Teknik mengerem trail braking pembalap motogp – WSBK

Posted on Updated on

 

troy-corser-trail-braking-sport-rider

Troy Corser dengan BMW S1000RR berbelok miring sambil trail braking dan knee dragging memasuki tikungan. Posisi fork tertekan penuh (fully compressed) menandakan intensitas rem cukup tinggi. Sampai motor mendekati apex, tuas rem baru akan dilepas total dan rider mulai transisi buka throttle untuk akselerasi exit corner. Apabila motor terlalu cepat di mid-corner pembalap akan memberi sedikit tekanan pada rem belakang untuk membantu menurunkan speed. Cara ini lebih aman dibandingkan menambah lagi tekanan di rem depan ketika motor miring yang beresiko hilang grip (Sport Rider)

Pembalap motogp, moto2 ataupun wsbk dan juga lainnya berupaya mencari fastest lap dengan cara masuk dan keluar tikungan secepat yang dimungkinkan dengan motornya. Bagaimana supaya bisa lebih cepat misalnya 0.2 detik per lap dari rival. Faktor itu sangat penting menentukan kalah atau menang, tampil di podium atau masuk posisi di lima besar.
Dalam balapan ada dua kondisi yang harus dilakukan yaitu mengerem dan buka gaz. Lain dari itu akan memperlambat waktu tempuh per lap. Mengerem adalah bagian terpenting ketika akan memasuki tikungan. Mungkin kita biasanya berpikir kalau pembalap mengurangi mayoritas kecepatan sebelum motor miring berbelok masuk tikungan. Menarik full tuas rem di straight line saat posisi motor tegak kemudian melepas tuas rem ketika kecepatan sudah berkurang seperti yang di inginkan dan mulai memiringkan motor memasuki tikungan. Saat motor miring tuas rem sudah tidak ditarik, pembalap telah menyelesaikan seluruh fase pengeremannya.
Kenyataannya pembalap pro belum melepas tuas rem pada saat motor miring masuk lebih dalam ditikungan. Setidaknya sampai pada titik dimana throttle mulai dibuka kembali untuk akselerasi keluar tikungan. Biasanya posisi motor di pertengahan tikungan (mid corner) dekat ke apex dimana pintu keluar sudah terlihat oleh pembalap.
Mungkin banyak yang sudah faham apa itu apex. Bagi yang belum, apex adalah bagian sisi dalam di tikungan dimana pembalap dengan motor atau mobilnya berada paling terdekat ke titik tersebut ketika melewati tikungan atau mungkin melindas nya “hitting the apex”.

corner-apex-sport-rider-2004

Mendekati apex biasanya pembalap melepas tuas rem dan transisi membuka throttle untuk akselerasi

Apex Rosssi Losail 2015

Garis merah di sisi kanan = apex.  Tikungan kecepatan tinggi

Tehnik pengereman seperti itu dinamakan “trail braking”. Dalam menerapkan teknik tersebut pembalap mendekati tikungan dengan mulai menarik tuas rem depan untuk memberi tekanan (brake pressure) sesuai dengan titik pengeremannya (brake marker). Di awali melalui tarikan lembut (gentle) menunggu sejenak sampai berat motor berpindah ke ban depan supaya ban tidak mengunci. Baru kemudian menambah tekanan kuat atau penuh pada saat posisi motor masih tegak (upright position). selanjutnya bertahap mulai memodulasi, mengurangi tarikan di tuas rem ketika motor miring di titik belok (turn-in point) menuju pintu tikungan. Intensitas tarikan di tuas rem makin dikurangi mengikuti makin bertambahnya sudut kemiringan (lean angle) motor. Sampai motor mendekati apex, tuas rem baru dilepas dan transisi membuka throttle untuk memulai akselerasi keluar tikungan. Sepertinya mudah teorinya tapi sangat susah diterapkan atau di praktekan.

