Cerita Lorenzo di jalan Ducati

Posted on Updated on

LORENZO_PI
Musim balap 2016 bisa dibilang tahun revolusi motogp yaitu ada perubahan cepat sepeti waktu dulu saat perpindahan motor GP500 2-tak ke motogp 4-tak yang berbeda karakter. Perubahan di musim 2016 bukan untuk menembus lap time semakin cepat lagi tapi lebih kepada efisiensi ongkos balap dan gap supaya lebih kompetitif antara tim privateer dengan tim factory terutama tim pabrikan raksasa Honda dan Yamaha.
Penurunan level performa elektronik dengan software dan ECU seragam (unified) mengharuskan pembalap kerja lebih banyak untuk menghemat grip ban belakang. Demikian juga perbedaan karakter ban Michelins dengan ban Bridgestone sebelumnya menurut Rossi tidak boleh ada error di tikungan. Dengan Bridgestone sedikit kesalahan bisa di koreksi tapi tidak dengan Michelin. Kesalahan kecil ketika motor miring harus dibayar dengan kehilangan grip ban depan. Setidaknya untuk sementara karena Michelin kedepannya tentu akan selalu berupaya meningkatkan kekurangannya selama ini.
Menarik untuk di analisa pada pembukaan musim balap 2016 seri pertama di Losail Jorge Lorenzo mencetak lap time 1 menit 54.927 detik, dimana fastest lap Rossi pada tahun 2015 pada sirkuit yang sama 1 menit 55.267 detik. Dengan ban Michelin dan unified software Jorge lebih cepat 0.3 detik dari Rossi dengan ban Bridgestone dan software/ECU pabrikan tahun lalu. Dari situ terlihat dimungkinkan sekali dengan unified software dan ban Michelin performa motogp tidak menurun seperti yang diprediksi.
Migrasi Lorenzo ke Ducati tahun 2017 memberi cerita yang cukup menjadi perhatian kita sebagai penggemar motogp. Boleh dikatakan pada puncak kariernya yang dirintis selama ini melalui jalan Yamaha secara tiba-tiba akan dibelokkan ke jalan Ducati. Ibarat kalau di dunia persilatan niat mencoba jurus-jurus pamungkas ciptaan perguruan dimana selama ini menjadi rival nya. Jorge melihat ada potensi yang menjanjikan untuk merebut titel juara dunia dengan motor Ducati. Apa lagi Ducati sejak ditangani oleh Gigi Dall’Igna telah meningkat siknifikan, Dari motor kenceng di lintasan lurus tapi susah di ajak kompromi kalau di tikungan menjadi motor yang lumayan balance mampu memberi tekanan terhadap pembalap-pembalap pabrikan Honda dan Yamaha dan juga ngak kalah penting Dall’Igna sudah dikenalnya sejak di jaman membawa Aprilia GP250.  
Menurut Paolo Ciabatti (Ducati Racing Director) bahwa merekrut Lorenzo adalah bagian dari rencana besar Ducati selama ini. Sebenarnya Stoner diminta untuk berperan merebut lagi titel juara musim tapi Stoner enggan untuk membalap full time lagi. Rencana besar itu di mulai dengan meyakinkan Gigi Dall’Igna untuk bergabung dengan Ducati. Kemudian mendesign dan membangun motor Ducati dari awal  “from the scratch” dan mencari rider juara dunia untuk menjadi jockey. Pembalappembalap yang selama enam tahun kebelakang telah sukses meraih titel adalah Casey Stoner, Lorenzo dan Marquez.
Gigi sebelumnya berada di tim Aprilia dan selama menetap disana sukses membawa menjadi juara dunia GP250 dan balapan WSBK. Dengan superbike istimewa Aprilia RSV4R Factory dalam kurun waktu enam tahun partisipasinya telah berhasil menyabet titel juara musim sebanyak tiga kali. Suatu pencapaian yang luarbiasa dalam waktu cukup singkat. Semua prestasi itu hasil tangan dingin Gigi Dall’Igna.
Ducati GP15 sekarang tidak lagi seperti motor pada saat dibawa oleh Rossi dimana memiliki struktur chassis berlainan dengan motor Honda dan Yamaha menurut Juan Martinez Crew Chief Nicky Hayden di Ducati. Engine terlalu besar dan tidak cocok dengan tipe chassis yang dipakai tersebut membuat motor susah dikendarai terutama di tikungan, tapi sekarang semuanya sudah baru.
Upaya Gigi Dall”Igna meyakini Jorge juga memiliki andil keputusan pindah ke Ducati dan keduanya tetap memiliki hubungan baik sejak Jorge pindah dari tim Aprilia GP250 ke tim Yamaha factory. Jorge memberi apresiasi bahwa Gigi adalah sosok yang genius dan selalu sukses apapun pabrikannya. Jadi relatif mudah antara kedua nya untuk bekerja sama dalam satu tim lagi.
Lorenzo akan mencoba test motor barunya setelah musim 2016 selesai menjelang akhir tahun. Motor akan diadaptasi sesuai dengan riding style Lorenzo dan Gigi yakin bahwa Lorenzo akan mengendarai motor Ducati dengan cara yang tepat, karena Lorenzo jenius katanya.
“We will have to adapt a little bit the bike for [Lorenzo’s] riding style, but also I’m sure that he can ride the bike in the proper way. Because he is a real genius”
Bukan perkara mudah bagi seorang yang sudah melekat kuat bersinergi dengan motor nya karena telah terbangun skill balap sedemikian rupa selama bertahun-tahun. Sukses beberapa kali menjadi juara dunia, mencetak fastest lap dan lap record kemudian beralih ke motor lain yang berlainan kepribadian dan karakter. Maka itu Lorenzo menyebut perpindahannya “one of the toughest he has ever had to make”.
Meskipun seperti itu ada hasrat cukup kuat untuk meraih titel juara dunia motogp dengan motor berlainan merk pabrikan. Ada keinginan untuk mengikuti jejak seperti Giaccomo Agostini, Eddie Lawson, Rossi dan Casey Stoner. Setidaknya seperti Agostini dengan MV Agusta dan Yamaha, motor Italia dan Jepang. Hasrat ini salah satu alasan Jorge meninggalkan Yamaha yang menurutnya selalu membuat motor ber-evolusi dan kemungkinan besar menciptakan Yamaha M1 yang lebih powerful lagi seperti yang dia inginkan kedepannya.
Kepergian Jorge diakui Lin Jarvis membuatnya kecewa setelah delapan tahun bersama-sama. Tidak disangkal kontribusi terhadap tim selama ini dan kepergiannya menjadi saat yang menyedihkan. Jorge jelas melihat stimulus baru katanya. Dengan motor dan tim baru memberinya aura atau pancaran motivasi dan tantangan yang berlainan.
Tapi itu di musim tahun 2017 sementara ini rencana besar Jorge tidak lain adalah mempertahankan titel dan mengantongi lagi juara dunia motogp 2016 yang tentunya dia punya kemampuan dengan Yamaha M1 seperti telah dia pertunjukkan di tahun-tahun sebelumnya.
Dan jok Yamaha M1 yang ditinggalkan Jorge akan diduduki oleh pembalap berbakat Maverick Vinales. Vinales dengan motor Suzuki mampu meraih beberapa kali start di grid depan, memperlihatkan skill balap yang menakjubkan. Dengan Yamaha M1 tidak diragukan akan semakin bertambah cepat race pace di tiap sirkuit. Dan masuknya ke tim factory Yamaha bisa jadi menjadi perkara besar dalam karir balap Vinales. Walaupun sementara itu untuk tim Suzuki menjadi kontra-produktif dengan kepergiannya. Setelah bersama-sama membangun motor dari permulaan melalui trial & error untuk menjadi lebih kompetitif. Hanya tidak disangkal semangat Vinales menjadi juara dunia perlu tim yang lebih kuat berpengalaman dan motor balance. Motor itu adalah Yamaha juara dunia yang selama ini menjadi impiannya. 
Lure of the lire Italia dengan jumlah nominal tentunya sangat banyak mungkin menguatkan daya tarik Jorge untuk pindah ke Ducati. Selain juga faktor rasa kekecewaan kurangnya apresiasi terhadap titel juara dunia 2015 yang dia peroleh akibat terkena imbas perseteruan panas Rossi dan Marquez di 2015. Dianggap titel juara tersebut ada aroma kontroversial, cukup wangi tapi kurang enak rasanya. Demikian wassalam dan salam sejahtera.

