Raja Motor 2-Tak Grand Prix 500 cc

Posted on Updated on

Rossi 500ccRossi Grand Prix Honda NSR500
Motor GP 500cc 2-tak pernah menjadi raja Grand Prix hampir selama 30 tahun sebelum akhirnya digantikan oleh Motogp 990cc 4-tak.
Dapat julukan sebagai “the baddest”, “the most evil”, “unrideable” motorcycle on the track.
Sepertinya memang begitu motor GP 500cc 2-tak menurut pembalap adalah motor yang susah dijinakkan. Memiliki power output dan torsi besar, kencang dan bobot ringan. Pembalap yang pernah merasakan memacu motor GP500 pasti memberikan sikap respek.
Dengan berat sekitar 130 kg atau lebih ringan 28 kg dari Motogp (Motogp 158 kg) dan power mencapai 200 hp at the back wheel di jaman Rossi, torsi maksimum hampir sama dengan torsi Motogp membuat motor GP 500cc tidak gampang dikendarai dengan cepat. Selain faktor bobot yang ringan torsi engine besar dan dengan karakteristik power delivery tidak linear atau halus secara langsung memberi pengaruh ke ban belakang jadi mudah spin kalau terlalu banyak buka throttle.
Ada istilah walaupun dengan sedikit kesalahan membuka throttle, motor GP500 akan menggigit dan melempar ridernya. Rossi di interviewed untuk Film Dokumenter ” Faster “, mengatakan bahwa ” motor GP500 adalah dari dunia lain ” .
Rossi mengatakan perbedaan motor 500cc 2-tak dan Motogp 1000cc 4-tak pembalap tidak bisa membuka gaz/throttle ketika motor dalam posisi miring (full lean) di corner. Karena engine akan secara tiba-tiba mengeluarkan torsi sangat kuat ke ban belakang kemudian spin kehilangan traksi. Kondisi ini membuat ban belakang cepat habis atau juga bisa mengakibatkan motor highside.
Highside adalah kondisi dimana ban belakang kehilangan traksi atau daya cengkram waktu motor miring di tikungan. Membuat bagian belakang motor bergeser ke samping atau yang kita sering dengar dengan istilah slide. Kemudian secara tiba-tiba ban kembali mendapat traksi dengan aspal tapi inertia yang diciptakan digabungkan shock belakang yang tertekan dan cepat berbalik kembali mengakibatkan si pembalap terlempar dari motor.
Mengapa bisa seperti itu?
Karena karakter engine 2-tak berbeda dengan engine 4-tak. Ketika throttle dalam keadaan tertutup ruang pembakaran (combustion chamber) terisi dengan gas buang (diluted exhaust gas). Kemudian waktu rider sedikit mulai membuka throttle, mixture atau campuran udara dan bensin masuk ke ruang pembakaran bercampur dengan gas buang yang pekat tapi tidak bisa terbakar jadi engine tidak mengasilkan power. Tapi begitu throttle makin dibuka lebar dan sampai pada kondisi campuran udara/bensin yang sudah terkumpul banyak tersebut mulai terbakar maka terjadi ledakan besar. Konsekwensinya adalah torsi yang juga besar keluar secara tiba-tiba tersembur dan membuat ban belakang kehilangan traksi dengan aspal.
Situasi inilah sulit bagi pembalap kalau motor dalam posisi sedang miring di corner. Jadi untuk antisipasinya pembalap harus menegakkan (upright) posisi motornya dulu baru kemudian membuka gaz/throttle dan akselerasi keluar dari corner.
Jaman itu belum ada perangkat elektronik canggih seperti sekarang dimana bisa mengurangi ban belakang spin dan mencegah terjadi highside. Kata Wayne Rainey, alat satu-satunya waktu itu adalah feeling pembalap dengan menyalurkannya via tangan kanan di throttle.
Menurut Rossi penyaluran torsi engine motogp 1000cc 4-tak lebih halus dan rata memungkinkan pembalap merasakan secara langsung power delivery di ban belakang. Juga memungkinkan si pembalap untuk membuka throttle pada saat motor miring dalam sudut hampir maksimum dimana hal itu tidak bisa dilakukan dengan motor GP500 dua tak.

