ECU motogp 2016 kurang pintar (smart) ?

Posted on Updated on

Hitting the apex 2

Kemampuan cerdik komputer ber-adaptasi sendiri ketika grip ban mulai menipis tidak lagi ada di musim balap 2016

Kecanggihan komputer yang di tempatkan pada motogp seperti yang sudah sering dijelaskan kepada kita memang selalu mengundang rasa kagum. Motogp telah ber-evolusi sedemikian rupa, mulai dari awal era motor GP500 dengan sistim pengapian (ignition system) yang sangat sederhana sampai kemudian menjadi sebuah “smart machine” yang dilengkapi alat elektronik benar-benar cutting edge atau teknologi mutakhir.

ECU yang sangat cerdik sanggup mengatur semua tingkah laku motor (bike behaviour) berdasarkan situasi real-time yaitu lokasi per sektor maupun per tikungan. Ketika motor melewati tikungan 12 sirkuit Phillip island yang high speed flowing, GPS menentukan posisi motor dan mengirim data ke ECU untuk mengatur torsi mesin yang telah di set oleh engineer untuk disalurkan ke ban ketika motor melesat melewati tikungan tersebut. Kalkulasi berdasarkan parameter dari lean angle motor, kecepatan ban, bukaan throttle dan gigi transmisi. Apa bila pembalap terlalu banyak membuka throttle untuk memacu motor keluar tikungan, maka komputer akan bereaksi meng-koreksi nya. Torsi menjadi tidak terlalu berlebihan yang dapat mengakibatkan ban belakang spin pada saat motor masih dalam posisi miring. Bila sampai terjadi spin juga, maka sensor traction control mengirim data ke ECU untuk segera meredam atau di reduksi kekuatannya. Tapi kemudian pemakaian GPS di larang dan digantikan dengan transponder yang dipasangkan di motor. Lintasan sirkuit dibagi menjadi 3 atau 4 sektor dan memiliki pemicu atau trigger di tiap sektor. ECU melakukan kalkulasi setiap melewati titik dimana pemicu atau trigger ditempatkan di tiap sektor. Kalkulasi berdasarkan putaran ban untuk menentukan seberapa jauh motor melaju yang dengan itu dapat ditentukan posisinya.
Kemudian kemampuan istimewa lainnya adalah strategi adaptif (adaptive strategy). Upaya pintar self-learning komputer ber-adaptasi terhadap situasi yang berubah. Tepatnya ber-adaptasi terhadap kondisi grip ban maupun juga mengatur konsumsi bbm motor disaat balapan. Grip ban yang semakin tipis memberi efek buruk terhadap performa motor di saat balapan berlangsung. Menjaga grip ban tetap lengket memang sangat diperhatikan sekali oleh pembalap. Tanpa grip maka dipastikan motor tidak akan bisa lebih cepat lagi, yang konsekwensinya pembalap rival akan take over posisinya. Dengan kemampuan ECU ber-adaptasi apa bila ban mulai berkurang daya cengkram nya menjadikan kerja si pembalap lebih mudah. ECU akan mengetahui performa grip ban yang menurun kalau terdeteksi terjadi banyak spin pada tikungan yang sama dari waktu sebelumnya. Maka ECU akan mengatur dengan menurunkan torsi mesin secara bertahap mengikuti kondisi ban belakang. Kepintaran ini jelas memberi efek bantuan yang siknifikan kepada pembalap.  Power besar torsi kuat menjadi tantangan yang gak mudah saat balapan apa bila grip ban semakin menurun berkurang. Ban bagaikan di parut, grip akan semakin cepat terkikis oleh torsi dasyat mesin.
Dengan adanya perubahan peraturan yang telah di tetapkan yaitu penggunaan ECU standard dan software yang seragam (unified software) di musim balap motogp 2016, apakah ada perbedaan dengan sebelumnya?
Seperti yang diberitakan baru-baru ini, bahwa kemampuan ECU ber-adaptasi (adaptive strategy) tidak lagi ada. Software yang digunakan sekarang ini tidak lagi memiliki kemampuan tersebut. Untuk mendeteksi menurunnya performa ban dicari berdasarkan perbedaan friction coeffisient. Jika friksi yang dihasilkan di seluruh permukaan aspal sirkuit tidak sama, maka software akan melakukan hal yang berbeda di corner satu dengan corner lainnya. Torsi yang disalurkan berbeda untuk tiap corner. Hanya harus di set-sebelumnya, tidak lagi pintar mampu mengatur sendiri seperti pada software pabrikan. Artinya tingkat akurasinya nya tidak sebaik self-learning software.

