Motor sport-tourer elegant dan kenceng BMW K1200S

Posted on Updated on

BMW K1200S 2006

BMW K1200S

Rider suka melakukan perjalanan jauh, turing bersama-sama teman komunitas biasanya memilih motor tipe sport-tourer untuk jadi tunggangannya. Dengan pertimbangan motor akan memberikan kenyamanan lebih karena memiliki riding position tegak dan sudut kaki yang lebar. Untuk perjalanan panjang si rider tidak akan mengalami atau setidaknya mengurangi rasa pegal dimana biasanya menerpa di bagian pinggang, pergelangan tangan dan kaki.
Motor sport-tourer terdiri dari beberapa kelas mulai dari 150cc, 250cc seperti CBR250R, Ninja 250 FI. Kemudian dikelas middleweight CBR500R, Ninja 650, Honda VFR800 dan dikelas hypersport seperti Kawasaki Ninja 1000 SX, Suzuki GSX-S1000F. Ada lagi kelas dengan kubikasi nya diatas 1 liter atau 1000cc yaitu Kawasaki Concours 1352cc.

Kawasaki telah menjadi pelopor motor sport-tourer dengan topspeed tercepat mengaburkan mata sejak diluncurkannya Ninja pertama GPZ900 tahun 1984 dan berlanjut di ikuti berbagai model yang muncul. Tahun 1990 Ninja ZZR-1100 atau ZX-11 dengan kubikasi 1052cc menjadi motor sport-tourer pertama menembus “warp speed” 283 km/jam. Akselerasi 0 sampai 400 meter ditempuh dalam 10,1 detik, sangat fenomenal waktu itu.

BMW K1200S swing arm

Akrapovic full exhaust system carbon fiber canister menaikan power dan torsi di rpm tengah-atas. Velg belakang lebar 6 inchi memakai ban 190 untuk memperkuat grip ke aspal

Tidak saja Kawasaki, pabrik mobil dan motor Bavarian Motoren Werke aka BMW juga mempunyai sport-tourer cepatnya yaitu K1 produksi tahun 1988 dengan bentuk sangat aerodynamik. Body K1 cukup menarik berbeda dengan sport-tourer lain yaitu spakbor menutupi setengah area frontend. Dan pada bagian seat kiri dan kanan terdapat box ter-integrasi memberikan kesan seperti horizontal stabilizer seperti terdapat pada bagian belakang pesawat terbang. Kemudian K1200GT tahun 2003 dan K1200S tahun 2005. Berhenti di sport-tourer K1200S karena motor ini yang akan dibahas.
BMW K1 canariasenmoto

1988 BMW K1

Sabtu pagi mendapat kesempatan untuk test ride salah satu motor sport-tourer BMW yang mendapat perhatian oleh publik penggemar motor waktu itu tahun 2004, yaitu all-new BMW K1200S. Kebetulan saya punya majalah Motor Cyclist tahun 2004 yang terdapat artikel BMW K1200S. Dengan itu ada bahan untuk dituliskan selain test ride yang saya lakukan.

BMW K1200S A

Fork design BMW dual lever front end seperti Hossack fork menyambung ke strut menggunakan shock merk WP. Engine yang miring kedepan 55 derajat menjadikan center of gravity sangat rendah. Pelumasan memakai sistim dry-sump membuat bagian bawah engine menjadi rata tidak ada oil pan.

