Ban dan Elektronik motogp 2016

Posted on Updated on

 MIchelin power slick
Michelin Power Slick
Bro pembaca, di 2016 ada beberapa perubahan yang sebelumnya sudah kita dengar beritanya, yaitu partisipasi Bridgestone berakhir dan masuk nya Michelin sebagai supplier ban. Kemudian unifikasi software ECU terhadap seluruh tim, baik tim pabrikan, satelit dan open class.
Tujuan utama ditetapkan memakai software yang seragam (unified software) adalah meminimalkan gap antara tim pabrikan dan satelit dengan tim privateer yang budget nya tidak sekuat tim besar tersebut. Penyeragaman software katanya akan membantu menaikan performa motor open class dan menekan ongkos pengeluaran tim.
Motogp telah berubah cukup siknifikan sejak awal dimulainya pada tahun 2001 sampai sekarang ini. Perbedaan lap tercepat pada sirkuit yang sama mencapai 4 – 5 detik. Hal itu bisa diraih karena makin canggihnya elektronik maupun juga kemampuan grip ban slick yang luarbiasa.
Pembalap akan mampu meng ekstrak kekuatan ban bersamaan dengan kepintaran komputer motor untuk melesat secepat-cepatnya melewati tikungan. Dimana 20 tahun yang lalu adalah hal yang tidak mungkin. Menekan sampai diluar batas kemampuan grip ban, konsekwensinya ban akan kehilangan daya cengkram dengan aspal dan motor crash.
Digdayanya grip ban belakangan ini terutama pada waktu motor miring di corner tidak lepas dibantu oleh sensor-sensor yang memberi data ke ECU supaya torsi yang disalurkan tepat. Torsi yang sesuai atau pas, mencegah ban depan dan belakang menerima beban berlebihan pada saat posisi motor miring. Pembalap akan bisa cepat melewati tikungan dan kemudian akselerasi lebih awal dipertengahan corner. Jumlah torsi yang terlalu kuat berakibat ban depan atau ban belakang kehilangan grip. Terjadi lowside pada ban depan atau ban belakang spin dan yang terburuk motor mengalami highside.
Makin tinggi level kecanggihan elektronik, ternyata tidak memberikan kesamaan performa tiap motor, terutama pada tim privateer yang memiliki budget terbatas. Sensor- sensor maupun software yang digunakan tim kecil, memiliki efektifitas yang berbeda dengan tim pabrikan atau satelit. Tingkat akurasi dan kecepatan merespon tidak sekuat yang dimiliki tim besar. Ini tentu memberi efek terhadap performa motor di lintasan sirkuit. Tim besar akan selalu mendapatkan keuntungan elektronik yang lebih sempurna yang di wujudkan pada perolehan lap time misalkan 0.1 detik lebih cepat dari tim privateer di tiap cornernya. Kecanggihan elektronik tim pabrikan dan satelit diperkuat dengan perbedaan horsepower menjadikan gap yang cukup siknifikan dengan motor open class. Perbedaan maksimum horsepower mencapai 10-15hp di ban belakang.
Unifikasi software mencoba mengecilkan gap tersebut. Tim pabrikan dan satelit akan memakai software yang selama ini sudah digunakan oleh tim privateer. Artinya tingkat performa elektronik akan sama dengan tim privateer. Tapi apakah akan seperti itu? Selain unifikasi software, seluruh tim akan menggunakan ECU yang sama buatan Magneti Marelli tipe AGO 340.

