Yamaha YZR-M1 terbaik di musim motogp 2015, bisakah terulang lagi di 2016?

Posted on Updated on

A 2015-yamaha-yzr-m1-03

Yamaha M1 motor terbaik musim balap 2015, komplit dan balance.

Di Barcelona tim factory Yamaha memperlihatkan motor YZR-M1 yang akan dikendarai oleh dua pembalap utama pada musim balap 2016. Tidak ada perubahan siknifikan pada livery Moviestar yang ikut menjadi saksi meraih juara musim motogp 2015 oleh Lorenzo dan Rossi. Tidak ada juga perubahan berarti pada motor baru ini. Yamaha M1 bisa dikatakan sebagai motor terbaik di antara motor yang ada di grid motogp selama musim 2015, terbukti dengan merebut titel rider championships dan constructor.

Di musim balap tahun ini akankah kesuksesan itu bisa dilanjutkan lagi?
Menurut Rossi topspeed motor Yamaha M1 yang ketinggalan menjadi masalah yang dialami pada musim 2015. Jadi perlu usaha penambahan sedikit topspeed lagi di lintasan lurus. Meskipun dengan Honda tidak begitu jauh kemampuan kecepatan puncaknya, tapi cukup jelas terlihat pada saat full gas dengan Ducati. Di sirkuit Phillip Island Ducati Iannone mencapai topspeed 344.4 km/jam sedangkan Yamaha M1 Rossi 337 km/jam.
Letak tanki bensin yang bertambah kapasitas 2 liter di bawah jok rider dan dimungkinkan menyambung ke tail section atau buntut. Seperti yang dikatakan Wilco Zeelenberg, letak penambahan tanki 2 liter bisa dimana saja asalkan tidak mengganggu airbox yang sangat penting meningkatkan Efisiensi Volumetrik (VE) mesin.
Penambahan bbm 2 liter memberi peluang bagi engineer tim untuk men tweak power mesin lagi. Power output bisa di tingkatkan dengan seting Air to Fuel Ratio (AFR), tapi tetap memperhatikan konsumsi bbm. Karena penggunaan software ECU yang lebih kuno ini juga memberi efek negatif pada konsumsi bensin yang lebih haus dari software sebelumnya.
Kemudian peralihan ban Bridgestone ke Michelin masih menjadi tantangan besar, dengan terjadi cukup banyak pembalap yang mengalami lowside akibat hilangnya daya cengkram (grip) ban depan.
Feeling pada ban depan menjadi problem menurut Rossi, karena perbedaan karakter. Perbedaan yang cukup siknifikan antara Bridgestone dan Michelin secara langsung mempengaruhi seting motor yang juga tidak sedikit.
Sama hal nya waktu perpindahan supplier ban di 2008 dari Michelin ke Bridgestone. Diperlukan begitu banyak perubahan seting motor dan perlu waktu lagi untuk mencapai kondisi motor yang balance dan presisi.
Bagaimana memahami cara terbaik menggunakan ban Michelin dan meningkatkan feeling pada ban depan yang sekarang ini masih memberikan hasil yang kurang diinginkan.
Menurut Rossi lagi, seting motor M1 2015 adalah yang terbaik dengan menggunakan ban Bridgestone dan memiliki faktor keseimbangan (balance) yang terbaik pula. Sekarang diperlukan kerja keras untuk mencapai kembali kondisi motor seperti sebelumnya itu.
Sangat bisa dipahami yang dimaksud oleh Rossi, menciptakan motor yang balance memang tidak gampang. Banyak parameter yang harus dipenuhi seperti pada faktor suspensi yang terdiri dari fork, shock belakang. Kemudian frame dan swingarm berikut linkage nya. Power delivery mesin yang karakternya dibentuk dari faktor mekanikal dan software ECU memperhalusnya supaya mudah dikendarai (rideable) seperti yang diinginkan si pembalap. Terakhir adalah karakter ban slicks. Semua faktor tersebut mempunyai variable seting tertentu yang dicari melalui trial and error. Jadi perlu waktu kerja yang cukup banyak oleh pembalap maupun engineernya.
Dengan adanya perubahan ban dan software maka apa yang sudah tercapai melalui upaya keras tersebut, yaitu mewujudkan sebuah motor yang balance terpaksa harus di rombak lagi. Dirubah cukup drastis, mencari variable untuk menjadi balance kembali.
Lorezo juga sependapat seperti yang diinginkan Rossi, bahwa Yamaha M1 2015 adalah motor yang komplit. Hanya di lintasan lurus panjang kalah cepat. Untuk menutup kekurangan itu perlu penambahan sedikit power di rpm atas. Dan menurut Lorenzo perubahan karakter dengan ban Michelin ini akan membuat dia menjadi lebih kuat. Yang terpenting diperhatikan untuk selalu hati-hati di ban depan. Memang berbeda dengan Bridgestone, harus sedikit di antisipasi pada waktu pengereman dan melepas tuas rem (brake lever) sedikit lebih awal. Riding style seperti itu menurut Lorenzo akan lebih baik untuk dia.
Handling yang istimewa yaitu motor yang mudah di arahkan ketika mengerem untuk masuk tikungan. Engine brake yang bersahabat, tidak liar. Tidak timbul gejala chatter pada bagian front end maupun swingarm. Motor akan tetap stabil dan kokoh ketika di mid corner dan mampu akselerasi cepat keluar tikungan. Power delivery mesin yang linear pada saat masuk powerband, tidak agresif ketika akselerasi. Mungkin faktor itu semua menjadikan motor ideal, persis seperti Yamaha YZR-M1 musim 2015.

