Motor eksotis Cagiva GP500

Posted on Updated on

Cagiva C594 GP500

Cagiva GP500 C594 John Kocinski

Diantara motor-motor GP500 tahun 1990 an, kalau boleh pilih yang paling indah bentuknya dan eksotis adalah motor Cagiva. Motor yang dibawa oleh Eddie Lawson dan John Kocinski waktu itu memenangkan beberapa seri balapan GP500.
Mesin 2-tak 80 derajat V 4 silinder 498cc, Big Bang, mengeluarkan power sebesar 177bhp  @12600 rpm dan torsi sekitar 105 Nm @12100 rpm, diukur di ban belakang. Chasis twin spar hybrid perpaduan antara carbon fiber dan aluminium, juga swing arm dari carbon fiber. Berat motor hanya 122 kg, memberikan power to weight ratio yang ideal sekali.
Power output katanya seimbang dengan Yamaha YZR500, tapi masih sedikit dibawah Honda NSR500. Motor mampu mencapai topspeed 300km lebih. Dimulai pada awal 1980 an balapan GP500 Suzuki memenangkan kejuaraan dengan engine 4 cylinder square atau persegi. Motor Cagiva saat itu masih memakai mesin inline 4 cylinder. Karena melihat keberhasilan Suzuki kemudian Cagiva mengembangkan konsep engine 4 cylinder square nya.
Realitanya motor tidak mencapai seperti yang diharapkan dan setelah menjalani beberapa musim yaitu di tahun 1983 baru bisa meraih satu point saja. Berjalan selama lima tahun dengan kerja keras tetap hasil tidak berjalan semestinya. Membuat mereka berpikir faktor apa yang menjadi issue kurang produktif itu, apakah pada motor atau rider atau kombinasi dari keduanya yang menjadi problem.
Kemudian datang bantuan dari King Kenny Robert Senior yang setuju untuk melihat permasalahan apa yang melekat di motor Cagiva. kolaborasi kecil antara Keny Robert dan tim Cagiva yang kedepannya memberi pengaruh positif terhadap motor Cagiva GP500. Sang juara Kenny Robert Sr melesat di lintasan sirkuit untuk mencari tahu performa Cagiva dan berapa lap time yang mampu dicapai. Ternyata  lap time King Kenny hanya terpaut lebih lambat 1 detik! dari fastest lap yang di ciptakan Fast Freddie Spencer dengan motor factory Honda. Dengan hasil test itu performa motor tidak dibilang jelek, dikabungkan dengan pembalap juara dunia perolehan lap time berubah siknifikan. Dari situ kemudian di analisa oleh tim Cagiva bahwa dengan mencari pembalap yang memiliki skill bagus dan pengembangan motor lebih improved lagi maka perubahan untuk naik ke level atas akan dimungkinkan. Square engine yang awalnya kenceng tapi kemudian menjadi ketinggalan atau kurang bertenaga. Suzuki sendiri yang sukses dengan square engine kemudian mengganti dengan V4 engine.

