Marquez tetap jawara dengan soft compound di COTA seri 3 motogp 2016

Posted on Updated on

Motogp Pedrosa Doviziosos COTA 2016

Seperti yang di prediksi oleh banyak orang bahwa sirkuit COTA di Austin Texas adalah tempat bermainnya Marquez. Selama ini sejak musim balap 2013 kalau semuanya tepat seting dan ban maka akan gak mudah mengalahkannya disana. Berbeda dengan yang lain memilih ban depan medium compound, Marquez memutuskan memakai soft compound. Dengan strategi memanfaatkan keuntungan ban soft yang lebih lengket, meskipun hanya bertahan untuk 12 lap. Bagi Marquez cukup untuk membuat gap sejauh mungkin yang dia mampu dan kemudian menjaga jarak sambil melakukan manage grip sampai finish. Dan rencananya itu berjalan seperti yang diinginkan, Marquez membuat gap yang lumayan dengan Lorenzo dibelakangnya sampai akhir balapan.

Strategi seperti itu tidak selalu akan berjalan mulus seperti yang direncanakan karena memprediksi grip ban tidak mudah. Kemungkinan di pertengahan balapan akan habis bisa terjadi, apa lagi dengan target harus mem-push motor secepat mungkin untuk membuat gap di setengah balapan pertama tapi bersamaan dengan konsekwensi daya cengram ban makin cepat terkikis. Menurut Marquez grip ban mulai terasa tipis di 5 lap akhir menjelang finish dan yang dia lakukan adalah se efektif mungkin mengatur jarak dengan Lorenzo supaya tidak makin mendekat.
Marquez berani melakukan strategi itu karena sirkuit COTA telah difahami dengan baik. Di sektor mana motor bisa di tekan secepatnya full 100%, ditikungan mana perlu ektra kehati-hatian. Menjadi keahlian Marquez melewati beberapa tikungan hairpin kecepatan rendah dengan hard braking sampai diujung pintu corner kemudian akselerasi cepat exit corner. Di lintasan twisty dan motor harus flip-flop ber manuver ke kiri dan kanan di turn 3,4 dan 5 mampu dilalui dengan melesat secara maksimum. Diakuinya bahwa titik pengereman (brake marker) memang berbeda dengan tahun lalu waktu memakai ban Bridgestone. Kemenangannya di Argentina dan USA menempatkan nya di posisi teratas klasemen sementara.
Ban soft compound memberikan daya gigit ke aspal yang lebih kuat atau lengket tapi dengan ketahanan yang lebih pendek. Masa kerja nya tidak sejauh ban medium yang lebih keras. Temperatur udara mempengaruhi, semakin tinggi maka life time nya semakin sedikit juga dari cara bawa si pembalap itu sendiri selama balapan berlangsung. Dengan ban soft depan dimungkinkan motor di push lebih cepat dan intensif melewati tikungan seperti yang Marquez lakukan kemarin.
Lorenzo yang tidak beruntung mengalami lowside pada turn 1 di seri dua Argentina di COTA meraih podium dua dibelakang Marquez. Tadinya berharap race pace nya akan semakin cepat saat balapan, ternyata kemudian situasi menjadi berlawanan. Kecepatannya makin melambat dan dia sadari itu pada lap ke tujuh. Jorge selama practise dan qualifikasi merasa mantap, percaya diri melakukan pengereman. Tapi saat balapan memakai ban yang sama yaitu medium di depan hard compound di belakang dan full tank, keadaan ternyata menjadi berubah. Motor tidak bisa mengerem seperti pada situasi sebelumnya .
Lorenzo telah bersikap kritis terhadap Michelin tapi tidak mempunyai pilihan kecuali menerima dan dia memperingatkan akan ada beberapa crash terjadi kedepan yang tidak bisa dihindarkan. Meskipun ban depan Michelin telah improved tapi tetap belum mendapat rasa percaya diri (confidence) seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya kalau ban depan mulai kehilangan grip, pembalap masih punya kesempatan untuk menyelamatkan dari crash. Motor dapat ditegakkan kembali dan terhindar dari lowside. Tapi tahun ini dengan ban depan Michelin lebih susah untuk menghindari situasi tersebut. Dengan tanki kosong grip akan lebih menggigit tapi dengan keadaan full tank akan selalu mendekati situasi kehilangan grip. Sudut kemiringan (lean angle) motor Jorge lebih banyak dan lebih lama bertumpu pada bagian pinggir (edge) ban dibandingkan Marquez yang lebih tegak. Dengan itu akan lebih terkena efek negatif ban depan apa bila grip mulai tidak bisa diajak kompromi.
Seperti yang dijelaskan Lorenzo bagaimana sensitifnya ban depan Michelin, Rossi tidak bisa menyelesaikan balapan karena mengalami lowside pada lap ketiga di tikungan dua yang cepat. Rossi menjelaskan dengan ban Michelin situasinya berbeda dengan saat memakai Bridgestone. Tahun lalu Bridgestone juga ada problem tapi sangat aman pada grip ban depan. Kata Rossi tahun ini kalau membuat kesalahan, akan terima akibatnya. Rossi memasuki high speed corner dua dengan kecepatan yang sama tapi kemudian ada dua gundukan (bumps) di lintasan itu dan motor terlalu mengambil line kesisi dalam kemudian kehilangan grip.
Kondisi ini lebih kepada bagaimana rider dan tim untuk meningkatkan safety pada ban depan. Melakukan set up yang presisi sesuai dengan karakter ban Michelin dan tentunya rider tidak boleh melakukan kesalahan. Menurut nya problem ini normal, seperti ban Pirelli di balapan WSBK. Kalau pembalap melakukan kesalahan konsekwensinya crash. Hanya dengan ban Bridgestone kesalahan kecil masih bisa di tolerasi yaitu terhindar dari crash.
Problemnya dimulai saat start berlangsung yaitu kopling yang slip akibat friksi berlebihan dan hangus (burnt). Dalam dua lap pertama slip kopling mengharuskan throttle hanya dibuka 50% di lintasan lurus. Posisinya merosot dan memutuskan untuk tidak menekan engine revving lebih tinggi sejenak sampai kopling bertahap pulih kembali. Menurut Rossi hal ini dialaminya juga di Argentina kemarin.
Diakuinya mungkin masalah kopling itu menjadi penyebab hilang konsentrasi dan tidak hati-hati melesat di tikungan dua high speed di ikuti kemudian terjadi lowside. Rossi merasa cukup kompetitif di COTA dan bisa aja mendapat hasil yang baik menurutnya.
Motogp meng-aplikasi dry clutch system atau kopling kering yang lebih kuat daya gigitnya dari pada wet clutch. Tapi slip kopling tetap bisa terjadi apabila mengalami burnt seperti yang dialami Rossi. Daya cengkram kopling akan kembali beroperasi normal setelah temperatur berangsur turun.
Ianonne masuk posisi ketiga menjelaskan betapa penting hasil balapan ini. Mengingat setelah adanya kritikan terhadap dirinya karena penyebab Dovizioso tumpah di Argentina. Diakui sebagai moment yang paling buruk selama karir balap. Setelah mendapat penalty pengurangan satu point dan tiga posisi grid start di COTA, Ianonne  mampu balapan secara baik dan hati-hati dan meraih podium ketiga setelah mendapat keuntungan dari terjadi nya beberapa insiden.
Ketidak beruntungan sepertinya masih menerpa Dovizioso di COTA setelah terbawa oleh motor Iannone jatuh ke aspal sebelum tikungan akhir di Argentina. kali ini oleh Pedrosa yang brake late dan kehilangan grip ban depan. Kemudian menyapu motor Dovizioso yang juga agak melebar di depannya.
Menurutnya memasuki tikungan satu kekiri menanjak ada bagian yang bisa membuat motor melompat yang kalau pembalap terlalu banyak menekan tuas rem dapat berakibat mengunci dan kehilangan grip ban depan. Dovizioso mengakui melewati titik pengereman (brake marker) yang seharusnya, hal itu membuat dia harus melebar kesisi luar tikungan. Mungkin Pedrosa mengikuti dengan juga terlalu dalam brake late dan terlambat bereaksi ketika motor mengalami lompatan menjelang tikungan satu yang menanjak itu dan berakibat kehilangan grip.
Pedrosa sudah dia kenal cukup lama dan menurut nya bukanlah tipe rider yang suka ngotot mengambil resiko “kamikaze”. Jadi itu murni sebuah kesalahan dan ke alpaan. Berbeda ketika Iannone menyengkatnya sebelum corner terakhir Argentina. Terlihat Iannone berusaha keras untuk meraih posisi kedua melewati garis finish di depan sampai kemudian dia membuat kesalahan fatal.
Dovisiozo bisa aja meraih podium kalau insiden itu tidak terjadi meskipun dia merasa motor tidak 100% untuk fight meraih kemenangan. Demikian pula di Argentina kalau Iannone tidak membawanya jatuh. Dia sebelumnya mengatakan bahwa posisinya di tim ditentukan oleh hasil balapan. Pertimbangan nya adalah siapa yang akan cabut dari tim Ducati kalau Lorenzo masuk. Dengan itu prestasi adalah acuan untuk memilih siapa yang harus pergi dan siapa yang dipertahankan nanti. Demikian wassalam dan salam sejahtera.

