Trackday dengan Kawasaki Z800 dan Supersport Ninja ZX-6R

Posted on Updated on

Z800 Super7motocom

Z800 Kawasaki Z Cup Spain 

Kali ini mau coba me review setelah beberapa kali trackday bersama teman komunitas di sirkuit Sentul memakai motor Z800 yang saya miliki. Penilaian ditulis berdasarkan sebatas kemampuan saya aja yang pasti sangat jauh dibanding test rider berpengalaman dalam negeri. Jadi review dengan skill yang amat sangat pas-pas an Bro. 
Kawasaki Z800 tipe naked bike sudah di balapkan secara rutin di Spanyol dengan nama Kawasaki Z cup. Sebenarnya Kawasaki Z800 bisa dibilang jauh dari kategori sebuah track bike, melihat bobot yang cukup masif dengan berat sekitar 229 kg standard  bbm full tank. Motor di design sebagai naked bike jalan raya, tapi bukan berarti tidak bisa dirubah menjadi motor balap. Tentu dalam arti motor balap yang tidak ideal. Supaya lebih pantas diajak ber manuver di sirkuit, sebelumnya harus dilakukan modifikasi pada beberapa bagian motor, seperti suspensi, exhaust system, sistim rem dll. Juga penurunan berat motor supaya manuver dapat lebih cepat dan gesit lagi di area tikungan. Cara yang lumayan signifikan mengurangi bobot adalah dengan mengganti knalpot standard pabrik dengan full exhaust system. Berat motor  bisa terkikis sekitar lima kilogram. kemudian penggantian aki dengan tipe Lithium-Ion yang sangat ringan, berat akan berkurang 3,4 kg dari aki lead acid.  Memakai velq aluminium forged, magnesium atau carbon fiber akan menambah ringan sekitar 5 sampai 7 kilogram lagi. Setelah beberapa modifikasi dilakukan motor sudah berkurang bobotnya yang mana akan memberi sedikit efek pada peningkatan performa handling.
Ban beberapa kali coba memakai merk yang berbeda, yaitu ban bawaan standard dari pabrik Dunlop Sportmax D214, kemudian ban balap DOT Dunlop Sportmax GP Unbeaten 02 dan race DOT Bridgestone Battlax R10. Tekanan angin ban di isi 30-29 untuk depan dan 29-28 dibelakang tergantung mana yang terasa enak manuvernya. Ban di ukur dalam keadaan dingin, kecuali kita memakai tire warmer yang diukur dalam keadaan working temperatur sekitar 70-73 derajat Celcius. Menggunakan tire warmer, ban bisa langsung di ajak ngebut begitu keluar dari pit lane memasuki lintasan lurus sirkuit. Parameter ukuran tekanan angin bisa dilihat pada website dari merk masing-masing ban.

Tire warmer slingshotracingnet

Tire warmer (slingshotracing.net)

Selanjutnya mengatur ukuran Sag suspensi motor yaitu fork dan rear shock. Sag adalah posisi travel sesungguhnya setelah mendapat beban dari berat motor berikut rider nya. Mengatur sag yang tepat akan memberikan kerja suspensi menjadi optimal. Adjustment dilakukan dengan merubah per pada fork dan shock belakang, dikurangi atau dinaikan sesuai dengan berat rider. Ukuran sag sekitar 25-30 mm.

Sag adjustment suspension

Karena tidak memakai tire warmer, maka ban perlu di panaskan atau warm-up sebanyak dua lap pada kecepatan sedang. Tujuannya supaya temperatur ban segera naik ke temperatur kerja yang diharuskan dan grip menjadi optimal lengket ke aspal. Kalau prosedur ini gak dilakukan dan rider langsung gaz pol, kemungkinan di tikungan pertama ban depan langsung hilang grip, motor dlosor ke aspal.
Di lintasan lurus motor Z800 mencapai topspeed yang variatif antara 218 sampai 223 km/jam, tergantung dari kecepatan exit/ keluar dari tikungan R12 terakhir Sentul. Semakin kenceng kecepatan exit nya semakin tinggi topspeed yang di capai di lintasan lurus (straightaway). Tapi hal itu tergantung juga dimana kita memilih titik pengereman (brake marker) untuk mulai menekan tuas rem. Sebagai indikator bisa dipakai plang 300, 200, 100 dan 50 yang ada lintasan sirkuit sebagai patokan untuk melakukan braking memasuki tikungan. Dari top gear 6 downshift ke gigi 3 memasuki tikungan R1, kemudian tetap roll-on dengan gigi 3 untuk melewati tikungan R2. Menuju R3 topspeed memakai gigi 5 kemudian pindah turun ke gigi 2 untuk selanjutnya roll-on lagi memasuki R4.  Tikungan ke kanan R4 memiliki radius yang lebih menyempit dan dengan lean angle lebih rebah. Karena Z800 termasuk torquey maka perlu bukaan gaz yang tepat supaya ban belakang tidak spin ketika akselerasi pas motor akan melewati apex.

