Motor balap GP500 spektakuler Honda NSR500 Mick Doohan

Posted on Updated on

doohan-wheelie-nsr500-repsol

Mick Doohan Honda NSR500 ( Jack Atley)

Di awal 90 an penggemar balap motor Grand Prix Indonesia untuk menonton tayangan live harus beralih ke TV luar seperti Star TV via antena parabola. Karena belum ada stasiun TV lokal yang menyiarkan program tersebut. Jaman itu pembalap-pembalap bertalenta tinggi juga sudah ngebut, melesat cepat diatas motor GP500 2-tak yang terkenal memiliki karakter brutal atau agresif. Kalau sudah marah maka tidak mengenal kompromi ke rider nya. Dalam milidetik kedipan mata melempar tinggi si pembalap ke samping (highside) dan kemudian jatuh keras ke aspal sirkuit.  
Minimnya peralatan elektronik traction control dan grip ban slicks yang tidak lengket sehebat sekarang, menjadikan sangat beresiko kalau motor di push sampai ujung batas di tikungan. Sedikit kesalahan membuka terlalu banyak gaz pada saat motor miring di mid-corner alamat bisa terjadi highside.
Walaupun dihantui seperti itu bukan berarti pembalap tidak berani menekan motor sampai limitnya untuk menjadi yang tercepat dan meraih kemenangan. Nama-nama seperti Eddie Lawson, Freddie Spencer, Wayne Gardner, Randy Mamola adalah pembalap yang berani ambil resiko dan highside sudah masuk dimenu balap mereka. Menekan motor sampai batas demi mengejar untuk paling terdepan memperbesar kemungkinan tumpah ke aspal. Cedera berat bisa datang setiap saat selama balapan seperti Kevin Schwant juara dunia GP500 musim balap 1993 berhenti setelah mengalami cedera cukup serius. Paling tidak beruntung menerpa Wayne Rainey juara tiga kali GP500 berturut-turut. Crash karena highside di Italia membuatnya cacat dan harus di kursi roda.

Honda NSR500 Spencer 1984

1984 Freddie Spencer Honda NSR500 (Tamiya)

Jawara GP500 yang sukses di era balapan modern dan pasti sudah kita kenal adalah Mick Doohan. Pembalap asal Australia ini tidak aja brilliant dengan skill balap pada level istimewa, tapi juga berani ambil resiko melesat se-kenceng mungkin. Meskipun akhirnya memutuskan berhenti setelah mengalami crash hebat tahun 1999 karena highside dalam kecepatan tinggi 180km/jam. Motor yang menjadi tunggangan dan sukses membawanya meraih 5 kali juara dunia berturut-turut adalah Honda NSR500 V4. Sudah banyak juga motor NSR500 dibahas oleh blogger Indonesia, saya seperti biasa mencoba meramaikan aja Bro.
Berawal di tahun 1983 Freddie Spencer dengan Honda NS500 V3 cylinder memenangkan musim balapan. Honda memiliki keunggulan pada faktor handling yang lebih stabil, dengan itu Fast Freddie sanggup mengalahkan Yamaha OW70 V4 cylinder Kenny Robert yang lebih powerful. Kesuksesan itu tidak membuatnya puas dan meminta engine yang lebih kuat dan Honda memutuskan pilihan pada V4 cylinder.