yamaha-yzr500-951 1

Yamaha YZR500 V4 cylinder 2-strokes
Mick Doohan adalah rider paling sukses menjuarai Grand Prix diatas motor NSR500. Mulai balap dengan team Rothmans Honda sampai pensiun terakhir dengan Repsol Honda. Meskipun NSR500 adalah motor pada awalnya galak dan rakus memakan ban belakang atau melempar ridernya ke aspal sirkuit kemudian secara bertahap memakai big bang engine transformasi menjadi motor yang lebih mudah dibawa kenceng. Doohan berhasil sukses juara dunia 5 kali berturut-turut dimana tentunya memgalami banyak peristiwa tertanam di dalam memorinya.
Di Assen thun 1992 Doohan mengalami crashed hebat yang hampir mengharuskan kakinya di amputasi. Tapi berkat ke ahlian Dokter Costa hal itu tidak jadi dilakukan. Tahun 1999 di Jerez Doohan mengalami highside dan terlempar dari motornya dalam kecepatan 180-200 km/jam. Mengalami banyak bagian yang patah kemudian memilih untuk pensiun dari kejuaraan Grand Prix selamanya. Memutuskan harapan menjadi juara dunia ke enam kalinya. Penyebab crashed ban belakang motor menginjak  garis putih di pinggir lintasan dan membuat motor slide kemudian highside.
Untuk menjinakkan torsi engine 500cc 2-tak tahun 1992 HRC aplikasikan sistim ” Bing Bang ” yaitu interval firing order dan posisi crankpin yang berlainan. Ke 4 piston engine V4 meledak hampir secara bersamaan pada 67-75 derajat rotasi crankshaft. Jadi timing ledakan saling berdekatan menimbulkan istilah “Big Bang”. Setelah ledakan besar (big-bang) terjadi pada ke 4 piston diputaran crankshaft selanjutnya engine tidak menghasilkan torsi lagi sampai selesai proses satu kali kerja engine 2-tak. Efeknya power delivery di ban belakang lebih smooth mudah diatur oleh si pembalap.
Bentuk profil crankshaft yang tidak konvensional menimbulkan getaran (gyroscopic effect). Menetralisir melalui efek itu balancer shaft. Engine Bing Bang diutamakan untuk akselerasi tapi dengan karakter distribusi torsi mudah di kontrol oleh rider. Tidak sebrutal atau liar engine 500cc 2-tak konvensional.

doohan-wheelie-nsr500-repsol1

Jawara GP500 Mick Doohan NSR500
Vale adalah juara GP500 terakhir yang kemudian diganti dengan Motogp engine 4-tak 990cc.
Walaupun kapasitas engine 500cc misalkan sekarang diberikan perangkat elektronik yang canggih seperti yang ada di MotoGP, motor GP500 akan bisa berkompetisi dengan motor 1000cc 4-tak. Setidaknya sanggup bersaing dengan tim motogp open-class.
Pada era GP500 engine Honda NSR500 V4 dua tak termasuk paling powerful mencapai 200 hp di putaran 12500 rpm. Mungkin terlihat kecil dibandingkan motogp 1000cc empat tak tim Honda atau Yamaha sekarang mencapai 250-260 hp di 16500 rpm!. Tapi dengan putaran engine GP500 yang jauh lebih rendah dan kekuatan torsi yang hampir sama dengan torsi maksimum motogp (torsi GP500 memuncak pada rpm yang lebih rendah sekitar di 10000 rpm atau lebih rendah 4000 rpm dari torsi maks motogp di 14000 rpm) digabungkan dengan berat motor lebih ringan hampir 30 kg, menjadikan torque to weight ratio GP500 tidak ragukan sangat tangguh.