sentul-trackday-14 resized

Selanjutnya motor bisa full speed melewati backstraight R5 dan dimungkinkan memakai gigi 6 sebelum braking memasuki chicane di R6 ke kanan dengan gigi 2. Tikungan R6 adalah yang paling kerja keras untuk mengerem dan manuver. Karena dari kecepatan tinggi dengan gigi 6 kemudian hard braking downshift ke gigi 2, walaupun top speed dengan gigi 6 hanya mencapai 185 km/jam. Chicane di R6 dan R7 cukup lebar radiusnya, tapi disini sangat terasa bobot Z800 pada saat melakukan manuver flip-flop. Yaitu dari posisi motor miring ke kanan di R6 kemudian berpindah ke kiri melewati tikungan R7. Diperlukan upaya lebih intensif dengan body rider untuk merubah posisi lean angle Z800.
Exit dari R7 dengan gigi 2 beberapa kali ban belakang spin akibat terlalu banyak bukaan throttle. Tapi kondisi itu hanya terjadi pada saat motor memakai ban standard dari pabrik yaitu Dunlop Sportmax D214. Memasuki R8 dari gigi 4 downshift ke gigi 3, kemudian roll-on menggunakan momentum melewati apex di R9 diteruskan akselerasi kuat. Berikutnya melewati R10 dan R11 ke kanan dengan gigi 2, antara kedua corner yang berdekatan kita melewati 2 apex atau double apex. Melewati tikungan terakhir R12 menggunakan gigi 3 disini termasuk penting untuk mencapai topspeed maksimum di lintasan lurus. Diusahakan sebelum apex tikungan 12 dan kalau sudah terlihat pintu keluarnya kita mulai akselerasi dengan membuka throttle sambil bersamaan menegakkan kembali posisi motor, selanjutnya full gaz di lintasan lurus.

Tracday Sentul 2014 abdhee Z800

Penilaiannya Z800 yang torquey, cukup cepat dan fun untuk akselerasi keluar corner. Motor cepat membangun speed mulai dari putaran rendah sampai ke putaran atas redline 11000 rpm. Daya pengereman cukup efektif dengan kaliper standard nya, meskipun kampas rem sudah saya ganti dengan tipe sintered untuk racing. Mengingat bobot motor yang cukup berat, diperlukan perhitungan tepat untuk memilih titik pengereman (brake marker) agar supaya kita tidak overspeed memasuki tikungan.
Faktor handling dan manuver Z800 cukup stabil ketika melakukan hard braking memasuki tikungan dan transisi membuka gaz untuk akselerasi dari mid-corner. Motor kokoh berada di line hanya diakui berat nya bobot motor menjadikan upaya untuk merubah posisi di chicane menjadi lebih besar dan lebih lambat, demikian pula manuver untuk pindah line. Walhasil trackday dengan Z800 bisa fun dan cukup lumayan ok. Untuk perbandingan, motor Kawasaki Ninja 650/ER6 lebih ringan dan nyaman di tikungan dibandingkan Z800.

z800-abm-sentul-2013

Kawasaki Z800

Beralih ke motor supersport 600cc Kawasaki Ninja ZX-6R, saya di pinjamkan untuk test ride di lintasan sirkuit oleh Bro Hery. Motor yang ready to race biasa digunakan pada kejuaraan WSBK kelas supersport. Mungkin sudah gak perlu dijelaskan lagi performa motor supersport di trek. Karena memang di rancang untuk bermain di lintasan sirkuit. Dari faktor geometry chassis, suspensi dan bobot yang sangat ringan lebih unggul dari motor yang bukan di design untuk balap. Motor Bro Hery sudah memakai race body kit yang lebih enteng dari fairings standard ZX-6R.  Jadi benar-benar menjadi track-bike tanpa lampu depan dan belakang. Bobot yang lebih ringan sekitar 38 kg dari berat Z800 standard yang belum di modifikasi untuk mengurangi berat.
 