motodna-trailbrake-rossi

Rossi trail braking di mid-corner, mengurangi intensitas tekanan (brake pressure) tuas rem secara halus adalah penting untuk transisi menuju fase akselerasi cepat keluar tikungan. Motor akan lebih stabil ketika buka gaz mulai menyalurkan torsi ke ban belakang. Melepas brake lever secara tiba-tiba akan membuat tekanan dan travel fork berubah drastis dan dapat mempengaruhi suspensi maupun load ban depan

Pembalap pro seperti motogp apabila ingin mengejar waktu tercepat melewati tikungan harus melakukannya minimum kesalahan. Konsekwensi terjadi kesalahan misalkan tidak tepatnya determinasi atau salah perhitungan tarikan di tuas rem akan berakibat motor masuk ke gravel.
Bagaimana pembalap tercepat mampu memenangkan lomba sesering mungkin? Bukankah dengan semakin cepat juga akan bertambah resiko crash?
Pembalap dengan skill masih rata-rata mencoba mengikuti race pace pembalap top level atau juara dunia, resiko yang akan ia hadapi adalah motor tumpah ditikungan.
Biasanya pembalap top level paling sedikit mengalami crash meskipun tidak selalu. Ini dimungkinkan karena faktor kemampuan lebih pada determinasi, refleks, daya pengelihatan dan kemampuan keseimbangan dan tentu dibantu oleh performa motornya pada level yang balance. 
Pembalap tercepat memahami bahwa pada tiap tikungan ada titik terendah, yaitu dimana kecepatan tidak boleh sampai melebihi batas. Biasanya itu terletak pada area pertengahan tikungan (mid-corner). Apabila motor datang dan melewati titik tersebut dengan speed terlalu tinggi konsekwensinya motor akan melebar keluar atau lowside ban depan kehilangan grip. Kebalikannya jika masuk dengan kecepatan terlalu rendah maka pembalap lain yang lebih cepat akan mengalahkannya.
Pembalap tercepat memiliki kelebihan skill dari yang lain yaitu mampu melewati titik kecepatan terendah di tikungan tersebut mendekati kecepatan dimana grip ban dan chassis motor sanggup menghandle hampir maksimum. Dan ia lakukan itu secara konsisten minus error dalam satu lap. Misalkan titik kecepatan terendah ditikungan tersebut yang bisa dihandle motornya maksimum 80 km/jam. Jika speed motor melewati area itu ternyata melebihi dari 80 km/jam akan beresiko karena melebihi kemampuan (exceed max allowance) grip ban maupun chassis motor. Pembalap top level sanggup melesat di tikungan itu sedikit dibawah kecepatan maksimum yang dibolehkan misalkan 77-78 km/jam. Sebaliknya kalau si pembalap hanya mampu mencapai kecepatan 75 km/jam tentu mempengaruhi lap time jadi kurang cepat. Dengan itu ia berupaya terus menekan untuk mendekati atau mencapai kecepatan maksimum yang dimungkinkan motornya pada titik tersebut.
Setiap tikungan memiliki karakteristik berlainan untuk itu akan tercipta perbedaan lap time siknifikan antara pembalap tercepat dan pembalap lainnya. Skill atau kemampuan trail braking pembalap juara akan terlihat melalui gap dengan pembalap dibawahnya.
Point yang harus diperhatikan ialah besarnya intensitas pengereman untuk mengurangi mayoritas kecepatan yang harus dilakukan pada saat motor dalam posisi tegak (upright). Bukan sebaliknya motor masih dalam kecepatan tinggi kemudian berbelok miring memasuki tikungan bersamaan menarik kuat tuas rem depan. Cara ini jelas beresiko karena daya cengkram atau grip ban depan ada batasnya.
Dengan trail brake pembalap dapat mengkontrol motor sampai mendekati kecepatan maksimum yang dimungkinkan melewati titik terendah ditikungan tersebut. Semakin dekat kepada titik tersebut semakin mudah si pembalap menilai apakah kecepatan motornya terlalu cepat atau terlalu lambat. Pembalap mengkontrol (brake modulation) dengan menarik secara halus tuas rem depan. Apabila speed motor terlalu tinggi di mid-corner dapat dibantu sedikit sentuhan rem belakang. Dengan cara ini grip ban depan akan efektif tidak menerima beban juga kerja suspensi. Memberikan tarikan kuat secara tiba-tiba tuas rem depan saat motor miring akan berakibat fork tidak meredam dengan baik dan ban depan kehilangan traksi atau motor akan berubah cenderung kembali ke posisi tegak (upright)

