Highside apa bisa dicegah dengan sistim elektronik canggih MotoGP ?

Posted on Updated on

Marquez Sachsenring 2014Marquez Sachsenring 2014, highside datangnya secara tiba-tiba
Tidak ada yangg lebih dikuatirkan oleh pembalap motogp, moto2, WSBK dan lainnya dari pada motornya mengalami “Highside”, melempar tinggi si rider ke atas udara kemudian meluncur jatuh ke aspal.
Hampir semua pembalap pernah mengalami highside, mulai dari yang ringan sampai yang terparah. Akibat dari highside pembalap mengalami cedera memar kalau yang paling ringannya dan sampai patah kalau benturannya keras.
Kejadian berlangsung begitu cepat tanpa memberikan kesempatan untuk bereaksi atau berpikir mengantisipasi, yang selanjutnya terjadi si pembalap sudah melayang dari motor dan tumpah ke aspal sirkuit.
Highside terjadi ketika ban belakang mengalami kehilangan daya cengkram (grip) dengan aspal secara tiba-tiba. Membuat bagian belakang atau buritan motor bergeser ke samping secara cepat atau yang biasa kita dengar dengan istilah slide, dan dengan cepat pula ban belakang kembali mendapat traksi lagi dengan aspal. Ini justru bagian terjeleknya karena mengakibatkan rider terlempar dari motor dengan keras. Highside adalah mimpi buruk yang datang ketika sedang konsentrasi memacu motor.
Muncul mimpi buruk itu biasanya di tikungan atau sedang keluar tikungan bersamaan pembalap mulai membuka gaz untuk akselerasi cepat. Posisi lean angle motor miring atau juga mulai tegak (upright), kemudian tanpa tanda apapun ban belakang spin kehilangan traksi dengan aspal membuat bagian buntut motor bergeser ke arah samping (sideway). Dalam hitungan milidetik ban kembali mendapat traksi bersamaan shock belakang tertekan oleh berat badan rider. Inertia yang timbul dari gaya lateral ke samping digabungkan dengan tekanan balik per shock belakang ke arah atas menciptakan energi besar yang sanggup melempar rider ke udara.
Ban belakang spin biasanya karena torsi yang terlalu berlebihan penyalurannya atau bisa juga ban menginjak bagian aspal sirkuit yang agak licin karena ada tetesan oli atau mungkin menginjak cat marka garis. Aspal yang basah ketika balapan disaat hujan (wet race) mempermudah ban belakang spin. 
Situasi seperti ini apa bisa dicegah dengan sistim elektronik motor ?
Sistim elektronik  canggih motogp seperti sekarang dapat mencegah highside tapi belum mampu full 100%. Sistim mengurangi ban belakang spin selebihnya pembalap yang mengatur. Mencegah ban spin secara liar atau motor highside yaitu dengan peranan traction control.
Traction control terdiri dari rangkaian sensor-sensor yang dipasang di swingarm dan frontend atau fork. Sensor di swingarm mendeteksi rotasi ban belakang bersamaan dengan traction control di fork yang mengawasi ban depan. Kalau ban belakang secara tiba-tiba berputar cepat, revving ke rpm tinggi. Putaran ban belakang yang tidak sama dengan ban depan, komputer motor dalam millidetik bereaksi memproses data yang dikirim dari sensor kontrol traksi yang selanjutnya mengurangi torsi engine.

bautista-mugello-2014Alvaro Bautista Mugello 2014

Sistim elektronik mengawasi torsi engine di setiap tikungan kalau posisi motor sudah pada sudut kemiringan tertentu untuk siap menikung. Gyroscope sensor langsung bekerja mengirim data ke komputer untuk diproses, menentukan seberapa besar torsi yang dibutuhkan pada saat motor miring di sudut/angle itu. Juga di tikungan mana, pada gigi berapa, berapa banyak bukaan throttle nya, semua data diproses dengan algorithma.  Komputer mengatur power ouput yang besarnya sesuai dengan tabel yang sudah ter-program. Teknisnya bisa dengan memperlambat pengapian (ignition retarded), mengurangi supply bbm dibarengi dengan menutup secondary valve di throttle body atau mematikan pengapian (ignition cut-off) pada kedua silinder, jadi hanya dua piston yang menyala atau bekerja menghasilkan power pada saat motor miring seperti motor WSBK Kawasaki ZX10R Tom Sykes. Tujuannya supaya torsi tidak berlebihan atau terlalu kuat disalurkan ke ban belakang apabila rider terlalu bersemangat buka throttle. Engine 4 silinder dalam beberapa detik berubah jadi 2 silinder. 
Kawasaki Ninja ZX-10R dan BMW S1000RR di balapan WSBK aplikasikan sistim dua silinder yang secara aktif meledak pada saat motor miring. Honda RC213V memiliki torque sensor (torductor) dimana fungsinya mengatur penyaluran torsi supaya tidak berlebihan sesuai dengan kebutuhan saat itu. Tapi tetap aja masih terjadi highside pada waktu balapan.