1. Marc Marquez ESP Repsol Honda Team (RC213V) 43m 57.945s
2. Jorge Lorenzo ESP Movistar Yamaha MotoGP (YZR-M1) 44m 4.052s
3. Andrea Iannone ITA Ducati Team (Desmosedici GP) 44m 8.892s
4. Maverick Viñales ESP Team Suzuki Ecstar (GSX-RR) 44m 16.367s
5. Aleix Espargaro ESP Team Suzuki Ecstar (GSX-RR) 44m 18.656s
6. Scott Redding GBR Octo Pramac Yakhnich (Desmosedici GP15) 44m 26.906s
7. Pol Espargaro ESP Monster Yamaha Tech 3 (YZR-M1) 44m 30.057s
8. Michele Pirro ITA Octo Pramac Yakhnich (Desmosedici GP15) 44m 30.702s
9. Hector Barbera ESP Avintia Racing (Desmosedici GP14.2) 44m 32.537s
10. Stefan Bradl GER Factory Aprilia Gresini (RS-GP) 44m 38.156s
11. Alvaro Bautista ESP Factory Aprilia Gresini (RS-GP) 44m 43.368s
12. Eugene Laverty IRL Aspar MotoGP Team (Desmosedici GP14.2) 44m 45.072s
13. Tito Rabat ESP Estrella Galicia 0,0 Marc VDS (RC213V)* 44m 45.371s
14. Yonny Hernandez COL Aspar MotoGP Team (Desmosedici GP14.2) 44m 49.135s
15. Loris Baz FRA Avintia Racing (Desmosedici GP14.2) 45m 10.874s
16. Cal Crutchlow GBR LCR Honda (RC213V) 45m 17.197s
17. Bradley Smith GBR Monster Yamaha Tech 3 (YZR-M1) 45m 25.981s
Dani Pedrosa ESP Repsol Honda Team (RC213V) DNF
Andrea Dovizioso ITA Ducati Team (Desmosedici GP) DNF
Valentino Rossi ITA Movistar Yamaha MotoGP (YZR-M1) DNF

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s