Horse power versus Torsi mana yang lebih penting di jalan raya ?

Posted on Updated on

cbr-250-motorcycledaily

Honda CBR250R ( motorcycledaily.com )

Kali ini coba bahas secara singkat mengenai Horsepower (HP) dan Torsi (torque), apa arti dari keduanya dan mana yang lebih penting untuk pemakaian di jalan raya sehari-hari.
Sering kita dengar istilah kata HP atau horsepower menyangkut performa motor, jarang di dengar kata torsi. Biasanya sales motor promosi dengan kasih keterangan seberapa besar HP motor yang kita sedang lihat di dealer. Karena kata HP atau PS ( Pferdestärke ) dari singkatan bahasa German untuk tenaga kuda, sudah familiar dengan merujuk ke performa mobil atau motor.
Dari pandangan atau strategi marketing torsi memang kurang mempunyai nilai jual, horsepower atau HP lebih menarik. Tepat seperti kutipan (quote) dari Enzo Ferrari “ Horsepower sells cars, torque wins races “.
Jadi mana yang penting, hp atau torsi kalau untuk ingin tahu seperti apa performa beberapa motor yang di minati?.  
Dua-duanya memang penting Bro hanya aja akan terbagi menjadi dua karakter engine pada masing-masing motor tersebut. 
Sebenarnya dalam pengertian tarikan, akselerasi, jambakan motor, apapun itu namanya lebih tepat merujuk pada torsi karena itu yang kita rasakan tiap kali buka gaz, bukan HP. Seberapa besar torsi yang dihasilkan pada tiap rentang RPM nya. Semakin besar torsi yang disalurkan ke ban belakang semakin kuat tarikan atau jambakan motor itu.
Kalau di analogikan dengan bersepeda, torsi adalah upaya tenaga kita untuk menjalankan sepeda dari posisi diam selanjutnya akselerasi ke kecepatan yang kita inginkan misalkan 10 km/jam, nah itu adalah torsi. Kemudian usaha kita untuk menjaga laju sepeda supaya tetap berjalan pada kecepatan 10 km/jam itu bisa diartikan horse power.
Jika crankset sepeda panjang 1 feet kemudian diberikan tangential force sebesar 10 pound, maka torsi sebesar 10 pound-feet (13.55 Nm) diterima ke crank sepeda tersebut (10 pound x 1 feet) untuk memutar roda belakang kemudian sepeda menjadi berjalan.
Torsi yang dihasilkan engine motor berpengaruh dengan performanya. Karena sebagian besar dari kita naik motor di jalan raya jadi torsi yang dihasilkan engine harus sesuai dengan RPM yang biasa digunakan di jalan raya. Kemampuan motor akselerasi cepat dipengaruhi langsung oleh kesanggupan engine membangun torsi pada rentang rpm tertentu secara cepat. Ahli mesin menyebutnya “transient torque” . Pada putaran berapa transient torque mulai muncul, di rentang rpm itu akselerasi akan menjadi cepat.
Torsi dipengaruhi oleh berapa besar cylinder pressure yang dikembangkan di dalam ruang bakar (combustion chamber) pada saat posisi piston ATDC sekitar 14 derajat. Ini ditentukan oleh angka parameter engine yang dipakai, seperti profil camshaft, panjang dan size intake/exhaust  tract di cylinder head, dia klep in/ex, diameter throttle body dan lain-lain.
Makin besar combustion pressure semakin kuat torsi yang mempengaruhi HP. Dengan itu cylinder pressure maksimum juga tercapai di putaran yang sama dengan kurva torsi puncak. Melewati titik torsi maksimum peranan digantikan oleh kurva horsepower yang makin bertambah naik dan memuncak pada rpm yang lebih tinggi. Power puncak akan menurun menyentuh redline penyebabnya tendangan torsi yang makin berkurang akibat pasokan airflow mengalami defisit atau sudah tidak lagi mampu mengisi silinder sesuai yang dibutuhkan pada putaran yang semakin kencang. Engine jadi tercekik (choked) kekurangan airflow.
Pada dasarnya engine tidak memproduksi HP, melainkan menciptakan torsi dari energi panas hasil pembakaran campuran udara dan bbm yang menekan permukaan piston ke bawah kemudian memutar crankshaft. Torsi adalah tenaga putar (twisting force) yang bergerak melingkar dari sumbu (axis) misalnya mengencangkan baut dengan pipa sepanjang 1 feet atau seperti contoh analogi bersepeda di atas.
HP mulai terwujud ketika energi panas yang menekan piston memutar crankshaft menjadi torsi mulai membuat motor atau mobil bergerak menempuh jarak dalam rentang waktu tertentu. Dari itu diketahui berapa besar hasil kerja (work) melibatkan tenaga (force) dan jarak (distance) tempuh dalam waktu tertentu atau rpm yang diartikan HP. Mesin dynamometer ditujukan untuk mengukur torsi engine yang disalurkan memutar drum dyno kemudian di konversi menjadi HP pada tiap rentang rpm.
HP adalah hasil hitungan antara torsi dan rpm dengan rumus : HP = torsi x rpm / 5252.
Jadi meskipun torsi maksimum menurun bersamaan naiknya rpm, HP tetap bertambah sampai pada titik dimana kurva torsi benar-benar menurun drastis. Besar HP bisa tetap dipertahankan apabila kurva torsi belum menurun secara cepat. HP bergantung sepenuhnya pada jumlah torsi dan engine rpm. Kira-kira begitulah penyebaran torsi dan power.
Pemakaian di jalan raya yang pendek banyak stop n go juga padat lalu-lintas, jarang rpm motor dapat di geber sampai menyentuh 10000 rpm, apalagi 12000-13000rpm!. Jadi rentang rpm yang sering digunakan di jalan raya adalah dari 2500 – 7500 rpm. Di atas itu adalah perkecualian misalkan waktu jalanan sedang kosong baru motor bisa akselerasi mencapai putaran 10000 lebih. Dengan parameter itu motor yang mengeluarkan torsi besar (transient torque) mulai di range rpm 2500 – 7500 adalah yang tepat atau pas untuk pemakaian jalan raya. Pada rentang putaran 2500 – 7500 rpm motor mampu akselerasi cepat baik di jalan rata ataupun tanjakan, juga selagi turing di jalanan yang berbelok-belok motor akan lincah meluncur tanpa harus banyak pindah ke gir transmisi yang lebih rendah (downshift) karena torsi cukup besar sudah tersedia dari rpm rendah.
Terus bagaimana dengan motor yang tendangan torsi (transient torque) muncul di putaran tengah-atas misalkan memuncak di 10000 rpm, apa kuat jambakan dari rpm bawahnya?
Biasanya tipe atau karakter engine motor seperti itu torsi dari rpm bawah ke tengah agak lemah, tidak begitu kuat dorongannya. Ada jeda waktu dimana cylinder pressure belum efektif mengisi untuk menghasilkan torsi. Engine baru mulai membangun torsi ketika volume udara dan bbm semakin banyak dan cepat masuk ke ruang bakar (combustion chamber) untuk menciptakan cylinder pressure yang optimal yaitu mulai pada putaran tengah sekitar 6000-7000 rpm sampai maksimum menyentuh di 10000 rpm. Selanjutnya engine akan menghasilkan maksimum horsepower yang lebih besar di putaran tinggi misalkan di 12000 rpm. Ini karena pengaruh dari profil camshaft dengan spek durasi maupun valve lift yang tinggi angka nya dan juga size throttle body dengan diameter lebih besar. Nilai parameter seperti itu memberi kontribusi terhadap Volumetric efficiency (VE) mesin yang optimal tercapai di rpm atas.
Motor dengan karakter engine seperti itu lebih enak meluncur di jalan yang panjang atau untuk aktifitas trackday di sirkuit. Powerband nya terasa efektif dari rpm tengah ke atas tapi akan kesulitan agak lambat kalau akselerasi dari rpm bawah ke tengah ketika berkendara di jalan yang pendek atau jalanan menanjak. Perlu menurunkan ke gir transmisi rendah untuk mendapatkan torsi di rpm yang lebih tinggi misalkan mau menyusul kendaraan didepannya.