NSR500 gardner 87 fasterandfaster

1987 Wayne Gardner NSR500 (fasterandfaster)

Berbeda dengan engine Yamaha OW70 memakai dua crankshaft, Honda V4 menggunakan satu crankshaft  memberi keuntungan bobot lebih ringan, friksi yang sedikit dan power output lebih besar. NSR500 V4 menyemburkan 140 hp yang sangat besar untuk ukuran saat itu. Motor mampu melesat dengan cepat tapi ban belakang juga mudah spin. Yang menjadi titik kelemahan NSR500 saat itu pada chassis dengan posisi terbalik (upside down). Tanki bensin terletak dibawah engine untuk mendapatkan center of gravity yang rendah. Ternyata center of gravity yang terlalu rendah berpengaruh terhadap dinamika motor yaitu handling. Pengiriman berat pada saat motor masuk dan keluar tikungan untuk memberikan tambahan traksi pada ban depan dan belakang tidak berjalan efektif. Berat bbm yang menekan kedepan saat ngerem membuat motor menjadi understeer, susah di kontrol. Menghadapi problem tersebut Fast Freddie kehilangan gelar di 1984 di rebut oleh pembalap baru yaitu Eddie Lawson dengan Yamaha.
NSR500 V4 di design ulang oleh insinyur HRC untuk musim balap 1985. Chassis yang aneh dibuang dan penyempurnaan pada bagian depan untuk meningkatkan grip. Tapi Freddie tetap merasa kurang puas dan ingin kembali ke motor lama nya NS500 V3 cylinder. Meskipun ada kekurangan tidak menghambatnya untuk meraih titel juara GP500 1985 untuk ke dua kalinya sekaligus titel di kelas GP250.
Wayne Gardner pembalap Australia masuk ke tim HRC di musim 1986. Menjadi teammate Freddie yang kemudian harus absen karena cedera yang dia dapat di musim balap 1985. Gardner pertama kali membawa NSR500 V4, sebelumnya sama seperti Spencer membawa Honda NS500 V3. Gardner berjuang untuk menjadi yang tercepat dengan motor NSR500 V4 yang sebenarnya terlalu agresif. Handling yang masih kurang efektif dan untuk men-stir mengarahkan motor, ban belakang harus di spin. Wayne Garner berhasil memenangkan tiga seri tapi Eddie Lawson masih terlalu kuat dengan Yamaha nya.
Musim balap 1987 HRC mendesign engine yang seluruhnya baru, konfigurasi berubah dari sudut 90 derajat ke 112 derajat. Dengan itu carburator 4 barrel Keihin 36 mm dapat diletakkan ditengah engine. Design sebelumnya carburator berada di belakang dan depan engine yang memberi efek power delivery kurang smooth dan konsisten karena berbeda panjang inlet. Bentuk ini juga memungkin banyak ruang untuk exhaust knalpot memberi pengaruh pada peningkatan karakter power ouput.
HRC merubah arah rotasi crankshaft karena inertia yang ditimbulkan menjadikan motor susah di stir. Kestabilan motor Yamaha selama itu di perkirakan karena meng-aplikasi contra-rotating dengan dua crankshaft. HRC memiliki design engine dengan dua crankshaft sendiri seperti Yamaha yang telah lebih dulu menggunakan. Hasil semua itu memberikan kontribusi terhadap performa Wayne gardner dengan NSR500 V4 terbukti mampu memenangkan juara musim balap 1987.
Tahun 1988 kembali menemui problem  karena rancangan yang tidak tepat. Motor begitu agresif tidak mudah dihandle oleh Gardner. Situasi tidak kondusif itu memungkinkan Lawson mengambil kembali titel juara musim dari Gardner.