500-2-stroke Honda NSR500

Honda NSR500 engine

Jangan lupa tendangan torsi motor GP500 sangat kuat dan agresif ketika memasuki powerband di putaran tengah-atas. Digabungkan dengan karakter power delivery yang tidak halus dan linear.
Menurut rider yang sudah pernah test ride bahwa akselerasi motor makin ganas ketika masuk di 9000 rpm sampai ke putaran puncaknya menyentuh limiter di 13000 rpm. Di lain sisi torsi motogp baru mulai garang mendorong di rpm lebih tinggi sekitar 10000-10500 rpm, tapi dengan power delivery relaif lebih mudah dikendalikan, smooth dan linear.
Perbedaan karakter engine seperti itu menjadikan motor GP500 tidak mudah dikendarai pada saat masuk tikungan dan akselerasi keluar tikungan secara cepat. Juga engine 500cc 2-tak hampir bisa dibilang tidak memiliki engine brake pada saat motor deselerasi menuju pintu corner.

kevin-s-suzuki-5001

Kevin Schwant dengan Suzuki RGV500 adalah saingan Wayne Rayne yang menunggangi Yamaha YZR500. Mereka menjadi rival sejak mulai partisipasi di GP500.
Motor GP500 dua tak tidak sulit untuk dikendarai tapi tidak akan mudah dibawa melesat dengan cepat apa lagi menekan sampai ke ujung batas melewati corner. Keterbatasan engine revving hanya 13000 rpm membuat motor GP500 kalah power output dan top speed dengan motogp 1000cc 4-tak yang sanggup revving menyentuh 17000 rpm!.
Cerita akan berbeda apabila engine GP500 498cc ini di bore-out menjadi 600cc misalnya. Power output akan makin besar lagi dan tentunya top speed sanggup menyaingi motogp 1000cc 4-tak. Tapi dengan bertambahnya power dan torsi tentu akan menjadikan motor GP500 di bore-out itu jadi semakin brutal dan susah dikontrol.
Kecepatan tertinggi di lintasan lurus (straightaway) yang pernah dicapai adalah 318.5 km/jam di sirkuit Mugello tahun 1999 oleh Max Biaggi dengan Yamaha YZR 500. 

garry-mc-coy-power-slide1 (1)

Garry McCoy powerslide. 
Karena torsi begitu kuat dan agresif mulai dari rpm tengah pembalap GP500 sudah biasa dengan powerslide keluar corner. Tapi ban belakang slide yang tidak direncanakan bisa berakibat highside melempar pembalap dari motornya.

fast-freddie-nsr5001

Fast Freddie Rothmans Honda NSR500
Wheelie control system belum ada jaman itu. Pembalap mengatur bukaan throttle dan memakai rem belakang untuk mengurangi wheelie pada saat akselerasi keluar corner.
Pembalap-pembalap GP500 seperti Eddy Lawson, Wayne Rayney, John Koncinski, Freddie Spencer , Wayne Gardner, Randy Mamola. Alex Barros, Loris Capirrosi dll, sudah mengalami asam-garam membawa GP500 yang terkenal pemarah dan akan tetap mengenangnya. Kata Rossi “GP500 is more exciting”.
Kebrutalan motor GP500 dan apa komentar dari pembalapnya bisa Pembaca sekalian lihat di Film Dokumenter “Unrideables dan Faster”
Iklan

6 thoughts on “Raja Motor 2-Tak Grand Prix 500 cc

    denmaz said:
    Juni 25, 2015 pukul 9:28 pm

    ngeri yah

    Suka

    cah baguss dewe said:
    September 9, 2015 pukul 9:28 am

    itu baru motoy laki, bukan banci

    Suka

    Renhan said:
    Januari 24, 2016 pukul 10:30 am

    Kalo sekarang (motogp) terlalu banyak elektronik & intrik

    Suka

      ArenaSepedaMotor responded:
      Januari 24, 2016 pukul 10:59 am

      bener….skarang udh gak ” man to man ” lgi, lebih ke ” man n machine “

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s