carnews-beforward-jp

Yamaha YZF-R25 ( carnewsbeforward.jp )

Perbandingan hp dan torsi motor di tabel bawah menurut saya karakter engine Honda CBR250R lebih pada rpm bawah ke tengah. Torsinya mulai kuat dari putaran rendah dan agak rata diputaran atasnya. Yamaha R25 lebih racy yaitu torsi mulai mengangkat di rpm tengah ke atas dan hp maksimum dihasilkan lebih besar di putaran atas. Itu disebabkan karena engine mencapai putaran maksimum yang lebih tinggi dari Honda CBR250R.
Torsi CBR250 akan membuat motor lebih gesit di dalam kota yang banyak stop n go, juga nanjak ke puncak dengan banyak tikungan pendek. Untuk menanjak perlu torsi dari putaran bawah, tapi di jalan yang panjang tarikan CBR250 akan mulai melemah (flat) begitu menyentuh diputaran atas. Itu karena ruang bakar mengalami defisit aliran udara, pasokan yang tidak memenuhi volume yang dibutuhkan pada putaran tinggi.
Sebaliknya Yamaha R25 akan sedikit agak lambat akselerasi di dalam kota dan tanjakan yang berbelok-belok. Harus menggunakan gir transmisi lebih rendah, tapi torsi akan menarik kuat dari rpm tengah sampai putaran atas begitu motor berada di jalan yang cukup panjang. Dimana horsepower dan torsi maksimum dapat di keluarkan oleh engine.