MotoDNA-TrailBrake03

Bisa dilihat tahapan besarnya tekanan rem (brake pressure) mengikuti sudut kemiringan motor (lean angle). Dimulai dari titik pengereman (braking marker) posisi motor tegak dan intensitas tekanan rem 100%. Berlanjut memasuki titik belok (turn-in point) tingkat pengereman semakin berkurang dengan bertambahnya sudut kemiringan. Pada sudut miring maksimum mendekati apex, tekanan tuas rem menjadi 0%

Inisiasi trail braking menurut Troy Bayliss di titik belok (turn-in point) yang pembalap pilih, tarikan pada tuas rem secara bertahap mulai dilepas bersamaan motor miring memasuki pintu tikungan. Seberapa brake late dan berapa banyak, rider dapat mengerem pada posisi motor miring mengambil line melengkung (arc) memasuki tikungan. Ketika memasuki tikungan seperti itu akan lebih mudah mengendalikan (steer) motor. Suspensi depan terkompres terjadi perubahan geometry.
Ketika rider merasa aman percaya diri dengan grip ban untuk trail brake pada posisi miring memasuki tikungan, di area ini ia akan pergunakan mengejar speed untuk sedikit lebih cepat dari pembalap lain. Kecepatan motor miring bersamaan trail braking membedakan pembalap cepat dan pembalap yang sangat cepat.
Menemukan sedikit perasaan (feeling) untuk mencapai itu adalah yang paling berat. Dan itu dicari melalui upaya terus menerus dan dimulai dari yang paling mudah kemudian bertahap meningkat. Jadi bukan asal brake late memulai titik pengereman paling dekat dengan pintu tikungan. Pada saat feeling sudah didapat baru kemudian pembalap boleh memajukan lagi letak titik pengeremannya.
Seberapa banyak pembalap trail-brake tergantung dari setup suspensi dan ban depan. Menurut Bayliss jaman dulu ban Michelin harus diberi beban kuat supaya bekerja semestinya. Ban ngak akan bekerja kalau tidak diberi beban yang besar dan itu menyulitkan supaya menjadi nyaman. Michelin menyediakan begitu banyak tipe compound dan carcass. Pembalap dapat merasa nyaman dan lap time yang bagus dengan satu macam ban tapi kemudian menjadi lebih lambat dua detik dengan tipe compound lain. Troy Bayliss dan Colin Edwards memakai ban dengan karet yang mirip tapi carcass yang sangat berlainan.
Bagi pembalap trail braking termasuk beresiko tinggi yang dapat menyumbang lowside. Muncul sedikit peringatan apabila grip ban depan akan lepas dengan aspal tentunya susah bagi pembalap untuk koreksi. Satu-satunya jalan kalau memang masih ada ialah dengan menambah gaz supaya beban berlebihan di ban depan segera terkikis. John Hopkin memakai sekitar 60 persen pengereman saat motor miring di tikungan. Menurut Chriss Vermullen, pembalap ingin masuk tikungan secepat mungkin dan memakai rem untuk mengkotrol kecepatan. Semakin motor miring, semakin sedikit tekanan rem.
Hal lainnya dengan trail brake adalah merubah sudut geometri rake dan trail motor, karena posisi fork yang tertekan. Dengan kondisi ini akan membuat steering geometry jadi lebih sedikit yang pengaruhnya motor makin cepat melewati tikungan.
Tehnik trail braking sangat penting untuk para pembalap baik yang masih amatir ataupun mahir dan juga rider yang hanya sekedar track day di sirkuit. Tehnik ini jelas akan menambah ketrampilan mengerem dari kecepatan tinggi jadi lebih efektif untuk meraih lap tercepat. Membantu si rider memperkirakan dan mengkoreksi dimana kekurangannya.
Untuk para pemula disarankan mengerem dengan cara klasik yang lebih mudah yaitu mengurangi mayoritas kecepatan motor sampai pada kecepatan yang pantas memasuki tikungan. Fase pengereman diselesaikan sepenuhnya pada saat posisi motor masih tegak (upright). Melepas tekanan pada tuas rem sebelum mencapai titik belok (turn-in point) untuk memiringkan motor memasuki tikungan. Cara klasik ini memisahkan management traksi menjadi dua fase yaitu braking dan cornering. Cara ini memberikan grip ban depan pada level full potensi dan mengurangi resiko terjadi beban berlebihan (overload).
Masalah dihadapi saat Trail brake adalah ban depan overload saat motor miring memasuki tikungan. Fase Braking dan cornering masing-masing secara terpisah memerlukan potensi dari grip atau traksi. Trail braking artinya menggabungkan fase braking dan cornering tersebut pada waktu bersamaan dimana akan mudah ban menerima beban berlebihan. Dengan itu menghindari ban depan terjadi overload perlu ketajaman feeling si rider memodulasi tekanan di tuas rem sampai speed motor berkurang disesuaikan dengan karakter dari tikungan tersebut.