Magneti-Marelli-AGO-340-ECU

Magneti Marelli AGO 340
Dengan software yang sama levelnya, tim privateer akan mempunyai kesempatan yang sama pula dengan tim besar. Tergantung kepada skill tenaga ahli masing-masing tim untuk men tweak nya. Dapat di analogikan secara sederhana, membuat animasi 3D dengan aplikasi software yang sama, tapi hasilnya berbeda satu dengan lainnya tergantung kemampuan dari masing-masing animatornya. Tehnisi dengan skill bagus akan bisa men-ekstrak software kemudian merealisasikan se optimal mungkin pada ECU motor. Tapi katanya walaupun software telah di unifikasi, tim besar karena mempunyai banyak source akan tetap ada jalan untuk memerah software lebih intensif lagi.
Setelah unifikasi software apakah tim besar akan membiarkan pula alat-alat sensor ter-homologasi? Dengan di homologasi, tim rival nya akan juga bisa menggunakan sensor yang sama. Kita sudah dengar bahwa Honda dan Yamaha meminta alat sensor “inertial platform” untuk tidak di homologasi. Dibiarkan sebagai free device, maka masing-masing tim dapat memilih alat tersebut sesuai keinginan. Tanpa kuatir tim kompetitor mengetahui spek yang digunakan. Ini masih menjadi pertimbangan Dorna. Ada kecurigaan Gigi Dall’Igna tim manager Ducati bahwa sensor pada inertial platform yang Honda dan Yamaha inginkan untuk tidak di homologasi bisa menjadi ECU kedua dengan kemampuan pintar (intelligent) mengatur parameter elektronik motor secara real-time sesuai dengan kondisi ketika motor melintas disirkuit.
Inertial platform adalah seperangkat sensor-sensor gyroscope dan accelerometer yang mengawasi gerak dan tingkah laku motor. Sensor akan mengirim data ke komputer seperti berapa besar sudut motor menukik (pitch) ketika ngerem kuat untuk masuk tikungan. Berapa sudut kemiringan motor (lean angle-roll). Berapa besar tekanan gravitasi dan gaya sentrifugal yang diterima motor pada saat melesat masuk dan keluar tikungan. Berapa banyak bukaan throttle dan menggunakan gigi transmisi berapa pada saat di tikungan dan akselerasi keluar tikungan. Semua ada parameter nya dan dikemas dalam algorithma kemudian komputer meng kalkulasi dengan tujuan mesin menyalurkan torsi yang linear dan akurat, tidak berlebihan dan tidak terlalu kecil. Traction control, wheelie control dll, memiliki beberapa parameter seperti speed motor, engine rpm, torsi dengan seting point yang berbeda – beda untuk tiap tikungan.
Untuk pembalap-pembalap tim besar dengan memakai software baru ini adalah suatu kemunduran pastinya. ECU tidak beraksi secara cepat dan se-akurat seperti sebelumnya.  Perlu perubahan determinasi dan feeling lagi supaya dapat kembali ke performa sebelumnya seperti dengan software lama. Motor lebih banyak wheelie dan slide pada ban belakang, seperti yang dikatakan Ianonne. Menurut Marquez perbedaan yang siknifikan pada saat mulai membuka throttle di pertengahan tikungan (mid corner) untuk akselerasi keluar corner. Elektronik masih naik-turun, belum konsisten. Masih perlu di tuning dan koreksi. Dengan software unifikasi ini, performa ECU motor mirip dengan ECU pada tahun 2008 kata Rossi.
Kembalinya Michelin ke motogp memang bukan yang pertama kali setelah 7 tahun dengan Bridgestone. Pembalap-pembalap senior seperti Rossi sudah pernah merasakan ban Michelin sebelumnya. Kejayaan pembalap legend Mick Doohan 5 kali juara dunia, dengan memakai Michelin di motor Honda NSR GP500 nya. Hanya muncul permasalahan dengan berubahnya karakter ban yang mempengaruhi set-up motor secara keseluruhan. Dimana selama ini pembalap sudah terbisa dan terbangun feeling, refleks maupun determinasi balapnya memakai ban Bridgestone. Demikian pula dengan teknisi tim.
Menurut beberapa pembalap, ban belakang Michelin memiliki grip yang bagus, tapi untuk sementara dengan margin grip yang kurang istimewa pada ban depan. Tidak se-superior ban depan Bridgestone. Ban depan tidak memberi feedback yang baik dengan itu sulit untuk pembalap mengetahui kondisi ban di lintasan. Ban depan bisa dengan tiba-tiba kehilangan traksi dan motor crash, tanpa ada isyarat terlebih dulu. Perlu penanganan yang teliti terhadap suspensi, geometry motor, elektronik dan power delivery mesin. Komponen dan parameter motor tersebut di sinkronkan sampai pembalap menemukan level yang nyaman.
Para rider motogp perlu waktu ber-adaptasi dengan mencari cara membalap yang efektif dengan ban Michelin ini. Seperti kata Marquez, bahwa dia perlu memahami sampai dimana limit kemampuan ban khususnya ban depan. Dan Michelin akan tidak tinggal diam merespon keluhan pembalap dengan meningkatkan lagi daya cengkram ban depan.
Point dari semua ini tidak lain, dengan karakter ban yang baru dan software seragam, tiap pembalap terutama pabrikan dan satelit akan mulai menjalani kompetisi di musim balap 2016 dari awal lagi. Tiap pembalap mempunyai kesempatan yang sama, sampai kemudian siapa yang upaya penyesuaiannya lebih dulu mencapai level performa paling atas dan kemudian mampu meraih kemenangan terbanyak. Dan untuk pembalap tim open class akan juga mendapatkan kesempatan lebih besar meraih peringkat lebih diatas lagi. Mendekati pembalap tim pabrikan dan satelit yang selama ini susah di wujudkan. Demikian dan salam.
Iklan

2 thoughts on “Ban dan Elektronik motogp 2016

    motogokil said:
    November 27, 2015 pukul 10:45 am

    mantab penjelasannya

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      November 27, 2015 pukul 11:25 am

      Terimakasih banyak pak sudah lihat ke blog kecil ini

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s