DUCATI sukses di WSBK dengan 14 kali juara dunia

Posted on Updated on

Ducati 851 raymond-roche

Ducati 851 Raymond Roche WSBK 1990

Di ajang World Superbike Championships motor Ducati L-twin sudut 90 derajat paling banyak jadi juara dunia. Setelah menggeser dominasi Honda RC30 juara WSBK 1988 – 1989 musim balap tahun 1990 Ducati pertama kali menjuarai World Superbike dibawa oleh pembalap asal Perancis Raymond Roche. Sampai saat ini Ducati sudah mengumpulkan 14 kali juara dengan berbagai tipe motor dan kubikasi mesin. Mulai dari Ducati 851 yang digunakan Raymond Roche sampai Ducati 1198R dikendarai Carlos Checa.
Faktor apa membuat sukses motor-motor Ducati. Apakah karena V-twin engine yang menghasilkan torsi lebih kuat mulai dari rpm tengah dibandingkan motor saingannya kebanyakan pakai V4 dan in-line 4 engine ?  

ducati-888-dough-polen

Ducati 888 Dough Polen 1991-1992

Sampai sekarang orang-orang menilai karakter L-twin engine mampu mengeluarkan torsi besar mulai rpm tengah dan mesin V4 atau inline 4 silinder menghasilkan power besar karena sanggup revving lebih tinggi. Mesin 1000cc 4 silinder revving sampai 14500 rpm dan V-Twin 1199cc berputar maximum 11500 rpm. Engine 4 silinder spin 3000 rpm lebih tinggi daripada L-twin.
Anggapan dimana torsi dihasilkan berperan dalam akselerasi memang benar, terutama ketika motor mulai akselerasi keluar corner dengan cepat. Menciptakan fastest lap saat qualifikasi atau seorang pembalap ingin meninggalkan lawan-lawanya waktu race berlangsung ditentukan seberapa cepat motor masuk dan keluar tikungan. Pada saat motor mulai akselerasi di mid-corner untuk exit peranan dorongan torsi yang optimal dibutuhkan supaya bisa cepat.
Adanya torsi muncul tergantung dari tipe engine parameter yang di aplikasikan oleh ahli mesin (engineer). Size atau ukuran profil camshaft, Throttle Body, klep intake/exhaust dan port cylinder head mempengaruhi karakteristik powerband. Luas valve area (klep intake/exhaust) yang bisa di aplikasi memudahkan airflow bergerak cepat masuk ke dalam silinder di rpm tinggi. Tentunya menyumbang cylinder pressure lebih banyak untuk mencapai horsepower dan torsi besar di rpm tinggi. Ini adalah karakter dari mesin 4 silinder. L-twin engine dengan lebih sedikit valve area cenderung memproduksi torsi maksimum di rpm yang lebih rendah.
Tapi ahli mesin Ducati selalu mencoba memberikan valve area di twin big-bore, short stroke engine sampai ujung batas toleransi. Hanya bore begitu besar dan stroke yang sangat pendek membuat pembakaran lebih lambat karena ruang pembakaran (combustion chamber) jadi sempit meredam kecepatan pijaran api (flame speed) untuk membakar semua campuran udara/bbm. Ini menjadi pertimbangan kenapa ahli mesin Ducati akhirnya memilih L-4 silinder di atas L-twin sebagai sumber tenaga motogp. Piston ukuran XXL akan menghadapi masalah pembakaran di rpm ekstrim sangat tinggi. Tapi engineer Ducati dapat mencari cara paling efisien bagaimana supaya L-twin engine menghasilkan torsi dan power output sekuat mungkin.
Intinya Ducati L-Twin engine bisa menghasilkan torsi besar mulai rpm tengah. Berlainan dengan 4 silinder yang baru menarik kuat di putaran atas. Ada keuntungannya torsi muncul dan menendang di rpm tengah. Ketika motor keluar dari slow corner atau chicane, torsi kuat sudah tersedia. Jadi motor bisa ber-akselerasi dengan cepat kapanpun pembalap membuka throttle.

ducati-916-carl-fogarty

Ducati 916 Carl Fogarty

Tapi itu hanya seperseribu detik perbedaan karena begitu motor 4 silinder semakin efisien mencapai powerband di rpm atas, torsi pun menarik kuat untuk mendorong motor ber-akselerasi kencang keluar tikungan.
Ada pendapat kalau torsi V-twin engine Ducati dihasilkan karena stroke nya. Itu tidak tepat karena engine sangat oversquare, stroke ultra pendek dibandingkan dengan ukuran bore. Ducati engine sangat oversquare tidak diuntungkan oleh panjang stroke seperti mesin square atau overstroke, yaitu adanya daya ungkit (leverage advantage) connecting rod menekan pin crankshaft ketika piston melewati TDC sekitar 14 derajat dan memuncak pada 85 – 90 derajat rotasi crankshaft. Torsi Ducati engine mayoritas datang dari cylinder pressure meledak di ruang bakar (combustion chamber) dan sebagian kecil dari inertia masa engine yang bergerak (engine reciprocating mass) yaitu crankshaft, piston dan con-rod.

ducati-999R fila-james-toseland

Ducati 999 James Toseland WSBK 2004

Pada dasarnya supaya motor bisa kompetitif selain dikendarai oleh rider bermodal skill bagus, motor harus komplit secara keseluruhan. Dalam pengertian engine, chassis, komponen elektronik dikemasan begitu akurat dan ideal. Salah satu dari faktor itu kurang maka performa akan tidak balance.
Ducati berhasil menciptakan motor balap yang bisa dikatakan unggul pada aspek diatas. Daya dorong engine begitu digdaya di kombinasikan daya tahan untuk ditekan sampai batas maksimum. Memiliki chassis dengan kestabilan tinggi saat hard braking, masuk dan keluar tikungan di gabungkan sistim elektronik dan suspensi bekerja secara efektif.
Ducati sudah sukses di tahun-tahun belakangan menciptakan motor sangat kompetitif dan keluar sebagai juara. Mungkin sekarang ini ada tantangan dari motor-motor kompetitor lain seperti , Aprilia RSV4 R Factory, Kawasaki Ninja ZX-10R yang juga pada level prima karena semakin improved. Kita tunggu aja performa Ducati 1199 Panigale R ditunggangi Chaz Davies di musim balap 2015 ini.

List juara Superbike dengan Ducati

Tahun Rider Negara Motor
1990 Raymond Roche Perancis Ducati 851
1991-1992 Doug Polen USA Ducati 888
1994-1995-1998 Carl Fogarty Inggris Ducati 916
1999 Carl Fogarty Inggris Ducati 996
1996 Troy Corser Australia Ducati 916
2001 Troy Bayliss Australia Ducati 996R
2003 Neil Hodgson Inggris Ducati 999FO3
2004 James Toseland Inggris Ducati 999FO4
2006 Troy Bayliss Australia Ducati 999FO6
2008 Troy Bayliss Australia Ducati 1098FO8
2011 Carlos Checa Spain Ducati 1198R

ducati 1199R chaz davies

Ducati 1199 Panigale R Chaz Davies

ducati 1199R engine superquadro

Ducati 1199 Panigale Desmodromic valve actuation mengkontrol ukuran klep yang besar dengan tepat dan efisien. Menutup klep tidak memakai per (valve springs), melainkan dengan pengungkit (lever) terhubung dengan camshaft lobe.

ducati pstons superquadro 1199 Panigale

Ratio piston bore ukuran XXL dan stroke ultra pendek “Oversquare” membuat mesin L-twin sanggup revving mencapai rpm maksimum lebih tinggi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s