Lorenzo Valencia 2012

Jorge Lorenzo Valencia 2012

Menurut Rossi sejak sistim kontrol traksi digunakan sanggup mengurangi kecelakaan disebabkan highside sampai sebesar 60%, tapi belum mampu seluruhnya. Pembalap masih mengalami highside yang lumayan. Lorenzo mengalami highside di Assen 2013, menyebabkan retak tulang bahu (collarbone) parah, juga di Shanghai retak angkle kanan. Begitu pula Marquez, Rossi, Pedrossa dengan beberapa kali kejadian highside.
Tapi kadang ada kontradiksi antara pembalap dengan sistim, yaitu disaat tertentu pembalap perlu membuat ban belakang motornya slide ketika akselerasi keluar tikungan. Slide membantu pembalap menyetir/mengarahkan motornya untuk berada pada line disisi dalam ketika exit corner. Slide dapat mengkoreksi line misalkan terlalu lebar keluar tikungan, kadang juga membuat laju motor lebih cepat. Jadi sedikit slide pada waktu tertentu diperlukan oleh pembalap. Hanya aja jadi kurang efektif kalau terjadi slide secara berlebihan dan gak direncanakan yang cenderung membawa motor highside.
 

AA rcv-traction-controlRepsol Honda RCV rear Traction Control sensor

Pembalap di era motor bengis GP500 sudah terbiasa ban belakang nya spin. Jaman itu belum ada kontrol traksi canggih yang mampu mengatur spin dan mengurangi highside. Walaupun power output motogp diatas motor GP500, tapi dorongan torsi engine 500cc 2-tak sangat kuat dibawah putaran motogp engine 4-tak. Sebagai contoh, power dan torsi maksimum engine Motogp CRT atau open class sekitar 235 hp @16000 rpm, 81 lb-ft @14000 rpm (at the wheel). Power dan torsi maks Honda NSR500 2-tak tahun 1992 di 168bhp @ 13,000rpm, 78ft.lb @ 11,450rpm (at the wheel). Dengan itu kita lihat torsi maksimum dihasilkan Honda NSR500 hanya berbeda sedikit dengan torsi Motogp CRT, tapi muncul pada putaran 2550 rpm  lebih rendah. Mulai dari putaran 8000 rpm torsi motor GP500 sudah menendang kuat. Karakter penyaluran torsi engine 2-tak yang tidak halus atau linear seperti engine 4-tak, digabungkan bobot motor yang jauh lebih ringan sekitar hampir 30kg, membuat motor Honda NSR500 agresif dan mudah spin. Terparahnya kalau spin sampai terjadi highside dalam kecepatan tinggi ketika akselerasi keluar tikungan medium dan high. Kontrol traksi saat itu masih dengan feeling pembalapnya, proses eksekusi melalui tangan kanan di throttle atau melalui rem belakang.
Doohan juara Dunia GP500 lima kali berturut-turut mengalami crash parah di Jerez tahun 1999. Motor NSR500 nya highside pada kecepatan hampir 180 km/jam akibat ban belakang menginjak marka cat putih dipinggir lintasan. Doohan mengalami banyak patah tulang di bagian tubuhnya dan kemudian memutuskan untuk pensiun dari dunia balap. Memupuskan harapan untuk jadi juara dunia yang ke 6 kali tanpa terputus. Honda NSR500 Doohan menyemburkan power output sekitar 180hp di ban belakang dan tentunya dorongan torsi yang lebih digdaya lagi dari NSR500 versi tahun 1992.

traction-control-sensor-yamaha-m1Front traction control sensor Yamaha 1

Apakah jawara-jawara motogp tidak takut highside di kecepatan tinggi?  
Atau sebaliknya nyali mereka seperti pembalap-pembalap yang ikut balapan jalan raya Isle of Man TT, balapan North 100 yang kelihatan gak begitu perduli keselamatan dirinya kalau sampai crash.
Pembalap motogp sebagai manusia normal pasti mereka ada rasa takut atau kekuatiran. Mereka tidak akan mau berakhir seperti pembalap juara GP500 tiga kali Wayne Rainey yang harus dikursi roda seumur hidupnya. Rainey mengalami highside di sirkuit Misano tahun 1993. Highside yang membenamkan karir balap selamanya.
Pembalap motogp sekarang ini mampu mencapai kecepatan luar biasa melesat melewati tikungan karena bantuan elektronik kelas wahid digabungkan grip ban slick yang digdaya. Dengan kekuatan itu mereka merasa aman dan percaya diri, walaupun over confident tetap harus dihindari. Rasa kekuatiran mereka kontrol dengan respek dan percaya diri yang tidak berlebihan.
Jadi peralatan elektronik motogp canggih belum bisa mencegah highside sepenuhnya, baru 60% menurut Rossi. Tapi efeknya sudah cukup luar biasa mencegah pembalap mengalami highside yang akibatnya menyedihkan. Tanpa peralatan canggih tersebut akan susah membawa motor ringan menyemburkan power raksasa di ban belakang. Contoh kejadian Marquez menyenggol swingarm motor Pedrosa di tikungan sirkuit Aragon tahun 2013, membuat kabel sensor belakang traction control terlepas. Seketika ban belakang motor Pedrosa langsung spin tak terkontrol karena over power, selanjutnya tak terhindarkan tumpah ke aspal. Demikian wassalam dan salam sejahtera.
 
Iklan

2 thoughts on “Highside apa bisa dicegah dengan sistim elektronik canggih MotoGP ?

    teletubbies said:
    Juni 13, 2015 pukul 1:06 pm

    yang kenceng itu yang menang

    peace

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s