Motogp tanpa elektronik canggih apa bisa kenceng seperti sekarang?

Posted on Updated on

A yamaha-m1-dasboard
Yamaha M1 Dasboard (asphaltandrubber.com)
Kita sudah saksikan motogp melesat di lintasan lurus sampai 360 km/jam, mengerem kuat dan masuk tikungan dengan speed yang luarbiasa. Kemudian keluar tikungan akselerasi sangat cepat, tanpa kuatir ban belakang spin terlalu banyak atau ban depan terangkat (wheelie) terlalu tinggi. Speed yang boleh dibilang sangat fantastis. Tapi tanpa bantuan elektronik canggih, motogp apa bisa secepat itu?
Motor dengan berat 158 kg, power 240 -260 hp di ban belakang pada putaran maksimum lebih dari 16000 rpm, akan sangat susah dikendarai kalau tidak menggunakan bantuan komputer dan peralatan elektronik lainnya. Walaupun betapa presisi nya geometry frame dan swing-arm motor, juga suspensi yang canggih, tetap si rider akan kerepotan mengatur torsi mesin yang luar biasa besar itu. Terutama pada putaran dimana powerband mesin mulai menendang antara 10500-11000 rpm. Torsi maksimum motogp open class lebih dari 110 Nm di 14000 rpm, dan power puncak 240 hp. Sebagai perbandingan dengan superbike WSBK, peraturan sebelumnya membolehkan power puncak mencapai 230-240 hp di ban belakang. Ninja ZX-10R Tom Sykes juara WSBK tahun 2013 memproduksi 240hp at the rear wheel yang di bangun dan di tuning oleh Kawasaki Factory. Peak power ZX-10R sama kuat dengan power puncak tim motogp open class. Kemudian diterapkan nya peraturan baru, terjadi penurunan power sekarang sekitar 200-210 hp di ban belakang. Dengan power sebesar itu pun motor WSBK masih tetap memerlukan bantuan elektronik, apa lagi motogp dengan power output lebih digdaya 240-260 hp.
Ban motogp memiliki daya cengkram atau grip sangat ekstrim ke aspal. Tapi grip ban tidak akan mampu menahan ketika mesin makin kuat membangun torsi dan horsepower. Bayangkan aja bidang pada ban yang kontak dengan aspal sirkuit hanya sebesar kepalan tangan orang dewasa!, jelas bidang yang sangat kecil. Tapi tidak diragukan kemampuan grip ban slick motogp sekarang ini.
Disaat motor miring pada sudut ekstrim lebih dari 60 derajat, tumpuan paling besar pada ban depannya. Kalau power terlalu kuat mendorong ban depan, bisa mengakibatkan hilang traksi yang kemudian motor lowside dan crash. Atau sebaliknya ban belakang yang kehilangan traksi, ban menjadi spin atau slide ke samping. Ini bisa juga mengakibatkan motor highside, melempar si pembalap keluar dari motornya. Highside adalah hal buruk yang paling di kuatirkan pembalap. Hampir semua kecelakaan parah yang dialami pembalap akibat highside di tikungan.

Bautista Mugello 2014

Highside adalah kejadian yang paling dikuatirkan selain menabrak. Secepat kejapan mata, seketika motor akan melempar rider dengan keras ke arah samping. Di era motor GP500 karena tidak dilengkapi elektronik canggih, highside sering terjadi.