Dengan segera karena rasa penasaran dan ngak sabar untuk membawa motor ini, Helm dan sarung tangan langsung dipakai. Setelah duduk di atas jok motor terasa tidak tinggi karena alas sepatu masih bisa menapak semua. Motor ini memiliki ketinggian jok (seat height) 820mm, lebih rendah sedikit dari Kawasaki Z800. Engine di start dan menyala tanpa ragu-ragu, terdengar suara cukup besar, nge-bass dari tabung canister Akrapovic carbon fiber tanpa Db killer. Jadi tanpa memakai Db killer meskipun tabung canister lumayan besar, tetap tidak bisa meredam suara engine Inline 4 cylinder 1157cc DOHC dengan 4 klep per cylinder nya.
Masuk ke gir transmisi satu terdengar suara mekanis yang cukup keras. Gearbox K1200S dengan tipe cassette yaitu sistim begitu efisien karena bisa dilepas dari crankcase. Seperti juga kebanyakan gearbox motor lain, gearbox K1200S juga menggunakan tipe constant-mesh gear dan dog clutch. Dengan gir satu motor terasa ringan bergerak dari posisi stop. Pindah upshift ke gir dua juga mudah walaupun perlu sedikit upaya di kaki dan tetap terdengar suara mekanis dari gerabox.

BMW K1200S Combustion Chamber

Antara valve retainer dan camshaft lobe ditempatkan cam follower yang sangat ringan, mirip rocker arm. Mengurangi beban gesek ke arah samping (sideways swiping force), per klep akan tetap stabil di rpm tinggi. Forged piston dan crankshaft digunakan untuk kekuatan dan daya tahan. Masa air flow yang masuk ke ruang bakar menimbulkan inertia pada rpm tinggi dan akan makin efisien dengan posisi intake yang tegak 