Kocinski Cagica GP500

John Kocinski 1994

Selanjutnya musim balap 1986 Cagiva memasang V4 engine ke motor dan menyewa pembalap cepat Juan Garriga. Hanya perolehan point memang belum berarti banyak yaitu empat point total. Tapi setidaknya development motor sudah ke arah yang positif. Tahun 1987 tim merekrut pembalap GP500 dan WSBK asal Prancis Raymond Roche dan mengumpulkan 21 point dan tetap masih kurang. Prestasi Raymond Roche tahun 1984 juara tiga GP500 dan juara WSBK tahun 1990 dengan motor Ducati 851.
Sekali lagi kebaikan Kenny Robert terhadap Cagiva dengan memperkenalkan Randy Mamola. Setelah itu dengan Randy Mamola sebagai rider maka image Cagiva naik dan mulai dikenal sebagai pabrikan papan atas Italia di balapan GP500 yang di dominasi motor-motor Jepang. Motor Mamola di design oleh designer Maestro Massimo Tamburi yang juga men design motor ikonik Ducati 919.
Eddie Lawson juara GP500 empat kali masuk menggantikan Mamola dimusim balap tahun 1991. Berhasil merebut dua podium dan salah satunya di Italia yang tentu memberi kegembiraan fans Cagiva. Motor C591 Eddie adalah seutuhnya peningkatan dari motor sebelumnya.
Dilengkapi dengan ECU cukup canggih waktu itu, top of the line fuel injection dan semi-aktif suspensi Ohlins dikontrol secara elektronik. Sistim rem menggunakan Brembo dengan carbon disc, velq Marchesini dan ban Michelin.
Sudah ada kontrol traksi yang masih eksperimental, yaitu mematikan (ignition cut-off) satu atau dua silinder mesin disaat situasi tertentu, dengan tujuan mengurangi ban belakang slide atau spin. Seperti karakter torsi motor GP500 yang tidak halus, peranan kontrol traksi sangat penting. Karena sedikit kesalahan pada throttle, motor bisa menggigit si pembalapnya dan melempar ke aspal (highside)
Tahun 1993 Kocinski memenangi Grand Prix di sirkuit Laguna Seca Amerika dengan Cagiva C593. Kesuksesan meningkat di tahun 1994 dengan Cagiva C594, mencapai banyak podium kemenangan dan diakhiri meraih peringkat ke 3 pada kejuaraan Dunia GP500.
Ironisnya setelah tahun kesuksesan itu, karena masalah finansial, Cagiva mengundurkan diri dari balap GP500. Performa motor Cagiva yang sudah sama dengan motor-motor GP500 dari Jepang akhirnya terpaksa harus menyerah di medan pertempuran.
Ada rencana dari Giovanni Castiglioni owner MV Agusta untuk memproduksi limited edition C594 track use only. Kata Castiglioni motor menggunakan chasis MV Agusta F3 kemudian memakai mesin 2-tak 500cc dengan power output 197 hp di ban belakang.  Misalkan itu direalisasikan pasti akan menjadi incaran para hobbyst motor. Dan dengan harga yang fantastis tentunya.

Eddie Lawson Cagiva GP500

Eddie lawson

Cagiva GP500 motor yang sayang untuk dilupakan, mempunyai kekokohan dan keunggulan. Di design dengan bentuk yang indah dan teknologi tinggi supaya mampu bertarung di balapan Grand Prix 500 bersama motor-motor Jepang. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
Cagiva C594 specification :
  • 2 stroke V 4 cylinder, 80 degree, 498cc, liquid cooled.
  • Power 177 bhp  @12600 rpm at the rear tire.
  • Torque 105 Nm @12100 rpm at the rear tire.
  • Chassis Twin Spar carbon fiber – aluminum alloy.
  • Weight 122 kg
  • Magneti Marelli electronics
  • Ohlins fork & rear shock fully adjustable
  • Brembo brake system with carbon fiber disc
  • Regina chain
  • Marchessini Wheels
  • Michelin slick tires
Iklan

6 thoughts on “Motor eksotis Cagiva GP500

    miko said:
    Juni 19, 2015 pukul 9:01 pm

    Ini motor lincah sekali, ane pernah liat kocinski bawa cagiva di laguna seca 1993… meliuk liuk, hajar crockscrew mulus sekali. Suaranya aluus…kocinski bawa ini motor seperti Jorge, aluus…ane perhatiin dimensi Cagiva paling slim dibanding NSR bahkan Yamaha. mirip2 Yamaha Padgett lah.
    Kalo gak salah pulak di eastern creek juga menang tp versi C594.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Juni 20, 2015 pukul 2:14 am

      keren pak bisa liat secara langsung ke laguna seca.

      setuju memang bagus bentuknya motor ini, ciri designer itali.

      Suka

    modar madir said:
    Juli 8, 2015 pukul 9:31 pm

    kalo ga salah, ne motor dulu power deliverynya di anggap paling halus dan sangat lincah yaaa bahkan di banding nsr 500 yang juga make bigbang, lebih lincah ne c594. Sayang cagiva akhirnya kolaps

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Juli 9, 2015 pukul 12:08 am

      terakhir udh mulai kompetitif bersaing dg motor jepang. di tahun 1994 lumayan kocinski cukup sukses

      Suka

    Roy (Sempak Operpret) said:
    Juli 24, 2015 pukul 10:47 am

    pake big bang biar emang halus, kalo pake screamer biker nya loncat2 diatas motor.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Juli 24, 2015 pukul 2:01 pm

      iya pak….

      dulu balap motor GP500 memang enak diliatnya. motor slide sama wheelie tinggi sering terjadi.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s