Masuk dan keluar tikungan adalah faktor terpenting pada saat balapan yang menentukan lap time dan hasil akhir balapan. Karena di track yang banyak tikungan, faktor topspeed menjadi nomer dua. Melesat secepat mungkin masuk ke tikungan kemudian akselerasi membuka gaz lebih awal di mid-corner untuk keluar dengan kenceng adalah target tiap pembalap memperoleh lap time paling unggul dari rivalnya.
Dengan adanya bantuan komputer dan alat sensor elektronik, motor bisa jauh lebih mudah dikontrol oleh ridernya. Meskipun tidak 100% meng-cover, tetap pembalap yang berperan menentukan. Komputer meng-eksekusi dengan membuat penyaluran torsi mesin ke ban belakang sehalus atau se linear mungkin.
Alat sensor dipasang di bagian-bagian motor, seperti di swing-arm, di fork, shock belakang dan as depan,  di throttle dll. Juga Inertia Platform yaitu gyroscope dan accelerometer. Semua alat tersebut memonitor kondisi dan tingkah laku motor.
GPS menentukan posisi dan speed motor di lintasan sirkuit dengan akurat. Ini penting untuk komputer mengatur power mesin yang dibolehkan di tiap-tiap section sirkuit. Misalkan posisi motor sedang di tikungan lima, pembalap dan teknisi sudah menentukan sebelumnya ditikungan lima tersebut motor akan memakai gigi 2. Jadi setiap kali motor melewati corner itu, komputer mendapat data dari GPS dimana posisi motor berada, untuk memberikan power delivery mesin yang tepat seperti yang telah diprogram oleh Teknisi. Kalau rider terlalu banyak membuka throttle dan ban belakang spin, komputer akan langsung mengatur dari data yang diberikan traction control. Tidak saja di corner lima, tapi di seluruh corner yang ada di sirkuit. Semua tikungan memiliki tabel yang berbeda-beda dan sudah ditentukan parameternya.
Tapi kemudian GPS tidak lagi digunakan dan alat pengganti untuk menentukan posisi motor di lintasan sirkuit melalui penghitungan pada tiap sektor. Sirkuit di bagi menjadi 3 atau 4 sektor dan pada tiap sektor ditempatkan alat pemicu atau trigger. Begitu motor melewati sektor maka alat pemicu atau trigger melakukan kontak dengan transponder yang dipasangkan di motor untuk memulai kalkulasi jarak berdasarkan putaran ban. Dengan cara itu motor dapat di tentukan lokasinya dimana di lintasan. 
Gyroscope untuk memonitor sudut pitch dan roll motor. Accelerometer memonitor seberapa besar tekanan gaya sentrifugal yang diterima motor pada saat menikung di corner.
Pada saat miring gyroscope akan  bekerja untuk menentukan seberapa banyak sudut kemiringan (roll) motor. Tiap sudut kemiringan (lean angle) di tiap tikungan mempunyai tabel ukuran power mesin yang berbeda-beda. Ini sudah di program sebelumnya oleh engineer dan semua data diproses dengan algorithma. Seberapa besar throttle yang dibuka oleh rider pada saat roll-on di pertengahan tikungan kecepatan tinggi (high speed flowing corner) kemudian transisi untuk akselerasi keluar tikungan. Sensor yang terletak di throttle, sensor di traction control, gyroscope dan accelerometer secara syncron akan mengirim data ke komputer untuk diproses dan menentukan seberapa besar jumlah power yang tepat untuk disalurkan saat itu.
Waktu sudut bagian depan motor (pitch) menukik tajam karena mengerem kuat mendekati tikungan, gyroscope memberikan data dan komputer mengatur engine braking yang tepat untuk masuk ke corner berdasarkan speed dan tekanan (brake pressure) pada tuas rem (brake lever). Semua ada sensornya….

A 2015 Yamaha-R1-IMU

Inertia Platform yaitu gyroscope dan accelerometer mengukur gerakan motor terutama pada saat deselerasi mengerem untuk masuk tikungan, berada di tikungan dan akselerasi keluar. Contoh ilustrasi alat Inertia Measurement Unit (IMU) superbike Yamaha YZF-R1 2015 yang mirip cara kerjanya dengan Inertia Platform motogp.

Traction Control sensor mengurangi dan mengatur  spin pada ban belakang. Biasanya terjadi waktu motor masih posisi miring di pertengahan tikungan (mid-corner) dan akselerasi keluar. Begitu ban belakang spin, komputer langsung mengatur dan menyesuaikan torsi. Ini berdasarkan dari sudut kemiringan (lean angle) motor, bukaan throttle, kecepatan putaran roda dan gigi transmisi yang digunakan rider saat itu. Bila ban belakang tiba-tiba revving tinggi berputar lebih cepat dari ban depan, komputer bereaksi dan mengkoreksi.

RCV Traction control

Traction control sensor Honda RC213V

Anti wheelie sensor mencegah ban depan terangkat tinggi pada saat akselerasi keluar tikungan. Menggunakan gyroscope atau sensor yang dipasang di kedua suspensi motor, di fork dan shock belakang. Bila ada perbedaan travel dari kedua suspensi akibat wheelie, maka komputer segera mengatur power mesin dari data yang dikirim, atau gyroscope yang mendeteksi perbedaan sudut depan dan belakang motor (pitch). Jarang kita lihat ban depan MotoGP terangkat tinggi dari aspal, karena komputer langsung bereaksi dengan mengurangi power mesin. Wheelie yang berlebihan memberi efek terhadap berkurangnya waktu dan kecepatan akselerasi.
Kemampuan pintar self-learning ber-adaptasi terhadap situasi yang berubah atau adaptive strategy, seperti performa grip ban yang mulai menipis dan pengaturan konsumsi bbm saat balapan masih berlangsung. Komputer melakukan simulasi dari data-data yang diterima untuk memprediksi kondisi motor akan seperti apa di beberapa lap selanjutnya secara real-time. Pengaturan kembali supply bensin yang lebih irit tapi performa mesin tidak terlalu menurun drastis. Juga men-simulasi seperti seberapa banyak lagi kemampuan ban mampu bertahan. Kemudian mesin langsung di re-map oleh komputer supaya power yang dikeluarkan sesuai dengan kondisi grip ban motor yang digunakan pada sisa lap itu. Tujuan nya pembalap dimungkinkan tetap memiliki daya cengkram ban yang cukup sampai akhir balapan.   canggih 