Motor langsung saya bawa meluncur di jalan yang sudah cukup ramai juga di daerah Jakarta Selatan. Kalau aja lebih pagi dimungkinkan untuk menekan gaz lebih banyak karena lalu-lintas masih sepi. Tapi tidak apa-apa karena tetap dimungkinkan untuk akselerasi cepat dalam jarak pendek. Gir tiga sudah lebih dari cukup menelusuri jalan dan engine responsif apa bila kita ingin roll-on menaikkan kecepatan dengan menambah bukaan throttle.  
Engine K1200S menyemburkan power output 160 hp @10250 rpm, maksimum torque 129 Nm @8250 rpm. Pada putaran 3500 rpm engine dengan kapasitas 1157cc sudah mempunyai nyali untuk mendorong motor dengan cepat sampai menyentuh redline di tachometer.
Sengaja melewati jalan antara Carrefour Lebak Bulus dan outer-ring road yang biasanya sepi untuk test akselerasi jarak pendek dengan gir transmisi satu dan dua. Ketika mulai buka throttle di gir satu ban belakang sedikit spin, motor meluncur kuat. Tapi di pertegas lagi begitu melewati putaran 7000 rpm maka akselerasi yang sudah cepat itu berubah menjadi sangat-sangat cepat. Engine memasuki powerband dan horsepower yang tersimpan jadi terlepas keluar dengan galak. Torsi maksimum K1200S di atas torsi maksimum motogp tercapai pada putaran 8250 rpm. Torsi maksimum motogp sekitar 110-115 Nm di putaran sangat tinggi 14000 rpm. Jadi torsi K1200S ini sanggup menendang lebih brutal dari torsi motogp di rpm yang jauh lebih rendah. Dan mayoritas torsi garang sudah menyembur keluar mulai pada rentang 3500 rpm.
Engine dengan beringas tapi smooth revving sampai 11000 rpm sebelum limiter bekerja dan saya sibuk konsentrasi melihat jalan didepan apakah tetap aman untuk melesat terus dan pindah (upshift) ke gir dua. Memasuki gir dua engine tetap pada powerbandnya, motor melesat dengan gagah perkasa membangun speed dan horsepower. Tapi saya sudahi tidak dilanjutkan sampai rpm puncak mengingat terlalu kenceng untuk di jalanan itu. Kemudin rpm direduksi dan pindah ke gir tiga tanpa ngotot.
Akselerasi dengan gir satu mencapai lebih dari 100 km/jam pada putaran 11000 rpm, di teruskan gir dua dimungkinkan menyentuh 155-160 km/jam. Yang dirasakan adalah sensasi dorongan sangat kuat seperti biasa terasa menarik pergelangan tangan dan bahu. Tarikan makin besar ketika powerband mengambil alih di putaran 7000-8000 rpm. Pada saat akselerasi di jalan raya sangat disarankan tidak sibuk melihat ke dashboard untuk melihat kecepatan motor, karena konsentrasi akan terbagi yang tentunya kurang baik demi keselamatan. Dan harus dipastikan jalan sepi didepan dari kendaraan.
Dijelaskan juga di review tester luar negeri, potensi engine yang istimewa rider dapat menggunakan gir enam pada kecepatan rendah 48 km/jam (30 mph) kemudian menaikkan kecepatan tanpa harus pindah ke gir lima (downshift). Cukup hanya membuka throttle dan torsi kelas berat akan mendorong kuat motor melesat kedepan menambah speed.
Daya pengereman K1200S cukup efektif dan ringan, mampu mengurangi kecepatan seketika dalam jarak relatif pendek. Menggunakan ABS integral system, caliper BMW menjepit disk brake berukuran 320 mm. Tuas rem depan secara otomatis meng aktivasi juga caliper belakang bersamaan. Distribusi tekanan rem terhadap ban depan dan belakang dalam setiap kondisi memungkinkan situasi jadi lebih mudah bagi rider pada saat menemui jalanan licin.
Suspensi depan tidak memakai tipe telescopic, melainkan dua sambungan parallel memberikan respon yang sensitif dan juga presisi. Bentuk cukup unik tapi efektif bekerja meredam goncangan pada kecepatan tinggi. Swingarm single sided paralever ciri khas BMW dan digerak melalui kopel atau driveshaft.
Engine Inline 4 cylinder TWIN-CAM 16 valve benar-benar luarbiasa powerful. Memiliki kompresi statik tinggi 13 : 1 maksimumkan tekanan pembakaran (combustion pressure). Ukuran bore 79 mm x 59 mm, oversquare artinya senang revving menyentuh lebih dari 11000 rpm. Throttle body size 46 mm pada tiap cylindernya cukup mensupply kebutuhan airflow sampai rpm maksimum.
Berlainan dengan DOHC tradisional penggerak klep atau valvetrain memakai bucket, K1200S menggunakan finger follower yang terletak diantara ujung batang klep dan camshaft lobe. Keuntungannya mengurangi beban tekanan ke arah samping (sideways swiping force) juga bersamaan lebih ringan.
Untuk mencapai center of gravity yang rendah engineer BMW menrancang cylinder block pada sudut 55 derajat miring ke arah depan. Dengan posisi dan sudut engine seperti itu wheelbase harus dipanjangkan menjadi 61,9 inchi. Wheelbase lebih panjang memang kurang gesit bermanuver di tikungan, tapi ada kelebihan motor tidak cenderung wheelie kalau akselerasi kuat. Bisa dibayangkan kalau wheelbase seperti Kawasaki Z800 56,8 inchi dan torsi puncak sebesar 129 Nm, alamat motor akan berpesta wheelie setiap kali gaz dibuka pol.
Handling meskipun bobot motor K1200S tercantum 248,1 kg (547 lbs) yang tentunya berat. Lebih berat 19 kg dari bobot Kawasaki Z800, tapi bobot berlebihan itu tidak terasa pada saat motor berhenti dan berjalan. Menikung pada kecepatan 60-70 km/jam bisa dibilang mudah dan cukup cepat. Dengan menggerakkan badan ke arah yang kita tujukan motor merespon miring mengikuti badan kita. Juga rolling pada kecepatan rendah melewati jalanan dimana terdapat banyak polisi tidur motor terasa nyaman.

BMW K1200S B

Bentuk fairing yang streamline walaupun rider harus tetap menunduk dibalik windshield untuk menghindari terpaan keras angin kalau melesat dalam kecepatan tinggi. Ciri khas motor BMW dengan paralever swingarm digerakan via driveshaft atau kopel. Posisi duduk ergonomik dengan busa jok yang lembut. 