YZF R3 motorcycleonline

Pengendara motor di jalan raya perlu belajar dan menguasai tehnik trail braking. (motorcycleonline)

Bagaimana dengan pengendara di jalan raya? 
Menurut para ahli, tehnik trail braking juga bisa di aplikasi oleh pengendara motor di jalan raya. Dengan tingkat kecepatan dan sudut kemiringan (lean angle) yang berbeda tentunya dengan di trek balap. Melalui trail braking rider yang sudah mahir akan bisa mengkontrol speed ketika memasuki tikungan. Mampu antisipasi kondisi dihadapi misalkan adanya gravel atau pasir di tikungan dimana tidak terlihat dari jauh. Tapi memerlukan waktu panjang supaya menguasai tehnik tersebut dan baiknya belajar di jalanan tertutup juga dimulai dari kecepatan yang rendah.
Perlu diperhatikan kalau pembalap motogp memakai ban slicks canggih paling lengket yang disediakan oleh pabrik ban dan masih bisa lowside karena trail braking. Jadi perhitungan matang sangat penting trail brake di jalan raya dan tidak semua tikungan bisa dipraktekkan .
Dihindari brake late di jalan raya karena ini membuat motor terlalu cepat memasuki tikungan dan akan sulit untuk berbelok. Motor cenderung melebar (overshoot) mengarah ke sisi luar jalan. Demikian bahasan ini dan salam
References : Keith Code, Nick Ienatch , motoDNA,
Source Books : Performance Riding Techniques, Troy Bayliss a Faster Way etc

 

Iklan

15 thoughts on “Teknik mengerem trail braking pembalap motogp – WSBK

    Aladin said:
    Desember 15, 2015 pukul 7:26 pm

    keren bro bahasannya 😀

    Suka

    bajagoldenwater said:
    Desember 20, 2015 pukul 8:35 pm

    Keren ,tambah wawasan saya.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Desember 20, 2015 pukul 8:59 pm

      sama pak, saya juga sedang belajar. trimakasih sdh berkunjung ke blog kecil ini

      Suka

    ekoandriyan said:
    Maret 7, 2016 pukul 9:38 pm

    sorry bos ngasi masukan,
    itu pilihan font nya mungkin bisa diganti yg lebih friendly,
    di baca lewat lappy jg masih ttep aja bikin kriyep kriyep kurang nyaman ,
    (gtw jg klw baca nya pake browser mobile- smartphone)
    dan gimana klw dibikin jadi 2 tulisan (artikel) dgn spasi lbih renggang lagi,
    serta pilihan font nya diganti yg lain
    smoga makin banyak orang yg ambil manfaat dari blog ini
    salam,.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Maret 8, 2016 pukul 8:41 am

      Terimakasih advisnya Pak dan udh lihat tulisan ini….maklum masih begineer, belum begitu faham wordpress nih. Nanti sy coba sesuaikan lagi.