Perbandingan motor Sport-Tourer 250 cc

Motor Horse power Torsi
Honda CBR250R 25 hp @ 8500 RPM 23 Nm @ 7000 RPM
Yamaha YZF R25 35.5 HP @ 12000 rpm 22.1 NM @ 10000 rpm
Timing duration camshaft CBR250R standard intake 235 derajat, exhaust 220 derajat, intake valve max lift 7,5mm, exhaust valve max lift 6.5mm. Kalau CBR250R nya mau lebih racy lagi bisa ganti camshaft aftermarket seperti merk Takegawa dengan timing durasi dan valve lift yang lebih tinggi lagi. Seperti timing durasi intake 236 dan exhaust 234, intake valve max lift 7.62mm, exhaust valve max lift 7.62mm. Titik torsi mencapai maksimum akan bergeser ke rpm yang lebih tinggi dan tentunya menghasilkan maksimum power yang lebih besar lagi. Hanya dengan kompensasi torsi di putaran bawah ke tengah yang akan menjadi kurang galak jambakannya. Juga perlu beberapa penyesuaian pada seting air/fuel ratio (AFR) dan size pipa header lebih besar dan lebih pendek untuk optimalkan kecepatan gas pembakaran keluar dari knalpot. Fine tuning AFR dengan memasang tambahan piggyback yang tersedia di pasaran.
Torsi maksimum CBR250R dan Yamaha R25 kalau kita lihat berbeda sedikit, tapi berpengaruh terhadap perbedaan implementasi pemakaian motor di jalan. Torsi maksimum Yamaha R25 hampir sama besar dengan torsi CBR250R, hanya aja torsi maksimum Yamaha baru akan tercapai memuncak 3000 rpm diatas torsi maksimum CBR250R.
Dari analisa singkat ini kita bisa ambil kesimpulan perbedaan karakter engine motor. Jadi tinggal lihat torsinya seperti apa motor yang cocok kira-kira.  Mesin yang sedikit ber nuansa balap atau racy dengan profil camshaft lebih radikal torsi akan memuncak di putaran yang lebih tinggi dari engine yang profil camshaftnya mild atau menengah. Untuk akselerasi cepat dari putaran rendah maka pilih engine dengan torsi maksimum tercapai pada rpm yang biasa kita gunakan di jalan raya. Bagi yang cari topspeed tertinggi maka tinggal lihat torsi yang memuncak di rpm atas dan pasti akan di ikuti bersamaan dengan horsepower yang besar. Semua itu tentunya kembali pada kesenangan dan kebutuhan masing-masing. Demikian semoga bermanfaat wassalam dan salam sejahtera.

 

Iklan

7 thoughts on “Horse power versus Torsi mana yang lebih penting di jalan raya ?

    teletubbies said:
    Juni 21, 2015 pukul 4:22 am

    owner cbr 250 yg kuatir timing pengapian kacau stelah ubah profil camshaft,
    bisa coba ini
    rasio reduksi akhir (final gear/drive train) nya yg dikecilin jadi putaran atasnya lebih menggila, contoh gear blakang turun 2 mata aja. (misal dari 48 jadi 46: cuman misal ya),
    kasi perangkat2 performa yg plug n play,
    oli ya minimal enduro racing, filter racing, busi minimal platinum lah, fuel minimal pertamax biar sesuai spek.
    upayakan knalpot mski standard dibikin lbih plong tapi suara tetap sopan, misal mau pake knalpot ori/std.
    tekanan udara ban sesuai (jangan kempes)
    entar dgn ubahan segitu ya paling ngga klw cuman dari 146 km/h naik ke 153 km/h itu bisa lah, dalam kondisi mesin sehat.
    >>> kalau anggarannya lebih baru deh colek2 mesin, porting polish ubah profil cam, piggy back dst.
    tapi prcaya deh yg alternatif pertama di atas lbih trjangkau, dan merembetnya ga bikin THR habis seketika.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Juni 21, 2015 pukul 1:44 pm

      setuju pak…. tpi mungkin yg utk penggantian sprocket belakang turun 2 mata gak pengaruh ke topspeed motor. karena power mesin di rpm atas nya tetap.

      Suka

    Roy (Sempak Operpret) said:
    Juli 22, 2015 pukul 8:07 am

    kalo harian sih mending yang torqy dari pada horse power, toh 80 juga udah mentok kecuali malem2 jam 10 keatas.

    lebih irit BBM dan ngegas juga cuma 1/3 gas udah bisa 40kpj di gear 3 dan 60kpj di gear 4.

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Juli 22, 2015 pukul 12:41 pm

      bener pak…utk dalam kota lebih cocok penggunaan torsi putaran mesin low dan mid range

      Suka

        Roy (Sempak Operpret) said:
        Juli 24, 2015 pukul 10:54 am

        yang penting keluar duid harian sedikit. BBM irit, seliter bisa nempuh 70KM dah cukup kok. kalo mw power bisa beli 2 tak buat trackday disentul.

        jangan kebut2an dijalanan, bahaya, biaya duit BBM nya buat nyewa sentul bareng temen2…

        😀

        Disukai oleh 1 orang

      ArenaSepedaMotor responded:
      Juli 24, 2015 pukul 1:40 pm

      itu yg bener….nge trek di sirkuit paling aman sentosa.

      ninja rr 2 tak cocok di sirkuit

      Suka

    hajiMuhsin said:
    Juni 16, 2016 pukul 1:10 am

    Cbr250r sangat spektakulerr..!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s