Test di Jerez 2015 motogp apa aja problem nya?

Posted on Updated on

Bradl crash.net
Bradl
 
Testing 3 hari di Jerez sirkuit memberikan penilaian sementara terhadap beberapa komponen yang baru di motor. Dengan penggantian ban Michelin, unifikasi ECU software, beberapa permasalahan muncul dan menjadi pekerjaan rumah yang harus segera di atasi oleh tim memasuki musim balap 2016. Pembalap dan tim harus menentukan mesin seperti apa yang akan digunakan. Tentunya sesuai keinginan yaitu mesin yang optimal performanya supaya mampu kompetitif . Karena seperti aturan yang berlaku, mesin akan di segel (sealed) selama musim balap berlangsung.

Mesin RC213V di musim balap 2015 di perlihatkan begitu agresif, sulit dikontrol oleh
Marquez terutama ketika akan memasuki tikungan dari kecepatan tinggi. Engine braking yang tidak halus mengakibatkan ban belakang sering slide, motor menjadi tidak mudah untuk diarahkan memasuki tikungan sesuai dengan racing line yang diinginkan. Terlebih kurangnya torsi di rpm rendah yang mempengaruhi akselerasi ketika keluar dari corner. Walaupun mesin memberi efek yang tidak sama terhadap Pedrosa dengan gaya balap yang berbeda tentunya.
Bagaimana dengan karakter RC213V 2016 menurut kedua pembalap Repsol setelah testing di Jerez? Pendapat Marquez dan Pedrosa, mesin masih agresif dan tetap sulit di
manage. Meskipun karakter mesin sudah berubah. Menurut Marquez mesin 2015 agresif di putaran atas yang tentunya dengan kompensasi lemahnya akselerasi dari rpm rendah. Mesin 2016 lebih kuat di putaran bawah, tapi masih menghadapi hambatan menemukan cara menyalurkan torsinya. Diartikan mesin 2016 agresif atau kuat di putaran bawah karena torsi yang melimpah, kemudian lebih halus transisi ke putaran atas. Kuncinya adalah bagaimana menemukan balance dari rpm rendah ketengah dan putaran top end menurut Marquez.
Keuntungan mesin 2016 dengan torsi besar mulai dari rpm rendah adalah akselerasi yang lebih kuat dan cepat dari mesin sebelumnya. Hanya masih ada kekurangan yang muncul, motor cenderung wheelie terlalu berlebihan dan tidak konsisten. Kadang terlalu banyak kadang berkurang pada tiap lapnya. Unifikasi software pada ECU mempengaruhi respon ataupun efektifitas dari sensor-sensor motor. Respon atau efek yang masih kurang cepat dan presisi. Perlu waktu untuk fine tuning lagi oleh insinyur tim yang menangani elektronik.
Menurut Pedrosa akan mudah untuk memutuskan apabila mesin baru langsung mampu memberikan feeling yang tepat. Tapi dengan realitas bahwa mesin RC213V 2016 ini belum memberikan performa yang diinginkan kedua pembalap. Maka itu perlu kehati-hatian supaya tidak terulang seperti musim balap 2015 yang lalu.
Scott Redding yang pindah ke tim Ducati menjelaskan perbedaan perilaku mesin yang
dihasilkan dengan Honda. Mesin Ducati lebih user friendly dan bisa diatur (manage) mulai dari putaran bawah. Malahan agak lamban (lazy), dengan itu memerlukan seting pada ECU untuk menjadikan mesin lebih agresif. Menurut Redding mesin Honda tidak kekurangan power, melainkan cara mesin menghasilkan power yang menjadi permasalahan. Ducati lebih mudah dikendarai dari pada Honda katanya, tapi sangat kuat power diputaran maksimum. Mesin Ducati sedikit lebih powerful dari Honda tapi dengan tingkat agresif yang lebih mudah dikontrol.
Elektronik RC213V masih belum tepat tapi sudah lebih baik sejak testing di Valencia
sebelumnya menurut Pedrosa. Bekerja pada perangkat elektronik yang baru memang
lambat, perlu banyak waktu kata Marquez. Mesin 2016 yang berbeda karakter dengan
mesin 2015, menggunakan software yang juga berbeda dan kurang level kecanggihannya dibandingkan factory software sebelumnya.
Berlainan dengan Honda dimana elektronik masih menjadi permasalahan, untuk Ducati faktor elektronik cukup bagus, karena mesin yang lebih user friendly. Redding tidak mengalami masalah pada elektronik dan belum ada seting pada bagian tersebut. Menurut Redding basis yang ada pada elektronik motornya sudah cukup baik.
Stefan Bradl pun mengakui harus banyak belajar dengan ECU yang baru yang akan