Cukup menghebohkan setelah kemenangannya di 1988, Lawson pindah ke Honda untuk musim 1989. Lawson menyadari handling NSR500 yang tidak bersahabat di gabungkan dengan power engine yang besar sekitar 170 hp, motor bagaikan sosok kuda liar yang tidak mau dikendalikan. Kemudian atas kerjasamanya dengan tuner handal Erv Kanemoto yang sudah malang-melintang di dunia balap sejak tahun 70 an, kuda liar NSR500 ber-angsur menjadi jinak walaupun belum total. Lawson berhasil memenangkan titel juara dunia musim 1989 dengan Honda NSR500 sekaligus menobatkannya sebagai juara dunia GP500 untuk ke empat kalinya.
Eddie Lawson pindah kembali ke Yamaha tapi warisannya tetap dipertahankan. HRC mengganti 90 derajat firing order dengan 180 derajat mengikuti Yamaha untuk meredam ban belakang spin berlebihan. Yaitu masing-masing ke 4 piston tidak meledak tiap 90 derajat, melainkan sepasang atau 2 piston bersamaan meledak pada 180 derajat rotasi crankshaft. Ini adalah awal dari konsep bing-bang yang akan di aplikasikan. Kali ini giliran pembalap muda Australia yaitu Mick Doohan meraih juara seri di sirkuit Hungaria tahun 1990.
Tahun 1991 HRC mulai mendesign dan mengembangkan NSR500 mengikuti input yang diberikan Mick Doohan. Doohan mendapatkan keuntungan dari motor yang balance hanya aja ban Michelin saat itu menjadi penghalang. Grip ban depan sering menyerah membuatnya tertinggal oleh Wayne Rainey yang memakai ban slick Dunlop. Chassis NSR500 sudah cocok dengan tehnik menikung Doohan. Firing order 180 derajat sudah lebih efektif dari sebelumnya tapi masih memungkinkan terjadinya highside. Ekstra hati-hati masih harus dilakukan setiap melesat di tikungan.
HRC yang selalu mencari topspeed di tentang oleh Doohan maupun kepala mekanik Jeremy Burgess. Bahwa kemampuan akselerasi motor dengan cepat lebih penting dari pada topspeed yang hanya dilalui sekali dalam satu lap yaitu saat di lintasan lurus. Setelah beberapa design mesin dalam pencarian power delivery yang tidak agresif. Kemudian tertuju pada sistim big-bang yang meledakkan ke empat pistonnya dalam rentang 68 derajat rotasi crankshaft. Jadi ada sekitar 292 derajat rotasi crankshaft dimana tidak ada pulse dari ledakan piston. Bing-bang memberikan banyak waktu ban belakang untuk tidak mendapat tekanan dari torsi engine. Berkurangnya spin membuat traksi lebih bagus dan masa kerja grip ban yang awet. Juga sudut cylinder 112 derajat meredam vibrasi dari efek primary force, maka primary balancershaft tidak diperlukan. Dengan set-up seperti ini Doohan meraih lagi kemenangan mampu mendominasi di tiap seri. Sampai kemudian mengalami crash di Assen yang mengharuskannya istirahat beberapa seri. Kaki nya yang terjepit sproket belakang hampir saja harus di amputasi. Tapi berkat ke ahlian Dr. Costa hal merugikan tersebut bisa dihindarkan.
Selama Doohan absen pengembangan motor kembali kepada habit Honda yaitu mencari keunggulan topspeed tapi mengorbankan kestabilan. Motor menjadi tidak bersahabat lagi dan dia merasa tidak fit dengan motor yang dikembangkan seperti kemauan HRC itu. Doohan meminta motor NSR500 versi tahun 1992 nya yang sudah merasa sangat cocok. Pada pertengahan musim balap 1993 Doohan sudah mulai mencapai kembali skill balap prima. Memakai NSR500 versi tahun 1992 yang masih dengan karburator 4 barrel, sedangkan NSR500 versi tahun 1993 Shinichi Itoh team matenya menggunakan fuel injection. Di sirkuit Hockenheim German NSR500 93 PGM-FI ini mencapai topspeed 320 km/jam. Tapi Doohan tetap lebih memilih carburator di motornya.