Magneti-Marelli-AGO-340-ECU

Magneti Marelli ECU

Intinya komputer dan sensor elektronik membuat motor yang mempunyai power luarbiasa besar itu menjadi lebih mudah untuk dikendarai sesuai seperti yang di inginkan ridernya. Mampu memprediksi kondisi dan karakter motor di lap-lap berikutnya dengan me-remap ulang mesin secara real-time, hal itu meringankan kerja si pembalap. Tanpa alat-alat ini rider pasti akan kewalahan, walaupun untuk rider se level dewa-dewa motogp.     Kalau di motor Honda kerjaan nya Asimo.
Kata Lorenzo “I prefer to stick with the traction control. I can control the bike, but the power of a MotoGP machine is huge, more than 250 hp, so you need some help. Without traction control, it would be impossible to ride these machines. Traction control also means more safety. Sometimes the bike reacts differently to your way of riding, but for sure traction control always saves the crash. Even with traction control we sometimes struggle to keep the grip on the rear tire, so I think it would be almost impossible to ride our bikes without it.”
Dari kata-kata Lorenzo bisa kita fahami dengan terjemahan bebas bahwa mengendarai motogp dengan power begitu besar lebih dari 250hp perlu bantuan traction control. Dengan traction control berarti lebih aman. Walaupun kadang reaksi motor berbeda dengan keinginan si ridernya, tapi pastinya traction control selalu mencegah terjadinya crash. Meskipun dengan traction control, kadang pembalap tetap berupaya keras menjaga grip ban belakang supaya tetap efektif. Jadi menurut Lorenzo hampir tidak mungkin mengendarai motor tanpa traction control.

Redding Honda Qatar Bonnie lane

Scott Redding menjinakkan torsi Honda RC213V
Berbeda di era motor GP500, yang mana pembalap sepenuhnya mengkontrol power dan torsi motor. Komputernya adalah feeling dan refleks si pembalap yang mendeterminasi melalui tangan kanan di throttle. Upaya pembalap GP500 yang lebih berat memberi konsekwensi yaitu sedikit kesalahan dapat berakibat kerugian besar.
Dengan bantuan elektronik pembalap motogp akan merasa lebih aman dan nyaman melaju di tikungan dalam kecepatan tinggi. Semakin cepat di tikungan, semakin bagus lap time nya. Motogp telah ber-evolusi luar biasa, memungkinkan pembalap melesat di tikungan dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya. Dimana pada waktu dulu elekronik motogp masih kuno dan biasa, hal itu adalah mustahil. Demikian Bro pembaca sekalian bahasan ringkas  ini.

 

Iklan

11 thoughts on “Motogp tanpa elektronik canggih apa bisa kenceng seperti sekarang?

    putra said:
    Mei 26, 2015 pukul 8:38 pm

    oooo jd gitu tho yo….

    Suka

    putra said:
    Mei 26, 2015 pukul 8:40 pm

    ooooooooo jd gitu tho yo…

    Suka

    brigade jalan raya said:
    Mei 27, 2015 pukul 1:39 pm

    katanya HRC tahun ini punya 25 sensor pada motornya. robot tenan.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 27, 2015 pukul 4:30 pm

      iya, bisa juga pak sebanyak itu….sudah mirip robot, motogp sekarang

      waktu qualifikasi di le mans 2015 kmaren, salah satu sensor di motor lorenzo ada yg rusak. motor jadi banyak sliding di beberapa tikungan, juga engine brakingnya bekerja kurang bagus kata lorenzo. Sensor pengaruh ke karakter motor.

      Suka

    orong-orong said:
    Mei 27, 2015 pukul 3:24 pm

    tergantung skill pembalapnya
    ijin share gan, siapkan tabunganmu
    http://orongorong.com/2015/05/27/hot-honda-rc-213v-s-akan-di-luncurkan-11-juni-2015/

    Suka

    tri_aja_gunung_kidul said:
    Mei 27, 2015 pukul 9:43 pm

    Jian top tenant tehnologi motogp
    …makany kl error mtr jd gak bs lari….

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Mei 27, 2015 pukul 10:18 pm

      bener pak…. bisa2 orangnya yang lari ..kaya marquez motornya mogok waktu kualifikasi. lari ke pit ambil motor cadangan :))

      Suka

    RPMspeed said:
    Desember 17, 2015 pukul 4:00 pm

    kalau kencengnya mungkin bisa,tapi kalau yang lain-lain entahlah 😀

    —————————–
    Langkah-Langkah Meningkatkan Pengereman
    http://rpmsuper.com/2015/12/17/cara-meningkatkan-pengereman-motor/

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Desember 17, 2015 pukul 4:25 pm

      sepertinya gak bisa bro… torsi besar ditikungan susah kontrolnya kalau ingin melesat cepat. salah sedikit, terlalu banyak buka gaz bisa amburadul 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s