunci Lorenzo. Demikian Bro sekalian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

11 thoughts on “Lorenzo sapu bersih di Le Mans motogp 2016

    are wege said:
    Mei 9, 2016 pukul 7:11 pm

    Honda terpuruk . marc MARQUEZ pusing

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 9, 2016 pukul 7:49 pm

      Honda engine mapingnya salah perhitungan spertinya. mudah2 an aja bisa di perbaiki

      Suka

        are wege said:
        Mei 9, 2016 pukul 8:27 pm

        Engine kan sudah di segel..sudah TIDAK bisa di acak2 lagi ,

        Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 9, 2016 pukul 8:51 pm

      Daleman engine memang gak boleh di utak-atik Pak. Jalan lain walaupun terbatas melalui seting air/fuel ratio di ECU.

      Tapi Marquez tetap punya potensi di beberapa sirkuit yg dia sebelumnya kuat

      Suka

        are wege said:
        Mei 9, 2016 pukul 9:04 pm

        Nampaknya haanya mesin v engine HONDA aj yg gak cocok.sm ecu magneti mareli

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Mei 10, 2016 pukul 7:43 am

        Problem akselerasi kurang cepat bukan karena ECU dan software. Lebih kepada parameter mekanis engine yang berbeda lagi dari engine sebelumnya seperti profil camshaft, size throttle body, size klep in/ex, panjang velocity stacks, volume airbox dll.

        Musim 2015 power output di putaran atas nya mantap, tapi power delivery di putaran tengah kurang smooth, juga engine braking. Utnk 2016 mungkin sdh dirubah, hanya jdi kurang tarikan waktu akselerasi keluar corner dan topspeed yg sedikit lebih lambat.

        Ini tergantung dari engineer gimana menentukan power output dan karakter engine yg tepat. Tidak terlalu over power dan juga kurang power. Seperti yg dikatakan Dovizioso, Ducati punya topspeed tapi ada kecenderungan mengikis ban belakang. Ban spin karena power besar di putaran tengah dan atas,

        Suka

        are wege said:
        Mei 10, 2016 pukul 10:16 am

        Marc MARQUEZ akankah pindah dari REPSOL mengingat dia sudah ultimatum.
        Hrc belum.menemukan solusi

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Mei 10, 2016 pukul 10:44 am

        Seperti nya gak ya kalau sampai pindah tahun depan. Marquez rider emas nya Honda dan belum ada pengganti. Pastinya HRC kedepan upaya terus mungkin dengan penyempurnaan set-up chassis dan suspensi supaya motor bisa lebih stabil dan cepat lagi masuk tikungan untuk kompensasi akselerasi keluar corner yg kurang tarikan.

        Mungkin dia akan rubah sedikit tehnik ngerem nya, misalkan titik pengereman (brake marker) yg lebih awal seperti Lorenzo kemudian trail braking secara smooth tanpa memberi beban banyak ke ban depan menuju tikungan

        Suka

        are wege said:
        Mei 10, 2016 pukul 5:36 pm

        Kle masalah nya di Ban (lost grip) kenapa pak Suppo kirim amandemen ke MSMA agar peraturan pembekuan develop mesin ingin dicabut spy team2 dikasi kesempatan utk riset hal baru utk peningkatan performa?

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Mei 10, 2016 pukul 6:54 pm

        Problem utamanya memang bukan di ban Pak, walaupun memang masih ada kurangnya. Masalah yg dihadapi seperti Marquez katakan adalah akselerasi dan topspeed yg kurang. Livio Suppo ingin diadakan amandemen aturan engine frozen. Mungkin aja dikabulkan atau juga tidak.

        Gak tau jga antara tim engineer dg Marquez gimana interaksinya? apa inputnya bisa di realisasikan sesuai keinginan rider?

        Jaman Mick Doohan, input benar2 harus diusahakan seperti keinginan rider. Doohan sangat teliti dan akan memaksa atau berlawanan dg HRC kalau motor NSR500 sampai gak sesuai keinginannya.

        Kita liat aja di seri berikut, apa akan masih jadi problem

        Suka

    are wege said:
    Mei 9, 2016 pukul 9:06 pm

    Gak seru kalo MARQUEZ terpuruk..kaya gak ada yg bisa kasih perlawanan ke lorenzo

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s