 

Iklan

2 thoughts on “Cerita Lorenzo di jalan Ducati

    welah dalah said:
    April 23, 2016 pukul 12:15 pm

    kalau prediksi om sendiri apakah riding style lorenzo cocok dengan karakter mesin ducati?
    mungkin bisa di buat artikel terpisah

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      April 23, 2016 pukul 1:31 pm

      kalau dengan set-up sekarang sepertinya belum cocok pak. motor perlu set-up yang berbeda utk jorge seperti yg diucap dall’Igna. dan lorenzo akan kasih input seperti apa set-up yamaha m1 nya yg mungkin bisa di aplikasi di ducati. dari faktor geometry chassis, suspensi dan elektronik. mesin utk musim 2017 mungkin akan baru

      jorge bukan tipe hard braking seperti dua pembalap ducati. dia ngerem lebih awal dan masuk tikungannya cepat dan smooth dg memanfaatkan momentum speed. jadi gak membuat fork tertekan banyak karena hard braking

      karakter power delivery engine m1 linear di rpm tengah membuat jl mampu buka gaz utk akselerasi cepat di pertengahan corner atau sebelumnya, tanpa kuatir ban spin terlalu banyak karena dorongan torsi. mungkin ini yg akan di set-up sama tehnisi ducati utk menyesuaikan dg riding style lorenzo

      kalau bahan-bahan yg lebih detail udh ada, boleh juga dibuat artikelnya nanti

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s