digunakan di MotoGP musim depan. Belum merasa cukup nyaman untuk memacu motornya untuk meraih lap tercepat, tetapi puas dengan kemajuan yang dibuat di Jerez.
Demikian pula dengan Alvaro Bautista selama 3 hari test di Jerez, menyatakan masih
harus ada perbaikan yang dilakukan dalam hal bagaimana motor bereaksi terhadap
software baru dan ban Michelin. Meskipun diperlukan pula perubahan gaya balap dari si pengendaranya. Bautista mengalami crash di akhir test, sedikit mengalami cedera
ringan pada bagian lehernya.
Issue ban depan Michelin yang kurang daya cengkramnya masih menjadi pertimbangan para pembalap. Michele Pirro dan Eugene Laverty mengalami crash ketika ban depan hilang grip dengan aspal. Laverty mengalami keretakan (fractured) pada tulangnya. Masalahnya disebabkan kurangnya feel di ban depan. Feeling yang hanya sedikit bisa dirasakan oleh pembalap di ban depan pada saat melesat di tikungan cepat. Marquez mengalami beberapa moment di tikungan kecepatan tinggi, dimana grip ban depan nya sampai di ujung batas.
Masalah pada ban depan katanya ban Michelin tidak mempunyai daya tahan sekuat ban depan Bridgestone. Daya cengkram atau grip yang cepat berkurang, tidak bisa
diprediksi. Menjadi tidak mudah bagi pembalap untuk mengaturnya. Ban tidak memberi isyarat yang bisa pembalap perkirakan apabila grip sudah berkurang siknifikan. Yang parahnya ban depan langsung kehilangan grip dan motor crash.
Bautista Jerez Nov 2015 crash.net
Bautista, beresiko dengan ban Michelin melakukan trail braking
Menurut Alvaro Bautista tim Aprillia, ban tidak memberikan feedback yang baik. Ban
depan tidak memberi informasi ke pembalap terhadap kondisi ban ketika memasuki
tikungan. “Anda hanya mencoba untuk melesat sedikit lebih cepat, lebih cepat, lebih
cepat, kemudian anda crash” kata Bautista. Tidak adanya peringatan atau isyarat
yang diberikan ban depan. Menurut Bautista lagi, pembalap harus semaksimal mungkin mengerem kuat ketika motor dalam posisi tegak (upright position), dari pada melakukan tehnik trail braking memasuki corner.
Trail braking adalah tehnik mengerem dimana pembalap memulai dengan mengerem kuat atau full dari kecepatan tinggi.  Kemudian memiringkan motor di titik belok (turn-in point), secara bersamaan dan bertahap si pembalap mengurangi tekanan (brake pressure) mengikuti bertambahnya sudut kemiringan pada saat memasuki tikungan. Sampai titik dimana mulai membuka gaz untuk akselerasi keluar corner. Biasanya sampai di pertengahan tikungan (mid corner) dekat ke apex. Dengan ban Michelin tehnik trail braking bisa beresiko ban depan kehilangan grip.
Tapi Scott Redding menanggapi ban Michelin dengan perasaan percaya diri. Yaitu dengan penyesuaian dan setup di motor, kemudian mencoba beberapa posisi badan dengan mengubah sedikit gaya balap sebelumnya. Redding mencoba mencari cara untuk memberi beban terhadap ban depan supaya mencapai grip maksimum pada saat melesat kecepatan tinggi di tikungan. Tapi yang terpenting menurutnya merasa nyaman. Walaupun hampir mengalami crash di tikungan terakhir karena terlalu menekan ban depan.
Kesimpulannya memang masih banyak hal-hal yang belum memuaskan muncul sebagai hambatan. Dimana menyelesaikannya memerlukan ketelitian, ketepatan dan kesabaran. Mudah-mudahan nanti test terakhir di Sepang tahun depan setiap pembalap dan tim sudah menemukan ramuan yang tepat dan mujarab sebagai kekuatan untuk bersaing di musim balap 2016. Demikian dan mohon maaf atas kekurangannya. 
Iklan

6 thoughts on “Test di Jerez 2015 motogp apa aja problem nya?

    RPMspeed said:
    Desember 12, 2015 pukul 5:48 pm

    sekarang ducati malah lebih nurut 😀

    ————–
    Kenali Jenis dan Fungsi Alur Ban bro 😀
    http://rpmsuper.com/2015/12/12/jenis-alur-pattern-ban-motor/

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Desember 12, 2015 pukul 6:18 pm

      sip…nurut di rpm bawah-tengah. di rpm atas nya tetap sangar bro

      Suka

    Zanuar said:
    Desember 17, 2015 pukul 11:57 am
    manik said:
    Desember 17, 2015 pukul 12:06 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s