Doohan NSR500 97 asphaltandrubber

1997 Doohan NSR500 (asphaltandrubber)

Musim balap 1994 menjadi awal kesuksesan karir nya selama di kelas premier dan berlangsung terus tak terputus sampai di 1998. Prestasi yang boleh dibilang spektakuler. Pihak HRC pada tiap kesempatan selalu mencoba menawarkan hal-hal baru yang kemudian ditolaknya. Doohan meminta supaya motor dibiarkan seperti itu. Karena objektif nya dia ingin menang, bukannya untuk mengembangkan motor dengan teknologi baru yang belum tentu cocok.
NSR500 yang sebelumnya adalah motor yang bengis, brutal, kemudian ditangan Doohan telah menjadi motor yang superior cepat, mudah dikendarai dan gampang di set-up. Dengan kemudahan itu tahun 1996 Alex Criville dan Luca Cadalora sanggup mengalahkan Doohan masing-masing dua kali yang juga dengan NSR500.

Doohan Donington Park 1993 itsawheelthing.

1993 Dohaan Rothmans Honda British GP Donington Park (itsawheelthings)

Kemudian Tahun 1997 Doohan meminta engine kembali ke flat crankshaft 180 derajat screamer dari big-bang yang selama itu digunakan. Pertimbangan elektronik yang sudah lebih baik memungkinkan engine diatur via ECU supaya power delivery tidak agresif seperti sebelumnya. Dengan flat crankshaft rider bisa merasakan langsung antara throttle dan ban belakang menurutnya. Dari penjelasan Jeremy Burgess rahasia keistimewaan Doohan adalah kecepatan melesat di tikungan. Dengan itu memerlukan engine yang ber karakter smooth seperti flat crankshaft 180 derajat. Engine big-bang menghasilkan engine brake yang besar dimana akan membuat motor tidak kokoh, banyak bergerak memasuki tikungan. Juga ketika buka gaz di mid corner untuk akselerasi, torsi yang tiba-tiba muncul akan membuat suspensi tidak efektif. Semua gejala negatif itu mempengaruhi speed masuk dan keluar tikungan.
Kedigdayaan talenta Doohan dengan NSR500 susah dibendung dengan 8 kali kemenangan tahun 1998. Meskipun rival utamanya adalah teammatenya sendiri Alex Criville yang beberapa kali berusaha mencoba menekan untuk ambil alih kemenangan tapi sia-sia.
Memulai musim balap tahun 1999 Doohan start sedikit lambat, seri satu di Malaysia finish pada posisi 4 dan seri dua GP Jepang meraih podium 2. Ketika sesi practise seri tiga sirkuit Jerez Spanyol, Doohan mengalami crash besar yang mengakibatkan cedera berat, banyak bagian di badannya yang patah. Kemudian mungkin dengan rasa berat diputuskan mengakhiri karir balap untuk selamanya. Saat itu performa balapnya masih sangat prima, bisa saja Doohan mengantongi titel juara dunia ke enam kalinya secara berturut-turut dengan NSR500. Hanya nasib berbicara lain.
Jaman Doohan power output sudah mencapai kisaran 180 hp (at the back wheel) dan meningkat sekitar 200 hp pada waktu Rossi membawa di musim balap tahun 2000-2001. Rossi adalah pembalap terakhir yang jadi juara dunia GP500 dengan Honda NSR500. Setelah itu berakhir pula era motor-motor GP500 di dikelas utama Grand Prix selama hampir 30 tahun. Tidak diragukan Honda NSR500 salah satu motor GP500 yang pernah tersukses meraih banyak kemenangan di lintasan sirkuit dunia. Demikian wassalam dan salam sejahtera.

Specifications:

  • Type of engine: Liquid cooled 2-stroke V4, 112° cylinder angle
  • Engine displacement: 499ccm
  • Bore / Stroke: 54×54,5mm
  • Four Keihin carburators, case reed valve intake, electronic exhaust control
  • Maximum power: 200PS / 13.500rpm
  • Brakes: 320mm dual carbon front disk brakes, 195mm rear disk brake
  • Suspension: 46mm Showa upside-down fork and Showa shock absorber
  • Wheelbase: 1400mm, 16.5″ Magnesium wheels
  • Fuel capacity: 32 liters
  • Dry weight: 131kg
 
Iklan

5 thoughts on “Motor balap GP500 spektakuler Honda NSR500 Mick Doohan

    abaydmz said:
    April 13, 2016 pukul 10:20 pm

    180hp aja kec sampai 320-an ngeri juga.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      April 14, 2016 pukul 8:11 am

      bobot nya ringan pak, sekitar 30 kg lebih enteng dari motogp

      Disukai oleh 1 orang

        abaydmz said:
        April 14, 2016 pukul 9:18 pm

        Pwr 1:1 ya om

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        April 14, 2016 pukul 10:19 pm

        Mungkin lebih efektif dari motogp power to weight ratio nya. Hanya limit putaran engine GP500 sampai 13000 rpm. Putaran maks motogp sampai 16500 rpm atau lebih.

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        April 14, 2016 pukul 10:22 pm

        Jaman rossi katanya power sdh menyentuh 200 ps di 13500 rpm. PWR nya lebih bagus lgi dari NSR500 nya doohan

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s