Sentul 2014 ZX-6R

Kawasaki Ninja Zx-6R

Di lintasan lurus topspeed mencapai 230 km/jam disesuaikan dengan kemampuan saya yang pas-pas an ini. Rekan-rekan yang sudah mahir bisa lebih dari 240 km dan pembalap supersport pro mencapai 250 km/jam. Untuk Ninja ZX-6R ini kesimpulan dari review saya adalah,  Posisi duduk kita terasa lebih rendah yang memang di design untuk mencapai low center of gravity. Motor dengan bobot ringan memungkinkan kita melakukan titik pengereman (brake marker) yang lebih dalam atau brake late lebih dekat lagi ke pintu corner. Ketika braking deselerasi memasuki tikungan motor stabil dan mudah tidak perlu upaya banyak untuk di miringkan, apa lagi berbelok menggunakan tehnik counter-steering. Di mid-corner motor tetap stabil dan ringan untuk di tegakan(upright) kembali dari posisi miring bersamaan membuka gaz untuk akselerasi keluar corner.
Mesin ZX-6R ber karakter high revving untuk operasi di kecepatan tinggi dan redline di 16000 rpm!. Torsi puncak 66 Nm di putaran 11800 rpm, dengan itu kita harus menjaga rpm mesin tetap tinggi di area powerband nya untuk ketersediaan torsi bila kita ingin akselerasi cepat keluar corner. Torsi mesin mulai menendang di kisaran 8000-9000 rpm dan naik membangun power dan kecepatan bersamaan dengan bertambahnya rpm. Bedanya dengan Z800 yang sangat torquey mulai dari rpm rendah sampai limiter cut off di 11000 rpm, dimana ZX-6R akan terus happy naik sampai 16000 rpm. Di low dan medium speed corner kita tidak perlu kuatir ban belakang spin akibat terlalu banyak membuka gaz saat akselerasi. Benar-benar motor yang ideal di sirkuit dan memang menjadi domainnya sesuai design.
Power puncak dan torsi Ninja ZX-6R standard 128 hp @14000 rpm dan 66 Nm di 11800 rpm (di crankshaft). Dengan penggantian full exhaust system dan fine tuning A/F ratio menggunakan piggyback, power meningkat lagi sekitar 7-8 hp.
Z800 peak power dan torsi 113 hp @10200 rpm, torsi 83 Nm @8000 rpm (di crankshaft). Penambahan power sekitar 7 hp lagi dengan mengganti full exhaust system dan piggyback seperti merk Dynojet Power Commander 5 atau Bazzaz.
Untuk rider yang suka trackday serius dikelas 600cc maka tidak salah lagi memilih motor-motor supersport seperti Honda CBR600RR, MV Agusta 675, Yamaha YZF-R6, Ninja ZX-6R dll. Demikian review singkat ini wassalam dan salam sejahtera.

 

Iklan

10 thoughts on “Trackday dengan Kawasaki Z800 dan Supersport Ninja ZX-6R

    Supono Wahyudi said:
    Februari 24, 2016 pukul 1:18 pm
    motomazine said:
    Februari 26, 2016 pukul 5:24 pm

    Juosss reviewnya masbro..

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 26, 2016 pukul 9:20 pm

      sama-sama masbro, trimakasih

      Suka

        motomazine said:
        Februari 26, 2016 pukul 9:32 pm

        Sempat nyoba zx6r reguler tapi di jalan raya.. Pengen di sirkuit sebenarnya

        Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 26, 2016 pukul 9:39 pm

      mantap ZX-6R, memang tepatnya utk di sirkuit atau jalan yg panjang. klau di jalan raya yg banyak stop n go, heavy traffic alias macet, mesinnya kurang cocok.karakternya high revving soalnya

      Suka

        motomazine said:
        Februari 26, 2016 pukul 9:44 pm

        Betul… Gigi 1 sama 2 nya kurang mengintimidasi.. Sudut rake stang juga merepotkan buat selap selip

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Februari 26, 2016 pukul 9:50 pm

        iya, enak nya kalau jalan lgi sepi aja. kondisi jalanan lenggang baru bisa kita revving sampai 14000 rpm keatas kemudian upshift ke gir transmisi 2 dan seterusnya.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s