Walhasil menurut penilaian saya yang terbatas ini, motor tidak ada yang dikomplain. Dimensi body motor memang besar, tapi akan terasa hilang kalau sudah berjalan. Mungkin saat kalau sedang kena macet dan bermanuver di antara mobil-mobil kiri-kanan, wheelbase motor yang panjang akan menyulitkan bergerak pada radius sempit. Komplain di forum katanya suka terjadi problem pada fuel pump yang masih menggunakan controler atau semacam voltage regulator. Fuel pump controler mengatur besarnya supply bensin mengikuti revving engine. semakin tinggi rpm, makin besar supply bensin disalurkan. Motor-motor sekarang tidak lagi memakai fuel pump controler melainkan menggunakan fuel pressure regulator ter-integrasi dengan fuel pump di dalam tanki bbm. Dengan itu tidak ada return fuel line atau selang yang kembali ke dalam setelah bensin keluar dari tanki dengan tujuan menekan emisi.
Kalau di majalah Motor Cyclist 2004 disebutkan K1200S di ibaratkan seperti mobil performa tinggi BMW M5 dalam bentuk dua roda. Bertenaga, cepat dan luxurious alias mewah. Memang menurut majalah tersebut K1200S tidak memiliki daya pukul akselerasi seganas motor sport-tourer tercepat Suzuki Hayabusa dan Kawasaki ZX-12. Tapi jambakan torsi K1200S lebih nendang dari Yamha R1 crossplane tahun 2010 yang pernah saya coba. Topspeed K1200S menembus 273,5 km/jam (170 mph), memiliki handling yang kokoh, stabil juga kenyamanan sport-tourer buatan Bavarian Motoren Werke.
Generasi penerus K1200S ini adalah K1300S dengan CC dan power output lebih digdaya lagi tentunya. Demikian wassalam dan salam sejahtera.

Specification

  • Engine Capacity cc 1,157 cc inline 4 cylinder DOHC 16 valves
  • Bore & stroke 79 mm x 59 mm
  • Static compression ratio 13:1, fuel grade 98 octane)
  • Fuel injection 46 mm thottle body x 4
  • Max power output 167 bhp (123 Kw) @10,250 rpm
  • Max torque 130 Nm (96 ft-lb) @8,250 rpm
  • Clutch Multi-plate oil bath clutch, dia 151 mm
  • Gearbox Claw-shifted six-speed gearbox
  • Front suspesion BMW Motorrad dual lever with central spring strut
  • Rear suspension BMW paralever with progressive damping single shock
  • Wet weight 248 kg

Source : 2004 Motor Cyclist Magazine 

 
Iklan

7 thoughts on “Motor sport-tourer elegant dan kenceng BMW K1200S

    Supono Wahyudi said:
    April 17, 2016 pukul 3:14 pm

    Bengeweh 😱
    Pinjemin Saya Pak 😭

    Video santainya maling motor saat beraksi di keramaian
    http://sh.st/IuQ5q

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      April 17, 2016 pukul 3:29 pm

      Ba Mim Wau nya bukan punya sy Pak. Dikasih pinjem test ride aja kemarin pagi

      Suka

    welah dalah said:
    April 21, 2016 pukul 7:04 pm

    dibanding z800 pilih mana pak

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      April 21, 2016 pukul 11:34 pm

      Pilih z800, soalnya punya nya ya motor itu pak 😀

      Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      April 22, 2016 pukul 12:04 am

      Beda level Pak. Dari faktor kenyamanan , handling dan performa, K1200S lebih di atas

      Suka

    welah dalah said:
    April 23, 2016 pukul 12:09 pm

    kalo untuk performa taction controlnya gimana pak?

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      April 23, 2016 pukul 1:43 pm

      K1200S produksi tahun 2006 yg sy test ride belum dilengkapi traction control. mungkin ini kekurangan nya. torsi yg besar di rpm rendah mudah membuat ban belakang spin kalau jalanan basah.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s