      Disukai oleh 1 orang

    […] ada grip dan hilang grip sangat kecil marginnya. Menambah 2-3 derajat sudut kemiringan motor saat trail-braking memasuki tikungan atau sedikit lebih kuat menekan tuas rem (brake lever) walaupun pada titik […]

    Suka

    abaydmz said:
    Oktober 28, 2016 pukul 2:46 pm

    om, ada yang lebih parah pakai teknik trail braking dengan rem belakang di rem tipis, makanya ada pembalap pakai tuas rem kecil di dekat tuas kopling, biasanya ketika mengerem ke arah kanan. lorenzo pernah pakai, dan pembalap astra honda juga pernah digunakan itu. Mirip kontrol traksi. bahkan di game Tourist Trophy ada testnya pakai CBR 600 RR gunain teknik trail braking ini. serem…. tp pernah coba cuma pakai di matic. agak seram tp wuih emang sedikit kontrol traksi lebih cepet beloknya. Cuma yaitu mesti tau diri ntar alih alih ngunci roda belakangnya.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Oktober 28, 2016 pukul 3:21 pm

      Iya Pak, katanya tergantung dari style balap individunya. Ada yg pake sedikit rem belakang untuk sliding, dg maksud mengarahkan motor ke line yg di inginkan pas mau masuk tikungan. Juga utk meredam ban belakang spin atau motor wheelie saat akselerasi full keluar tikungan.

      Waktu hard braking tekanan berat motor hampir semuanya ke bagian depan (frontend). Kadang malahan ban belakang sampe naik gak napak ke aspal seperti yg sering dilakukan Marquez.

      Suka

        abaydmz said:
        Oktober 28, 2016 pukul 3:23 pm

        itu ada untungnya om, ban belakang jd cepat menurun krn ga ada beban, ngerinya keterusan jatuh deh, atau tenaga mesin lebih ngedrop, makanya karakteristik enak di bawah hingga tengah

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Oktober 28, 2016 pukul 4:15 pm

        Klau di balap gak begitu siknifikan pemakaian rem belakang krena gak akan bisa bikin stop motor. Tujuannya membantu aja klau si pembalap mau sliding misalnya supaya bagian belakang motor lebih cepet bergeser membuat arah bagian depan motor langsung menuju apex pas masuk tikungan atau istilahnya squaring off. Itu dibahas sebagai salah satu tehnik balap, di Keith Code California Superbike School ada teorinya kalau gak salah bisa di check.

        Engine bagusnya gak boleh langsung drop krena bikin engine brake terlalu besar pas waktu deselerasi. Ban belakang jadi skidding atau melompat-lompat seperti yg muncul di motor Marquez th 2015.

        Kalau maksudnya karakteristik rpm bawah-tengah, kayaknya kurva torsi RC213V itu lebih membangun ke tengah-atas. Karena Honda topspeed nya sedikit lebih kenceng dari Yamaha M1.Transient torque efektifnya muncul sedikit di rpm yg lebih tinggi.

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Oktober 28, 2016 pukul 4:28 pm

        Klau diliat pas waktu Marquez full hard braking kayaknya dia gak apply rear brake dulu. Sampe kemudian posisi di pintu tikungan, misalkan dia pengen bag depan motor mengarah langsung menuju apex, baru ditekan rear brake utk cepet geser bagian belakang motor atau di sliding.

        Suka

        ArenaSepedaMotor responded:
        Oktober 28, 2016 pukul 6:15 pm

        Doohan pernah pake jga tuas rem belakang dipindah di stang sbelah kiri. Itu waktu setelah dia dapet cedera parah di kaki kanan, Kakinya kurang feel. JL jga pake tuas rem belakang di stang kiri krena kurang feel jga waktu itu kakinya krena cedera kalu gak salah ya.

        Suka

    ArenaSepedaMotor responded:
    Mei 12, 2017 pukul 3:47 pm

    Tergantung kecepatannya, radius tikungan dan berat motor.

    Motor lebih berat ngak bisa pake rem belakang aja masuk tikungan trail braking. Kecepatan motor masih tinggi atau tikungan yg menurun jga tdk bisa dg rem belakang aja. Harus mayoritas rem depan dan dibantu rem belakang.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s