A Yamaha m1 2016 A

Yamaha M1 musim balap 2016. Semua motor memakai velq 17 inchi, sebelumnya diameter 16.5 inchi. Dengan unified software konsumsi bensin menjadi kurang irit, lebih haus bbm.

Ada hal lain yaitu pernyataan cukup keras dari dua juara dunia era GP500 berkenaan insiden yang terjadi antara Marquez dan Rossi. Wayne Gardner dan Phill Read, menurut mereka terlihat tidak fair untuk Rossi mendapat penalti start dari grid paling belakang. Rossi sebagai pembalap yang memperebutkan championship dan sudah fight untuk mengumpulkan points sepanjang musim balap kemudian harus menerima hukuman dari Race Stewards  seperti itu.
Betapapun mahirnya seorang pembalap top level, apa bila harus start dari belakang dan kemudian menekan motor terus-menerus sampai maksimum. Di 2/3 lomba dipastikan grip ban sudah banyak terkikis dan menipis, gak cukup lagi grip yang tersisa. Kalau si pembalap tetap mem push juga, maka crash kemungkinan besar akan terjadi. Jadi saat itu hampir tidak dimungkinkan oleh Rossi untuk memperpendek gap nya dengan Lorenzo. Apa lagi race pace Lorenzo yang cepat rithmenya dan grip ban yang lebih banyak.
Yang keras lagi pernyataan Phill Read bahwa Dorna bertingkah seperti “Mafia Spanyol” yang lebih memilih pembalap Spanyol dan tidak mendukung secara fair pembalap non-Spanyol… wah gawat.

“It was totally unfair at the Malaysian Grand Prix for Valentino to be penalised, and
to have to start at the back of the grid [at Valencia],” Read said at the Autosport
International Show on Sunday.

“To my mind it was Marquez’s fault, he leaned on Valentino.”

“MotoGP is run by a Spanish group [Dorna], and I feel it’s getting like the Spanish
mafia. They are favouring Spanish riders, and not supporting fairly the foreign
[non-Spanish] riders.”

Juga kata Wayne Gardner :

“I think it was the wrong call by the race stewards to penalise Rossi to put him at
the back of the grid,” said the 1987 500cc champion.

“The whole situation was aggravated by Marquez trying to hold Rossi up, so he could
let Lorenzo get away, and then he fell off of his own accord.

“Rossi didn’t push him off with his knee, he was pushed off because he was leaning on
[Rossi].

“And then to make Rossi start from the back of the grid for the last race of the
championship when he’d fought all year for it, it was a little bit unfair.”

Menurut mereka Marquez lah yang mendekati ke Rossi. Marquez tidak jatuh karena ditekan oleh dengkul Rossi, tapi karena miring (leaning on) ke Rossi.
Semua itu sudah lewat tapi bisa jadi pelajaran untuk kedepan. Memang selama musim 2015 lalu Lorenzo lebih dominan dan sangat cepat dalam situasi dry race. Walaupun Rossi juga sanggup unggul lebih cepat di beberapa sirkuit seperti Circuit of the America, Assen, Sachsenring, Ricardo Tormo, Motegi.
Setidaknya Rossi pantas untuk mendapat fight yang normal dengan Lorenzo di Phillip Island, Sepang dan Valencia tanpa ada gangguan dari “pembalap lain”. Demikan wassalam dan salam sejahtera.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s