Crutchlow Ducati

Motor harus me-reset elektronik kalau sampai keluar jalur, dengan cara melewati sektor selanjutnya di depan. Elektronik akan menjadi kacau atau tidak synchronized jika tidak dilakukan (crashnet)

Hal lain yang masih menjadi permasalahan adalah menentukan posisi atau lokasi motor berada di lintasan sirkuit, ternyata termasuk hal yang tricky, meskipun pada waktu musim balap lalu masih memakai factory software yang canggih. Director of Technology motogp, Corrado Cecchinelli menjelaskan di crasnet.com. Pada tiap sirkuit terdiri dari 3 atau 4 tempat yang digunakan untuk membagi lintasan sirkuit menjadi sektor. Setiap kali motor melewati sektor maka motor mulai menghitung putaran ban. Ada pemicu atau trigger yang dilokasikan di tiap sektor. Dari itu maka bisa dikalkulasi seberapa jauh motor melaju, selanjutnya posisi motor dapat ditentukan dimana. Tapi hal itu pun tidak luput dari error yang bertambah bersamaan semakin jauh motor dari titik dimana trigger berada di sektor. Karena perhitungan berdasarkan jarak, tidak akurat sempurna akibat dipengaruhi oleh lean angle motor yang berubah tidak sama di tiap corner. Dengan itu kalkulasi akan me-reset sendiri setiap kali melewati sektor.
“Artinya itu sangat akurat pada saat mulai penghitungan di tiap sektor, kemudian jumlah error bertambah sampai motor me-reset kembali” kata Cecchinelli.
Permasalahan besar muncul apa bila motor lari keluar dari lintasan sirkuit memasuki sand trap atau gravel misalnya. Motor menjadi tidak bekerja semestinya sampai melewati trigger di sektor selanjutnya untuk me-reset. Ini adalah salah satu problem yang paling tricky yang harus dicarikan strategy jalan keluarnya misalkan motor sampai mengalami keluar jalur, jika swith di motor di off dan di on lagi, jika motor didorong oleh marshal, jika sektor untuk me-reset motor tidak terlewati oleh si pembalap. Semua itu akan menimbulkan berbagai masalah.
Menurut Cecchinelli sekarang ini progres pengembangan software pada fase penyempurnaan dengan sebutan “failsafe function” atau terjemahan bebasnya fungsi yang aman/terhindar dari kegagalan. Dengan arti membuat software yang dapat bekerja lebih baik apa bila terjadi problem motor keluar lintasan. Hanya saja failsafe function software lebih kepada pengamanan antisipasi apa bila tejadi kejadian itu, bukan pada peningkatan performa motor.
Strategi yang digunakan sekarang tidak berbeda dengan yang digunakan pada software motogp open-class musim 2015 kemarin. Menurut Cecchinelli tidak ada alasan kuat software ini harus lebih cepat dari open-class software. Software ini bagus dalam banyak hal, dapat bekerja dengan baik di banyak macam mesin juga dengan konfigurasi yang berbeda-beda. Software mampu meng-handle mesin yang menggunakan sistim pneumatic valve dengan lebih baik, exhaust valve untuk motor Ducati dan juga untuk “failsafe” apabila motor keluar jalur lintasan. Ada banyak updates yang ditambahkan sebelum musim balap dimulai di Qatar.
“Kita akan selalu mencoba memasukan hal baru di software. Itu akan selalu berkembang berbasis pada rekomendasi dari kami atau dari masukan manufakturer. Jadi sementara ini kita sudah memiliki versi tertentu, tapi kita sudah mengetahui bahwa software tersebut bukan menjadi satu-satunya yang akan digunakan untuk kejuaraan nantinya. Akan ada versi terbarunya”
Tidak adanya fitur self learning yang mampu mengatur sendiri, pasti memberi efek detrimental atau merugikan untuk pembalap. Karena kerja yang sebelumnya di ambil alih oleh komputer menjadi dikembalikan lagi ke si pembalap. Tapi tidak sepenuhnya karena fitur itu pun tetap ada, hanya saja dengan perbedaan cara meng kalkulasi situasi yang tingkat kepintarannya dibawah dari sistim sebelumnya. Selebihnya diserahkan kepada skill pembalap, seberapa hebat menjaga grip ban motor tetap awet dan efektif sampai akhir balapan. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

6 thoughts on “ECU motogp 2016 kurang pintar (smart) ?

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 11, 2016 pukul 3:09 pm

      bolos main play station motogp 😀

      Suka

        ridersepuh said:
        Februari 12, 2016 pukul 5:50 pm

        kok sama ya pak?
        jadi teringat waktu smp saat ps1 lagi booming..uang saku habis buat ps,,uang spp pun hbis buat ps?:#-:’$+-‘”+:’*$369(&’+$
        salam kenal dari fans dan silent reader blog sampean

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Februari 12, 2016 pukul 6:14 pm

        gitu ya pak….memang bikin nagih 😀

        Salam kenal jga…terimakasih sdh meluangkan waktu lihat ke blog cilik ini.

        Suka

    nduk said:
    Februari 12, 2016 pukul 11:38 am

    Dulu Teknologi itu muncul pasti ada sebab? Kok di hilangkan, risetnya juga pasti lama , tar kalo banyak pembalap dlosor gmn… penonton yg senang kan hi hi hi

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Februari 12, 2016 pukul 1:11 pm

      bener jga….apa lgi pe saing / kompetitor pembalap favoritnya yg tumpah ke aspal 😀

      alasannya mungkin krena performa motor tim pabrikan dan satelit yg beda bnyk, jomplang dg tim privateer non pabrikan. skarang diseragamkan supaya perbedaannya lebih dekat.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s